Saturday, November 22, 2008

Sydney Trip: Day 6

Sabtu, 1 November 2008
Waktu jam 8 pagi aku turun ke lobby, Pak Yus dan Iqbal sudah menunggu di bawah. Hari ini pak Mahyudin dan pak Djoni tidak bergabung bersama kami. Kami bertiga langsung berjalan kaki menuju stasiun Museum, yang cukup spesial adalah: kami tidak melewati jalan yang biasa kami lewati untuk menuju ke Museum. Pak Yus menunjukkan jalan lain (ambil arah lain kalau dari hotel) yang ternyata lebih dekat!! Ya ampuunn... tinggal sehari lagi di sini, kok bisa baru tauk neh, padahal jelas-jelas kami punya peta. Dari Museum naik kereta menuju Circular Quay dengan kereta. Kemudian dari Circular Quay mengambil ferry yang jurusan Manly.


Tadinya kami mau duduk di deck bagian depan. Tapi karena penuh, dan anginnya besar, jadi kami duduk di deck bagian belakang. Perjalanan dengan ferry dari Circular Quay menuju Manly memakan waktu selama 30 menit. Dalam perjalanan berangkat ini kami masih semangat poto-poto di atas kapal.

Sampai di Manly jam 9.15, kami langsung panik sendiri-sendiri... Iqbal sibuk nyari kopi (abis dingin sih), sedangkan aku? Sibuk nyari toilet!! Wakakakakak... Aku belum sarapan hari ini, tapi udah dapet morning call duluan (padahal rasanya tadi pagi udah loh). Pak Yus yang tak tau-menau tujuanku mencari toilet, ikut-ikutan nyari toilet...

Nah... aku kan milih-milih bilik toilet... pastinya pengen yang paling terang dan paling bersih... posisi menentukan prestasi deh pokoknya. Pas lagi milih-milih gitu, ternyata... di salah satu bilik-bilik itu ada leleee.... (tidak harafiah lo). Giling... ternyata di Aussie ada juga toilet yang kayak gitu... hiii... tapi untungnya aku akhirnya dapat yang terang dan bersih tadi, jadi bisa menunaikan dengan tenang. Terus senengnya di sana, setiap toilet pasti dilengkapi sabun yang wangi... jadi berasa aman sentosa aja...

Pas aku selesai, ternyata pak Yus dan Iqbal sudah sempet foto-foto di depan dermaga Manly. Aku terus difoto juga tentunya. Setelah itu baru kita memutuskan untuk bersepeda, dan kami pun berjalan kaki ke tempat persewaan sepeda http://www.manlybiketours.com/


Tarif sewa sepeda di Manly terbilang relatif murah. Untuk sewa 1 jam biayanya A$14, untuk sewa 2 jam biayanya A$19, sedangkan sewa seharian sampai dengan persewaan sepedanya tutup A$24.

Mas-mas yang jaga persewaan sepeda ngasih petunjuk tentang daerah-daerah yang wajib kami kunjungi selama di Manly. Dia memberikan sebuah peta mungil, yang bisa masuk ke dalam kantong celana capriku. Hehe...tidak ada kantong belakang jersey seperti kalo lagi naik sepeda di Jakarta. Karena memang gak pasti-pasti banget mau wisata sepeda, jadi aku gak bawa perlengkapan olahraga. Akhirnya cuman pakek celana capri The Executive – kostum andalan ke mall, terus sepatu sandal yang juga biasanya dipakek ke mall, dan kaos (juga versi mall, bukan kaos yang biasa buat olahraga).

Sepeda yang mereka sewakan kebanyakan adalah tipe City Bike merk Schwinn 7-speed warna biru. Harga sewa sepeda itu sudah termasuk sewa helm merk Liman warna biru dengan tulisan http://www.manlybiketours.com.au/, dan kunci + rantai sepeda. Khusus buat aku, mas-mas penjaga rental yang kami gak nanya namanya itu memberikan yang tipe untuk perempuan. Sebenarnya mereka tidak hanya menyediakan City Bike, kalo mau pakek MTB juga bisa, tapi harga sewanya lebih mahal. Bisa dua kali lipatnya. Mau pakek tandem juga ada, tapi... aku sih gak pengen...

Tujuan pertama kami adalah Spring Cove, sebuah teluk kecil yang kami lewati dalam perjalanan menuju Sydney Harbour National Park di North Head. Ternyata jalur sepeda yang tertera di peta itu beraneka ragam kondisinya. Ada yang memang dedicated khusus untuk sepeda dan pejalan kaki, ada yang ”on road” alias di jalan umum namun diberi tanda khusus sepeda, ada juga yang ”on road” dan tidak ada marka jalannya, jadi campur gitu aja sama mobil. Tapi lewat jalan yang campur pun rasanya lebih aman dibandingkan nyepedah di jalan Buncit yang suka tiba-tiba ada motor dari arah berlawanan atau metro mini gak sopan.

Kembali ke perjalanan kami... Sayangnya, bukannya sampai ke Spring Cove kami malah nyasar ke Little Manly Cove, teluk kecil lainnya karena sempet salah belok. Untungnya di Little Cove itu ada lapangan rumput yang rumputnya tebal dan penuh bunga-bunga kecil. Sementara pak Yus dan Iqbal melihat ke pinggir tebing di tepian teluk tersebut, aku malah duduk di rumput sambil mengamati peta mungil tadi.


Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju North Head. Lumayan juga bok, jalannya tanjakan terus... maklum deh, memang North Head itu modelnya pantai dengan tebingnya yang tinggi. Pernah lihat Uluwatu? Kurang lebih seperti itu lah pemandangannya.... Jadi jalannya menuju ke sana juga mirip dengan jalan ke Uluwatu: nanjak...

Sepanjang jalan kiri-kanan penuh dengan semak-semak. Konon semak-semak itu adalah tempat penangkaran Bandicoot, sejenis tupai gitu deh. Ufff... pegel juga nanjak, aku tak berani naikkan seatpostnya lebih tinggi pula, maklum masih belum biasa dengan handling-nya karena handle bar-nya melengkung dan lebar banget. Plus sadelnya guede pisan... jadi semakin pegel deh pantatnya. Di tengah-tengah never ending tanjakan itu, aku membayangkan tiba-tiba ada mobil Innova hitam nyusul sepeda-sepeda kami, terus ada seekor bantal kuda bersuara cempreng dan seorang snoopy nongol sambil ngomong: SEEEMMMAAANGGGGAAATTTT....

Ehehe.... cukup sudah berimajinasi... ternyata akhirnya sampe juga kok ke atas tebing... mampir dulu di salah satu tempat parkir, pemandangannya ke teluk Sydney bebas banget dari atas sana, yang artinya... bagus buat poto-poto. Abis itu meneruskan perjalanan ke ujung jalan di mana sepeda udah gak boleh masuk lagi dan kami terpaksa memarkir sepeda di tiang rambu lalu lintas.

Setelah itu perjalanan berkeliling di North Head kami lanjutkan dengan jalan kaki. Kami sempat bertemu dengan rombongan tour minibus yang sebagian pesertanya orang Indonesia pegawai Menko Something. Mereka menyangka kami ini segerombolan mahasiswa dari Malaysia. Wakakakakak... tapi emang lumayan jarang kan pegawai dari Indonesia yang iseng banget mau naik sepeda seperti itu, apalagi pegawai Pertamina... mengingat keadaannya: di negeri orang, cuaca unpredictable, nanjak dan jauh dari mana-mana pula. Kalo bisa bayar untuk ikutan tur dengan mobil fully air conditioned, buat apa naik sepeda?? Most people bakalan mikir seperti itu pasti… kecuali yang emang suka sepeda.

Kita cuman senyam-senyum aja dibilang mahasiswa. Yah… pak Yus kan sebentar lagi sudah masuk masa persiapan pensiun. Mungkin karena rajin naik sepeda ya, jadi biarpun baru aja balik dari kursus purna bakti, tapi pak Yus tetep disangka mahasiswa.

Oya, tauk gak siapa yang mengikuti kami dengan setia sejak dari Sydney? LALER!! Soal laler ini... awalnya aku kira mereka hanya ngerubutin kami-kami yang baru datang dari Jakarta, karena kami belum mandi waktu baru mendarat. Tapi kemudian, ternyata setelah kami mandi pun masih diuber laler juga, dan orang bule juga pada digerumutin laler... Kerumunan laler menjadi sangat banyak kalo di tempat-tempat yang banyak tanamannya, seperti di North Head itu. Ini nih foto-foto laler yang modelnya menggunakan pak Yus dan Iqbal (lokasi Iqbal: Royal Botanical Garden).


Setelah puas poto-poto, kami pun turun bukit... poto-poto lagi di tempat parkir yang sebelumnya sudah kami kunjungi. Terus tuuuurrrruuuunnn lagi… sampai akhirnya masuk ke jalur sepeda pinggir pantai, kemudian gowes ke arah Shelly Beach. Pantai pasir putih di ujung garis pantai-nya Manly yang menghadap ke Timur. Di sana ketemu dengan banyak orang yang latihan scuba-diving.


Iqbal dan pak Yus hanya foto-foto, cuman aku yang turun ke air dan mencicipi dinginnya air laut. Setelah itu kita gowes lagi menyusuri pantai. Hmmm… kapan lagi bisa sepedaan di pinggir laut gini? (di Ancol ada jalur sepeda seh... tapi kok kurang menclang, kurang keliatan gitu loh...). Hmmm, semoga bisa bikin yang seperti ini di Indonesia.


Itu udah jam 1 siang, dari tadi sebenarnya sudah lapar, tapi bingung mau makan dimana. Akhirnya di dekat The Corso, sebuah pusat perbelanjaan yang bentuknya ruko-ruko, kami memarkir sepeda. Tepatnya, kami mengikat sepeda kami jadi satu ke besi yang memang banyak digunakan untuk parkir sepeda.


Makan siang kami adalah Kebab. Aku makan Lamb and Chips. Potongan daging domba dengan kentang goreng. Kami makan di pinggir laut. Pak Yus sempat bagi-bagi kentang gorengnya ke beberapa burung camar yang mendekati kami.

Di tengah-tengah makan siang yang rasanya gak abis-abis itu (beneran deh, banyak banget), timbul pembicaraan tentang sepeda (lagi). Setelah dihitung-hitung, ternyata jumlah orang yang suka sepeda (dan juga bisa diracuni biar suka sepeda) di bagian kami cukup buat bikin MDGTI Bike Community. Hmm... kapan ya bisa ngumpul terus nyepedah barengan, kalo perlu ngajak keluarga, biar makin rame.

Akhirnya aku gak menghabiskan kentang gorengku, dan memilih untuk membungkus sisanya dan memasukkan ke tas ransel. Setelah itu kita melanjutkan perjalanan menuju Manly Lagoon dengan menyusuri jalur sepeda di tepi pantai. Namun sampai pada satu titik, jalur sepeda tersebut kelihatan terputus. Iqbal yang tadinya berada di belakang sudah jalan duluan, dan keburu nyebrang jembatan yang lewat di atas muara, kemudian masuk ke Greycliff St. Untung aja setelah ikutan nyebrang jembatan tersebut, aku liat peta mungil dulu, trus baru ngeh kalo kita harusnya lewat di BAWAH jembatan, bukan NYEBRANG jembatan. Setelah ngirim sms ke Iqbal dan menunggunya di sebrang jembatan, kami pun menuju Manly Lagoon.


Kami sempat melihat anjing dan tuannya sedang bermain throw-and-catch (duh... kok jadi inget kuliahnya bu Inge ya...). Anjingnya lari-lari masuk ke danau buat ngambil ranting/tongkat yang dilempar tuannya. Di tepi Manly Lagoon, kami ambil foto bertiga bersama sepeda masing-masing. Setelah itu cepet-cepet kembali ke persewaan sepeda, sebab saat itu sudah jam 3, dan kami masih pengen ke Oceanworld, takut keburu persewaan sepedanya tutup.

Dalam perjalanan kembali ke persewaan sepeda, aku lumayan ngebut, terutama setelah masuk jalan raya lagi. Hahaha... di Jakarta mah mana pernah ngebut begitu (kecuali pas kesel sama Metro Mini iseng). Waktu sampai di Manly Bike Tours, masih mas-mas yang tadi pagi yang jaga, kirain sudah aplusan. Setelah membereskan administrasi, kami langsung jalan kaki ke Oceanworld. Uwaaahh... sebenernya masih pengen naik sepedaaa...

