Saturday, November 22, 2008
Sydney Trip: Prologue
Ternyata ABG yang sekarang sudah tidak ABG lagi namun kadang masih berpenampilan seperti ABG tersebut akhirnya dapat kesempatan untuk ke Australia lagi dalam sebuah kunjungan dinas.
Inilah kisahnya:
Minggu 26 Oktober 2008
Aku pergi ke Sydney bersama 4 orang lainnya: Pak Yus, Pak Mahyudin, Iqbal, dan Pak Djoni. Kami berangkat pada tanggal 26 Oktober 2008 dengan penerbangan Qantas QF-42 yang berangkat pada jam 20.45.
Waktu tiba di Bandara Soekarno-Hatta jam 18.20, baru ada pak Yus dan pak Djoni. Aku dan pak Yus langsung masuk untuk check-in dan blocking tempat untuk yang lain. Setelah yang lain datang, baru bayar fiscal dan lewat imigrasi. Ternyata, bayar fiscal pakai kartu kredit itu kena charge Rp.4000 ya.
Aku sempet tertarik mau beli peta Periplus-nya Sydney, tapi mengurungkan niatku karena yang lain terus aja jalan menuju Ruang Tunggu Keberangkatan. Sebelum masuk ruang tunggu, tas kami digeledah. Setelah itu sempat duduk-duduk menunggu dipanggil boarding.
Sambil ngobrol, aku segera menyetel jam HP-ku dan jam tangan menjadi 4 jam lebih cepat sesuai dengan waktu yang berlaku di Sydney pada saat itu. Itu merupakan salah satu upayaku untuk memperkecil resiko jet lag. Jadi dari sebelum berangkat kita sudah men-set pikiran kita dengan waktu setempat daerah tujuan kita. Usaha lainnya tentu saja: tidur yang enak selama di pesawat, sampe ngiler kalo perlu. :-D Aku membawa bantal tiup Wonder Pillow untuk menunjang usahaku itu.
Penerbangan QF-42 menggunakan pesawat 767-338. Aku duduk di kursi 54J seharusnya, tapi akhirnya bertukar tempat dengan pak Yus dan duduk di 54K. Hmm… lumayan, dibagikan peralatan tidur, salah satunya adalah kaos kaki… jadi gak takut jempolnya kedinginan ntar kalau tidur (dari semua jenis baju, kaos kaki yang paling sering ketinggalan kalo pergi). Nah, sekarang masalahnya adalah… aku lapar… lapar banget.
Untunglah mereka membagikan daftar menu makanan, meskipun makanan dibagikan nanti setelah pesawat berada dalam ketinggian jelajah, tapi lumayan kan… jadi memberikan harapan dalam kelaparan.
Malam ini aku makan: Ikan Ukep dengan Saus Santan dengan Nasi Kukus dan Tumis Sayuran (bilang aja: gulai ikan…) dengan dessert Ketela Rambat dan Agar-agar Karamel (bilang aja: pudding kolak). Untuk minumnya aku pilih susu dingin, biar tidur nyenyak ceritanya. Teh panas pun aku campur dengan susu (pakek acara susunya nyemprot dikit ke jeans pula, dasar Gita…).
Selesai makan, pak Yus pindah ke kursi depanku yang ternyata kosong. Dan aku pun tiiiiddduuuurrrr dengan nikmatnya. Cuman kebangun dua kali, tapi itupun hanya beberapa detik, abis itu langsung tidur lagi. Pokoknya cita-citaku untuk tidur demi menghindari jet lag terkabul lah…
Sydney Trip: Day 1
Aku terbangun ketika pesawatnya sedang menyongsong fajar, lebih kurang jam 6 waktu Sydney. Hmm… memang selalu keliatan keren, meskipun sudah pernah liat sebelumnya, tapi tetep deh…garis merah di cakrawala itu indah banget… Garis merah itu lama-lama jadi kuning dan kemudian, bingo! Terang deh...
Sydney masih 1 ½ jam lagi, kira-kira kami berada di atas Broken Hill or something, kalau liat ke bawah pemandangannya sawah (bukan gurun). Seingatku dulu ketika terbang dari Sydney, pemandangan di bawah kebanyakan gurun. Gak salah nih? Kami dibangunkan untuk dibagi handuk panas dan makanan ringan berupa muffin yang rasanya gak jelas. Di TV, mereka memutar acara sekilas info mengenai Sydney. Aha... yah... mereka kan maskapai Australia, wajar bukan kalo muter video tentang kota-kota mereka?
Ketika akhirnya mendarat di bandara Kingsford Smith, Sydney, jam 7.45... aku mulai agak-agak curiga. Kok? Panas? Padahal kemaren-kemaren liat laporan cuaca Sydney di google suhu berkisaran pada belasan-belasan derajat celcius.
Waktu lewat di garbarata, aku masih juga bengong liat cuaca hari itu yang mirip Surabaya itu. Belakangan aku baru tauk, kalo cuaca cerah banget itu sebenarnya berkah buat kami. Info dari Ndulo, usaha lain untuk menghindari jet lag adalah mengekspose diri sebanyak-banyaknya ke bawah sinar matahari, karena sinar matahari akan menghambat terbentuknya melatonin yang menyebabkan teler, ngantuk, dst.
Airport Kingsford Smith itu agak-agak jorok interiornya. Bukan jorok dalam artian kotor, tapi gak rapi… di langit-langit keliatan kabel berseliweran, berdampingan dengan saluran AC. Di imigrasi cukup ngantre, tapi gak terlalu heboh ngantrenya, jadi dalam waktu relative singkat kami sudah berada di samping conveyor bagasi. Koper kami juga gak lama keluarnya… Nah, yang lama adalah ngantre di pemeriksaan bea cukai…
Setelah lepas dari bea cukai, pak Yus dan Iqbal tukar-tukar uang dulu di money changer. Sementara pak Djoni ngobrol sama orang Indonesia yang kebetulan mau jemput temannya.
Karena tidak ada yang jemput, kami pun memutuskan naik kereta untuk mencapai hotel Travelodge. Mulailah aku, dengan rada-rada sok tauk, jadi navigator dari kelompok kecil kami itu. Kenapa aku bisa sok tauk? Karena 2 malam sebelumnya sudah mengenyangkan diri dengan info-info dari http://www.131500.info/.

Naik kereta dari International Airport ke stasiun Museum biayanya A$14.60. Karena kebanyakan uang kami masih pecahan 50an atau malah 100an, sedangkan ticket vending machine-nya maksimal hanya bisa mengeluarkan kembalian sebesar A$19.90, terpaksa pinjam meminjam uang dulu untuk beli tiket.

Turun ke platform kereta, dan kemudian naik kereta, tidak ada masalah yang berarti, untuk menuju platform disediakan escalator. Sempet takjub lihat gerbong kereta yang ternyata punya 3 level. 1 level di tengah tempat penumpang keluar masuk, kemudian 2 level atas dan bawah tempat penumpang duduk menikmati perjalanan. Di level tengah disediakan tempat duduk juga sih, tapi hanya sedikit. Kami memilih duduk di level tengah karena lebih lapang untuk meletakkan koper-koper kami.
Sampai di Stasiun Museum, aku kembali sok tauk… segera membawa rombongan menuju pintu keluar Liverpool Street. Tapi… ternyata di Stasiun Museum itu tidak tersedia lift ataupun escalator, jadi terpaksa angkat-angkat koper sambil mendaki tangga. Dengan polosnya ketika lewat pintu tiket, kami lewat di pintu orang, bukan pintu “orang+barang”. Jadi kopernya agak2 sempet kejepit…hehehe… Untung saja kopernya hanya terisi setengah penuh.
Keluar dari Stasiun Museum, aku berusaha mengingat-ingat gambar peta yang dua malam sebelumnya aku lihat di internet tapi gak sempat aku cetak… Kemudian membawa rombongan menyusuri Elizabeth Street, Goulburn Street, dan menemukan Wenthworth Avenue, tempat hotel Travelodge Sydney berada. Sempet sekali salah belok. Tapi untung cepet sadar untuk kembali ke jalan yang benar… lumayan lah… secara petanya berdasarkan ingatan doang.
Di Hotel, kami melakukan prosedur “pre-check-in”. Seperti biasa, masuk hotelnya baru boleh jam 2 siang, tapi kita udah check in dulu, supaya ketika sudah waktunya… bisa tinggal ngambil kunci aja. Waktu Iqbal dan pak Djoni lagi sibuk daftar dilayani staf front office hotel bernama Mbak Novi yang ternyata berasal dari Medan, aku melakukan ritual penyegaran pagi-pagi, alias cuci muka, sisiran, dan ke toilet. Saat itu kan kami dalam keadaan belum mandi. Berhubung mau langsung jalan-jalan, setidaknya harus dandan dulu, biar seger dan gak kebawa ngantuk. Selesai dandan, aku menyimpan laptop dan jaket ke dalam koper, kemudian kami semua menitipkan koper ke concierge.
Kami berjalan kembali menuju stasiun Museum. Kemudian mempelajari sebentar tentang tiket Travel Pass. Aku berhasil meyakinkan yang lain untuk membeli Green Travel Pass seharga $43, karena tiket tersebut mencakup stasiun terdekat ke kantornya Avaya yang besok akan kami kunjungi: Epping. Tiket Travel Pass itu berfungsi sebagai sejenis ”tiket terusan” yang berlaku selama 7 hari untuk naik kereta, bus, dan ferry di area tertentu seputaran Sydney. Luasnya area cakupan tiket tersebut bergantung pada jenis dan harga tiket yang ditandai dengan warna. Yang paling murah adalah warna Merah, harganya $35. Tiket Hijau yang kami beli adalah yang kedua termurah dengan cakupan yang lebih luas. Kalau kita memang berencana untuk banyak menggunakan ketiga kendaraan umum tersebut selama berada di Sydney, Travel Pass itu sangat ekonomis dibandingkan beli tiket ketengan.
Kami langsung menggunakan tiket tersebut untuk naik kereta ke Circular Quay, yang jaraknya hanya 2 stasiun dari Museum. Begitu turun dari kereta, di stasiun Circular Quay, terbentang pemandangan landmark kota Sydney: Opera House berseberangan dengan Harbour Bridge. Dan aku pun bilang pada diriku sendiri: ”Welcome to Sydney Git...”. Dari tadi rasanya belum nyampe di Sydney sih...
Sebelum berjalan kaki ke Opera House, kami beli dan makan sandwich dulu di salah satu dermaga ferry Circular Quay. Bapak-bapak tiba-tiba kelaparan. Hmm... bukannya tadi sudah sarapan muffin ya di pesawat? Tapi meskipun sebentar lagi jam makan siang, di Jakarta sekarang adalah jam makan pagi. Jadi... aku gak protes, ini kan bisa dianggap brunch lah, biasanya juga jam segini aku turun ke Starmart cari cemilan. Aku ikutan beli Chicken & Cheese Sandwich, tapi hanya mampu menghabiskan sepotong. Sepotong lagi aku masukkan ke tas, untuk dimakan nanti. Dan kami pun makan dengan ditemani burung merpati dan camar yang tiba-tiba nimbrung hinggap di meja-meja kios makanan tersebut.
Setelah bapak-bapak kenyang, kami pun jalan kaki ke Opera House. Waktu kami sampai di dekat Opera House, langit agak tertutup awan, aku jadi teringat kunjunganku 13 tahun lalu. Suasananya mendung-mendung gitu karena emang waktu itu lagi winter. Beberapa hal rasanya sih gak berubah... contohnya tempat bis turis nge-drop rombongan tour-ku 13 tahun lalu. Pas aku melihat ke sana, rasanya deja vu... Tapi ada juga yang berubah... kalau dulu kami masih bisa lihat display mengenai sejarah Opera House, sekarang ini... untuk masuk ke Opera House harus ikutan tour keliling Opera House seharga $35. Mungkin kalo aku pergi sendirian, atau hanya dengan keluarga, aku akan ambil tur itu, buat membandingkan dengan Gedung Kesenian Jakarta (wakakakakak....).
Lagi tengah-tengah foto-foto di sekitaran Opera House, awan-awan yang tadinya menutup langit tersibak entah kemana, dan langit pun menjadi sangat cerah. Wow... aku langsung mikir: hmm... kalo gini caranya, sebelum berangkat tidak perlu khawatir tentang ”bawa berapa jaket” dunk... Cuacanya ennaaakkk banget... mengingatkanku pada Bandung di tengah tahun: cerah, matahari bersinar, tapi gak sumuk. Buat foto-foto juga bagus banget... Namun sepertinya matahari Sydney itu memberi kontribusi awal pada hitamnya diriku 2 minggu kemudian... hehehe...
Dari kejauhan, kelihatan orang-orang yang lagi ikutan tur Harbour Bridge Climbing. Jadi mereka membayar sekitar $189 untuk naik ke atas railing-nya Harbour Bridge. Perjalanan turun naik kurang lebih 3 jam katanya. Hii... kalo aku sih males: bayar mahal untuk disiksa di atas ketinggian...
Setelah puas foto-foto, kami berjalan ke Circular Quay lagi. Kali ini kami mau mencoba naik ferry ke Darling Harbour. Tapi sebelumnya si Iqbal sempat menghilang ke toilet. Kami naik ferry jam 12.45 dari Wharf 5 ke arah Darling Harbour. Emang dasar gak mau kehilangan kesempatan untuk menikmati pemandangan, aku, Iqbal, dan pak Djoni memilih duduk di gang di dek ferry. Anginnya booookkk… gede pisaaann… pak Djoni akhirnya memilih masuk ke ruang penumpang. Sementara itu pak Mahyudin terkantuk-kantuk masih jet lag.
Di pertokoan dekat King St. Wharf itu tidak ada restoran yang cukup meyakinkan (terutama meyakinkan di kantong), kebanyakan pub gitu deh… Kami harus berjalan melewati Sydney Aquarium, Sydney Wildlife World. Kemudian berhenti sebentar sebelum naik ke Pyrmont Bridge, karena pak Djoni nemu telepon umum. Pak Djoni mencoba nelpon James, host kita di Avaya Sydney, untuk memberi tahu bahwa kami sudah mendarat di Sydney. Responnya adalah: “langsung aja datang besok pagi..”
Kami melewati Pyrmont Bridge, berjalan di bawah bayangan jalur monorail. Monorail itu, satu-satunya kendaraan umum yang kunaiki di Sydney 13 tahun lalu. Setelah Pberpanas-panas dan berhenti beberapa kali untuk foto-foto, akhirnya... sampai juga di Harbourside Shopping Centre.
Shopping centre itu, terlihat kecil. Padahal menurut ingatanku, shopping centre itu gede banget. Di situ lah pertama kali aku menemukan Dymocks yang jualan banyak buku Star Trek sebelum menemukan toko buku Dymocks di George St. yang jualan lebih banyak lagi buku Star Trek. Sekarang… tidak terlihat ada tanda-tanda Dymocks di mall tersebut.
Mungkin juga persepsiku tentang besar-kecilnya mall, terpengaruh oleh keadaan Indonesia sekarang dibandingkan 13 tahun lalu. Kalo 13 tahun lalu, buat aku yang namanya Mall itu ya cuman Pondok Indah Mall saja, makanya Harbourside Shopping Centre keliatan wah banget. Sekarang? Di Jakarta doang buuaaannyyyaaakkk banget mall, tinggal pilih mau yang kecil mungil, atau yang super duper heboh kayak Kelapa Gading Mall, Grand Indonesia… Belum lagi Tunjungan Plaza yang bikin aku kesasar seminggu sebelumnya.
Kami makan di food courtnya Harbourside Shopping Centre. Aku beli Kids Meal Kebab seharga $7.50 yang terdiri dari Beef Kebab, Chips, dan Orange Juice yang botolnya kayak bedon buat naik sepeda. Sesuai perkiraanku, Kids Meal-nya cukup banyak buat aku. Buat menghabiskan Chipsnya saja harus dibantuin. Oya, mereka menyebut kentang goreng dengan sebutan “Chips”, padahal dalam persepsiku, yang namanya chips itu keripik.
Ternyata aku haus sekali… orange juicenya cepat sekali bocor jadinya… aku berniat, begitu sampai hotel aku mau minum air yang buuaaannyyaaakkk… Air mineral ukuran 600ml di sana harganya berkisar $2 (sekitar Rp.14000). Sakit hati lah kalo mikirin rupiahnya. Aku menyiasatinya dengan membawa botol minum kosong dari Jakarta di koper, untuk diisi dengan air kran yang drinkable setiap pagi sebelum berangkat dari hotel. Kebetulan aku tergolong cukup “tega” untuk minum air kran. Sebenarnya kalopun gak setega diriku, bisa saja sedikit repot dengan cara memasak terlebih dahulu air kran dengan menggunakan pemanas air yang buat bikin teh/kopi.
Satu hal yang jadi perhatian kami di food court ini adalah: semua orang membereskan sendiri sisa-sisa makanan dan bekas eating tools yang selesai digunakan, kemudian membuangnya di tempat sampah. Mandiri banget deh… Petugas kebersihan tugasnya bener-bener hanya mengosongkan isi tempat sampah tersebut. Gak harus membersihkan meja-meja dari bekas makanan.
Selesai makan, kami berjalan ke arah Pyrmont Bay untuk naik ferry balik ke arah Circular Quay. Dalam perjalanan ke arah Pyrmont Bay, lagi-lagi berpapasan dengan orang naik sepeda. Dari tadi di Circular Quay, aku sudah ngiler pengen naik sepeda di sini. Keliatannya tempatnya sepeda friendly banget. Sepeda bisa seliweran di trotoar tanpa saling mengganggu dengan pejalan kaki, dan juga cukup dihargai di jalan raya.
Di Pyrmont Bay kami melihat kapal model Bounty sedang bersandar di dermaga. Antik banget, dengan layar-layar yang terlipat. Tapi kalo disuruh naik perahu begituan, mabok kali ya aku? Perjalanan ferry dari Pyrmont Bay ke Circular Quay lebih berangin dan lebih bergelombang dibandingkan perjalanan pergi tadi. Sesampainya di Circular Quay, sempat bengong sebentar (dan aku sempat ngambil foto burung camar dari dekat sekali), sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk hotel dulu. Kami pun naik kereta lagi menuju stasiun Museum.
Sampai di hotel, ternyata ada salah persepsi di pihak hotel. Kami dianggap hanya booking 2 kamar!!! Dong dong banget deh… Ih, padahal kami kan udah bayar buat 3 kamar… Gimana cara coba ya… masa’ bapak-bapak itu mau tidur berempat kayak sarden? Terpaksa deh… telepon ke ANTATOUR Jakarta. Kami sempat mau coba telepon via PABX Kantor, tapi ternyata gak nemu koneksi internet. Opsi berikutnya adalah menggunakan salah satu selular kami, dan ternyata satu-satunya telepon yang bisa melakukan panggilan ke Jakarta adalah teleponku. Boookk… complain tentang beginian kan gak bisa sebentar doang… padahal aku aslinya pelit pulsa kalo udah namanya roaming internasional.
Akhirnya aku, Iqbal, dan pak Djoni menunggu di lobby, sementara pak Yus dan pak Mahyudin yang sudah teler, tinggal di kamar 720. Ternyata front office hotel sudah bicara dengan ANTATOUR dan lagi nunggu konfirmasi soal bookingan ketiga. Setelah nunggu gak jelas di lobby (untungnya gak makan waktu lama), akhirnya kami dapat bookingan ketiga itu. Fiiuuhh... untung deh... kalo nggak, urusan bisa lebih panjang lagi.
Aku dapat kamar 1312, kamar yang double bed, sementara kamar lainnya twin bed. Kamarnya kecil, tempat tidurnya standar banget, meskipun selimutnya katanya sih wool dari domba Merino. Tapi fasilitas tambahannya lumayan oke: ada setrikaan, ada pemanas air + teh kopi, ada beberapa set piring gelas sendok garpu, ada bak cuci piring, dan yang terpenting: ada microwave oven!!
Aku langsung mandi di kamar mandi yang seuprit (tapi menyediakan tali jemuran juga ternyata, lumayan... cukup buat menjemur 1 CD, 1 bra, dan 1 shirt). Setelah itu manasin sisa Chicken Sandwich yang tadi siang. Hmm... giling juga tuh microwave oven. Perasaan cuman 1 menit deh manasinnya, tapi kemebulnya (dan juga lelehan keju cheddarnya) kayak manasin 5 menit!! Pantesan aja dikasih tulisan peringatan untuk memperhitungkan waktu dengan benar, karena kalo sampe kebulnya kebanyakan, itu bisa membunyikan alarm kebakaran, dan membuat pemadam kebakaran datang ke hotel tersebut. Nah, konon dendanya bisa sekitar $400 sendiri karena false alarm itu.
Jadi enak banget tuh Chicken Sandwich dengan whole wheat bread-nya yang jadi lemes kepanasan, atau aku kelaparan ya? Waktu itu baru jam 7 waktu setempat, masih terang benderang, atau jam 3 WIB… biasanya masih ngutek di depan kompie di kantor. Tapi aku tetep aja bisa makan over-heated sandwich tadi dengan lahapnya seperti selayaknya makan malam.
Setelah itu aku ketiduran. Bangun-bangun sudah jam 8. Aku heran, kenapa Iqbal gak nelpon-nelpon ya? Katanya bapak-bapak pengen cari makan malam? Akhirnya jam 9 aku telepon kamar mereka, ternyata kasusnya sama: ketiduran. Kami gak tega mau bangunin pak Yus dan pak Mahyudin, jadi sepakat pergi bertiga saja. Ternyata waktu kami jalan meninggalkan hotel, pak Yus dan pak Mahyudin ada di belakang kami. Kasus mereka juga sama: ketiduran, terus bangun, kelaparan, tapi heran kok gak ditelpon-telpon. Karena kelaparan, akhirnya memutuskan untuk keluyuran cari makan, ternyata pas barengan dengan kami mau keluar juga.

Kami berjalan kemana kaki melangkah. Tidak seperti tadi siang yang panas menyengat, malam ini sedikit windy... Padahal aku hanya bermodal t-shirt. Hehehe... Akhirnya sampai di China Town, yang ternyata food courtnya sudah banyak yang tutup. Tinggal tersedia resto yang kalo gak keliatannya mahal, ya keliatannya gak halal. Setelah mencari dan mencari, ujung-ujungnya masuk ke McD Sydney Entertainment Center. Aku hanya pesen teh panas dan apple pie. Enak banget, dingin-dingin berangin gitu minum teh dan pie panas. Tehnya aku campur dengan susu, kalo yang semalam nyepret ke jeans, yang kali ini belepetan di meja. Payah deh... Oya, aku udah lama gak makan apple pie garing yang yummy kayak gitu semenjak menu apple pie menghilang dari seputaran Wendy’s dan McD di Jakarta (itu terjadi mungkin pas aku SMU), dan sekarang aku belum sempat mencoba pie-nya Burger King.
Setelah itu kami jalan balik ke hotel lagi. Sempat mampir ke convenience store di seberang hotel. Bapak-bapak pada mau beli minum. Hihihi… sementara yang lain pada beli air, aku cuek-cuek aja, entah udah berapa gelas air kran aku minum sejak sampai di hotel sore tadi. Dan malam itu pun tidur dengan suksesnya, baru terbangun ketika weker berbunyi keesokan paginya. (oya, di kamar hotel juga tersedia jam meja loh... jarang ada tuh).
Sydney Trip: Day 2
Hari pertama ke kantor. Aku gak mandi pagi hari ini, gara-gara air panasnya mati. Toh semalam sudah mandi sampe puas, jadi pagi cukup yang wajib-wajib sajah. Heheheh... Aku turun sarapan terakhir, waktu yang lain hampir selesai. Menu sarapannya simple: ada pilihan roti (mau whole wheat? Mau yang white? Tinggal panggang aja), trus kue-kuean (muffin dan pastry manis), ada buah dan yoghurt (tapi aku gak berani ambil, karena yoghurt-nya gede banget, 40ml per day aja udah bikin ”lancar”, apalagi 2 kali lipatnya), terus ada juga buffet yang terdiri dari spaghetti, bacon, sausage, scrambled eggs, dan potato gems. Aku hanya berani makan spaghetti, telur, dan gems saja. Plus makan roti dengan mentega. Gak berani ambil bacon dan sausage-nya. Mencurigakan...
Selesai makan, langsung setoran dulu. Abis itu kami pun berangkat. Hari itu mendung seharian. Juga lebih banyak angin dibandingkan kemarin. Kami jalan kaki lagi menuju stasiun Museum. Terus salah ambil jalur kereta. Bukannya ngambil jalur yang Direct ke Central, malah muter lewat Circular Quay, terus turun di Town Hall. Aku sendiri memang lebih milih turun di Town Hall. Kebayang kalo turun di Central, aku bakal bingung sendiri ngeliat segitu banyak platform yang harus dipilih. Di Town Hall kami berganti naik kereta yang ke arah Epping (jalur Merah, North Sydney – Hornsby). Ternyata kereta itu berhenti di setiap stasiun. Waktu dalam perjalanan ke Epping, pak Yus mempelajari peta jalur kereta, dan menemukan bahwa ada kereta yang rada Express ke arah New Castle yang juga berhenti di Epping, tapi berangkatnya dari Central. Hehe... oke deh pak, besok kita coba ya.

Sampai di Epping, kami mencari taksi. Kebetulan di tempat ngetem taksi, kami menemukan taksi yang besar, cukup untuk mengangkut kami berlima. Dan hebatnya lagi... taksi itu supirnya imigran dari Indonesia. Mantan orang Kebun Jeruk yang bermigrasi ke Aussie tahun 1983, dan sampai sekarang belum pernah ke Indonesia lagi. Keliatannya kehidupannya enak di Aussie, terbukti dari Nokia E71-nya yang kinclong.

Sampai juga di Kantor Avaya. Rupanya di situ adalah salah satu pusat R&D-nya Avaya. Mereka punya spesialisasi di bidang Video Conference. Aku gak akan cerita detail tentang kunjungan ke Avaya, abis kesannya kayak buka rahasia perusahaan orang. Yang pasti hari ini kami disuguhi minuman dari cafetaria, muffins, dan bolu pisang. Selesai dari kantor Avaya, James mengantar kami (dengan berdesak-desakan di mobilnya) ke stasiun Epping.
Dari Epping, sesuai saran James, kami menuju ke Olympic Park. Agak ribet juga naik keretanya. Jadi naik kereta ke stasiun Strathfield dulu, terus tukar kereta dengan kereta yang menuju ke Lidcombe, nah dari Lidcombe naik Olympic Park Sprint, yaitu kereta shuttle yang kerjanya bolak-balik antara stasiun Lidcombe dengan Olympic Park.
Dan tibalah kami di kompleks Olympic Park: kompleks stadion tempat penyelenggaraan Olympiade Sydney tahun 2000. Lucu juga... waktu tahun 1995 datang ke sini, mereka baru mulai jualan merchandise Sydney 2000 sebagai salah satu usaha untuk mengumpulkan dana. Sekarang ketika aku datang lagi, tinggal liat ”sisa-sisa” dari Olympiade 2000 tersebut, berupa kompleks stadion nan megah dengan segala fasilitasnya.
Di Olympic Park Information Centre, ada yang jual jersey sepeda keren banget motifnya. Tapi sayangnya harganya kok gak kayak di BBB Bike yak? Hehehe... Setelah masuk ke bagian dalam dari Information Centre, aku baru tauk kalo ternyata di Olympic Park itu kita bisa menyewa dan berkeliling dengan menggunakan sepeda. Sepeda yang disewakan macam-macam jenisnya, ada City Bike, ada MTB, bahkan ada sepeda lipat juga (gak takut dibawa kabur ya?). Di seputar kompleks, tersedia jalur sepeda, tapi mau lewat trotoar juga boleh saja. Huhuhu... Aku jadi semakin pengen naik sepeda ajah...
Kami makan siang di kios makanan di belakang Information Centre, tepatnya di seberang ANZ Stadium. Aku makan hot chocolate dan meat pie, sambil menikmati angin yang bertiup lumayan heboh sehingga menerbangkan tisu-tisu yang ada di atas meja. Ternyata meat pie itu adalah salah satu makanan khas Australia. Meat pie yang aku makan ini berisi campuran daging sapi dan daging kambing yang dimasak di dalam gravy sauce. Waktu aku tanya ke ibu-ibu yang jaga kios: ”Ada pie gak?” Aku membayangkan sesuatu yang manis, kayak apple pie atau pie buah lainnya. Ternyata dia bilang adanya pie daging. Enak juga... cuman entah kenapa gigiku kok jadi makin gripis ya abis makan pie itu? Padahal gak keras loh...
Selesai makan, foto-foto di depan ANZ Stadium. Di dekatnya ada tiang-tiang gak terlalu tinggi yang bertuliskan nama-nama atlet peserta Sydney Olympic Games 2000. Cocok buat maen kejar-kejaran kayak di film India.
Setelah puas foto-foto, kami pun kembali naik kereta menuju kota. Sebelumnya mampir ke stasiun Homebush dulu, pak Djoni berusaha mencari DFO, katanya sejenis factory outlet gitu. Kalo aku sih malas. Kalo mau ke factory outlet, mungkin lebih baik ke Bandung sajah... hehehehe...
Tapi kita hanya berjalan gak karuan di Homebush, DFO-nya ternyata masih 45 minutes dari stasiun Homebush. Jadi kita pun meneruskan perjalanan lagi, sampai turun di stasiun Town Hall. Tujuan kami berikutnya adalah melihat patungnya Queen Victoria di Queen Victoria Building. Begitu turun kereta, bapak-bapak cari toilet dulu. Toiletnya cukup unik, karena pintu depannya pakek pintu geser otomatis, kayak di bank ajah. Hehehe...
Abis itu pak Yus lihat counter Vodafone, jadi mau mampir dulu, buat aktivasi SIM Card yang kemarin dibeli di Circular Quay. Aku lihat jam: ½ 6. Sebentar lagi toko-toko tutup. Daripada menunggu yang lain, akhirnya aku bilang ke Iqbal bahwa aku akan meninggalkan mereka sebentar ke Dymocks yang kira-kira terletak di seberang QVB tersebut. Aku pun kabur.... dan keluar di pintu yang salah. Jadi harus jalan agak jauh menembus kerumunan orang yang lagi nunggu bis. Terus nyebrang ke sisi lain dari George St. Dan akhirnya menemukan toko buku Dymocks. Ternyata gak sebesar yang kuingat. Mungkin terdistorsi juga dengan Gramedia Matraman atau Kinokuniya Singapore? Jaman 1995, Dymocks keliatannya besar banget. Sekarang jadi terlihat gak ada apa-apanya dibandingkan 2 toko buku di atas.
Aku secara sekilas mencari bagian Majalah yang ternyata GAK ADA. Terus turun ke basement, di tempat yang seingatku ada bagian Sci-Fi. Bagian sci-fi-nya masih ada, tapi memang buku Star Trek-nya gak sebanyak dulu lagi. Tempat buku musik juga gak seasik dulu lagi. Kalo yang ini sih jelas terpengaruh dengan adanya www.bukumusik.com di Plaza Semanggi dan juga Music Essentials di Singapore. Ada Disney Store, tapi gak jualan boneka. Akhirnya aku keluar dari Dymocks tanpa membawa hasil. Kemudian mulai mencari rombonganku lagi...
Mereka kutemukan di dekat patung Queen Victoria yang berada di luar QVB. Di dekatnya ada wishing well yang ada patung anjingnya. Ceritanya itu adalah ”Islay”, anjing kesayangan Ratu Victoria. Pas lagi foto-foto di dekat patung Queen Victoria itulah aku melihat toko buku Galaxy di York St., tepat di seberang patung Queen Victoria tersebut. Aahh... besok-besok boleh juga mampir ke Galaxy Bookshop itu, kata halaman kuning, di situ jual buku Star Trek.
Aku masih pengen jalan-jalan, tapi pak Mahyudin dan pak Yus pengen balik ke hotel. Akhirnya kami berpisah di depan patung Victoria. Pak Yus dan pak Mahyudin jalan kaki balik ke hotel (hanya beberapa blok). Sedangkan aku, Iqbal, dan pak Djoni mencari Sydney Tower. Dasar dodol... aku bukannya melihat peta dulu, atau MENDONGAK KE ATAS. Aku langsung mengajak mereka masuk lagi ke stasiun Town Hall. Aku perkirakan Sydney Tower itu dekat dengan stasiun Wynyard.
Aku baru ngecheck peta ketika kami sudah di platform bawah stasiun Town Hall. Jreng...!! Ternyata Sydney Tower itu dekat dengan QVB, dan tadi waktu jalan kaki ke Dymocks, aku sudah melewati perempatan yang menuju Sydney Tower. Cuman salahnya, aku gak nengok ke atas, jadi gak sadar kalo di dekat situ ada Sydney Tower.
Kami gak jadi naik kereta, akhirnya malah keluar lagi dari stasiun Town Hall, kemudian berjalan kaki ke Sydney Tower. Pintu masuk Sydney Tower tidak sulit untuk ditemukan. Petunjuknya mudah untuk ditemukan, meskipun sedikit tertutup oleh proyek pekerjaan renovasi.
Sempet terjadi tragedi kamera Iqbal sebelum naik lift menuju Podium Level, tempat beli tiket untuk naik. Tapi untung kameranya baik-baik saja, gak berakhir seperti tragedi kamera Randegan.