Berikut adalah rute bersepeda kami selama di Manly:


Sampai di Oceanworld, ternyata Iqbal kehilangan selera untuk masuk ke dalamnya, karena tempatnya gak meyakinkan. Jadi kami putuskan untuk nyebrang kembali ke Sydney. Saat itu jam 3.40. Ketika kami jalan menuju Manly Wharf, aku iseng bertanya pada pak Yus, jam berapa ferry berikutnya ke Sydney berangkat? Pak Yus mengeluarkan brosur Manly Ferries yang ada jadwalnya, jreng-jreng.... ternyata 3.45, dan dari jauh keliatan ada ferry bersandar di dermaga. AAWWW... itu pasti kapal yang 3.45, kalo kita ketinggalan kapal itu, harus nunggu ½ jam lagi. Jadi.... LAAAARRRIIIIII....!!!!

Wah... kedondong banget... lari-lari begitu… kayak triathlon aja… abis naik sepeda, terus lari-lari... tinggal kurang berenang aja. Tapi yang berenang mah pada saat itu gak berminat... jangan sampe deh terpaksa berenang... Kalo berenangnya nanti-nanti di kolam Kemang Sport sih gak apa-apa.

Sampai di dermaga tepat pada saat pintu ferry mulai dibuka dan penumpang dipersilakan masuk. Kami pun masuk, langsung mengambil tempat di aft (buritan ya bahasa Indonesianya?), lantai 2. Terus duduk. Diem-dieman, gak minat ngomong, gak minat foto-foto, maklum masih capek lari-lari, tapi emang jadi lebih hangat deh.

Setelah mendapatkan kembali suara masing-masing... aku pun menghabiskan sisa kentang goreng yang tadi. ½ jam kemudian kami merapat kembali di Circular Quay. Oya, satu hal yang menarik... ketika kami mengantri keluar dari ferry, aku melihat di dalam ferry tersebut, tepatnya di dekat pintu, disediakan tempat parkir sepeda. Dan hari itu, tempat parkir sepeda tersebut penuh. Enak juga ya... penduduk Sydney yang pengen bersepeda di Manly, tinggal gowes sepedanya ke Circular Quay, masukin ke ferry, terus lanjut gowes lagi setelah sampai di Manly. Seandainya aku bisa bawa si Erik Xtrada ke Manly, pasti lebih enak. Trus... kapan ya kita bisa bikin kota yang benar-benar sepeda friendly seperti Manly gitu...

Sampai di Circular Quay... kami sepakat untuk pisah rombongan. Pak Yus dan Iqbal ke Paddy’s Market, sedangkan aku ke George St. Aku masih penasaran pengen cari Eeyore atau Snoopy. Aku turun di stasiun Town Hall. Keluar dari stasiun, di dekat pintu keluar ada toko majalah. Iseng-iseng masuk... ternyata ada majalah cross-stitch yang ada pola Eeyore-nya. Waktu SMS Ndoro, katanya mau... ya udah, bungkus!! Trus aku ke Sydney Central Plaza, katanya Internet ada Disney Store di situ, tapi gak nemu. Akhirnya malah ke Myer yang terletak di atasnya, di lantai atas ada toko mainan. Nemu Eeyore sih... tapi kualitasnya gak begitu bagus. Harganya juga gak terlalu murah. Wah, ya agak males beli barang yang gak murah tapi kualitas dipertanyakan...

Habis itu aku jalan kaki ke arah Pitt St. Eehhh... malah nemu Borders dan Bloch. Bloch-nya sudah tutup, padahal belum jam 6. Aku sempet masuk ke Borders, tapi gak ada yang menarik sih. Pas keluar Borders, lagi-lagi aku membunyikan alarm buku. Iiihh... ini udah kejadian kedua deh... padahal aku sama sekali gak bawa barang yang ada tag harganya.

Abis itu jalan lagi menuju World Square. Janjian sama Iqbal dan pak Yus mau ketemu di supermarket Coles yang di World Square. Kami mau beli-beli coklat buat ol-ol. Hihihi… Aku gak lama-lama sih di Coles, kalo soal belanja cokelat mah gak pakek acara bingung… udah pasti-pasti aja. :-D Pas aku keluar dari Coles, rupanya pak Yus udah balik ke hotel duluan.

Aku dan Iqbal pun mau cari makanan take away buat dimakan di hotel. Tapi kita masih bingung-bingung gitu mau makan apaan. Akhirnya nongkrong dulu di bangku di tengah-tengah World Square. Mulai berasa dingin gitu deh… pas matahari dah mau terbenam. Gara-gara nongkrong di bangku itu, aku jadi pengen beli kaos cantik di TEMT, yang tokonya tepat di sebrang kursi yang kududuki. Lagi diskon gitu… dan modelnya ada renda-renda plus warna pink.

Akhirnya setelah sedikit jalan... kami memutuskan untuk makan... Kebab lagi!! Tapi kali ini bukan kebab yang wrapped (dibungkus roti), melainkan kebab yang disajikan di piring (plate). Uuugghhh... banyak banget deh ternyata porsinya... bungkusannya aja gede... trus kamarku jadi bau kebab.

Malam ini pulang agak sore, karena mesti beres-beres barang kan. Lucunya... Sebelum berangkat ke Manly, dengkulku agak-agak sakit. Itu akibat turun menyusuri Furber Steps waktu di Blue Mountain dua hari sebelumnya. Waktu naik sepeda, aku udah membayangkan... gimana pegelnya nanti malam... udah dengkul sakit, sekarang ditambah lagi pantat pegel karena sadel sepedanya kegedean. Tapi ternyata... alhamdulilah bayanganku itu tidak terwujud. Yang ada... sakit di dengkul malah hilang... Selebihnya juga biasa-biasa aja ternyata, seperti selayaknya kalo habis naik sepeda di Ragunan.

Sydney Trip: Day 7

2 November 2008
Hari ini waktunya pulang. Tapi pagi-pagi aku dan Iqbal gak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk berkunjung ke satu obyek wisata lagi: Royal Botanical Garden. Pak Yus hari ini gak bergabung bersama kami, karena mau ke Bondi Beach lagi mencari baju-baju surf untuk anaknya.

Seperti biasa kami jalan kaki ke Museum. Sebelum masuk ke platform, kami sempet bertanya kepada bapak yang jaga pusat informasi di stasiun Museum tentang berlaku tidaknya Green Travelpass kami untuk pergi ke Airport. Dia bilang tiket itu bisa dipakai, nanti tinggal beli gate pass aja di Airport, gak lebih dari $10, mungkin $7 atau $8, begitu katanya. Dia sempet panik waktu liat kami masuk ke platform untuk kereta yang menuju City Circle via Circular Quay, bukannya masuk ke platform-nya Airport Line. Tapi kami segera menjelaskan bahwa kami mau ke Airportnya nanti siang, bukan pagi ini.

Hmm... Kalau hanya $7-8 sih, mending naik kereta saja. Kalo naik airport shuttle kan $12, dan lagi kami belum sempat booking airport shuttle. Katanya mesti minimal harus booking 3 jam sebelumnya kalau mau naik shuttle itu. Namanya Airport Connect.

Kembali ke stasiun Museum lagi... Kami naik kereta menuju ke Circular Quay. Kemudian dari Circular Quay jalan kaki melalui tangga yang berada di tengah-tengah Opera Quays. Di ujung anak tangga atas, kami disuguhi lapangan rumput yang luuuaaaassss... Kalo kita memutar badan ke arah sebaliknya, pemandangannya adalah lapangan rumput, beberapa pohon, dengan background gedung-gedungnya CBD Sydney. Di sebelah kiri kami adalah Government House. Aku pikir: that’s all gitu... lapangan rumput besar plus pepohonan, dengan pemandangan gedung di satu sisinya. Tapi ternyata itu baru sebagian kecil aja dari Royal Botanical Garden.


Berjalan semakin masuk lagi... ternyata kami sampai di pinggir sebuah teluk kecil bernama Farm Cove. Sydney Opera House, yang berada tak jauh dari tempat kami berdiri, ada di satu sisi, sedangkan Royal Botanical Garden-nya sendiri masih terbentang sampai melewati sisi lain dari Farm Cove. Gede banget kan...?

Salah satu hal yang menyenangkan tentang taman tersebut (atau lebih tepat disebut Kebun Raya??) adalah di tiap akses masuknya, mereka mencantumkan ajakan untuk berjalan di atas rumput. Beda banget sama taman pada umumnya yang suka mencantumkan larangan “Dilarang Menginjak Rumput”.


Hal lainnya adalah pastinya enak pagi-pagi nongkrong di salah satu dari banyak bangku Forrest Gump yang ada di taman tersebut sambil membawa buku, rajutan, atau bahkan laptop yang batrenya terisi penuh untuk menulis sesuatu. Bahkan aku melihat ada beberapa orang yang tidur di bangku-bangku tersebut.

Gak cuman nongkrong di bangku... Jalan-jalan pagi sambil moto-moto juga enak... hanya saja aku merasa salah kostum: sepatu hak, jeans, basic blazer, dan sunglasses... sedangkan orang lain dengan nyamannya memakai pakaian olahraga. Haha... itu memang baju yang bakal aku pakai pulang nanti siang, baju lainnya sudah terlipat rapi di koper. Sebenarnya hari itu berawan, tapi untuk jaga-jaga dan karena malas membawa dua kacamata, aku memilih memakai sunglasses.


Tidak kalah menyenangkan: tanaman-tanaman aneh yang jarang-jarang aku lihat. Salah satu favoritku adalah pohon dengan bunga warna ungu. Yang bikin aku suka karena pohon itu tidak ada hijau-hijaunya sama sekali. Selama di sana aku menyebutnya Pohon Ungu Misterius, karena belum menemukan nama dari pohon itu. Aku sudah “naksir” pohon itu sejak hari pertama mendarat di Sydney dan melihatnya di Circular Quay. Ternyata setelah mencoba searching di Internet, pohon tersebut bernama Jacaranda. Jacaranda Tree... Jacaranda mimosafilia...


Rute kami untuk menjelajahi Royal Botanical Garden adalah: Masuk dari tangga di Opera Quays, jalan ke pinggir Farm Cove, menyusuri Farm Cove ke arah Timur sampai masuk ke kawasan Yurong Precinct, melewati Victoria Lodge, terus jalan ke Timur sampai ke pinggir Woolloomooloo Bay, jalan balik lewat Mrs. Macquaries’ Chair, menyusuri Farm Cove lagi, kali ini ke arah Barat, terussss sampai keluar dari Royal Botanical Garden melalui pintu yang dekat Sydney Opera House.


Hari itu lumayan dingin, terbukti aku sama sekali gak berkeringat meskipun jalan kaki jauh dengan memakai blazer yang gak bisa dibilang tipis. Aku kelaparan pula... tadi pagi gak sarapan (lagi). Tapi lumayan sih... di tengah-tengah keliling kebun raya, Iqbal mengeluarkan KitKat dari pak Djoni.


Kami foto-foto lagi di sekitar Opera House dan mengambil latar belakang Harbour Bridge, baru setelah itu naik kereta lagi dari Circular Quay ke Museum, kemudian balik ke hotel. Waktu sampai di stasiun Museum, kami sempet liat-liat foto jadul yang dipasang di lorong stasiun. Ternyata... stasiun Museum udah ada sejak tahun 1926, termasuk stasiun-stasiun pertama yang dibangun ketika pembangunan subway di Sydney. Dari sejak 1926 sampai sekarang... interior stasiunnya gak banyak berubah. Ada fotonya waktu tahun 1950-an, yang berbeda hanya kostum orang-orangnya saja. Pas tahun 1926 hampir semua orang pakek topi, sedangkan pas 1950 yang pakek topi jauh berkurang.

Sampai hotel jam 11 kurang 15. Hanya sempat sebentar bongkar muatan plus finalisasi beres-beres. Jam 11 kurang 5 mas-mas pegawai hotel udah ketok-ketok kamar, ngingetin soal Check-Out. Jam 11 akhirnya aku turun.