Sydney Tower ini bangunan tertinggi di Sydney katanya... tapi coba check di link http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_tallest_buildings_in_Sydney, ternyata dia gak masuk hitungan dalam daftar gedung tertinggi di Sydney, karena dianggap tidak habitable. Mungkin kalo di Jakarta, bisa dianalogikan dengan Monas. Maksudnya bukan untuk ketinggiannya, tapi untuk unhabitable-nya. Monas kan juga sifatnya hanya observation tower aja. Museum-museum adanya di basement-nya.
Tiket untuk naik ke Sydney Tower adalah seharga $25. Itu sudah termasuk naik ke Observation Deck, terus masuk ke atraksi OZTrek, yang mana aku gak ada ide, sebenernya atraksi OZTrek itu apaan seh...
Lucu deh, lift untuk naik ke observation deck-nya terdiri dari 2 kompartemen yang berdampingan atas dan bawah. Jadi ketika naik, yang terangkut bisa sekaligus banyak. Sampai di atas, yah standar sih... liat-liat pemandangan, foto-foto, liat-liat souvenir. Aku sempet mampir ke toilet dan melakukan ritual ya-gitu-deh. Tadinya bangga banget... namanya juga jarang-jarang di ketinggian ratusan meter di atas permukaan tanah. Tapi setelah mengingat kejadian pas berangkat dinas ke Surabaya 1 ½ minggu sebelumnya, ternyata yang di Sydney Tower ini gak terlalu spesial.

Waktu matahari udah mau terbenam, kami turun ke podium level lagi, kemudian segera mengantri untuk masuk ke atraksi OZTrek. Kalo menurut dugaanku, itu seperti atraksi di Dufan yang ganti-ganti nama terus itu... yang pakek kursi terus digoyang-goyang seolah-olah kita lagi perang-perangan naik pesawat ruang angkasa, tapi ini mungkin settingnya keliling Aussie. Setelah nunggu dan ngantri sekitar 20 menit, akhirnya wahananya dibuka juga. Kita dikasih safety briefing dulu, abis itu dipandu masuk ke ruangan isinya kotak kaca mirip diorama yang di depannya ada kursi-kursi gitu. Ternyata acaranya emang diorama tapi ada moving picture-nya, jadi kayak “holodeck” gitu deh, tapi tentu saja dalam mode yang jauh lebih primitif. Kita duduk di kursi-kursi tadi, mendengarkan suara dari pertunjukan diorama tadi melalui headphone, oya kita bisa milih bahasa: Inggris, Jepang, Cina, atau Korea.
Ceritanya ya tentang kehidupan di Aussie lah. Ada kehidupan di kota-nya, di pinggir pantai, di outback, bahkan di hutan tropis. Setiap ganti scene, kursi kami bergeser ke diorama yang ada di sebelahnya. Setelah acara diorama-nya selesai... kami dipandu lagi untuk masuk ke theater yang besar dengan kursi-kursi seperti di Dufan!!
Nah ini diaa.... seperti yang kuduga... kita diajak “keliling Aussie” di atas kursi goyang tadi. Lumayan seru sih... Tapi kalo begituan sih di Dufan juga ada yaa... Kalo kata Iqbal: gue tauk kenapa OZTrek itu dijual sepaket sama tiket naik ke Sydney Tower, soalnya kalo dipisahin, OZTrek itu gak laku...
Selesai atraksi OZTrek, kami pun turun dari Sydney Tower. Kali ini tujuannya mau ke Circular Quay, karena mau liat pemandangan Opera House dan Harbour Bridge di waktu malam. Ternyata pas keluar dari Sydney Tower, dan berjalan menuju stasiun Town Hall, cuacanya lumayan berangin. Wuuiiyy... agak dingin jadinya.
Sampai di Circular Quay, kami berjalan melewati The Rocks, teruuussss.... ke arah Harbour Bridge. The Rocks isinya toko-toko dengan arsitektur antik. Iqbal sempet nunjuk kedai burger, tapi karena masih sibuk nyari akses ke Harbour Bridge, jadi niatnya nanti saja pas balik dari sana.
Akhirnya kami mencari Dawes Point: sebuah taman yang letaknya di bawah pylon selatannya Harbour Bridge. Tapi gak ada tangga di situ. Terus aku lihat ada petunjuk ke arah Pylon Lookout, tapi anehnya petunjuknya itu menjauhi Harbour Bridge kembali ke arah The Rocks. Kami ikuti petunjuk itu, masuk ke jalanan yang sumpee... gelap banget. Kalo kata peta sih itu Cumberland St. Kami melewati kantornya BridgeClimb, tapi sudah tutup. Akhirnya di tengah-tengah pepohonan, ketemu juga tangga yang keliatannya banyak banget anak tangganya dengan petunjuk bahwa tangga itu menuju Harbour Bridge dan Pylon Lookout. Hmm... berarti kalo mau naik ke Harbour Bridge, harus naik ke situ tuh...
Naiklah kami memanjat tangga itu, lumayan juga tingginya. Tangganya seperti dilapisi dengan pasir kelap-kelip, mungkin supaya gak licin. Akhirnya sampailah kami pada suatu pelataran. Aku pikir itu pylon lookout, tapi ternyata bukan. Terus ada tangga kecil lagi ke arah pintu kecil, ternyata di balik itu sudah jalan raya yang menuju Harbour Bridge! Kami pun langsung lewat pintu itu... tapi kok? Jalan setapak yang ke arah Harbour Bridge dihalangi dengan pagar. Tulisannya “No Pedestrian Access” gitu... apa emang pejalan kaki gak boleh lewat Harbour Bridge? Padahal katanya ada jalur khusus pejalan kaki di Harbour Bridge... Karena gak ada pilihan, akhirnya kami menyusuri jalan setapak ke arah berlawanan yang bernama: Cahill Walk. Jalan setapak itu memang menyusuri Cahill Expressway, lewat jalan layang yang di atasnya Circular Quay, terus berakhir di Royal Botanical Garden.
Aku sampe mesti buka jaket, meskipun banyak angin... tapi kepanasan juga akhirnya. Gara-gara olahraga malem-malem kali yaa... Yang penting ntar sampe hotel harus mandi air panas, biar gak masuk angin. Gak asik banget kalo sampe masuk angin.
Cahill Walk itu ternyata panjang banget.... berasa gak selesai-selesai... mau balik arah kok udah jauh. Setelah sekitar ½ jam berjalan layaknya orang tersesat, akhirnya nemu lift, yang ternyata berada di sampingnya stasiun Circular Quay. Huurrraaayyy... sampe daerah yang familiar!!
Aku sampe sekarang masih bertanya-tanya... karena semua informasi mengenai Harbour Bridge yang ada di Internet menunjukkan bahwa pejalan kaki bisa mengakses Pylon Lookout (dan kemudian Harbour Bridge) melalui tangga yang ada di Cumberland Street. Seharusnya itu tangga panjang yang kubilang berpasir kelap-kelip tadi. Alternatif lain adalah melalui Cahill Walk yang ujungnya di Royal Botanical Garden, dan dapat diakses melalui lift yang ada di Circular Quay. Nah... Cahill Walk, kemudian lift itu... semua juga sudah kulewati... tapi kenapa yang ada tulisan “No Pedestrian Access” ya? Apa karena itu sudah larut malam? (jam 8 hampir jam 9 gitu deh, cafe-cafe di The Rocks juga sudah banyak yang tutup). Ah ya sudahlah... nanti kalo ada kesempatan lagi, ya dicoba lagi saja...
Dari Circular Quay, kami kembali ke stasiun Museum. Kemudian putar-putar cari makan sekalian cari hotel. Sempat tertarik untuk makan steak Australian Angus Beef, tapi tempatnya di tengah-tengah pub yang berisik gitu. Ujung-ujungnya makan fastfood lagi, kali ini Hungry Jack, kalo di Jakarta lebih dikenal dengan nama Burger King. Aku pesan Whopper Jr. Regular Value Meal. Setelah itu sempet keluar masuk budget hotel untuk tanya-tanya bookingan. Tapi kok gak sreg aja mau masuk budget hotel. Sempet hampir booking di hotel bintang 3 macamnya Ibis, tapi rata-rata mereka gak ada kamar untuk hari Jumat-Sabtu. Ternyata waktu kami sampe di hotel terus bertanya... di Travelodge bisa di-perpanjang 3 hari lagi sampe checkout hari Minggu. Ya sudahlah... bungkus!!
Sydney Trip: Day 3
Sebelum turun makan pagi, aku menengok ke luar jendela kamar hotelku. Hmm... ada sesuatu yang tidak biasa... Gedung tinggi yang berada di sebelah kanan kamar hotelku kok atapnya tertutup kabut/awan ya? Aku mengamati jalanan di bawah... kenapa lebih mengkilap? Sepertinya jalanannya basah... Habis hujan kah?
Ketika aku sampai di lobby, terjawab lah sudah misteri yang jadi pertanyaanku dari tadi: gerimis. Sebenernya bukan gerimis seperti yang aku kenal di Jakarta. Kalo gerimis yang itu = hujan ringan. Nah yang ini ukuran tetes airnya lebih halus dibandingkan hujan, jadi gak nusuk-nusuk seperti air hujan. Ini yang di ramalan cuaca biasa disebut: drizzle. Tak tahu kalo dibahasa Indonesiakan jadi apa istilahnya.
Kami berangkat agak terlambat hari ini. Jam ½ 10 baru jalan dari hotel. Pas berangkat dari hotel ke kantor, aku masih rajin pakek payung. Tapi setelah selesai ngantor, payungnya jadi berasa ngerepotin, karena meskipun aku basah kena drizzle tadi, aku tidak merasa kehujanan... akhirnya kulipat dan disimpan di tas saja.
Kali ini kami langsung menuju ke Central, gak pakek muter lewat City Circle dulu. Sampai stasiun Central jam 10. Terus menuju ke Intercity Train Platform. Kami mencari kereta yang menuju New Castle, karena kereta tersebut berhenti di Epping, tapi tidak berhenti di setiap stasiun yang kami lewati. Hanya berhenti di Strathfield, kemudian Epping. Jadi lumayan, bisa menghemat 20 menitan. Tapi kereta tersebut baru jalan jam 10.15. Jadi bengong dulu nunggu keretanya jalan.
Sampai Epping, kemudian naik taksi besar lagi. Kali ini bukan imigran dari Indonesia lagi. Oya, taksi sana enak, dilengkapi GPS. Jadi supirnya langsung ngetik alamatnya di GPS-nya, terus tinggal ngikutin rute tercepat yang ditunjukkan. Gak pakek acara nyasar.
Jam 11 kurang sampai di Avaya. Sudah ditunggu oleh James. Kami langsung dipersilakan masuk ke ruang meeting di atas. Karena cuacanya gak bersahabat, langsung dipersilakan untuk bikin minuman panas di bagian belakang ruang meeting tersebut. Kebayang enaknya minum teh susu lagi dingin-dingin gini... Udah nakar tehnya, nakar gula… pas nyari dispenser air panas, si James nunjukin keran air panas. Wakakakakak… akhirnyaaa… yang lain terpaksa minum air dari keran jugaaa…
Sebenernya gak usah ragu untuk minum air keran. Orang-orang yang tinggal di sana melakukannya tiap hari kok. Dan perut kita, orang-orang Indonesia, hampir bisa dipastikan lebih tahan banting dibandingkan perut mereka. Wong makan di warung tenda sebelah tempat sampah saja kuat…. Apalagi cuman minum air keran yang water treatment-nya udah oke dan tiap hari diminum sama bule-bule itu.
Selesai urusan dengan James, kali ini dia gak ngantar kami ke stasiun Epping, karena ada janji lagi dengan orang lain. Sebagai gantinya, dia panggilkan 2 mobil Premiere Taxi. Pas mobil pertama datang, aku, pak Yus, dan pak Mahyudin naik duluan menuju stasiun Epping. Kami dibawa lewat jalan di belakangnya kompleks Avaya itu. Ternyata Epping itu adalah daerah macamnya Silicon Valley. Kalo di Jakarta itu dimana ya? Mungkin Cikarang kali ya... atau Karawaci?
Agak lama juga kami nunggu Iqbal dan pak Djoni di stasiun Epping. Tujuan kami berikutnya adalah Pennant Hills. Di sana ada Koala Park Sanctuary. Kami mau liat binatang-binatang khas Australia. Tapi Pennant Hills itu gak tercakup dalam coverage tiket Green Travel Pass kami. Jadi terpaksa mesti beli tiket lagi. $4.20 untuk pulang pergi Epping-Pennant Hills-Epping. Ih, tak taunya... di Pennant Hills gak ada gerbang tiket, misalkan kami nakal gak beli tiket pun gak apa-apa sebenernya. Tapi harus jujur dong...
Sampai di Pennant Hills, kami bingung. Naik bis darimana ya? Setelah nemu halte bisnya, liat jadwalnya… ternyata bis berikutnya masih 40 menit lagi. Waatttaaa… padahal udah laper. Iqbal dan aku pun berinisiatif nyari makanan, sekalian buat yang lain juga. Secara kami kan yang masih muda segar bugar, jadi keujanan dikit harusnya lebih kuat lah.
Dengan bermodal jas seragam Raker SDM KKKS BPMIGAS dan scarf hitam beli di FPS ITB 2008 (fungsinya ganti-ganti, kadang buat diikat di leher untuk menghangatkan, kadang diikat di kepala biar rambut gak terlalu basah, kadang buat nutupin muka biar gak kena semprot air), aku pun jalan ngikutin Iqbal nyebrang pelataran parkir yang ada di dekat halte tersebut. Di sisi lain dari pelataran parkir tersebut ada jalan besar, di seberangnya ada KFC.
Sebenarnya jalannya gak besar-besar banget dibandingkan jalan-jalan yang ada di Jakarta, palingan hanya 3 jalur bolak-balik (jadi 6 jalur), tapi kendaraan yang lewat di situ tuh trailer-trailer gede dengan kecepatan lumayan, mirip kayak di Tanjung Priok. Udah gitu, sebagian dari jalan tersebut dibatasi dengan beton-beton setinggi pinggang, mirip dengan beton yang dulu ada di depan stasiun Gambir. Jadi untuk nyebrang sembarangan… gak mungkin banget lah, selain berbahaya… kalo sampai terjadi apa-apa, kita yang salah karena nyebrang tidak pada tempat yang benar. Jadi kami harus jalan dulu ke lampu lalu lintas terdekat, nyebrang… kemudian jalan lagi menuju ke KFC.
Selama berada di Sydney, mungkin itu saat-saat yang bisa dibilang paling menantang dari segi cuaca. Seharian drizzle gak berhenti-berhenti… ditambah pula anginnya dingin. Trailer-trailer yang ngebut itu ikutan nambah-nambahin angin pula. Ya itu, sesaat mungkin berasa jaauuuhh banget dari rumah, tapi gak boleh berasa putus asa. Dibalik aja cara berpikir kita: “Nikmati Git, loe gak tiap hari ngalamin drizzle ditambah angin kayak begini… Di Jakarta gak ada yang beginian...” (adanya yang lebih parah kali ya? Wakakakak…). Jadi meskipun hidung dan rambutku basah, masih ketawa-ketawa hore ajah.
Tadinya kami gak mau beli di KFC. Beli aja di mini market-nya SPBU Coles, lebih dekat jaraknya dari lampu lalu lintas tempat kami menyebrang. Tapi rupanya di mini market itu gak ada sandwich, adanya pie saja. Jadi ya jalan lagi ke KFC. Ngantre bareng sama supir-supir truk. Lama nunggu (kasirnya menghilang) baru dilayani. Mesen 5 paket twister yang terdiri dari: Twister, Chips, dan Air Mineral.
Selesai urusan di KFC… aku gotong-gotong plastic isi 5 botol air mineral, si Iqbal ngurus makanannya. Kita nyebrang lagi menuju halte bis tempat 3 orang bapak-bapak yang lain menunggu. Eeehhh… sampe sana, ternyata mereka sudah ada makanan, dari seberang stasiun kereta katanya. GUBRAK!! Wuadduuhh… padahal usahanya lumayan juga buat membawa Twister itu. Meskipun sudah pada pegang makanan, twister dan minumnya tetap kami bagikan. Lumayan buat makan malam nanti kaann…
Ternyata bisnya yang bakal kami naiki (rute 632) sudah ada, tapi memang belum ngetem di halte. Sementara itu haltenya sudah penuh dengan anak-anak ABG (usia SMP gitu deh) yang baru turun dari kereta. Mereka kayaknya baru pulang sekolah deh.
Aku pun nunggu di tengah-tengah ABG itu sambil menyantap chips-nya KFC yang ternyata enak banget (ini bukan karena lapar loh, karena emang beneran enak). Belum selesai makan, bisnya ngetem di depan halte. Padahal gak boleh makan di dalam bis. Chips-nya langsung aku masukkan saja ke ransel. Hihihi… beneran agak-agak careless kali ini. Biasanya aku gak pernah mau masukin makanan ke tas tanpa dilapis kantong plastic, nah kali ini karena keterbatasan resource, Twister dan Air Minum langsung aku masukkan ke tas. Sebelum naik bis, masukin Chips-nya sekalian yang udah dimakan sedikit.
Bis yang kami naiki ini bukan Sydney Buses, tapi Hills Buses. Jadi gak termasuk dalam coverage Green Travelpass kami. Harus beli tiket lagi deh. Sekali jalan ke Koala Park tarifnya $3.
Gak lama bis itu pun meninggalkan halte, dengan dipenuhi oleh anak-anak ABG yang tadi. Sebagian dari mereka berdiri. Di tengah jalan, aku dan Iqbal berdiskusi: kita turun dimana ya? Wuuaaaa... kita tuh sama sekali gak tauk, sebenarnya Koala Park itu di sebelah mana...
Untung banget... aku jalan ke bagian depan bis dan bertanya ke supirnya tepat pada waktunya. Dia bilang Koala Park berhenti di next bus stop. Wuahahaha... coba kalo telat sedikit.. udah kelewat kali. Gak asik jadinya.
Setelah turun dari bis, ternyata kasusnya sama dengan KFC. Kami turun tepat di sebrang Koala Park, tapi gak ada fasilitas penyebrangan di situ. Harus jalan lagi deh ke lampu lalu lintas terdekat. Pak Yus nyuruh aku buat pakek payung lagi, tapi ya gitu lah... meskipun basah, tapi aku gak berasa lagi kehujanan. Hari itu yang pakek kostumnya pas banget dengan cuacanya hanya pak Mahyudin: jas hujan tahan air.
Bukannya ngeluarin payung, aku malah mengeluarkan... Chips!! Jadi sambil jalan ke lampu lalu lintas, nyebrang, terus jalan balik lagi ke Koala Park, aku asik menikmati Chips-nya KFC yang tadi belum habis. Hihihi... jadi agak-agak lemes gitu deh kentangnya, karena kena basah dan baru aja diungkep di dalam tasku...
Sampai di Koala Park, buang karton Chips-nya KFC yang sudah kosong, terus beli tiket masuk seharga $19. Hujan... atau Drizzle masih terus berlangsung. Untungnya mereka menyediakan payung besar yang bisa digunakan oleh setiap pengunjung. Dengan kondisi Koala Park yang penuh dengan pepohonan, air yang jatuh gak akan kerasa seperti drizzle, karena sudah kena pepohonan dulu, jadi pasti tetesannya gede-gede.
Banyak juga ternyata binatang yang belum pernah aku lihat secara langsung, contohnya Wombat, Dingo, Possum. Koala-nya di sini banyak, hihihi... cuddly banget, kayak boneka. Terus aku sempet masuk ke kandang kanguru. Kangurunya mengira aku, membawa makanan, jadi dia berusaha berdiri meraih tanganku. Hihihi... jadi lucu deh fotonya... Padahal di kandang kanguru itu banyak telek kanguru bergelimpangan, kacamataku lembab, jadi agak-agak susah untuk melihat dengan jelas... pasrah aja lah... mau nginjek telek kanguru juga bodo amat deh...
Kami akhirnya keluar dari Koala Park jam 5, tepat beberapa menit sebelum Koala Park-nya tutup. Tadinya aku gak mau belanja apa-apa... tapi setelah ngeliat pak Yus bawa boneka Koala gede banget... kok aku belum beli apa-apa ya... Liat-liat ke tempat boneka... aku gak tertarik untuk beli boneka Koala ataupun Kanguru, abis kok standar banget... Pengen boneka dingo sebenernya, tapi gak ada. Akhirnya aku nemu binatang gilig gitu... bentuknya kayak marmut, ekspresinya kayak om La. Aku tanya dulu sama yang jaga toko: ini binatang apa sih? Dia bilang: ”Itu wombat. Seperti Matilda The Wombat, emang tadi kamu gak liat dia?”. Aku cuman mikir: Yang mana ya? Tadi lewat kandang wombat tapi kosong, aku pikir wombat-nya lagi ngumpet karena hujan.
Ternyata oh ternyata... belakangan aku baru sadar kalo sebenarnya aku memang pernah melihat Matilda. Jadi waktu kami baru masuk ke areal Koala Park tadi, ada binatang lebih gede dikit dari om La lagi dikerubutin sama turis-turis Jepang. Aku pikir itu koala besar, tapi sebenernya itu tuh wombat... berarti itulah si Matilda!!

Ibu-ibu yang jaga loket/toko menyuruhku menamai wombatku ”Matilda”. Matilda-ku langsung kumasukkan ke dalam ransel, berdesak-desakan dengan air minum, payung, twister KFC yang belum sempat kumakan, dll. Kemudian kami menunggu bis yang menuju kembali ke stasiun Pennant Hills. Cuaca masih juga drizzle, tapi gak selebat tadi.
Sampai di Pennant Hills, Iqbal bilang mau ke Video Ezy yang ada di perempatan tempat kami nyebrang tadi pas mau ke KFC. Jadi sementara bapak-bapak lainnya langsung masuk ke stasiun, aku berdiri nunggu Iqbal di depan stasiun sambil makan twister yang tadi belum sempet dimakan. Lunch part-2 at 5 pm ceritanya...
Iqbal ternyata gak lama-lama di Video Ezy. Kami cepet-cepet menuju platform, dan gak lama kereta menuju City datang. Kali ini aku milih duduk di kompartemen bawah. Dan pembicaraan hari ini bertemakan: sepeda. Hihihihi…
Sampai di stasiun Central, kami turun dan tidak meneruskan perjalanan ke Museum. Kami keluar dari stasiun Central dengan harapan akan menemukan taman yang kemaren kami lihat dari atas Sydney Tower. Waktu itu drizzle-nya sudah berhenti. Ternyata kami tidak menemukan bangunan yang bentuknya seperti gereja yang berada di tengah taman tersebut. Adanya taman biasa saja dengan rumput yang luas. Waktu aku liat peta, ternyata taman yang bentuknya segi empat dan di tengahnya ada tugu besarnya adalah Hyde Park, yang mana berada di sampingnya stasiun Museum. Kami masuk lagi ke stasiun Central, terus naik kereta ke Museum. Di Museum, kami berpisah. Pak Mahyudin dan pak Djoni pulang ke hotel, sedangkan aku, pak Yus, dan Iqbal masuk ke Hyde Park.
Acaranya di Hyde Park adalah foto-foto... segala macem dijadikan obyek foto. Dari mulai ANZAC War Memorial, Australian Museum, patungnya Captain Cook, kolam di depannya War Memorial yang berlatar belakang Sydney Tower, dll. Karena Iqbal asik sendiri dengan foto-fotonya, terus aku asik sendiri memperhatikan tanaman-tanaman yang gak ada di Indonesia, akhirnya kami bertiga terpencar. Pak Yus pulang duluan ke hotel menjelang gelap. Iqbal gak tauk moto-moto dimana. Aku dan Iqbal akhirnya berhasil ketemu lagi di depan stasiun Museum sekitar jam 8 sore menjelang matahari terbenam. Dan kami sepakat kalo kami kelaparan dan pengen mencari steak daging sapi, abis kalo di Indonesia kan yang namanya Australian Beef sangat diagung-agungkan. Jadi sekarang pengen makan Australian Beef Steak di negara asalnya.
Pencarian steak daging pun dimulai… pertama kami jalan kaki ke Chinatown. Bukannya nemu steak daging, malah nemu yang jualan makanan Padang di salah satu food court di Chinatown. Setelah capek muter-muter dan gak nemu resto yang jualan steak tapi gak berbentuk pub… akhirnya aku mengusulkan: kita tutup kuping aja deh, masuk bistro yang satu lokasi sama pub yang kemaren (yang jualan Australian Angus Beef).
Akhirnya kami jalan ke arah pub tersebut. Oya, nama restonya Shark Bites. Untuk masuk ke Shark Bites Bistro itu, mesti melewati pub yang penuh dengan orang main bilyard, kongkow-kongkow, nonton pertandingan football dari LCD Projector, tak lupa berisik dengan suara musik, asap rokok, dan bir di atas meja. Wuah… lengkap lah sudah…
Ternyata tempat pemesanan makanannya si Shark Bites jadi satu dengan pub berisik tadi. Kami masing-masing memesan 1 porsi Australian Angus Beef Steak (aku lupa part/bagian apanya) with Mashed Potato + Extra Sauce (Dianne Sauce). Plus 1 gelas soft drink. Gak ada yang gak pakek soda di situ. Kalo mau gak pakek soda, ya minum bir. Kami dikasih semacam alat bernomor yang bentuknya seperti remote TV. Mbak-mbaknya bilang kami harus ngambil pesanan kami di dapur. Kami pun masuk lebih dalam ke arah meja-meja sepi yang ada tulisannya Shark Bites Bistro. Ternyata setelah duduk di situ, suara-suara berisik dari pub gak terlalu mengganggu.
Btw… gimana tauknya kalo pesanan kami sudah selesai…?? Aku jadi mengintai terus jendela dapur tempat para pengunjung lainnya mengambil pesanan mereka. Waktu dari jauh keliatan ada 2 steak dengan mashed potato diletakkan di pinggir jendela, aku langsung dengan sok taunya berjalan mendekati jendela itu. “Itu pesanan nomor 19 bukan?” Baru aja selesai ngomong… alat yang mirip remote TV tadi berbunyi… ternyata alat itu sejenis pager gitu (wah, emang ndeso banget…), buat manggil kita kalo pesanannya sudah selesai.