Bawaanku ada 3 sekarang: Koper yang sekarang terisi penuh (tapi untungnya gak sampai harus di-extend ukurannya), Ransel yang sekarang ditambah isinya dengan buku-buku Star Trek dan majalah, plus tas kantong merah motif not balok yang kuisi dengan segala boneka: Matilda (si blasteran Beruang dan Marmut), Ru (KanguRu dengan bantal biRu), OrEe (Original Eeyore), dan koala putih untuk dik Endra plus batas buku koala dan kanguru bete. Pokoknya serba boneka deh.


Pelan-pelan kami berlima menggeret koper menuju stasiun Museum. Terus kali ini cukup cerdas untuk lewat pintu yang disediakan khusus untuk penyandang cacat, orang yang bawa baby stroller, dan orang yang bawa koper, bukannya lewat gate barrier yang pas-pasan ukurannya.

Stasiun museum ini kan gak ada lift ataupun eskalatornya, jadi kami harus mengangkatnya secara manual. Bawaan kami jauh lebih berat dibandingkan waktu baru datang, tapi untungnya sekarang kami berjalan turun masuk ke platform stasiun, bukannya naik tangga.

Waktu nunggu kereta di platform Airport Line, aku sempat memperhatikan lebih detail interior stasiun Museum ini. Ternyata mereka membiarkan (atau malah merekonstruksi) iklan-iklan asli dari jaman dulu menempel di dinding platform stasiun tersebut.


Kami naik kereta sampai International Airport. Setelah naik eskalator sekali. Kami ketemu yang jualan gate pass. Ternyata, harga gate pass adalah $11.40!!! Wakakakakakak... aku langsung pengen ketawa... harga gate pass gak beda jauh dengan Airport Connect rupanya... Kalo naik Airport Connect gak perlu repot gotong-gotong koper di stasiun Museum. Tapi ya sudahlah... udah terjadi kan... jadi ya aku cengar-cengir aja.

Kami dua kali naik eskalator lagi, sampai ke pintu masuk airport dari arah stasiun yang banyak anginnya itu. Terus masuk deh ke bagian keberangkatan. Mencoba untuk check-in, tapi ternyata check-in counternya baru menerima check-in untuk suatu penerbangan 3 jam sebelum jam keberangkatan: 12.15, padahal itu baru jam 12 kurang 1.

Kami nunggu di dekat check-in counter tersebut sambil mengisi Departure Form-nya Aussie Immigration, terus nulis-nulis hand-carry baggage tag. Pak Djoni nimbang koper kami satu per satu karena khawatir kopernya lebih dari batas bobot yang digratiskan (20 kg). Sehingga kita harus ngecheck apakah jumlah bobot semua koper kami > 100 kg. Ternyata koperku hanya 16 kg. Ya iyalah... kalo misalkan koperku lebih dari 20 kg, waktu gotong-gotong di stasiun Museum, aku mestinya sudah kewalahan. Sedangkan tadi aku masih santai-santai aja.


Jam 12.15 kami check-in di counter yang petugasnya bapak-bapak yang melayani humor garingku. Setelah itu kami sepakat untuk bagi dua. Pak Yus dan pak Mahyudin mencari prayer room, sedangkan kami mencari makan siang. Aku dari tadi belum makan pagi sih... (kecuali sebungkus KitKat ukuran kecil). Aku berharap bisa nemu Krispy Kreme lagi. Biar deh... makan siang 2-3 original glaze-nya Krispy Kreme kayaknya cukup. Tapi ternyata kami gak berhasil nemu food courtnya dan tau-tau udah ketemu lagi sama pak Yus dan pak Mahyudin yang keliatannya juga gak berhasil nemu prayer room-nya.

Kami pun segera masuk ke Custom, setelah dicap di Imigrasi, ada pemeriksaan barang-barang bawaan. Yang bawa laptop harus mengeluarkannya dari tas dan meletakkannya di baskom kotak untuk dilewatkan di mesin x-ray seperti halnya tas-tas tangan kami.

Lewat dari antrean x-ray, di depan kami adalah toko Duty Free... kami jalan terus karena kelaparan. Berharap di sekitar departure gate ada resto-resto yang cukup representatif seperti halnya di Soekarno-Hatta. Aku dan Iqbal sempet nemu 1 cafe yang jualan pastry. Aku udah naksir sama Apple Pie-nya. Keliatannya gede dan ngenyangin. Iqbal udah mau pesan sandwich, tapi waktu dia tanya ke mbak-mbak yang jualan, ternyata mereka gak punya microwave oven, jadi makanannya gak bisa dipanasin. Jadi males deh...

Ujung-ujungnya, kami beli makanan di kedai Santos. Makanan di situ di dalam kemasan plastik tapi masih hangat-hangat. Kalaupun gak hangat, dia punya microwave oven untuk menghangatkan. Aku tadinya mau makan minestrone soup, tapi terus iseng milih Nasi Ayam Cinamon, plus minumnya hot choc. Nasi Ayam Cinnamon rasanya manis-manis gurih. Enak sih, tapi amit-amit banyaknya...


Selesai makan, barulah kami liat-liat duty free store yang tadi. Barang-barang elektroniknya memang lebih murah dibandingkan di Jakarta, tapi gimana kalo rusak coba yaa.... siapa yang bakal nanggung garansinya... malah ribet...

Setelah pegel muter-muter, aku pun memilih duduk di deket departure gate 10. Ketemu sama bapak-bapak yang 2 anaknya sekolah di Sydney. Bapak itu cerita kalo beberapa hari lalu dia habis menyebabkan kebul berlebihan gara-gara kelamaan pakek microwave, terus akhirnya didenda gara-gara gak sengaja membunyikan alarm kebakaran dan membuat pemadam kebakaran datang ke rumahnya. Ternyata warning yang di hotel tuh bener pernah kejadian di tempat lain juga ya. Kirain hanya di hotel itu saja yang microwave-nya bisa berlebihan asapnya...

Kami boarding lumayan tepat waktu. Tapi sempat nunggu agak lama, entah ngapain itu pesawatnya. Aku dapat duduk di 48D, di sebelahku pak Yus. Penerbangan kali ini isinya maaakkkaaannnn... terus. Makanannya enak-enak pula.

Selama di pesawat, pertama... makan besarnya aku milih kuskus dengan ikan. Tapi kita dibagiin roti ukuran kecil yang masih hangat. Nah, rotinya tuh enak banget... kayaknya sih gak mengandung telor. Macamnya baguette-nya BreadTalk gitu. Karena udah kenyang makan roti, kuskus-nya jadi gak maksimal. Mana ikan-nya tuh berasa kayak sarden kalengan pula. Selesai makan besar, ada refreshment, mereka menyediakan dua pilihan minuman, yang dua-duanya aku suka: organic peppermint tea dan Cadbury’s Hot Chocolate. Pilihan yang sulit bukan?! Namun karena tadi sebelum naik pesawat sudah beli hot choc di Santos, jadi gak begitu sulit lagi milihnya. Trus menjelang turun itu, dikasih makan ravioli dengan saus tomat. Wadduuuhh... yang ini: ENAK BANGEEETT!!! Anget-anget gitu lagi.... Pokoknya kenyang dan puas deh...


Selain makan, selama 7 jam perjalanan aku nulis catatan perjalanan di block note yang keliatannya tipis, murah, tapi kok gak abis-abis... padahal udah dua kali dibawa pergi, dan kali ini aku pakeknya agak boros... karena kebetulan tiap malam meskipun udah capek tapi masih semangat untuk mandi (sempet dua hari mandinya malam doang malah...hihihi...gara-gara air panas sempet mati pas pagi) terus ngisi buku catatan perjalanan.

Terus selain catatan perjalanan, sempet baca buku Star Trek: Myriad Universes, ngabisin satu section. Sempet nonton foto-foto juga, foto selama di sana dari camdig-nya pak Djoni. Terus sempet juga main sudoku... dari majalahnya pesawat. Pokoknya gak tidur deh selama perjalanan pulang ini. Abis posisinya juga gak memungkinkan untuk tidur nyenyak kecuali ngantuk banget.

Kira-kira 1 jam menjelang mendarat, si Qantas memutar film tentang Jakarta!!! Si host-nya jalan-jalan naik busway, merekomendasikan Blue Bird, dan tidak merekomendasikan naik bajaj! Hmm... ternyata mereka bukan cuman muter film tentang Australia... bagus... bagus....

Jam 18.30 mendarat di Soekarno-Hatta. Qantas nih gak paranoid. Begitu pesawat sudah mendarat, meskipun masih di taxiway, mereka bilang boleh aktifkan HP, asalkan dapat sinyal. Iya kan... kalo orang Aussie-nya belum tentu bisa International Roaming di sini.... sama halnya seperti kami di sana.

Eehhh... tapi pas aku nyalain HP, kok gak dapat-dapat sinyal yak? Ini kan di home network-ku. Wooyy!! Kenape nih HP-nya? Pas pesawat berhenti, baru aku ngeh... kemaren HP-ku network selection-nya sengaja di-set manual, biar gak loncat-loncat provider selama di Sydney. Ternyata pas sampai di Indonesia, dia juga gak langsung nyari available network. Hahahahaha.... terjebak sama perbuatan sendiri itu namanya.

Begitu dapat sinyal, SMS-SMS masuk. Ternyata ada dari Ira... dia ada di Sydney hari ini (padahal biasanya di Melbourne). Yaaaaa... kenapa baru nyampe sekarang.... sayang sekaalliii... coba dari kemarin.

Ngantre di Imigrasi lumayan lama, abis lamban sih pelayanannya. Padahal rasanya di barisanku banyakan orang Indonesianya, harusnya gak lama-lama dunk. Karena udah kelamaan di Imigrasi, pas nyampe di conveyor... nunggu bagasinya gak terlalu lama... Kami segera bertukar baggage tag yang ketuker-tuker, terus PULLAAANGGG!!!

Friday, October 10, 2008

Long Forgotten Travel Notes

Senin, 10 Juli 1995
06.00
Bangun pagi, padahal masih ngantuk.

07.22
Morning callnya baru bunyi padahal kita sudah hampir selesai mandi.

07.30
Mengeluarkan koper ke depan pintu dan turun makan. Makanannya oke lho! Ada roti Perancis, Croissant, Baked Beans, Scrambled Egg, Orange Juice, dll.

08.00
Pada kebelet ke WC. Aku dan dik Anggi ke atas duluan. Waktu lagi menunggu dik Anggi, ada yang ketok-ketok pintu. Dikira mbak Arie, ternyata petugas hotel yang berbicara dengan bahasa Inggris tulen mau mengambil koper.

08.45
Berangkat ke Airport sambil (lagi-lagi) tidur.

10.00
Pesawat jurusan Melbourne-Brisbane AN 604 take-off. Selama di pesawat dikasih makan Sandwich 3 rupa dan pie yang isinya bermacam-macam.

12.00
Tiba di Brisbane dan langsung menuju tempat pencukuran bulu domba, Australian Woolshed. Di sana makan steak domba sambil mencoba 1/2 gelas Wine (rasanya kayak tape singkong).

14.00
Melihat atraksi pencukuran domba. Setiap domba diberi nama sesuai jenisnya masing-masing. Sehabis mencukur bulu domba diteruskan lagi dengan atraksi anjing gembala. Terus mbak Arie minta dipotret sama koala. Sementara menunggu mbak Arie, kita potret bersama kanguru sambil memberi makan. Selesai potret-memotret, aku dan dik Anggi ke WC sebentar, sebelum membeli beberapa souvenir. Souvenir yang dibeli kali ini antara lain : lip care, kalung opal, badge, dll.

15.30
Menuju ke Mt.Coot-cha, tempat tertinggi di kota Brisbane, dari tempat ini kita bisa melihat seluruh kota Brisbane. Di dekatnya terdapat Planetarium. Di sini kita beli pensil, batas buku, dll. Sebelum naik ke bis, iseng-iseng foto-foto dulu sama supir bisnya. Mbak Arie dikitik-=kitik sama dia lho! Dasar iseng.

16.00
Melanjutkan perjalanan ke sebuah gedung pertunjukan yang ada tamannya di tepi sungai. Sungai-sungai di sana tidak seperti sungai Ciliwung cs. Foto-foto deh! Di sana juga ada poster pertunjukan balet yang besar sekali.

17.00
Kita meneruskan perjalanan ke Gold Coast selama kurang lebih 1 jam. Selama di perjalanan, supirnya memutar video tentang Australia. Sebetulnya videonya bagus, tapi nggak ada yang lihat, semuanya tidur...teler...

18.00
Sampai di Gold Coast dan langsung menuju ke Ramada hotel di Surfers Paradise (pantai Kuta-nya Gold Coast). Dan kita mendapat kamar nomor 2501 dan 2502.

18.45
Turun ke bawah tanpa ganti baju dulu. Waktu lagi menunggu peserta-peserta lainnya, iseng-iseng sama ibu jalan ke toko majalah di sebelah hotel. (--4 sentences censored--)
Di Gold Coast nggak terlalu dingin jadi jaketnya pakai yang tipis saja sudah cukup.
Kita jalan ke Royal Thai Restaurant. Menunya Chicken Yom Yam. Selesai makan, beli boneka domba-dombaan. Mbak Arie mau pipis disusul dengan dik Anggi yang (--censored again--). Habis itu kita ke toko obat buat beli (--censored--) Durolax. Dan cari salep Purol, tapi penjaga tokonya sama sekali nggak tahu.
Terus kita beli kaos. Tadinya mau beli kaos gambar (--censored--), harganya cuma 6$ lagi, tapi mau dipakai kapan? Ada juga kaos The Fart, yang gambarnya berbagai macam kentut. Tapi nggak dibeli juga. Seram sih !
Akhirnya beli kaos Australia saja. Habis itu beli souvenir dan boneka kanguru.
Karena di deretan toko-toko itu sudah banyak yang tutup, maka kita menyebrang pindah ke deretan lainnya. Kita masuk ke toko majalah yang agak lebih besar dari toko yang di sebelah hotel. Ternyata ada majalah Star Trek Official Fans Club of Australia, pastinya dibeli dong ! (--a sentence censored--)
Sepanjang pertokoan itu, banyak sekali mesin 'How Sexy Are You?', ramalan Astrologi, aneh-aneh deh ! Yang pasti bagus buat menghabiskan sisa-sisa koin.

21.00
Dalam perjalanan pulang kita sempat menelpon ke Jakarta dengan telpon kartu, di Jakarta masih jam 6 sore. (--2 sentences censored--)

21.50
Selesai mandi ternyata ada Star Trek : The Original Series ( Star Treknya Captain Kirk ). Jadi sebelum tidur, nonton dulu. Malam ini tidur sama mbak Arie.

Friday, September 07, 2007

Kuala Lumpur: Hari Ke-1

Aku memulai catatan perjalanan ini sejak berangkat dari rumah menuju Bandara Soekarno-Hatta. Di jalan tol dalam kota, tepatnya di depan Planet Hollywood, ketemu dengan ujung belakangnya Konvoi 1000 APV. Konvoi-nya bener-bener panjang, sampai ketika aku belok masuk ke tol bandara, aku masih belum menemukan ujung depannya konvoi itu.

Sampai di terminal E, aku langsung lari masuk ke toilet (hehehe… udah pengen dari tadi). Agak-agak bingung juga, karena ternyata bandaranya penuh banget. Setelah dari toilet, baru masuk ke tempat check-in. Di counter check-in-nya GA820 tertulis “Closed”. Wha…ttt?!!? Kok gitu?? Ini kan belum satu jam sebelum jam keberangkatan.

Hmm... ternyata tulisannya aja tutup, karena bisa check-in lewat counternya penerbangan Jakarta-Perth. Habis itu langsung bayar fiskal, ngikat koper, masukin koper ke bagasi, terus ke Imigrasi (gak pakai ngantre). Baru ketemu bu Sapta setelah lewat loket Imigrasi.

Kami langsung menuju ke Gate E3. Di pemeriksaan X-Ray sebelum masuk ke Gate E3 itu, bu Sapta terpaksa meninggalkan botol minumannya. Hii... repot juga ya, kalo haus pas nungguin di dalam ruang tunggu gimana ya?

Waktu kami naik di conveyor yang menuju Gate E3, sempet ngeliat rombongan TKI. Agak-agak dibentak-bentak gitu deh, sama mandornya. Giling deh... TKI kita itu gimana mau berharap dihargai oleh bangsa lain, wong bangsanya sendiri aja gak menghargai gitu...

Di depan gate E3 dikasih kartu boarding warna pink. Warnanya sesuai dengan nomor tempat duduk kita. Untungnya pesawat lumayan on time. Kami terbang selama 1 jam 44 menit, dapet makan ikan dan kentang dengan porsi yang ”pas yang penting kenyang”.

Ketika mendarat di KLIA, udara lagi panas-panasnya. Aku langsung mencari toilet, yang ternyata di KL namanya jadi ”tandas”. Keluar dari Tandas, kami bingung harus menuju kemana, soale gak ada petunjuk sama sekali. Akhirnya ngikut aja arus orang-orang lainnya pada jalan kemana.

Rupanya... untuk menuju ke Imigresen, Tuntutan Bagasi, dan Balai Ketibaan kita harus naik Skytrain dulu, karena ketiga tempat tersebut berada di gedung yang berbeda dengan gate dan apron tempat pesawat-pesawat itu parkir.

Di Imigresen, ternyata ngantrenya panjang, muter-muter kayak uler, persis kayak bank Mandiri kalo lagi tanggal muda. Lumayan lama deh ngantre di Imigresen itu, setengah jam lebih lah.

Lepas dari Imigresen, kami mencari-cari conveyor tempat koper-koper penumpang GA820 dikeluarkan, tapi kok gak ada ya?? Setelah agak-agak muter-muter... rupanya koper-koper itu sudah keluar dari tadi (maklumlah, kan ngantre di Imigresen-nya lama banget), kemudian koper-koper itu ditumpuk di salah satu ujung conveyor.

Terus kita langsung ke Tourism Centre yang ada di Balai Ketibaan itu. Maksudnya mau nanya, kalo pengen naik KLIA Express tuh beli tiketnya dimana, terus harus kemana. Ealah... malahan ketemu sama mas-mas Indonesia yang mengira kita pengen tauk, caranya menuju ke Jalan Imbi gimana. Dia dengan serta-merta mengeluarkan peta jaringan LRT/Monorail-nya KL (which is sebenernya ada juga di tasku), kemudian menjelaskan gimana caranya ke Jalan Imbi. Walah... kami hanya senyam-senyum, say thanks, tapi pertanyaan kami yang sebenernya belum terjawab bok!!

Untung akhirnya ngeliat loketnya KLIA Express. Langsung beli tiket 35 ringgit per orang. Terus mbak-mbaknya yang jual tiket ngejelasin gimana caranya ke stesen KLIA Express. Terus kami melewati bea cukai, giling juga nih orang Malaysia, masa’ baggage tag-nya gak diperiksa sama sekali... kalo nggak sengaja bawa barang orang gimandang coba yaa...

Kita naik KLIA Express yang jam 3, keretanya enak banget. Modelnya MRT di Spore, tapi tempat duduknya gak kayak angkot. Gak nyampe ½ jam kita sudah tiba di KL Sentral.

Nah... di KL Sentral ini, mulai deh ubet-ubetan nyari stesen monorail. Sampe nanya 3 kali loh... Itu gara-gara kami terpaku sama tulisan EXIT di tempat yang gak seharusnya kami lewati.

Pas akhirnya menemukan pintu keluar yang sebenar-benarnya harus kami lewati, ”Petualangan Turun Tangga di Kuala Lumpur” yang sebenarnya pun dimulai. Jadi gini ya... di stesen-stesen yang ada di KL itu kalo untuk naik tangga tersedia eskalator, tapi untuk turun, harus manual, aku menyebutnya ”gak downward-friendly”.

Terpaksa deh, angkat koper sambil turun tangga (gak bisa digeret kan kalo lewat tangga manual). Sampai di bawah, ketemu dengan bis-bis airport coach, baik yang menuju KLIA, maupun LCC Airport (Low Cost Carrier Airport, tempatnya Air Asia). Kalo di Jakarta, sama dengan Damri kali ya. Kalo mau lebih murah, gak lagi ngejar waktu, dan barangnya lagi gak banyak, bisa naik airport coach itu. Kalo barang banyak, anggota lebih dari 2 orang, lebih baik naik taksi, hanya 67 ringgit saja, tinggal beli kupon di airport.

Dari ”terminal airport coach” tadi, masih belum menemukan stesen monorailnya juga. Nanya lagi ke salah satu loket airport coach (jadi total 4 kali nanya!!), terus dari kejauhan aku melihat ada tulisan MONORAIL. Nah!! Itu dia!!

Tapi sebelum mencapai stesen monorailnya KL Sentral itu, kita mesti jalan dulu sekitar 150 meteran, melewati pasar kaget (masih sambil geret-geret koper). Terus nyebrang jalan gede segala. Baru deh beli tiket monorail, dari KL Sentral ke stesen Imbi @1.60 ringgit.

Monorailnya ternyata penuh juga bok, kayak kereta api jabotabek pas peak hours gitu deh, wakakakak.... agak-agak repot juga karena bawa koper. Dah gitu, pas turun di Imbi, ternyata tangga turunnya lagi-lagi gak pakek eskalator, dan panjjjjaaaaannngggg banget bok, lumayan pegel juga mesti turun tangga sambil angkut koper. Kami masih belum tauk pula, hotel Melia masih berapa jauh dari stesen monorail Imbi itu.

Untungnya... ketika kami sampai di ujung tangga yang paling bawah, JRENG!! HOOREEE!!! Ternyata hotel Melia-nya tepat di depan kita!!

Untungnya lagi, gak ada masalah dengan bookingan hotelku. Tadinya mas-masnya agak bingung waktu ngeliat booking code-nya yang dari Internet, tapi ketika aku kasih pasporku, dia dengan mudah menemukan booking atas nama LAKSMI, AGRITA (India ya??).

Kami dapat kamar 1605, konon kamar ini adalah tipe I-Room yang ada fasilitas PC, Broadband Internet 24 jam, dan VCD Player-nya. Tapi yang namanya PC-nya itu agak-agak katro gitu deh. Keyboardnya blas gak enak, keras banget, mendingan maen piano petrof bok. Mouse-nya juga seret. Udah gitu OS-nya itu loh: Windows ME. Alamaaakk... hareee geeenneee....

Abis itu leyeh-leyeh dulu sambil makan buah, mencoba untuk tidur tapi gak bisa. Sempet mengamati Petronas Twin Tower yang keliatan dari kamar hotel kami (meskipun agak-agak kehalangan sama hotel Capitol), terus juga KL Tower.

Akhirnya kami memutuskan untuk nyebrang ke Berjaya Times Square yang terletak tepat di sebrang hotel Melia. Konon Berjaya Times Square katanya mall tergede di Malaysia. Entahlah bener apa enggak, tapi yang pasti emang gede banget sih, ada 1000 lebih toko di dalamnya, terus ada amusement park juga, lengkap dengan roller coasternya.

Tujuan pertama kami adalah: Borders!! Katanya Borders-nya lebih gede dibandingkan Borders yang di Spore. Tapi perasaanku sih, bukunya lebih sedikit dibandingkan yang di Spore. Setelah gak menemukan buku titipannya Ndulo, aku langsung menghilang di balik rak Science Fiction dan juga rak buku musik. Kekekek.... Buku musik gak ada yang menarik, jadi hanya dapet novel Buried Age-nya Star Trek: The Next Generation.

Dari Borders, terus naik ke lantai 10, ke food court yang katanya terbesar juga. Tapi kalo yang ini mah aku gak setuju. Soale food courtnya itu ternyata gak ada apa-apanya dibandingin food court yang di lantai atasnya ITC Cempaka Mas.

Kami memilih menu Kabab & Salad. Aku beli paket Chicken Schaslik Kabab, lengkap dengan nasi berbumbu mentega dan krim sup yang ada campuran jahenya, rasanya jadi mirip krim sup dikawin silang sama wedang ronde. Yummy...

Abis makan terus mampir Borders lagi, terus balik ke hotel.

Kuala Lumpur: Hari Ke-2

Hari ini adalah hari pre-conference. Kami kursus singkat sampe jam 6 sore nanti. Habis sarapan, terus langsung ke stesen Monorail. Beli tiket untuk ke stesen Raja Chulan (@ 1.20 ringgit). Dan ternyata... monorailnya lebih penuh dari waktu kami baru datang kemaren!! Kami gak kebagian monorail yang pertama (sebenernya bukan gak kebagian sih, tapi kami kurang agresif untuk berebutan tempat, maklum deh... baru kedua kalinya naik monorail nih hehehe...).