Tampangnya sih menarik bangeett… mashed potato di bawah, ditumpuk dengan daging steak, terus disiram pakek sauce-nya, abis itu dikasih sejenis potongan pangsit panjang-panjang… Tapi pas dimakan… umm.. empuk sih… tapi bayanganku tuh jauh lebih empuk dari itu!! Yang ini lebih alot kalo dibandingkan steak bikinan sendiri yang dimasak pakek Multi Roaster Oven dan diungkep lama pakek meat tenderizer. Dianne Sauce-nya ternyata kurang spicy kalo buat lidahku, akhirnya aku tambahin dengan barbeque sauce botolan, macamnya saus steak A1 gitu deh.
Selesai makan steak, kami mencari warnet. Abis kalo internetan di hotel sejam bisa abis $6. Nah ini... sejam cuman $2.50. Fungsinya warnet tuh buat mencari info-info tentang obyek akan kami kunjungi keesokan harinya. Untuk kali ini, tujuannya adalah mencari info mengenai persewaan mobil. Kami tuh lagi mikir-mikir gimana kalo besok pergi ke Blue Mountains pakek mobil sewaan.
Sewa mobil di sana gak terlalu mahal, mirip-mirip aja dengan di sini kalo dikurs dengan uang rupiah, mungkin karena dalam kondisi tanpa supir ya. Terus bensin juga kita yang bayar lagi. Tapi harga bahan bakarnya juga sama aja dengan harga di sini, terutama bensin Pertamax dan sodara-sodaranya itu. Cuman... ternyata setelah liat di websitenya RTA-nya NSW... untuk SIM dari luar Australia sebenarnya boleh-boleh saja, asalkan ada terjemahan bahasa Inggrisnya andaikata SIM tersebut tidak dalam bahasa Inggris. Lhhaaa... SIM Indonesia kan pakek Bahasa Indonesia... ah daripada-daripada pas apes ada razia... dendanya malah gila-gilaan, mending ambil yang aman aja deh: naik kereta lagiii...
Sydney Trip: Day 4
Hari ini jam 8 kami sudah berangkat dari hotel. Tujuan pertama adalah stasiun Central. Di stasiun Central, kami keluar dari peron untuk ke loket dan membeli tiket BlueMountainLink. Jadi dengar membayar $48.80 per orang, kita bisa dapat tiket kereta pulang-pergi dari Central ke stasiun Katoomba, plus tiket bus tingkat BlueMountainExplorer yang akan membawa kami keliling daerah Blue Mountains.
Setelah dapat tiketnya, kami masuk lagi ke peron untuk Intercity Train. Ternyata keretanya masih ½ jam lagi. Masih banyak waktu untuk cari toilet. Aku menghilang sebentar untuk cari toilet. Yang ternyata jauh juga... dan harus pakek keluar peron.
Waktu aku balik lagi ke atas, Iqbal dan pak Djoni lagi panik di pintu tiket gara-gara tiketnya pak Djoni tertelan oleh mesin tiket (salah masukin tiket). Untung ibu-ibu yang jaga mau bukain mesin tiket, dan kami pun mencari tiket yang tertelan itu dan kemudian berhasil menemukannya.
Jam 9.55 keretanya jalan. Perjalanannya 2 jam. Di tengah perjalanan, ada pemeriksaan tiket. Kondekturnya mas-mas dengan pakaian seragam celana pendek. Hihihi... Kami menembus daerah pinggiran kota Sydney, kemudian keluar kota, hingga akhirnya mencapai daerah perbukitan. Sepanjang perjalanan beberapa kali melihat orang keluar masuk kereta dengan membawa sepeda MTB. Dan buat mereka, itu hal lumrah aja... gak perlu pakek acaranya ngasih tips ke kondekturnya seperti di sini (itu pun kalo ada kondekturnya... selama di Sydney, baru sekali ini liat kondektur).
Hal lain yang jadi perhatian adalah... selama perjalanan 2 jam itu, kami hanya sekali melewati persimpangan kereta – jalan umum yang memakai palang pintu. Sisanya menggunakan terowongan atau flyover. Terus juga keberadaan BTS... Sinyal handphone penuh terus, tapi bangunan-bangunan di sana gak mirip rambut jabrik seperti bangunan di sini yang penuh antena.
Kami turun di stasiun Katoomba. Aku segera keluar dari stasiun, gak tauk yang lain mungkin foto-foto dulu kali, lama banget gak muncul-muncul. Aku langsung masuk ke pusat informasinya BlueMountainExplorer Terus bapak-bapak yang jaga di pusat informasi nanya: “Kamu sendirian?” Enggak lah, ada 4 orang lagi bareng aku. “Kalo gitu, kamu bawa temen-temen kamu kemari dulu, baru nanti saya jelasin.” Hmm... apaan sih? Kok mesti rame-rame segala...
Waktu akhirnya kami ngumpul, aku membawa mereka ke bapak-bapak tadi. Terus bapak-bapak tadi mengeluarkan 3 buah booklet dan menukarkannya dengan 5 tiket BlueMountainExplorer kami. Dia bilang booklet itu adalah tiket kami untuk naik bis tingkat BlueMountainExplorer. Kalo mau naik bis, kami kibas-kibaskan aja booklet itu biar pak supirnya ngeliat. 1 booklet ada yang buat berdua, ada yang sendiri. Dia juga kasih tunjuk tempat-tempat menarik yang bisa kami kunjungi selama di Blue Mountain. Bus stop nomor berapa aja dimana kami harus turun.
BlueMountainExplorer adalah bis double decker atau bis tingkat berwarna merah yang dicat seperti double deckernya Inggris. Untuk perjalanan pertama, kami naik di lantai atas. Ini pertama kalinya aku naik bis tingkat loh. Dulu kan di Jakarta ada bis tingkat PPD, cuman waktu bis tingkat itu masih jaya-jayanya, aku belum bisa naik bis sendiri. Lagipula di dekat rumahku kan gak lewat PPD.(kecuali Depok-Grogol yang sangat jarang itu kali ya).
Pemberhentian pertama adalah bus stop 9 yang berada di dekat stasiun Kereta Gantung yang menuju ke Scenic World. Kami gak mau naik kereta gantung, tapi dari dekat situ ada akses masuk ke jalan setapak yang berada di pinggir tebing-tebing Blue Mountain. Pemandangan pertama, kami nikmati dari titik yang disebut Cliff View Lookout.
Dari tempat tersebut batu yang jadi landmarknya Blue Mountain terlihat lumayan jelas. Batu itu disebut The Three Sisters, karena bentuknya yang seperti orang berjejer tiga. Aku langsung semangat pengen foto-foto dengan latar belakang The Three Sisters itu tadi, karena dalam kehidupan nyata aku kan one of another group of Three Sisters... hihihi...
Dari Cliff View Lookout, kami jalan mengikuti jalan setapak ke arah Scenic World. Sampai akhirnya keluar di jalan raya lagi, di dekat bus stop 11. Kita mulai kelaparan. DI dekat situ ada cafe sebenarnya, tapi kok gak menarik. Aku mampir dulu di toilet, yang kusebut sebagai MCK-version of Australian toilets. Agak-agak jorok relatif dibandingkan toilet-toilet lain di Australia. Udah gitu bangunannya mirip sama MCK di Buperta Cibubur.
Pak Yus akhirnya mengajak kami untuk turun terus mengikuti jalan setapak, menuju ke stasiun Scenic Railway, yang katanya jalan kereta paling curam di dunia. Hmm... seberapa curam ya? Kita liat nanti... tapi sebelumnya kami sempat berbelok dulu untuk melihat air terjun yang sepertinya sih Katoomba Cascade.

Sebenarnya kita gak boleh mendekat sampai ke pinggir air terjun, karena ada pagar pengaman yang membatasi. Tapi karena kami lihat ada bule manjat pagar itu. Pak Djoni dan Iqbal ikutan memanjat pagar biar bisa foto di dekat air terjun. Dan waktu mereka lagi mikir-mikir angle yang bagus... aku juga ikutan manjat pagar.
Jalan kaki turun terus itu jadi mengingatkan aku pada pengalaman di negeri orang yang lain lagi: Huangshan. Jadilah aku menjuluki perjalanan ini sebagai Huangshan Ketiga. Yang pertama adalah perjalanan Huangshan aslinya, yang kedua ketika turun tangga darurat akibat ancaman bom di Kwarnas, nah ini yang ketiga. Dah kebayang deh gimana sakitnya dengkulku besok pagi. Selain turun, jalan setapak itu juga penuh dengan daun-daun dan sedikit basah, karena daerah itu memang rainforest, jadi agak licin deh... hmm padahal aku gak pakek sepatu olahraga, hanya pakek sepatu sandal trepes yang biasa aku pakek buat belanja di mall, jadi gak terlalu “megang”. Lama-lama karena takut kena basah dan supaya bisa jalan dengan lebih leluasa... aku pun menggulung celana panjangku...
Setelah turun, turun, dan tuuurrruuunn menyusuri jalan setapak penuh tangga (bahkan ada tangga yang terbuat dari besi) yang disebut Furber Steps, sampai juga kami ke perbatasan Blue Mountain National Park dengan daerahnya Scenic World. Di situlah stasiun bawah dari Scenic Railway berada. Rencananya kami akan naik dari lembah ini menggunakan kereta tersebut, biar gak capek mendaki lah.
Ceritanya jalur kereta tercuram itu dulunya digunakan untuk mengangkut pekerja tambang batu bara yang bekas kantornya ada di lembah itu. Kereta yang gerbongnya minimalis, hanya terdiri dari kursi-kursi, palang-palang, plus rantai pengaman, menembus tebing batu untuk sampai ke stasiun atas yang terletak di bangunan utama Scenic World. Jaraknya sekitar 545 m dari atas ke bawah, and vice versa.
Waktu baru selesai foto-foto di sekitar kantor tambang batu bara, tiba-tiba GRUDUK! GRUDUK! GRUDUK! WAAAAA!!! (suara orang teriak). Ternyata keretanya datang DARI ATAS tebing... dekat sekali sama tempat kami berdiri. Wedeeww... kayaknya lumayan curam juga. Gimana ya rasanya naik kereta itu? Mungkin seperti naik halilintar mundur? Orang-orang yang pada turun dari kereta pada ketawa-ketawa lega... Hmm? Jadi semakin penasaran nih.
Karena semuanya sudah selesai berfoto, kami naik kereta yang menuju ke atas. Hmm... ternyata posisi duduknya jadi mundur. Gak banyak yang naik kereta bareng kami, jadi bisa milih gerbong sesukanya. Kami milih gerbong yang tengah. Pak Yus duduk paling depan, aku dan Iqbal di belakang pak Yus, pak Mahyudin dan pak Djoni di belakang kami. Keretanya jalan...
WWUUUAAAAA.... ternyata seru banget.. mengerikan tapi menyenangkan... aku gak berani ngelepas peganganku ke palang-palang besi yang tersedia di gerbong itu, teriak-teriak, tapi sambil ketawa kegirangan. Pak Yus dengan santainya balik badan terus minta kamdig buat moto kita-kita, Iqbal tadinya juga gak berani ngelepas tangannya dari besi-besi itu, tapi terus entah gimana dia berhasil mengeluarkan kamera dari tasnya, kemudian menyerahkannya ke pak Yus. Sekali jepret, goyang (ya iyalah pak... wong keretanya ngebut gitu, susah mau ambil gambar yang steady). Pas pak Yus mau jepret sekali lagi, tiba-tiba... GGEEELLLAAAPPP!!! Rupanya keretanya masuk ke terowongan menembus bukit (bukit tebing kali ya, abis curam banget gitu...). Kemudian tak lama... keretanya agak-agak ngerem dan berhenti di stasiun atas yang berada di Scenic World. Kami pun turun, kemudian membayar $10 sebelum keluar.
Wuuaaa... aku jadi merasa laaappaaarrr banget. Untung di Scenic World itu ada Skyway cafe. Langsung mesen sandwich deh... kali ini Turkey on Chiabatta. Turkey itu daging kalkun dibikin lembaran-lembaran seperti smoked beef, terus dibuat sandwich dengan menggunakan roti Chiabatta. Entahlah roti Chiabatta itu asalnya darimana, pokoknya bentuknya seperti bantal dan rasanya sedikit asam. Kalo di Jakarta kadang bisa ditemukan dalam ukuran lebih kecil di Carrefour. Minumnya? Kebetulan sebelum pesen makanan, aku sempet ngelirik ke kulkasnya cafe itu, sepertinya ada botol Coca Cola dengan tutup dan label warna putih. Langsung deh pesen minuman itu: Coca Cola Vanilla!! Aku aslinya gak begitu seneng minum soft drink yang bersoda-soda gitu, tapi aku suka Coca Cola Vanilla. Barang itu gak ada di Jakarta, kalopun ada itu pasti impor yang harganya males banget.

Lagi-lagi dikasih pager seperti waktu di SharkBites. Emang praktis sih... jadi gak perlu pelayan, tapi juga gak perlu teriak-teriak manggil tamu yang pesenannya sudah siap. Karena tenaga kerja mahal, jadi emang harus menggunakan teknologi.
Selesai makan, kami keluar dari Scenic World, kemudian naik bis tingkat lagi. Kali ini tujuannya adalah ke Bus Stop 13, di dekatnya Blue Mountains Chocolate Shop. Di situ boleh cicip-cicip coklat kecil-kecil yang rasa standar: milk choc, dark choc, dan white choc. Aku hanya beli 1 bar dark chocolate (standarnya aku juga... hehehe). Abis itu kita lanjut jalan kaki menuju ke The Echo Point. Titik Pemandangan yang lain.
Dari Echo Point ini, The Three Sisters keliatan jelas sekali. Pokoknya keren banget buat foto deh... hehehehe... apalagi mataharinya lagi mencrang-mencrangnya...
Setelah puas poto-poto di Echo Point, kami naik double decker lagi. Pemberhentian berikutnya di Bus Stop 18. Ceritanya mau liat Gordon Falls. Tapi ternyata dari Gordon Falls Lookout pemandangan ke Gordon Falls-nya sendiri gak terlalu bebas. Mungkin ada jalan setapak lagi menuju ke sana, tapi yang pasti kami udah pada mulai teler. Sakit dengkul bookk...
Akhirnya kami jalan kaki ke Bus Stop 19, karena di situ ada Toys & Railway Museum. Sambil foto-foto di depan villa-villa yang kami lewati. Ternyata akhirnya gak jadi masuk ke museum yang tadi, abis masuknya bayar. Kirain gretong... (hehehe... dasar turis ngirit).

Naik bis tingkat lagi... kali ini berhenti di Bus Stop 21. Obyeknya adalah Leura Village. Ada deretan toko-toko gitu deh... yang pertama kukunjungi adalah: Cafe Josophan’s. Katanya bapak-bapak yang di pusat informasi BlueMountainExplorer, cafe itu menyajikan cokelat yang paling enak di seluruh dunia. Jadi aku beli segelas Hot Chocolate. Enak sih emang... tapi apakah itu yang paling enak di seluruh dunia? Aku gak tauk sih...

Setelah selesai minum coklat, ke toilet, dan mencari-cari Iqbal yang tiba-tiba menghilang... aku berkumpul dengan yang lain, terus kami pun berjalan menuju stasiun Leura. Kami akan naik kereta untuk kembali ke Sydney dari stasiun Leura itu.
Setelah menunggu di stasiun Leura, kami naik kereta jam 5.28. Tidur dengan suksesnya di kereta. Capek banget, tapi puasss....
Dua jam kemudian sampai di Sydney, masih agak-agak terang gitu. Kami berhenti di Central, dan tidak meneruskan perjalanan ke Museum, melainkan malah berjalan kaki menuju World Square, shopping center di antara Goulburn St., George St., dan Pitt St. Menurutku sih not a very wise decision, mendingan naik kereta ke Museum dulu baru jalan... ini jalannya kejauhan, kita kan abis seharian jalan... udah gitu mana hujan rintik-rintik pula. Kali ini hujan betulan, bukan drizzle.
Sampai ke World Square, mencari Hot Dollar, semacam toko lima ribuan gitu. Di situ memang banyak barang-barang oleh-oleh Australia. Tadinya aku gak berminat. Tapi terus kupikir... kapan lagi sempatnya... mendingan waktu lain dipakek buat jalan-jalan daripada belanja. Nah, waktu di World Square ini aku sempet masuk sebentar ke Dymocks cabang World Square. Pas aku masuk... kayak ada sesuatu yang aneh. Ternyata... toko itu memutar musik sunda yang biasa diperdengarkan di restoran kuring!!
Setelah belanja ol-ol, tadinya mau cari resto yang jualan nasi, tapi sepertinya sudah tutup. Akhirnya cari KFC di George St. Makanlah kami dengan Ayam Fillet-nya KFC + Chips-nya yang enak itu. Abis itu pulang ke hotel.
Sampai di hotel ternyata harus bayar hotel untuk bukingan 3 hari berikutnya. Bayar cash pula. Waaatttaaa... untungnya pak Mahyudin banyak bawa Australian Dollar, jadi kita rame-rame minjem ke pak Mahyudin dulu.
Sydney Trip: Day 5
Rencana hari ini mau ke Bondi Beach. It was supposed to be a half day trip, secara transportnya simple banget. Tapi akhirnya hari ini berubah jadi Bondi + Shopping Day for all of us.
We were running late. Jam 9 turun ke lobby, baru Iqbal yang siap. Pak Yus menghilang untuk mencari money changer. Akhirnya aku nginternet dulu di hotel. Sampe abis 3 dollar (30 menit). Ternyata pak Yus menemukan ANZ Bank di persimpangan Pitt St. dan Market St. Namun sekarang pak Yus belum siap berangkat ke Bondi.
Aku juga lagi butuh Australian Dollar lagi. Jadi aku bilang aku mau ke ANZ juga, terus nanti pas mereka berangkat, tinggal SMS aku saja, aku bakal nyusul ke stasiun Museum. Jadi pergilah aku ke ANZ, sekalian sambil tengak-tengok cari Krispy Kreme. Aku laper banget belum sarapan. Yang terbayang untuk mengatasi kelaparanku adalah donat. Aku gak tertarik liat donat-donat yang di minimart atau convenience store yang kulewati, kayaknya yang bisa masuk ya yang model Krispy Kreme gitu.
Di ANZ, ngambil nomor antrean money changer. Tuker duit dari US$ ke A$, kena charge A$8 untuk 1 transaksi. Abis itu aku sekalian nanya... bisa gak nukerin uang A$ jadul. Aku tuh dibawain uang Australia sisa pergi tahun 1995 itu. Uangnya jadul, lecek, dari kertas pula, bukan dari plastik kayak yang sekarang. Pas kutanyain di money changer di Jakarta, mereka bilang coba aja ditanyain ke bank di Aussie. Mas-masnya bilang bisa, tapi harus di teller, aku mesti ngambil nomor antrean baru. Jadi setelah urusan tukar uangnya selesai, aku narik nomor antrian lagi. Tapi bingung mau yang mana... abis di layanan teller gak ada tertulis bahwa mereka melayani “penukaran uang jadul”, semua layanan teller berkaitan sama rekening aja. Jadi aku ngambil antrian customer service untuk pendatang dan pelajar. Kali ini yang nerima ibu-ibu yang baik banget. Dia ngomong ke aku seolah-olah aku anak ABG yang baru aja dateng ke Aussie buat sekolah. Terus kutunjukin duit jadulku. Abis itu diantarnya aku ke teller, gak lama kemudian selesai deh urusan... hihihi... abis itu aku jalan kaki ke arah George St (dan bukannya ke arah stasiun Museum... wekekekek...). Bukannya fokus pada pencarian Krispy Kreme, aku malah masuk TGV (The Galleries Victoria) dan mencari.... KINOKUNIYA!!!
Tinggal selangkah lagi masuk Kinokuniya, Iqbal ngirim SMS... katanya mereka sudah berangkat. Yaaahh... gagal maning Kinokuniya-nya. Tapi yang penting sudah tauk tempatnya. Akhirnya kubilang bahwa aku akan langsung ketemu mereka di stasiun Central, tepatnya di platform yang melayani kereta jurusan Bondi Junction.
Dari TGV aku langsung nyebrang ke stasiun Town Hall. Aku kemaren-kemaren udah liat bahwa di dekat pintu masuk stasiun Town Hall ada Krispy Kreme. Hehehe... jadi sebelum masuk Town Hall, beli 1 Original Glazed-nya Krispy Kreme dulu. Yummyyy... sebenernya gak doyan-doyan amat sih, tapi namanya juga belum sarapan...
Dari Town Hall langsung ngambil kereta ke Central, terus di Central ngambil platform 24, yang emang tempatnya agak terpisah dan khusus melayani jurusan Bondi Junction. Ternyata aku nyampai beberapa menit lebih dulu dibandingkan bapak-bapak.
Kami pun naik kereta jurusan Bondi Junction sampe poll trayeknya. Suasana di kereta ini agak berbeda dibandingkan kereta-kereta yang kemaren kami naiki. Di kereta ini nih orang banyak yang pakek baju pantai, maen banget lah suasananya.
Sampai di Bondi Junction, kami ngantre naik bis yang menuju Bondi Beach, pilihannya kalo gak nomor 380, 381, atau 333. Baru kali ini nih, akhirnya nyobain menggunakan Green Travelpass-nya untuk naik bis.
Sampai di Bondi Beach... WAAAAA... bener-bener beda dengan yang kulihat tahun 1995. Waktu itu kan pas winter, jadi pantainya kosong. Kali ini lumayan penuh, meskipun aku yakin bakalan lebih penuh lagi andaikata itu wiken atau ketika summer nanti. Aku, Iqbal, dan pak Djoni turun ke pasir dengan copot sepatu, sementara pak Yus dan pak Mahyudin jalan-jalan di pertokoannya. Banyak barang-barang surfing di sana, kesukaan anaknya pak Yus.
Salah satu syarat minimal ketika pergi ke pantai adalah: paling gak kaki harus dibasahi dengan air laut di pantai tersebut. Dan itulah yang kami lakukan. Tapi ketika mencelupkan kaki ke ombak yang menepi... BBRRRR... wah ternyata suasananya aja yang agak panas, tapi airnya tetep aja kayak air es!!
Setelah puas foto-foto... kami mencari pak Yus dan pak Mahyudin. Dan juga mencari makan sih... sudah jamnya makan siang. Setelah menunggu dan sok-sok berjemur di pinggir pertokoan, sehingga berakibat belangnya telapak kaki, akhirnya kami makan di Hungry Jack (lagi). Kali ini aku memesan Cheeseburger Regular Value Meal yang minumnya di-“upgrade” jadi Orange Juice. Aneh... masa’ soda lebih murah dibandingkan orange juice.
Selesai makan, kami berencana mau balik ke kota untuk mengunjungi Paddy’s Market, pasar oleh-oleh murah yang hanya buka pada hari Kamis, Jum’at, Sabtu, dan Minggu. Aku mengajak kita naik bis saja sampai ke kota, itung-itung nyoba naik bis yang agak jauh. Kali ini bis pilihan kami adalah route 333 yang merupakan Pre-Pay Only Bus, artinya sebelum naik bis itu harus beli tiket terlebih dahulu, pak supirnya gak merangkap jualan tiket di atas bis. Kalo kami kan bisa pakek Green TravelPass, jadi ga usah beli tiket lagi.
Bis 333 ini tergolong bis gandeng... aku juga baru pertama kali ini naik bis gandeng yang ternyata rada-rada “egal-egol” kalo belok. Di Jakarta ada bis gandeng, bahkan TransJakarta pun ada yang gandeng, tapi kebetulan aja belum pernah dapet TransJakarta yang tipe gandeng, kalo yang gendeng... yaaahh... pernah lah beberapa kali...
Tujuanku untuk naik bis adalah biar bisa liat-liat pemandangan di sepanjang jalan, kalo naik kereta kan gelap doang pemandangannya. Tapi dari Bondi Beach sampai ke Bondi Junction, yang ada aku malah tidur, karena keenakan di-lela-lela di dalam bus. Akhirnya waktu sebagian besar penumpang turun di Bondi Junction, aku pindah ke belakang (bagian gandengan), mendekati anggota rombonganku yang lain. Asik juga sih... liat toko-toko di pinggir jalan yang kami lewati, terus sedikit ngerasain macetnya Sydney. Waktu tahun 1995, di catatan perjalananku aku bilang kalo di Australia gak ada macet, makanya seneng banget pas liat macet gara-gara ada demo anti nuklir di George St. Nah... kalo sekarang, hampir tiap sore aku menyaksikan kemacetan kecil di depan Queen Victoria Building.
Selain liat toko dan macet, kami sempet liat ada perbaikan sarana umum yang sedikit mengorbankan trotoar. Mirip dengan pembangunan trotoar di samping Sampoerna Strategic Square, sebelah kantorku. Bedanya? Kalo di Sydney, di samping trotoar yang babak belur itu dikasih karpet abis itu di sisi luarnya diberi pagar, jadi pejalan kaki tetep bisa jalan kaki dengan tenang tanpa takut diserempet mobil. Kalo di samping Sampoerna, kita mesti sharing jalan bareng motor dan mobil... duh capek deh...
Rencananya kami mau turun di halte Circular Quay, tapi waktu lewat di dekat Hyde Park, pak Yus mengusulkan kami untuk turun di situ saja, jadi kami pun turun di seberang stasiun St.James. Trus kami masuk dulu ke Hyde Park untuk foto-foto di depan St.Mary Cathedral. Setelah itu, kami masuk ke stasiun St.James kemudian naik kereta ke Central.

Dari stasiun Central, kami jalan kaki ke Paddy’s Market. Lumayan emang... barangnya lebih murah dari di Hot Dollar. Jadi beli-beli lagi deh, nambahin ol-ol yang kemaren dah dibeli di Hot Dollar World Square, tapi gak terlalu banyak. Aku gak lama-lama di Paddy’s Market, setelah selesai beli-beli, aku pamit kepada bapak-bapak, karena aku mau wisata TOKO BUKU!!!
Aku pun berjalan menyusuri George St. (sambil bawa-bawa buntelan ol-ol itu). Tujuan pertamaku adalah Kinokuniya yang tadi pagi gagal dikunjungi. Di Kinokuniya berusaha mencari majalahnya Ndoro, tapi ternyata mereka cuman jualan majalah Design & Architecture. Akhirnya hanya beli buku-buku Star Trek.
Dari Kino, terus nyebrang George St. ke dekatnya QVB, terus nyebrang York St., aku pun masuk ke Galaxy Books, toko buku yang jualan pernak-pernik sci-fi. Di sini memang buku Star Trek-nya banyak. Tapi aku udah merasa cukup dengan buku yang di Kino. Lagi gak ada buku Star Trek yang spesial banget sampe harus nambah-nambahin bobot koper.
Keluar dari Galaxy, aku jalan ke arah Market St. Kurang lebih 3 toko dari Galaxy, nemu toko majalah. Ternyata di situ jualan majalah cross-stitch pesenannya Ndoro. Aku beli 1 yang keliatannya belum punya. Paling gak satu barang titipan dah dapet deh...
Next destination adalah Dymocks, toko yang dulu sangat menarik karena banyak jualan buku Star Trek. Nah... aku bersarang aja tuh di basement-nya. Buku Star Trek-nya udah kebeli di Kino, tapi tetep liat-liat, kali aja ada yang tertinggal (ternyata enggak sih). Abis itu liat buku piano secara detail. Gak ada yang menarik banget sampe harus bela-belain beli. Trus masih usaha ngeliat di Disney Store-nya, tapi kok buku semua sih? Gak ada bonekanya. Aku kan nyari eeyore. Di salah satu pojok di deket Disney Store itu, ternyata ada boneka-bonekanya Original Pooh, dan ada Original Eeyore yang warnanya ungu. Bungkus deh!!
Dari Dymocks, aku jalan kaki menuju hotel. Bawaan udah berat, aku harus meletakkannya di hotel dulu kalo mau cari makan malam. Kirim SMS ke Iqbal, ternyata mereka baru aja sampai dari Paddy’s Market. Ya wis, janjian cari makan malam bareng.
Setelah taroh barang di hotel, aku dan Iqbal jalan lagi. Bingung mau kemana... aku inget SMS dari Kiki yang menyarankan untuk mengunjungi Chinese Garden of Friendship. Kami pun jalan kaki dari hotel menuju daerah Darling Harbour. Chinese Garden letaknya di depan Darling Harbour Exhibition Centre. Dari luar keliatan penuh dengan bamboo dan willow tree. Ketika kami sampai di pintu depannya, ternyata mereka sudah tutup jam 6 sore, sedangkan itu sudah hampir jam 7, pakek admission fee pula. Oohh... kirain gretong, biasanya kan taman itu gratisan. Hehehehe...

Akhirnya kami foto-foto saja di depannya. Terus aku mengusulkan kita ke Harbourside Shopping Centre saja, karena Iqbal bilang dia cari KFC. Kalo aku cari Sushi. Pengen makan Sushi di Sydney. Kebetulan aku inget di food courtnya Harbourside tuh ada KFC dan ada yang jualan Sushi. Taappiii... biar lebih seru, kami mau naik tram (LightRail), sekalian nyoba naik gitu loh.
Kami berjalan melewati samping Exhibition Centre untuk menuju stasiun tram terdekat. Stasiun tram-nya agak aneh... ticket vending machine-nya rusak, trus ada keterangan bahwa bayarnya di atas tram. Hihhihi... jadi kayak Metro Mini, ada yang kecrek-kecrek koin gak ya?

Gak lama tram-nya datang. Mungkin karena itu jam pulang kantor ya, jadi tramnya peennuuuhh... walaupun gak sepenuh busway ketika jam pulang kantor sih. Kami masih bisa dengan mudah menemukan tempat berdiri. Biaya naik tram lintas zone adalah $4.20. Memang kami hanya melewati 2 stasiun, tapi sudah nyebrang dari zone 1 ke zone 2. Aku mengoper duit receh senilai $4.20 ke Iqbal waktu kulihat mbak-mbak kondekturnya berjalan ke arah Iqbal. Udah gitu, gak lama... ternyata kami sampai di stasiun Pyrmont, tempat kami harus turun.
Setelah turun dari tram dan lagi jalan keluar, Iqbal tiba-tiba bilang: “Tadi gak bayar Git... abis kondekturnya tiba-tiba balik arah pas udah deket ke gue.” WHAT?!! Wakakakakakakakak... Hoooreee... Kapan lagi coba, bisa naik kendaraan umum di Aussie terus gak bayar...