Pas monorail kedua dateng, kami berhasil nyelip di monorail yang penuh banget itu. Hidungku sudah hampir nempel sama pintu monorail...

Hihihihihiiiiiiii... ternyata asik juga naik monorail sambil nempel pintu gitu. Karena rel-nya monorail itu kan gak ada pagarnya seperti halnya rel kereta jabotabek di Jakarta. Jadi dari pintu itu kita bisa langsung ngeliat ke bawah, yaahh... jadi agak-agak serem gimana gitu loh... asik kan... kalo si Bi pasti “menikmati” nih...

Ternyata hotel Crowne Plaza, tempat conference-nya diadakan itu terletak tepat di depan stesen monorail Raja Chulan. Wah, cukup strategis nih jadinya… baik tempat nginep maupun tempat acara berada pas di depan stesen monorail, si Melia di depan mall gede pula. Hehehe…

Venue-nya hari itu di lantai 30. Sesi pertama diberikan oleh bapak-bapak dari Indonesia, sedangkan sesi kedua diberikan oleh bapak-bapak dari Australia. Lumayan beraneka ragam pesertanya, ada mas-mas ganteng dari India yang seneng banget small talk, terus ada bapak-bapak Pakistan yang nyari Black Tea dan gak tauk gimana caranya membuat teh dengan menggunakan teh celup, terus ada juga mas-mas Vietnam yang kemana-mana bawa peta KL keluaran Periplus. Mbak-mbak panitianya juga baik banget, dia malahan sempet curhat segala…

Yang sedikit jadi masalah adalah, venue-nya gak betul-betul di lantai 30. Kami masih harus naik 2 lantai lagi dengan menggunakan tangga putar. Bentuknya kayak mezzanine gitu deh. Sayangnya… tandas-nya tuh ada di lantai 30, jadi kalo pengen ke tandas, mesti turun naik 2 lantai dulu. Tandas-nya gak ada airnya pula, tapi ada powder room-nya, penuh dengan kaca dan lampu, jadi ingat ruang riasnya Gedung Kesenian Jakarta deh.

Soal makanannya, lumayan oke lah... menu yang cukup memorable dari makan siang buffet-nya adalah Laksa. Mie-nya gede-gede, terus kuahnya merah, kayak ada campuran crab-nya. Dimakan pakek potongan timun, kecap asin, dan bawang merah. Yummy…

Coffee break-nya juga yummy, terutama karena ada berbagai macam pilihan teh merk PickWick. Ada Earl Grey (Captain Picard’s fave), Ceylon tea, English Breakfast, Green Tea, Green Tea & Lemon, Chamomile Tea, Peppermint, Roiboos & Vanilla, banyak dan berwarna-warni. Kue-nya juga aneh-aneh, ada martabak dengan bumbu karinya, ada salmon croissant sandwich. Hiiii… udah ngebayangin bakalan gembul nih pulang dari sini.

Sorenya kami memutuskan untuk pulang ke hotel Melia dengan berjalan kaki. Sekalian cari-cari tempat oleh-oleh. Di deket Bukit Bintang nemu tempat souvenir gitu deh, tapi gak ada yang menarik hati deh. Standar-standar aja, harganya juga gak terlalu murah.

Udah gitu, di depan stesen monorail Bukit Bintang, akhirnya kami masuk ke Sungei Wang Plaza, karena di luar langitnya mendung, pikir-pikir… kayaknya kalo tiba-tiba turun hujan, mendingan pas kami di dalam mall aja. Nah ini dieee… Sungei Wang Plaza itu modelnya kayak mangdu gitu rasanya sih… hmm… tapi banyak juga barang-barang branded. Kesan pertama sih boring, biasa ajah.

Tadinya kami mau muter-muter sampe waktu makan malam, tapi lama-lama capek juga, jadi pulang aja ke hotel, leyeh-leyeh dulu sebentar sambil ngambil foto langit yang lagi mendung banget, kayaknya bakal ujan gede nih. Abis maghrib (which was jam ½ 8 malem gitu loh…), jalan lagi ke Berjaya Times Square.

Karena pas di hotel tadi udah makan menu yang berat-berat, malam ini pengen makan fast food ajah. KFC yang di concourse-nya Times Square jadi tempat tujuan kami. Entah kenapa… pas nyampe di KFC, aku benar-benar laper, sehingga memutuskan untuk pesen paket Colonel Rice Combo. Giling kan… laper beneran tuh… soale kalo makan fast food di Jakarta aku gak pernah mesen menu nasi, aku selalu pesen kentang.

Colonel Rice Combo itu terdiri dari 2 ayam, terus nasi berbumbu (mirip nasi briyani kali ya?), gravy sauce, sama coleslaw salad. Dari seluruh kelengkapan menu Colonel Rice Combo tersebut, sisanya hanya ½ mangkuk coleslaw salad dan sejumput daging ayam, sisanya berhasil aku habiskan.

Setelah dari KFC, sempet liat-liat toko yang di dekat KFC. Hmmpphh… kok sepatu Hush Puppies diskonnya kecil banget yak?? Paling tinggi 30% sajah… nyebelin deh…

Abis itu masuk ke Cold Storage, nyari oleh-oleh berupa makanan: coklat, wafer, permen. Yah… banyak lah yang emang produk asli Malaysia. Aku seneng banget ngeliatin beraneka ragam minuman coklat dan juga teh impor aneka rasa (Dilmah, Ahmad Tea).

Setelah itu balik ke hotel lagi, agak-agak hujan gitu, jadi terpaksa buka payung waktu jalan dari jembatan penyebrangan ke hotel Melia. Hmm… di hotel Melia ini, rasanya hampir tiap malam ada piano live lengkap dengan penyanyinya. Sayangnya aku udah terlalu capek untuk duduk-duduk di lobi dan menikmati musik live tersebut. Pengennya langsung mandi dan bobok ajah.

Kuala Lumpur: Hari Ke-3

Semakin hari kami semakin lihai untuk nyelip di monorail yang penuhnya bukan main itu, terutama kalo peak hours dan menuju ke “arah yang salah”. Di hari ketiga ini, gak perlu nunggu 2 monorail dulu. Biar kata penuh, nyelip ajah, yang penting ada tempat berdiri dan gak kejepit pintu.

Hari ini venue-nya pindah ke lantai 4. Good news-nya adalah tandas-nya ada semprotan airnya!!! Huihuihuihui... jadi menambah ketenangan batin lah. Bad news-nya adalah AC-nya luar biasa dingin. Walah... padahal hari ini kostumku pakek celana panjang. Ini aja udah kerasa dingin, gimana besok yah?? Aku kan menyiapkan kostum rok untuk besok?? Hehe... karena keterbatasan ruang di koper, jadi bajunya sudah kuhitung bener-bener dari sejak di Jakarta. Jangan sampe kelebihan, tapi tetep harus ada cadangan secukupnya.

Kalo kemaren attendances-nya hanya 12 orang, hari ini ada sekitar 60 orang. Pembicaranya juga banyak. 1 pembicara palingan hanya dapat waktu 45 menit untuk presentasi dan tanya jawab.

Menarik sih... karena selama ini persepsiku adalah yang namanya data dan knowledge management itu fokusnya ada pada teknologinya: bagaimana membangun sistem aplikasi yang bisa melakukan knowledge management. Tapi ternyata inti dari knowledge management itu adalah PEOPLE, karena yang punya KNOWLEDGE kan emang PEOPLE. Jadi, yang namanya orang itu boleh keluar masuk dari dan ke perusahaan kita, tapi pengetahuannya harus tetep tinggal di perusahaan kita. Yang namanya teknologi itu hanya sebagai supporting tools saja.

Trus percuma saja punya system aplikasi yang canggih, kalau tidak ada commitment dan enforcement dari top management. Yang dapat menanamkan knowledge management pada para PEOPLE yang ada di perusahaan tentunya adalah top management-nya.

Menu menarik makan siang adalah semacam gado-gado gitu deh. Rasanya biasa aja sih, tapi menarik. Terus hari ini aku agak-agak heboh makan dessert. Hihihi... dessertnya tuh very sinful deh: Coklat Mousse, terus ada lagi apple cake pakek vla. Penuh dosa kan??

Nah, sorenya... aku ikutan pergi ke Suria KLCC bareng bu Sapta dan mbak Tati. Kita lewat jalan belakangnya Crowne Plaza. Terus foto-foto di deket air mancur berirama yang ada di tamannya KLCC. Sekalian juga nyoba foto-foto dengan latar belakang Twin Towers-nya Petronas.

Ih, ternyata sulit ya pengen ngambil foto manusia (maksudnya ya kami-kami ini) dengan latar belakang Twin Towers Petronas, karena posisi kita terlalu dekat dengan pintu masuk ke Suria, sehingga susah untuk memasukkan ujungnya si kembar menara Petronas itu ke dalam frame kamera kita. Akhirnya cukup puas dengan foto yang gak pakek ujung menara, cukup dengan latar jembatan Skybridge yang di lantai 41 itu aja.

Hmmm... aku memang gak mencoba naik ke menara Petronas. Sebenarnya tiket masuknya gratis, namun dibatasi sampe 1200 tiket per hari. Jadi asalkan kita datang pagi-pagi sih biasanya masih kebagian tiket. Tapi menurut info dari Rama, hanya bisa naik sampe ke lantai 41 itu saja (Skybridge), itupun dibatasi 10 menit saja di atas Skybridge.

Foto ini adalah hasil foto Twin Towers Petronas yang kudapatkan sore itu. Setelah puas foto-foto, terus masuk ke Suria KLCC. Ngambil kartu diskon khusus tourist dulu dengan hanya menunjukkan paspor. Terus liat-liat Vincci, sepatu yang emang asli Malaysia, yang ternyata biasa ajah tuh rasanya... modelnya sih emang lucu-lucu, tapi aku pengennya yang enak, gak perlu lucu-lucu banget juga gpp. Mendingan ke Donatello sebrang jalan Ganeca aja deh, yang emang udah mengerti kakiku.

Terus mbak Tati dan bu Sapta tertahan agak lama di toko souvenirnya Petrosains, sedangkan aku langsung masuk ke Kinokuniya. Beli buku pesenannya Ndulo dulu. Udah gitu tenggelam di dekat rak buku musik lagi. Yang ini lumayan banyak buku musiknya, lebih banyak dari Borders. Kalo buku Sci-Fi-nya lebih dikit dibanding Borders sih...

Karena bingung mau beli buku piano yang mana, dan udah ditungguin Ibu cs di hotel Melia, jadi aku putuskan untuk besok saja balik lagi ke Kinokuniya buat milih-milih dengan lebih santai.

Waktu aku jalan ke arah kasir, udah mau bayar... aku iseng ngeliat ke deretan suling recorder yang digantung di dinding. Suling-suling itu dijual satu paket dengan buku instruksinya. And guess what...?? Di antara suling-suling recorder itu, ada satu suling yang istimewa, aku sampe gak percaya bisa menemukan barang itu di Malaysia. Aku pikir harus pergi ke Eropa dulu untuk menemukan barang itu. Suling istimewa itu adalah: Penny Whistle.

Apa istimewanya?? Buat yang suka nonton Star Trek (terutama The Next Generation), mungkin pernah nonton episode yang berjudul Inner Light. Kalo mau baca resensinya, ke Memory Alpha aja yah. Nah waktu pertama kali nonton Inner Light itu (years ago deh pokoke… aku masih SMP yang pasti), dan melihat alat musik yang dimainkan Picard, Bapak langsung komentar: loh, itu kan Penny Whistle. Suling logam dari Inggris gitu deh, dulu waktu masih kerja di lapangan (mungkin aku masih bayi), pernah nyoba nyari alat musik itu, buat iseng-iseng ajah.

Terus beberapa hari sebelum aku berangkat ke KL, Bapak bilang: “Ntar kalo di sana ada Penny Whistle ya…”. Komentarku adalah: “Yah… mana ada… kayak gituan cuman ada di Inggris kali…”. Dan ternyata… aku menemukannya di Kinokuniya KL.