Kami sempet foto-foto di seputaran StarCity dan Pyrmont Bay, aku yang tadinya masih hore-hore aja jalan dengan T-Shirt dan celana capri, akhirnya menyerah dan mengeluarkan jaket. Anginnya gede banget sih... Baru setelah itu jalan masuk ke Harbourside.

Kami makan sesuai rencana (KFC dan Sushi maksudnya). Aku ngambil paket Sushi seharga $9.50 di stall Sakura di food court. Yang jualan jepang banget. Wasabi-nya di dalam kemasan kantong kecil gitu. Hmm... yummy... akhirnya... susshhiii... Setelah kenyang, jalan-jalan dulu ngeliat-liat Harbourside Shopping Centre ini, karena waktu hari pertama baru dateng, gak sempet ngeliat detailnya. Aku agak-agak berharap ada toko yang jualan barang Snoopy, tapi ternyata pilihan tokonya garing, gak serame jaman pertama kali ke situ.

Setelah puas (maksudnya puas gak nemu apa-apa...), kami pulang dengan menggunakan monorail. Emang udah niat sih, bahwa selama di sana kudu mencoba sebanyak-banyaknya mode transportasi umum. Aku pikir tiket monorail itu bangsa $3.50 gitu, eh tak taunya $4.80 untuk sekali naik, jauh-dekat bayarnya sama. Trus meskipun itu sudah jam 9 malam, ternyata monorailnya lumayan penuh, jadi kami gak kebagian pada kesempatan pertama. Kami baru naik pada monorail kedua yang datang setelah kami nunggu di peron. Trus untuk membuat supaya $4.80-nya gak berasa kemahalan, kami memutuskan untuk muter 1 circle dulu dari stasiun Harbourside sampe ke Harbourside lagi, baru kemudian turun di stasiun World Square.
Kita belanja-belanja dulu di World Square. Ralat ding... aku belanja di Priceline, sedangkan Iqbal nunggu di warnet depannya Hot Dollar. Kalo di toko obat macamnya Watsons gitu kan suka banyak barang aneh yang gak ada di Indonesia. Aku memang mengincar barang tertentu yang gak ada di sini. Hehehe...
Setelah mendapatkan info tentang beberapa alternatif tempat wisata, kami pun pulang dengan memutuskan bahwa besok kami ke Manly!!
Sydney Trip: Day 6
Waktu jam 8 pagi aku turun ke lobby, Pak Yus dan Iqbal sudah menunggu di bawah. Hari ini pak Mahyudin dan pak Djoni tidak bergabung bersama kami. Kami bertiga langsung berjalan kaki menuju stasiun Museum, yang cukup spesial adalah: kami tidak melewati jalan yang biasa kami lewati untuk menuju ke Museum. Pak Yus menunjukkan jalan lain (ambil arah lain kalau dari hotel) yang ternyata lebih dekat!! Ya ampuunn... tinggal sehari lagi di sini, kok bisa baru tauk neh, padahal jelas-jelas kami punya peta. Dari Museum naik kereta menuju Circular Quay dengan kereta. Kemudian dari Circular Quay mengambil ferry yang jurusan Manly.

Tadinya kami mau duduk di deck bagian depan. Tapi karena penuh, dan anginnya besar, jadi kami duduk di deck bagian belakang. Perjalanan dengan ferry dari Circular Quay menuju Manly memakan waktu selama 30 menit. Dalam perjalanan berangkat ini kami masih semangat poto-poto di atas kapal.
Sampai di Manly jam 9.15, kami langsung panik sendiri-sendiri... Iqbal sibuk nyari kopi (abis dingin sih), sedangkan aku? Sibuk nyari toilet!! Wakakakakak... Aku belum sarapan hari ini, tapi udah dapet morning call duluan (padahal rasanya tadi pagi udah loh). Pak Yus yang tak tau-menau tujuanku mencari toilet, ikut-ikutan nyari toilet...
Nah... aku kan milih-milih bilik toilet... pastinya pengen yang paling terang dan paling bersih... posisi menentukan prestasi deh pokoknya. Pas lagi milih-milih gitu, ternyata... di salah satu bilik-bilik itu ada leleee.... (tidak harafiah lo). Giling... ternyata di Aussie ada juga toilet yang kayak gitu... hiii... tapi untungnya aku akhirnya dapat yang terang dan bersih tadi, jadi bisa menunaikan dengan tenang. Terus senengnya di sana, setiap toilet pasti dilengkapi sabun yang wangi... jadi berasa aman sentosa aja...
Pas aku selesai, ternyata pak Yus dan Iqbal sudah sempet foto-foto di depan dermaga Manly. Aku terus difoto juga tentunya. Setelah itu baru kita memutuskan untuk bersepeda, dan kami pun berjalan kaki ke tempat persewaan sepeda http://www.manlybiketours.com/
Tarif sewa sepeda di Manly terbilang relatif murah. Untuk sewa 1 jam biayanya A$14, untuk sewa 2 jam biayanya A$19, sedangkan sewa seharian sampai dengan persewaan sepedanya tutup A$24.
Mas-mas yang jaga persewaan sepeda ngasih petunjuk tentang daerah-daerah yang wajib kami kunjungi selama di Manly. Dia memberikan sebuah peta mungil, yang bisa masuk ke dalam kantong celana capriku. Hehe...tidak ada kantong belakang jersey seperti kalo lagi naik sepeda di Jakarta. Karena memang gak pasti-pasti banget mau wisata sepeda, jadi aku gak bawa perlengkapan olahraga. Akhirnya cuman pakek celana capri The Executive – kostum andalan ke mall, terus sepatu sandal yang juga biasanya dipakek ke mall, dan kaos (juga versi mall, bukan kaos yang biasa buat olahraga).
Sepeda yang mereka sewakan kebanyakan adalah tipe City Bike merk Schwinn 7-speed warna biru. Harga sewa sepeda itu sudah termasuk sewa helm merk Liman warna biru dengan tulisan http://www.manlybiketours.com.au/, dan kunci + rantai sepeda. Khusus buat aku, mas-mas penjaga rental yang kami gak nanya namanya itu memberikan yang tipe untuk perempuan. Sebenarnya mereka tidak hanya menyediakan City Bike, kalo mau pakek MTB juga bisa, tapi harga sewanya lebih mahal. Bisa dua kali lipatnya. Mau pakek tandem juga ada, tapi... aku sih gak pengen...
Tujuan pertama kami adalah Spring Cove, sebuah teluk kecil yang kami lewati dalam perjalanan menuju Sydney Harbour National Park di North Head. Ternyata jalur sepeda yang tertera di peta itu beraneka ragam kondisinya. Ada yang memang dedicated khusus untuk sepeda dan pejalan kaki, ada yang ”on road” alias di jalan umum namun diberi tanda khusus sepeda, ada juga yang ”on road” dan tidak ada marka jalannya, jadi campur gitu aja sama mobil. Tapi lewat jalan yang campur pun rasanya lebih aman dibandingkan nyepedah di jalan Buncit yang suka tiba-tiba ada motor dari arah berlawanan atau metro mini gak sopan.
Kembali ke perjalanan kami... Sayangnya, bukannya sampai ke Spring Cove kami malah nyasar ke Little Manly Cove, teluk kecil lainnya karena sempet salah belok. Untungnya di Little Cove itu ada lapangan rumput yang rumputnya tebal dan penuh bunga-bunga kecil. Sementara pak Yus dan Iqbal melihat ke pinggir tebing di tepian teluk tersebut, aku malah duduk di rumput sambil mengamati peta mungil tadi.
Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju North Head. Lumayan juga bok, jalannya tanjakan terus... maklum deh, memang North Head itu modelnya pantai dengan tebingnya yang tinggi. Pernah lihat Uluwatu? Kurang lebih seperti itu lah pemandangannya.... Jadi jalannya menuju ke sana juga mirip dengan jalan ke Uluwatu: nanjak...
Sepanjang jalan kiri-kanan penuh dengan semak-semak. Konon semak-semak itu adalah tempat penangkaran Bandicoot, sejenis tupai gitu deh. Ufff... pegel juga nanjak, aku tak berani naikkan seatpostnya lebih tinggi pula, maklum masih belum biasa dengan handling-nya karena handle bar-nya melengkung dan lebar banget. Plus sadelnya guede pisan... jadi semakin pegel deh pantatnya. Di tengah-tengah never ending tanjakan itu, aku membayangkan tiba-tiba ada mobil Innova hitam nyusul sepeda-sepeda kami, terus ada seekor bantal kuda bersuara cempreng dan seorang snoopy nongol sambil ngomong: SEEEMMMAAANGGGGAAATTTT....
Ehehe.... cukup sudah berimajinasi... ternyata akhirnya sampe juga kok ke atas tebing... mampir dulu di salah satu tempat parkir, pemandangannya ke teluk Sydney bebas banget dari atas sana, yang artinya... bagus buat poto-poto. Abis itu meneruskan perjalanan ke ujung jalan di mana sepeda udah gak boleh masuk lagi dan kami terpaksa memarkir sepeda di tiang rambu lalu lintas.
Setelah itu perjalanan berkeliling di North Head kami lanjutkan dengan jalan kaki. Kami sempat bertemu dengan rombongan tour minibus yang sebagian pesertanya orang Indonesia pegawai Menko Something. Mereka menyangka kami ini segerombolan mahasiswa dari Malaysia. Wakakakakak... tapi emang lumayan jarang kan pegawai dari Indonesia yang iseng banget mau naik sepeda seperti itu, apalagi pegawai Pertamina... mengingat keadaannya: di negeri orang, cuaca unpredictable, nanjak dan jauh dari mana-mana pula. Kalo bisa bayar untuk ikutan tur dengan mobil fully air conditioned, buat apa naik sepeda?? Most people bakalan mikir seperti itu pasti… kecuali yang emang suka sepeda.
Kita cuman senyam-senyum aja dibilang mahasiswa. Yah… pak Yus kan sebentar lagi sudah masuk masa persiapan pensiun. Mungkin karena rajin naik sepeda ya, jadi biarpun baru aja balik dari kursus purna bakti, tapi pak Yus tetep disangka mahasiswa.
Oya, tauk gak siapa yang mengikuti kami dengan setia sejak dari Sydney? LALER!! Soal laler ini... awalnya aku kira mereka hanya ngerubutin kami-kami yang baru datang dari Jakarta, karena kami belum mandi waktu baru mendarat. Tapi kemudian, ternyata setelah kami mandi pun masih diuber laler juga, dan orang bule juga pada digerumutin laler... Kerumunan laler menjadi sangat banyak kalo di tempat-tempat yang banyak tanamannya, seperti di North Head itu. Ini nih foto-foto laler yang modelnya menggunakan pak Yus dan Iqbal (lokasi Iqbal: Royal Botanical Garden).
Setelah puas poto-poto, kami pun turun bukit... poto-poto lagi di tempat parkir yang sebelumnya sudah kami kunjungi. Terus tuuuurrrruuuunnn lagi… sampai akhirnya masuk ke jalur sepeda pinggir pantai, kemudian gowes ke arah Shelly Beach. Pantai pasir putih di ujung garis pantai-nya Manly yang menghadap ke Timur. Di sana ketemu dengan banyak orang yang latihan scuba-diving.
Iqbal dan pak Yus hanya foto-foto, cuman aku yang turun ke air dan mencicipi dinginnya air laut. Setelah itu kita gowes lagi menyusuri pantai. Hmmm… kapan lagi bisa sepedaan di pinggir laut gini? (di Ancol ada jalur sepeda seh... tapi kok kurang menclang, kurang keliatan gitu loh...). Hmmm, semoga bisa bikin yang seperti ini di Indonesia.
Itu udah jam 1 siang, dari tadi sebenarnya sudah lapar, tapi bingung mau makan dimana. Akhirnya di dekat The Corso, sebuah pusat perbelanjaan yang bentuknya ruko-ruko, kami memarkir sepeda. Tepatnya, kami mengikat sepeda kami jadi satu ke besi yang memang banyak digunakan untuk parkir sepeda.
Makan siang kami adalah Kebab. Aku makan Lamb and Chips. Potongan daging domba dengan kentang goreng. Kami makan di pinggir laut. Pak Yus sempat bagi-bagi kentang gorengnya ke beberapa burung camar yang mendekati kami.
Di tengah-tengah makan siang yang rasanya gak abis-abis itu (beneran deh, banyak banget), timbul pembicaraan tentang sepeda (lagi). Setelah dihitung-hitung, ternyata jumlah orang yang suka sepeda (dan juga bisa diracuni biar suka sepeda) di bagian kami cukup buat bikin MDGTI Bike Community. Hmm... kapan ya bisa ngumpul terus nyepedah barengan, kalo perlu ngajak keluarga, biar makin rame.
Akhirnya aku gak menghabiskan kentang gorengku, dan memilih untuk membungkus sisanya dan memasukkan ke tas ransel. Setelah itu kita melanjutkan perjalanan menuju Manly Lagoon dengan menyusuri jalur sepeda di tepi pantai. Namun sampai pada satu titik, jalur sepeda tersebut kelihatan terputus. Iqbal yang tadinya berada di belakang sudah jalan duluan, dan keburu nyebrang jembatan yang lewat di atas muara, kemudian masuk ke Greycliff St. Untung aja setelah ikutan nyebrang jembatan tersebut, aku liat peta mungil dulu, trus baru ngeh kalo kita harusnya lewat di BAWAH jembatan, bukan NYEBRANG jembatan. Setelah ngirim sms ke Iqbal dan menunggunya di sebrang jembatan, kami pun menuju Manly Lagoon.
Kami sempat melihat anjing dan tuannya sedang bermain throw-and-catch (duh... kok jadi inget kuliahnya bu Inge ya...). Anjingnya lari-lari masuk ke danau buat ngambil ranting/tongkat yang dilempar tuannya. Di tepi Manly Lagoon, kami ambil foto bertiga bersama sepeda masing-masing. Setelah itu cepet-cepet kembali ke persewaan sepeda, sebab saat itu sudah jam 3, dan kami masih pengen ke Oceanworld, takut keburu persewaan sepedanya tutup.
Dalam perjalanan kembali ke persewaan sepeda, aku lumayan ngebut, terutama setelah masuk jalan raya lagi. Hahaha... di Jakarta mah mana pernah ngebut begitu (kecuali pas kesel sama Metro Mini iseng). Waktu sampai di Manly Bike Tours, masih mas-mas yang tadi pagi yang jaga, kirain sudah aplusan. Setelah membereskan administrasi, kami langsung jalan kaki ke Oceanworld. Uwaaahh... sebenernya masih pengen naik sepedaaa...
Berikut adalah rute bersepeda kami selama di Manly:
Sampai di Oceanworld, ternyata Iqbal kehilangan selera untuk masuk ke dalamnya, karena tempatnya gak meyakinkan. Jadi kami putuskan untuk nyebrang kembali ke Sydney. Saat itu jam 3.40. Ketika kami jalan menuju Manly Wharf, aku iseng bertanya pada pak Yus, jam berapa ferry berikutnya ke Sydney berangkat? Pak Yus mengeluarkan brosur Manly Ferries yang ada jadwalnya, jreng-jreng.... ternyata 3.45, dan dari jauh keliatan ada ferry bersandar di dermaga. AAWWW... itu pasti kapal yang 3.45, kalo kita ketinggalan kapal itu, harus nunggu ½ jam lagi. Jadi.... LAAAARRRIIIIII....!!!!
Wah... kedondong banget... lari-lari begitu… kayak triathlon aja… abis naik sepeda, terus lari-lari... tinggal kurang berenang aja. Tapi yang berenang mah pada saat itu gak berminat... jangan sampe deh terpaksa berenang... Kalo berenangnya nanti-nanti di kolam Kemang Sport sih gak apa-apa.
Sampai di dermaga tepat pada saat pintu ferry mulai dibuka dan penumpang dipersilakan masuk. Kami pun masuk, langsung mengambil tempat di aft (buritan ya bahasa Indonesianya?), lantai 2. Terus duduk. Diem-dieman, gak minat ngomong, gak minat foto-foto, maklum masih capek lari-lari, tapi emang jadi lebih hangat deh.
Setelah mendapatkan kembali suara masing-masing... aku pun menghabiskan sisa kentang goreng yang tadi. ½ jam kemudian kami merapat kembali di Circular Quay. Oya, satu hal yang menarik... ketika kami mengantri keluar dari ferry, aku melihat di dalam ferry tersebut, tepatnya di dekat pintu, disediakan tempat parkir sepeda. Dan hari itu, tempat parkir sepeda tersebut penuh. Enak juga ya... penduduk Sydney yang pengen bersepeda di Manly, tinggal gowes sepedanya ke Circular Quay, masukin ke ferry, terus lanjut gowes lagi setelah sampai di Manly. Seandainya aku bisa bawa si Erik Xtrada ke Manly, pasti lebih enak. Trus... kapan ya kita bisa bikin kota yang benar-benar sepeda friendly seperti Manly gitu...
Sampai di Circular Quay... kami sepakat untuk pisah rombongan. Pak Yus dan Iqbal ke Paddy’s Market, sedangkan aku ke George St. Aku masih penasaran pengen cari Eeyore atau Snoopy. Aku turun di stasiun Town Hall. Keluar dari stasiun, di dekat pintu keluar ada toko majalah. Iseng-iseng masuk... ternyata ada majalah cross-stitch yang ada pola Eeyore-nya. Waktu SMS Ndoro, katanya mau... ya udah, bungkus!! Trus aku ke Sydney Central Plaza, katanya Internet ada Disney Store di situ, tapi gak nemu. Akhirnya malah ke Myer yang terletak di atasnya, di lantai atas ada toko mainan. Nemu Eeyore sih... tapi kualitasnya gak begitu bagus. Harganya juga gak terlalu murah. Wah, ya agak males beli barang yang gak murah tapi kualitas dipertanyakan...
Habis itu aku jalan kaki ke arah Pitt St. Eehhh... malah nemu Borders dan Bloch. Bloch-nya sudah tutup, padahal belum jam 6. Aku sempet masuk ke Borders, tapi gak ada yang menarik sih. Pas keluar Borders, lagi-lagi aku membunyikan alarm buku. Iiihh... ini udah kejadian kedua deh... padahal aku sama sekali gak bawa barang yang ada tag harganya.
Abis itu jalan lagi menuju World Square. Janjian sama Iqbal dan pak Yus mau ketemu di supermarket Coles yang di World Square. Kami mau beli-beli coklat buat ol-ol. Hihihi… Aku gak lama-lama sih di Coles, kalo soal belanja cokelat mah gak pakek acara bingung… udah pasti-pasti aja. :-D Pas aku keluar dari Coles, rupanya pak Yus udah balik ke hotel duluan.
Aku dan Iqbal pun mau cari makanan take away buat dimakan di hotel. Tapi kita masih bingung-bingung gitu mau makan apaan. Akhirnya nongkrong dulu di bangku di tengah-tengah World Square. Mulai berasa dingin gitu deh… pas matahari dah mau terbenam. Gara-gara nongkrong di bangku itu, aku jadi pengen beli kaos cantik di TEMT, yang tokonya tepat di sebrang kursi yang kududuki. Lagi diskon gitu… dan modelnya ada renda-renda plus warna pink.
Akhirnya setelah sedikit jalan... kami memutuskan untuk makan... Kebab lagi!! Tapi kali ini bukan kebab yang wrapped (dibungkus roti), melainkan kebab yang disajikan di piring (plate). Uuugghhh... banyak banget deh ternyata porsinya... bungkusannya aja gede... trus kamarku jadi bau kebab.
Malam ini pulang agak sore, karena mesti beres-beres barang kan. Lucunya... Sebelum berangkat ke Manly, dengkulku agak-agak sakit. Itu akibat turun menyusuri Furber Steps waktu di Blue Mountain dua hari sebelumnya. Waktu naik sepeda, aku udah membayangkan... gimana pegelnya nanti malam... udah dengkul sakit, sekarang ditambah lagi pantat pegel karena sadel sepedanya kegedean. Tapi ternyata... alhamdulilah bayanganku itu tidak terwujud. Yang ada... sakit di dengkul malah hilang... Selebihnya juga biasa-biasa aja ternyata, seperti selayaknya kalo habis naik sepeda di Ragunan.
Sydney Trip: Day 7
Hari ini waktunya pulang. Tapi pagi-pagi aku dan Iqbal gak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk berkunjung ke satu obyek wisata lagi: Royal Botanical Garden. Pak Yus hari ini gak bergabung bersama kami, karena mau ke Bondi Beach lagi mencari baju-baju surf untuk anaknya.
Seperti biasa kami jalan kaki ke Museum. Sebelum masuk ke platform, kami sempet bertanya kepada bapak yang jaga pusat informasi di stasiun Museum tentang berlaku tidaknya Green Travelpass kami untuk pergi ke Airport. Dia bilang tiket itu bisa dipakai, nanti tinggal beli gate pass aja di Airport, gak lebih dari $10, mungkin $7 atau $8, begitu katanya. Dia sempet panik waktu liat kami masuk ke platform untuk kereta yang menuju City Circle via Circular Quay, bukannya masuk ke platform-nya Airport Line. Tapi kami segera menjelaskan bahwa kami mau ke Airportnya nanti siang, bukan pagi ini.
Hmm... Kalau hanya $7-8 sih, mending naik kereta saja. Kalo naik airport shuttle kan $12, dan lagi kami belum sempat booking airport shuttle. Katanya mesti minimal harus booking 3 jam sebelumnya kalau mau naik shuttle itu. Namanya Airport Connect.
Kembali ke stasiun Museum lagi... Kami naik kereta menuju ke Circular Quay. Kemudian dari Circular Quay jalan kaki melalui tangga yang berada di tengah-tengah Opera Quays. Di ujung anak tangga atas, kami disuguhi lapangan rumput yang luuuaaaassss... Kalo kita memutar badan ke arah sebaliknya, pemandangannya adalah lapangan rumput, beberapa pohon, dengan background gedung-gedungnya CBD Sydney. Di sebelah kiri kami adalah Government House. Aku pikir: that’s all gitu... lapangan rumput besar plus pepohonan, dengan pemandangan gedung di satu sisinya. Tapi ternyata itu baru sebagian kecil aja dari Royal Botanical Garden.