Setelah bayar belanjaan Kinokuniya-ku, ternyata sudah jam ½ 8. Bu Sapta ada janji dengan temannya, sedangkan aku ditungguin Ibu dkk di hotel. Akhirnya kami ninggalin mbak Tati di Kinokuniya, terus jalan balik lewat Crowne Plaza. Mayan jauh juga bok, tapi masih sempet foto-foto dengan latar Twin Towers Petronas yang sudah dinyalakan lampu-lampunya. Dari Suria KLCC sampe ke stesen monorail Raja Chulan via Crowne Plaza, dengan kecepatan “jalan cepat” memakan waktu 20 menit. Sampe di Raja Chulan baju sudah basah berkeringat.

Sampai di hotel Melia, ternyata Ibu, pak Kus, pak Bambang, dan bu Bambang sudah nunggu di lobi. Karena bu Sapta sudah keburu ada janji dengan temannya, jadi gak ikutan makan bareng.

Makan malam kali ini di Berjaya Times Square lagi. Kali ini di resto Uncle Duck. Franchise dari Hongkong gitu deh. Entahlah halal apa enggak, hehehe, tapi kalo bebek kan emang gak mungkin dimasak barengan sama “yang satu itu”, karena rasanya bisa rusak kalo dimasak barengan. Kami pesen Nasi Bebek dengan Sup Ikan. Teh-nya (yang gretongan itu, persis kayak resto Sunda) wangi dan enak banget rasanya. Aku sampe nambah 3 kali, padahal kalo di Jakarta aku jarang sekali minum teh kecuali lagi bertamu ke rumah orang, atau diajakin beli green tea botolan, atau di resto Padang Sago yang deket kantor. Sup Ikan-nya juga yummy, mirip kayak sup ikan batam. Bebeknya juga crispy, terus sausnya tuh pas banget.

Setelah makan, agak muter-muter dulu di Berjaya Times Square. Aku, Ibu, dan bu Bambang masuk ke counter kosmetik Elianto, sementara bapak-bapak masuk ke Borders. Hihihi... Elianto... namanya kayak nama orang Jawa yah... Modelnya kayak Face Shop gitu loh... Asik banget ngeliat-ngeliat di situ. Eye shadow dan kutek-nya tuh warna-warni gitu loh (sebenernya hal biasa sih...tapi tempatnya enak ajah buat ngeliat-liat).

Setelah tokonya dah pada mau tutup, kita baru balik ke hotel. Bu Sapta belum datang ternyata. Aku mandi aja, pas udah mau tidur, Ibu telpon ke kamar. Nah... pas lagi telpon itu, tiba-tiba terdengar bunyi GEDEBUM!! Kayak bunyi meriam gitu...

Karena sudah pernah dapet Kejutan Kembang Api Tahun Baru, dan juga sudah dapet info tentang Fireworks Festival dalam menyambut 50 tahun Malaysia tanggal 31 Agustus besok, aku langsung bisa menebak kalo bunyi GEDEBUM tadi itu adalah kembang api. Aku langsung tutup telepon. Tapi... ada yang aneh... kenapa suara GEDEBUM-nya kenceng banget yah??

Pas lihat keluar jendela.. TERNYATA!!! Ternyata... peluncur kembang apinya tuh kira-kira berada di Low Yat Plaza yang berada tepat di sebelah/belakang hotel Melia. Kembang apinya tuh meledak tepat beberapa meter di atas atap hotel Melia. Dan aku berada di lantai 16, hanya 2 lantai dari atap gedung. Deket banget tuh kembang apinya... Jadi ”api” warna-warninya seolah-olah muncrat ke arah jendelaku. Huekekekekek... gimana ya... rasanya seneng ngeliat kembang api sedekat itu, tapi sambil ngeri juga ngeliat ”api”-nya begitu dekat.

Aku langsung ngambil kamdig, terus ngambil video, sambil berharap bu Sapta cepet dateng, biar ada temennya gitu loh. Ngeri kan...

Hihihi... lucu juga. Sebelum berangkat ke KL, aku pengen banget ngeliat kembang api, gara-gara ngeliat iklan Fireworks Festival itu, tapi gak nyangka deh bakalan dikasih liat kembang api sedekat itu!! Jadi ingat-ingat yah: Be careful of what you wish for!!

Tak lama setelah kembang apinya berhenti, bu Sapta datang. Kami pun bercerita heboh tentang pengalaman masing-masing. Terus tidur.

Kuala Lumpur: Hari Ke-4

Pagi-pagi lagi-lagi ke Crowne Plaza naik monorail. Venue masih di lantai 4, ternyata AC-nya udah gak sedingin kemaren. Pembicara pertama adalah mbak Tati. Kalo soal makanan, menu yang berbekas adalah Oxtail Soup yang lumayan enak, tapi masih kalah enak dibandingkan sup buntutnya mbok Rah/mbok Pon. Terus menu snacknya ada yang lucu, kayak kembang tahu gitu digoreng. Aku sampe makan 4 potong loh.

Dapet kejutan lagi sorenya, karena aku memenangkan door prize menginap 1 malam di The Prince Hotel. Tadinya mau kukasihkan ke Ndoro, tapi ternyata Ndoro gak jadi ke KL minggu depannya. Baru bulan November ke KL-nya.

Selesai acara, aku langsung balik ke Melia naik monorail, sedangkan bu Sapta milih jalan-jalan dulu nyari oleh-oleh. Dari hotel, aku sama Ibu naik monorail ke stesen Bukit Nanas, terus jalan kaki menyusuri jalan Ampang untuk menuju ke KLCC.

Lumayan jauh juga ternyata. Tapi di tengah jalan dikasih pemandangan pelangi. Pelanginya ada di antara kedua gedung Petronas (keliatan gak di fotonya?). Entahlah dari mana datangnya pelangi itu, karena rasanya sih gak habis hujan.

Di KLCC muter-muter di Isetan, terus makan di food court. Oya, makannya di Yoshinoya. Franchise yang satu ini dulu pernah buka di Jakarta, tapi udah lama tutup. Menunya mirip-mirip kayak Beef Bowl gitu deh. Seperti biasa aku pesan ayam tepung dengan saus. Sayurannya aja yang agak aneh, secara ada melonnya segala di antara tumisannya itu. Tapi yummy kok...

Abis itu ke Kinokuniya lagi, kali ini membuahkan buku piano. 150 Most Beautiful Songs gitu judulnya. Tapi emang bener, so far sih… lagu-lagu yang kucoba mainkan emang bagus-bagus. Yang jadi masalah adalah buku itu berat banget… sungguh memberikan kontribusi massa terhadap barang bawaanku.

Pulangnya lewat convention centre, sempet foto-foto lagi di dekat air mancur berirama itu, dengan latar belakang Twin Towers (lagi). Aku bener-bener penasaran pengen dapet angle yang memuaskan (mungkin gak bagus, tapi at least optimal buat aku gitu loh). Hari ini aku menemukan cara ngambil foto yang ajaib, dimana gaya si fotografer lebih aneh dari modelnya. Tapi mesti tetep jaim loh, gak boleh sampe nungging-nungging aneh, soale aku lagi pakek rok hari ini.

Nah, setelah itu dari convention centre terus nembus ke Crowne Plaza lagi, baru naik monorail lagi dari stesen Raja Chulan. Habis turun di stesen Imbi, masih sempet ke Times Square dulu. Beli ikat pinggang buat Bapak dengan harga yang unbelievable. Pegel juga neh…

Sampe hotel daftar untuk city tour dulu, terus balik ke kamar. Gak lupa sharing cerita tentang tempat belanja lagi sama bu Sapta. Heheheh....

Kuala Lumpur: Hari Ke-5

Hari ini sudah gak conference lagi. Setelah makan pagi, pamitan sama bu Sapta (yang siangnya mau balik ke Jakarta), terus jam 9 berangkat City Tour. Karena pesertanya hanya aku sama Ibu, kami naik mobil sedan saja. Aku tak hafal sedannya jenis apa, pokoke Proton Something gitu deh.

Tempat tujuan pertama adalah istana sultan. Turis gak boleh masuk ke istana, tapi boleh foto-foto di depan pagar istana-nya. Aku malah lebih tertarik foto-foto sama kuda yang dinaiki oleh mas-mas penjaga gerbang istana itu. Tapi gak mau dekat-dekat juga sih, takutnya tiba-tiba si kuda nengok dan mencium diriku. Hihihihihi....

Dari istana terus kami menuju ke Muzium Negara (National Museum). Harga masuknya 2 ringgit. Museumnya sih bersih dan terawat. Isinya tentang kebudayaan Malaysia, terus juga sejarah singkat Malaysia, dari mulai kedatangan penjajah Portugis, sampe seperti sekarang ini.

Seperti halnya museum yang bercerita tentang kebudayaan di Taman Mini (aku lupa namanya museum di Taman Mini itu), tentunya banyak menggunakan mannequin. Nah itu dia yang bikin museum itu jadi sedikit creepy. Bedanya dengan museum2 di Indonesia adalah, mannequinnya di Muzium Negara ini bersih-bersih, jadi seringkali susah dibedakan dari orang beneran. Udah gitu, Muzium Negara ini juga dilengkapi dengan screen video. Jadi... semakin creepy aja. Misalnya pas kita membelakangi screen yang lagi muter video, kesannya kan jadi kayak ada yang bergerak-gerak di belakang kita, padahal gak ada siapa-siapa, kecuali mannequin. Creepy kan?

Kebudayaan Malaysia ya mirip-mirip dengan kebudayaan Indonesia, karena kita itu memang bersaudara. Orang-orang yang tinggal di East Malaysia itu ya sama-sama orang Dayak. Terus yang bangsa Melayu mirip dengan orang-orang Sumatera. Hanya saja mereka juga mengasimilasi kebudayaan Cina dan India. Terus ada juga Orang Asli yang merupakan bangsa Negrito.

Terus, kalo Malaysia punya keris, tidak perlu beranggapan bahwa mereka ”mencuri”-nya dari Indonesia. Karena mereka mengakui bahwa sebelum kaum penjajah datang, mereka itu ada di bawah kekuasaan Majapahit. Kemungkinan yang membawa keris masuk ke daratan Malaysia kan orang-orang Majapahit juga?

Oya, lucunya... atap dari Muzium Negara ini berbentuk atap rumah gadang. Mereka bilang itu ”Atap Minang”. Aku tidak tahu alasannya, kenapa mereka membuatnya menjadi seperti itu.

Dari Muzium Negara, kami menuju ke tugu War Memorial, di dekatnya ada Taman ASEAN gitu deh. Isinya ya tugu peringatan perang kemerdekaannya Malaysia, ada nama-nama pahlawan yang gugur. Sempet foto-foto dan beli souvenir.

Dari War Memorial, terus ke National Mosque atau Masjid Negara. Di sebrangnya ada Old Railway Station. Sempet foto-foto sebentar saja, kemudian kami menuju ke Dataran Merdeka. Kalo hari biasa, Dataran Merdeka itu bentuknya ya lapangan gitu, ada jam gadangnya (jam besar maksudnya). Tapi karena hari itu lagi dipersiapkan untuk Hari Kemerdekaan tanggal 31 Agustus, jadi Dataran Merdeka-nya penuh dengan panggung, sound system, lighting, yah buat persiapan acara keesokan harinya. Jadi gak leluasa deh.

Dari Dataran Merdeka terus kami menuju ke KLCC. Niatnya mau foto-foto di depan Twin Towers tapi dari pintu depannya Twin Towers (kemaren-kemaren kan dari depan Suria KLCC). Tapi apa daya, ternyata hujan turun... jadi baru mau foto-foto udah lari-lari balik ke mobil. Lagipula angle-nya juga susah sih, terlalu dekat ke Twin Towers-nya, jadi pasti gak dapet ujung gedungnya deh.

Dari KLCC terus kami menuju ke pabrik kulit. Kulitnya tuh macem-macem deh, dari mulai kulit sapi yang standar, kulit ikan pari, sampe surai kuda yang dianyam. Tapi desainnya kurang menarik, udah gitu harganya juga mahal-mahal. Mendingan ke Tajur atau Tanggulangin deh.

Dari pabrik kulit terus ke pabrik batik. Batik?? Kedengerannya aneh ya?? Hmm... Ternyata mereka tidak menjual barang-barang seperti layaknya toko-toko batik di Yogya atau Solo. Mereka lebih banyak menjual scarf dari bahan silk yang gambarnya dibuat dengan teknik membatik. Motifnya sih bunga-bunga biasa aja. Bukan motif tradisional seperti Yogya atau Solo.

Mas-masnya ngajarin bikin kreasi dengan menggunakan scarf. Dia sengaja melakukannya dengan cepat, dengan dalih bahwa kalo kita beli scarfnya nanti dikasih buku instruksinya. Lucu-lucu deh hasilnya. Hmm... Tapi meskipun dia cepat-cepat demonya, aku berhasil mengamati cara-nya dia bikin korsase dari scarf, dan setelah balik ke Jakarta aku berhasil membuat korsase dengan salah scarf yang ada di rumah. Hihihihihi...

Setelah pabrik batik, kami ke showroom coklat Malaysia yang merknya Beryl’s. Hmmm... Special productnya adalah coklat rasa tiramisu, dan coklat isi buah-buahan. Boleh lah rasanya... enak, yummy yum yum. Kita boleh nyobain coklat-coklatnya. Mereka punya banyak tester. Bahkan coklat rasa durennya juga enak (tapi baunya gak enak, duren banget, terutama setelah seharian disimpan di dalam tas... begitu tasnya dibuka... WUUSSHH.... semerbak bau duren...).

Kenapa Malaysia punya industri coklat? Dulunya orang Malaysia mengimpor coklat yang sudah jadi dari Eropa. Tapi... coklat-coklat dari Eropa itu kan banyak yang mengandung liquor (hehe... bukannya justru itu yang bikin enak yak?). Karena ada liquornya itu jadi haram. Nah, supaya yakin akan kehalalannya, akhirnya mereka mengolah coklat sendiri, sebagai gantinya liquor, mereka menggunakan buah-buahan tropis sebagai “topping” dari coklat-coklat tersebut.

Dari showroom coklat, terus balik ke Melia lagi. Checkout kamarnya Ibu (kamarku sudah dicheckoutkan oleh bu Sapta), terus checkin lagi untuk kamar Standar pesananku.

Yah, jadi akhirnya kami sudah mencoba kamar I-Room, Deluxe (Ibu), dan sekarang Standard. Mau tauk bedanya Standard dengan I-Room/Deluxe? Kalo standard gak ada safety deposit box-nya, terus gak dikasih sendal kamar, bed lamp-nya gak punya switch terpisah (harus nyala dua-duanya atau mati dua-duanya), lokasinya di lantai bawah, selimutnya susah banget ditarik, TV-nya gak flat, tapi langit-langit bathtub-nya lebih tinggi 10 cm, jadi aku gak berasa claustrophobia kalo lagi mandi.

Setelah membereskan urusan check in dan check out, aku dan Ibu segera jalan kaki ke Sungei Wang Plaza untuk mencari hawker yang menjual makanan vegetarian. Hawker tersebut ternyata berada di lantai 4 Sungei Wang Plaza, atau Bukit Bintang Plaza ya?? Hmm.. entahlah, berhubung kedua plaza tersebut saling terinterkoneksi, jadi kadang susah membedakan saat itu kami lagi berada dimana.

Hawker, atau food court tersebut tidak memakai AC, tapi surprisingly enggak panas, karena penuh dengan kipas angin dan langit-langitnya tinggi. Selain itu juga bersih dan cukup nyaman. Stand vegetarian itu mostly terdiri dari sayuran, sedangkan lauk-pauknya hampir semuanya terbuat dari ”Soya” alias kedelai (ini sesuai penjelasan mas-mas yang jualan).

Kami ngambil sepiring nasi dan sepiring penuh lauk-pauk dan sayur. Lauk-pauknya terdiri dari tahu goreng yang lembut banget, kembang tahu gulung bumbu pedas dan manis (rasanya kayak lumpia), terus sesuatu yang kayak daging masak kecap (tapi kalo dilihat dari dekat teksturnya mirip tahu tapi padat), ada lagi sesuatu yang mirip teri kacang tapi ”teri”-nya juga terbuat dari soya. Semua serba soya, yang gak ada hanya tempe. Kalo sayurnya sih standar, yang ijo-ijo gitu deh. Abis itu pesan minuman teh tarik (yummy!) dan susu kedelai. Makanan dan minuman untuk dua orang itu habisnya 7.90 ringgit sajah. Aku baru tauk kalo makanan vegetarian bisa seenak itu deh.... hmmm....

Selesai makan, langsung ke stesen Bukit Bintang, terus naik monorail ke stesen Titiwangsa (ujungnya jalur monorail). Tujuannya adalah Eye on Malaysia.

Eye on Malaysia adalah ”Bianglala” alias Ferris Wheel yang dibuat untuk menyaingi London Eye (katanya). Karena diresmikan bersamaan dengan launching Visit Malaysia 2007, seharusnya Eye on Malaysia ini merupakan landmark dari Visit Malaysia 2007. Jadi, aku pikir sarana transportasi menuju ke tempat itu sudah cukup memadai. Akan tetapi ternyata...

Waktu sampai di stesen Titiwangsa, bingung harus kemana dan naik apa. Menurut info dari internet sih bisa naik bis nomer 121, tapi pas nanya ke petugas RapidKL yang standby di halte, katanya naik bis 114. Terus dia nunjukin jalur tempat bis RapidKL ngetem di dalam terminal. Tapi ternyata butuh nanya ke 3 orang (ke mbak-mbak, anak ABG, dan pak polisi yang gak-pernah-naik-bis-dan-selalu-naik-sepeda) untuk made sure bahwa memang itu jalur yang dimaksud.

Setelah yakin bahwa kami di jalur yang benar pun, ternyata bisnya gak muncul-muncul. Hanya ada 1 bis RapidKL yang ngetem, itupun nomor 101. Abis itu datang 2 lagi. Yang satu nomor 101 juga, satunya lagi gak jelas, yang pasti bukan 121 atau 114.

Akhirnya putus asa dan memutuskan naik taksi saja. Tapi naik taksi pun harus tawar menawar. Kayak naik bajaj aja. Supir taksi di KL gak begitu suka pakek ”meter” alias argo karena tarif taksi di sana tuh keterlaluan murahnya. Sebagai perbandingan, di Jakarta itu tarif bukaannya kan 5000 rupiah ya, itu untuk 1 km pertama, setiap 100 meter berikutnya nambah 250 rupiah. Sedangkan di sana tuh tarif bukaannya 2 ringgit (5400 rupiah), itu untuk 2 km pertama, setiap 200 meter berikutnya nambah 0.10 ringgit (270 rupiah). Artinya tarif taksi di Jakarta hampir 2 kalinya tarif taksi Kuala Lumpur!!

Kembali ke Titiwangsa... si taxi drivernya nawarin 15 ringgit untuk ke Taman Tasik Titiwangsa (tempatnya Eye On Malaysia). Karena gak tauk berapa jauhnya (deket sih sebenernya, dari terminal situ bisa kelihatan Ferris Wheel-nya, tapi kan gak tauk apakah harus lewat jalan memutar atau gimana), kita hanya berani nawar sampe 10 ringgit. Waktu turun di Taman Tasik Titiwangsa, baru tauk kalo ternyata taxi drivernya orang Medan.

Titiwangsa Lake Garden terdiri dari sebuah danau yang dipinggirnya ada ferris wheel tadi. Konon kabarnya tingginya 60 meter ferris wheel itu. Segitu tuh tinggi gak sih? Sebenarnya lebih bagus kalo kita mengunjungi tempat ini malam-malam, karena selain lampu-lampu di downtown sudah pada nyala (Twin Towers Petronas lebih cantik kalo malam) jadi pemandangannya lebih oke, malam hari juga ada pertunjukan laser di Taman Tasik Titiwangsa ini. Tapi... kalo datang malam hari, perlu dipikirkan masalah transportasinya. Siang hari aja transportasi jadi masalah, apalagi kalo malam??

Tiket naik ke Eye on Malaysia harganya 15 ringgit per orang. Hari itu hanya sedikit yang naik bareng kami. Mungkin hanya 4 cabin yang terisi, itupun di cabinku hanya ada aku dan Ibu. Putaran wheel-nya tuh agak-agak pelan gimana gitu loh, sehingga setelah 2 puteran, jadi agak mumet (padahal totally dikasih 4 puteran). View-nya lumayan bagus dari atas, tapi pasti lebih bagus lagi kalo malam, seperti yang kubilang sebelumnya.

Setelah puas naik dan foto-foto, sekarang baru memikirkan cara untuk pulang. Nanya ke Information Counter, ada gak bis yang lewat di depan taman itu... rupanya orangnya gak tauk. Dan dari tadi memang aku gak liat ada bis lewat, kecuali bis city tur Hop-On-Hop-Off. Taksi juga gak ada yang lewat.

Akhirnya aku ngajak jalan kaki aja ke jalan besar. Siapa tahu ntar ketemu taksi, atau gak... ya lama-lama kan sampe juga ke stesen Titiwangsa.... hehehe... tapi untunglah... belum nyampe jalan besar, tepat ketika melintas di dekat tempat pemberhentian taksi, lewatlah sebuah Premiere Taxi yang kosong. Premiere Taxi itu kalo di Jakarta Silver Bird kali yaa.... tarif bukaannya lebih mahal (3 ringgit kalo gak salah), per km-nya juga lebih mahal, tapi taxi drivernya (seorang bapak-bapak India) mau pakek ”meter”. Rupanya untuk menuju stesen Titiwangsa hanya perlu sekitar 8.50 ringgit dengan menggunakan premiere taxi tersebut.

Aku heran sama pemerintah Malaysia... aku pikir Eye on Malaysia itu landmark dari Visit Malaysia 2007, tapi kenapa fasilitas transportasi untuk menuju ke tempat itu gak diperbanyak, biar turis tuh mudah untuk mencapainya...??

Dari stesen Titiwangsa, langsung menuju ke Bukit Bintang lagi. Petualangan mall pun dimulai. Dari mulai Lot 10 (dengan Isetan-nya), Bukit Bintang Plaza (dengan Metrojaya-nya yang menyediakan baju Accent dengan harga diskon yang unbelievable dan surprisingly ukuran standar), sampai ke Sungei Wang Plaza (dengan Parkson Grand, toko-toko baju, toko handicraft, dan Giant).

Pas jamnya makan malam, naik lagi ke hawker di lantai 4, tapi sayangnya kedai yang jual vegetarian food sudah tutup, akhirnya nyoba di sebrangnya ada kedai bernama RMB Curry House. Iseng-iseng mesen Mee Rebus. Harga 2 porsi Mee Rebus + 2 porsi Iced Tea adalah 9 ringgit.

Ternyata yang namanya Mee Rebus India itu adalah campuran mie Aceh dengan Siomay Bandung (kalo kata Ibu mirip toge goreng juga). Terdiri dari mie (tentunya), potongan tahu goreng, potongan gimbal udang (tepung goreng gitu deh), dan toge, bumbunya spicy agak-agak ada rasa kacangnya dikit. Meskipun spicy, Mee Rebus India ini gak bikin kepalaku keringetan seperti halnya mie Aceh.

Selesai makan, terus masuk ke Watsons di Sungei Wang Plaza. Mayan gede juga tuh Watsons-nya. Setelah liat ini, liat itu, akhirnya aku hanya beli paket wax saja... hehehe... karena itu barang jarang di Jakarta. Habis itu ke Giant sebentar, terus balik ke hotel. Dalam perjalanan menuju hotel, kami banyak berpapasan dengan orang-orang yang baru saja mau merayakan 50 tahun Malaysia. Gak seperti di Jakarta yang baru heboh tanggal 17 Agustus pagi, di sini hebohnya pas tengah malam menjelang tanggal 31 Agustus, macamnya New Year’s Eve gitu deh.

Wuuuaaa.... pegel-pegel niiiihhh.... jalannya dah mulai kayak orang habis sirkumsisi, aku kok jadi inget dengkul amoh pas turun dari gunung Huangshan ya?

Kuala Lumpur: Hari Ke-6

Hari ini hari Jum’at. Tujuan awal kita adalah Low Yat Plaza yang terletak di belakang hotel Melia. Low Yat Plaza ini mirip seperti Mal Mangga Dua kali ya... Di dalamnya banyak toko-toko komputer.

Sebelum melihat-lihat ke lantai atas, pertama kami membeli koper dulu, yang ukurannya slightly lebih besar dari ”koper standar” di rumah. Setelah menitipkan koper itu ke yang punya toko (House of Leather), baru naik ke lantai atas. Sayangnya pagi itu eskalatornya belum nyala, padahal ada 4-5 lantai kali tingginya plaza itu.

Yang unik, di lantai atas ada beberapa ”toko komputer swalayan”. Kayak supermarket gitu, umm... lebih mirip Ace Hardware kali yaa, tapi jualannya barang-barang perlengkapan komputer.

Setelah puas ngeliat-liat di Low Yat, terus ngambil koper di toko House of Leather, baru balik ke Melia dulu untuk naroh koper. Habis itu nyebrang ke Times Square (lagi).

Sempet nongkrong agak lama di Elianto (gerai kosmetik). Kalo hari libur gitu, ternyata penuh banget Elianto itu. Beda banget dengan waktu ke sana bareng bu Bambang. Hihi... beli kutek, lipstik, dan eye shadow.

Terus sempet mampir Borders lagi, Metrojaya juga. Terus agak lama nongkrong di FOS. Diakhiri dengan makan di Secret Recipe. Hehe... dari beberapa hari yang lalu, aku selalu bilang: ”Ngapain makan di Secret Recipe, di Jakarta juga ada”.... tapi akhirnya masuk juga ke Secret Recipe. Pengen tauk juga... gimana rasanya makan Secret Recipe di negeri asalnya. Ternyata sami mawon tuh.... hehehe.... Aku memesan Spaghetti Tom Yam dan Iced Lemon Tea. Makan berdua habisnya 37 ringgit. Cukup mahal emang...

Setelah makan terus jalan-jalan sebentar lagi, baru balik ke Melia untuk naroh barang-barang. Baru abis itu jalan ke Suria KLCC (lagi). Kali ini naik monorail dari Imbi ke Bukit Nanas. Di Bukit Nanas kita gak jalan ke arah KLCC, malahan ke arah sebaliknya, yaitu ke stesen LRT Dang Wangi.

Nah, di Dang Wangi ini... akhirnya aku belajar pakek Ticket Vending Machine. Kekekek... sudah beberapa kali ngeliat barang begitu di Spore, tapi gak pernah nyoba. Apalagi sekarang ada EZLink di Spore. Cukup sesekali berurusan sama loket (yang pakek mbak-mbak atau mas-mas), selebihnya tinggal tempal-tempel aja di tempat tapping. Hmm... ternyata bisa beli tiket dengan sukses juga bok... (hehehe...dasar ndeso)

Interior peron-nya LRT mirip banget sama stesen MRT di Spore. Apakah emang semua stesen subway kayak gitu ya?? Kereta datang setiap 4 menit 37 detik. Pas keretanya dateng, BOK!! Penuh banget. Tapi masih kebagian tempat sih, meskipun (lagi-lagi) hidungku nyaris nempel di pintu dan udah gak kebagian cantolan / tiang buat pegangan, sehingga aku terpaksa pegangan pada langit-langit kereta (untung dah pakek Rexona hehehe...).

Dari stesen Dang Wangi, hanya 2 stesen menuju ke KLCC. Sampe di stesen KLCC, samar-samar tercium aroma yang cukup familiar: ROTIBOY!! Rupanya stesen KLCC itu nyambung dengan lantai Concourse-nya Suria KLCC. Dan toko pertama yang berada di dekat pintu masuk Suria KLCC dari arah stesen LRT adalah Rotiboy.

Tujuan pertama adalah Petrosains. Sayangnya sudah rada telat sampai di museum Petrosains itu (punyanya Petronas, mengingatkan pada Graha Widya Patra di Taman Mini). Sebenarnya admission terakhir tuh jam 5 sore. Aku baru sampe sana jam 5.15. Masih boleh masuk sih... tapi hanya di bagian Speed-nya saja.

Isinya? Mengingatkan aku pada praktikum Fisika, tapi tentunya dengan perangkat yang lebih sophisticated, namun dengan penjelasan yang lebih sederhana (maklum deh... sebenernya museum ini buat anak-anak). Hmm... sayangnya kata mbak Tati, museum ini udah mau tutup, karena merugi.

Dari Petrosains terus ke Kinokuniya (can’t help myself not to enter the bookshop…). Gak beli apa-apa sih. Tapi seneng aja liat-liat. Abis itu foto-foto dulu di taman KLCC. Mencari spot yang enak buat berfoto dengan latar belakang Petronas Twin Towers yang keliatan puncaknya. Hehe... Aku senang sekali mencari posisi yang tepat untuk berfoto di depan si twin towers ini. Waktu ke Suria KLCC sama mbak Tati kan udah sempet foto-foto, udah gitu besoknya foto-foto lagi sama Ibu (aku pakek baju pink ngecreng). Sekarang foto-foto lagi (yang terakhir ini pakek baju pink ke-oramye-an). Lokasi yang terakhir ini agak jauh dari pintu masuknya Suria KLCC, makanya puncak gedungnya bisa keliatan.

Setelah foto, sempat berkeliling di Suria KLCC. Malam ini sebenernya pengen nyoba makan di Ta Wan House (di food court lantai 2), tapi terus mundur teratur karena: 1) Dia gak punya menu bubur, gak kayak Ta Wan yang di Jakarta. 2) Adanya menu mie, tapi mangkuknya itu loh bok, gueeddee pisssaaann!! Akhirnya beli yamien di sebelahnya gerai Ta Wan ajah. 7.50 ringgit per orang.

Abis makan sempet muter-muter lagi di Isetan, terus ke Tower Records. Ekspektasiku terlalu berlebihan kali ya. Aku pikir Tower Records itu bakalan seperti HMV di Hereen, Spore. Ternyata hanya segede Disc Tarra yang paling gede. Oya, terus untuk beberapa album (yang jadi perhatianku), Indonesia ternyata lebih ”maju”. Contohnya albumnya Michael Lington yang A Song For You. Di Indonesia kan sudah dijual yang versi Indonesia (yang hanya untuk dijual di Indonesia), harganya bisa lebih murah dari yang impor kan. Sedangkan di sana Michael Lington itu diimpor semua. Tapi aku agak menyesal nih... gak beli albumnya Russell Watson yang That’s Life. Aku pikir bakalan ada versi Indonesia-nya, kayak Michael Buble aja... tapi ternyata aku salah.

Abis dari Tower Records, sempet beli jepit-jepit rambut dari logam, trus beli Rotiboy (dan soya milk-nya). Tadinya pengen pulang naik taksi, tapi kan tawar-tawaran gitu. Ada yang nawarin 15 ringgit, 20 ringgit. Kita gak tauk harga pantasnya berapa gitu loh. Ujung-ujungnya naik LRT lagi.

Setelah turun dari LRT di Dang Wangi, terus jalan ke stesen monorail Bukit Nanas, serem juga bouw... abis stesen monorailnya tuh udah sepi gitu. Padahal baru jam ½ 10 malam. Sampai di hotel terus packing barang-barang. Sebelum tidur sempet liat fireworks lagi. Kali ini fireworks-nya di posisi yang cukup nyaman (gak persis di atas hotel lagi).

Kuala Lumpur: Hari Ke-7

Hari terakhir!! Pagi-pagi... masih jalan-jalan dulu ke Sungei Wang/Bukit Bintang Plaza. Jam 10 belum pada buka... akhirnya liat-liat toko tas yang ada di sebrangnya Lot 10. Tapi gak beli apa-apa.

Abis itu sempet ke Bukit Bintang Plaza, nemu jepitan plastik dengan manik-manik harganya 10 ringgit/3 buah. Dari jauh mirip banget sama jepit rambut logam yang dibeli di Suria KLCC kemaren, bedanya hanya bahannya aja (dan juga harganya tentunya...). Terus sempet ke Metrojaya lagi. Liat-liat MPH Bookstore (tapi gak nemu yang dicari). Abis itu balik ke hotel.

Menjelang sampe hotel, aku memutuskan untuk ke Borders (di Times Square) sekali lagi. Tapi akhirnya gak beli apa-apa juga.

Setelah semua barang siap, jam 11 turun dan checkout. Pas mau naik taksi ke airport, ditawarin naik limousine hotel seharga 120 ringgit. Hiii... ogah banget. Dia sempet nurunin ke 100 ringgit, tapi ogah juga lah ya. Karena emang udah dari awal mau naik taksi biasa aja.

Untungnya taksi pertama yang distop menawarkan harga yang sangat reasonable: 70 ringgit. Kalo beli kupon taksi di airport kan 67 ringgit tuh, gak beda jauh kan? Mau naik KLIA Express berdua juga 70 ringgit, belum ngitung ongkos dari Melia ke KL Sentral dan tenaga yang keluar buat geret-geret koper naik turun tangga di KL Sentral (sekarang kan jadi 3 kopernya). Bagasi taksinya sempet ngebuka gitu pas kita baru muter di sekitar Bintang Walk, tapi segera tertutup lagi waktu taksinya lewat polisi tidur. Kekeke...

Ternyata... jauh juga ya KLIA itu. 75 km dari Kuala Lumpur bok!! Sama dengan Jakarta-Cikampek. Bayar tolnya hanya 5 ringgit loh, itupun udah included di 70 ringgit tadi, padahal kalo menurut aturan yang tertempel di taksi, biaya tol itu harusnya dibayar oleh passenger. Hmm... ternyata biaya tol di Indonesia itu mahal ya kalo dibandingkan di Malaysia??

Di tengah jalan sempet isi bensin dulu. Terus si pak supirnya sempet nunjukin persimpangan jalan tol yang menuju LCC Airport (tempat Air Asia). Huee... kirain yang namanya LCC Airport itu dekat dengan kota KL, ternyata jauh juga, sudah dekat ke KLIA gitu deh.

Perjalanan ke KLIA memakan waktu kurang lebih 1 jam. Sampai di sana... agak tertipu sama antrean. Garuda Indonesia itu dapet di counter check-in di row A. Waktu kita liat di row A ngantrenya panjang banget. Walah!! Masa’ segini banyak orang mau Jakarta semua naik Garuda?? Yang boneng ajah...

Setelah agak berjinjit-jinjit, aku melihat counter check-in Garuda yang sebenernya, yaitu di balik orang-orang ngantre tadi (orang antre itu mau naik penerbangan Timur Tengah gitu deh).

Aku coba memutari orang-orang ngantre tadi, terus check in, tapi koper-koper belum bisa lewat. Gak lama, Ibu datang sambil mendorong trolley berisi koper-koper kita. Rupanya barusan dibukakan jalan oleh petugas airport, karena banyak calon penumpang Garuda kebingungan gak bisa bawa barangnya melewati antrean penumpang maskapai Timur Tengah tadi.

Selesai check-in masuk toko coklat dulu. Abis itu baru masuk ke Imegresen yang antreannya surprisingly pendek sekali. Dari Imegresen terus periksa barang-barang lagi di X-Ray, baru abis itu naik Skytrain lagi buat ke gate C31.

Sebelum ke gate C31, aku sempet foto-foto di spot yang sudah kuincar sejak pertama kali menginjakkan kaki di KLIA. Hihihi… ini dia hasilnya. Setelah itu beli Burger King dulu, karena sudah lewat jam makan, aku kelaparan, dan diperkirakan paling cepet baru 40 menit lagi dikasih makan di pesawat. Di depan Burger King foto-foto lagi (norak bener ya), baru abis itu ke C31.

Di C31, aku ketemu sama seorang kenalan yang ex-Multipolar. Sempet sama-sama pangling gitu, sambil mikir-mikir: “pernah ketemu dimana ya sama orang ini?”

Pas mau boarding... jreng... rupanya satu pesawat sama “gerombolan jaket hitam” yang ternyata adalah rombongan paspampres. Hmm... iya ya, mungkin presiden RI dateng ke sini dalam rangka ultah Malaysia kemaren ya??

Di pesawat nonton Just For Laughs (hmm… apa Garuda hanya punya film ini yak?). Terus makannya Ikan plus Nasi dan Terong. Ikannya penampakannya mirip ayam bakar. Aneh sekali...

Nyampe di Soekarno-Hatta jam 16.00. Dan akhirnya... Jakarta!!