Berjalan semakin masuk lagi... ternyata kami sampai di pinggir sebuah teluk kecil bernama Farm Cove. Sydney Opera House, yang berada tak jauh dari tempat kami berdiri, ada di satu sisi, sedangkan Royal Botanical Garden-nya sendiri masih terbentang sampai melewati sisi lain dari Farm Cove. Gede banget kan...?
Salah satu hal yang menyenangkan tentang taman tersebut (atau lebih tepat disebut Kebun Raya??) adalah di tiap akses masuknya, mereka mencantumkan ajakan untuk berjalan di atas rumput. Beda banget sama taman pada umumnya yang suka mencantumkan larangan “Dilarang Menginjak Rumput”.

Hal lainnya adalah pastinya enak pagi-pagi nongkrong di salah satu dari banyak bangku Forrest Gump yang ada di taman tersebut sambil membawa buku, rajutan, atau bahkan laptop yang batrenya terisi penuh untuk menulis sesuatu. Bahkan aku melihat ada beberapa orang yang tidur di bangku-bangku tersebut.
Gak cuman nongkrong di bangku... Jalan-jalan pagi sambil moto-moto juga enak... hanya saja aku merasa salah kostum: sepatu hak, jeans, basic blazer, dan sunglasses... sedangkan orang lain dengan nyamannya memakai pakaian olahraga. Haha... itu memang baju yang bakal aku pakai pulang nanti siang, baju lainnya sudah terlipat rapi di koper. Sebenarnya hari itu berawan, tapi untuk jaga-jaga dan karena malas membawa dua kacamata, aku memilih memakai sunglasses.

Tidak kalah menyenangkan: tanaman-tanaman aneh yang jarang-jarang aku lihat. Salah satu favoritku adalah pohon dengan bunga warna ungu. Yang bikin aku suka karena pohon itu tidak ada hijau-hijaunya sama sekali. Selama di sana aku menyebutnya Pohon Ungu Misterius, karena belum menemukan nama dari pohon itu. Aku sudah “naksir” pohon itu sejak hari pertama mendarat di Sydney dan melihatnya di Circular Quay. Ternyata setelah mencoba searching di Internet, pohon tersebut bernama Jacaranda. Jacaranda Tree... Jacaranda mimosafilia...

Rute kami untuk menjelajahi Royal Botanical Garden adalah: Masuk dari tangga di Opera Quays, jalan ke pinggir Farm Cove, menyusuri Farm Cove ke arah Timur sampai masuk ke kawasan Yurong Precinct, melewati Victoria Lodge, terus jalan ke Timur sampai ke pinggir Woolloomooloo Bay, jalan balik lewat Mrs. Macquaries’ Chair, menyusuri Farm Cove lagi, kali ini ke arah Barat, terussss sampai keluar dari Royal Botanical Garden melalui pintu yang dekat Sydney Opera House.

Hari itu lumayan dingin, terbukti aku sama sekali gak berkeringat meskipun jalan kaki jauh dengan memakai blazer yang gak bisa dibilang tipis. Aku kelaparan pula... tadi pagi gak sarapan (lagi). Tapi lumayan sih... di tengah-tengah keliling kebun raya, Iqbal mengeluarkan KitKat dari pak Djoni.

Kami foto-foto lagi di sekitar Opera House dan mengambil latar belakang Harbour Bridge, baru setelah itu naik kereta lagi dari Circular Quay ke Museum, kemudian balik ke hotel. Waktu sampai di stasiun Museum, kami sempet liat-liat foto jadul yang dipasang di lorong stasiun. Ternyata... stasiun Museum udah ada sejak tahun 1926, termasuk stasiun-stasiun pertama yang dibangun ketika pembangunan subway di Sydney. Dari sejak 1926 sampai sekarang... interior stasiunnya gak banyak berubah. Ada fotonya waktu tahun 1950-an, yang berbeda hanya kostum orang-orangnya saja. Pas tahun 1926 hampir semua orang pakek topi, sedangkan pas 1950 yang pakek topi jauh berkurang.
Sampai hotel jam 11 kurang 15. Hanya sempat sebentar bongkar muatan plus finalisasi beres-beres. Jam 11 kurang 5 mas-mas pegawai hotel udah ketok-ketok kamar, ngingetin soal Check-Out. Jam 11 akhirnya aku turun.
Bawaanku ada 3 sekarang: Koper yang sekarang terisi penuh (tapi untungnya gak sampai harus di-extend ukurannya), Ransel yang sekarang ditambah isinya dengan buku-buku Star Trek dan majalah, plus tas kantong merah motif not balok yang kuisi dengan segala boneka: Matilda (si blasteran Beruang dan Marmut), Ru (KanguRu dengan bantal biRu), OrEe (Original Eeyore), dan koala putih untuk dik Endra plus batas buku koala dan kanguru bete. Pokoknya serba boneka deh.
Pelan-pelan kami berlima menggeret koper menuju stasiun Museum. Terus kali ini cukup cerdas untuk lewat pintu yang disediakan khusus untuk penyandang cacat, orang yang bawa baby stroller, dan orang yang bawa koper, bukannya lewat gate barrier yang pas-pasan ukurannya.
Stasiun museum ini kan gak ada lift ataupun eskalatornya, jadi kami harus mengangkatnya secara manual. Bawaan kami jauh lebih berat dibandingkan waktu baru datang, tapi untungnya sekarang kami berjalan turun masuk ke platform stasiun, bukannya naik tangga.
Waktu nunggu kereta di platform Airport Line, aku sempat memperhatikan lebih detail interior stasiun Museum ini. Ternyata mereka membiarkan (atau malah merekonstruksi) iklan-iklan asli dari jaman dulu menempel di dinding platform stasiun tersebut.

Kami naik kereta sampai International Airport. Setelah naik eskalator sekali. Kami ketemu yang jualan gate pass. Ternyata, harga gate pass adalah $11.40!!! Wakakakakakak... aku langsung pengen ketawa... harga gate pass gak beda jauh dengan Airport Connect rupanya... Kalo naik Airport Connect gak perlu repot gotong-gotong koper di stasiun Museum. Tapi ya sudahlah... udah terjadi kan... jadi ya aku cengar-cengir aja.
Kami dua kali naik eskalator lagi, sampai ke pintu masuk airport dari arah stasiun yang banyak anginnya itu. Terus masuk deh ke bagian keberangkatan. Mencoba untuk check-in, tapi ternyata check-in counternya baru menerima check-in untuk suatu penerbangan 3 jam sebelum jam keberangkatan: 12.15, padahal itu baru jam 12 kurang 1.
Kami nunggu di dekat check-in counter tersebut sambil mengisi Departure Form-nya Aussie Immigration, terus nulis-nulis hand-carry baggage tag. Pak Djoni nimbang koper kami satu per satu karena khawatir kopernya lebih dari batas bobot yang digratiskan (20 kg). Sehingga kita harus ngecheck apakah jumlah bobot semua koper kami > 100 kg. Ternyata koperku hanya 16 kg. Ya iyalah... kalo misalkan koperku lebih dari 20 kg, waktu gotong-gotong di stasiun Museum, aku mestinya sudah kewalahan. Sedangkan tadi aku masih santai-santai aja.

Jam 12.15 kami check-in di counter yang petugasnya bapak-bapak yang melayani humor garingku. Setelah itu kami sepakat untuk bagi dua. Pak Yus dan pak Mahyudin mencari prayer room, sedangkan kami mencari makan siang. Aku dari tadi belum makan pagi sih... (kecuali sebungkus KitKat ukuran kecil). Aku berharap bisa nemu Krispy Kreme lagi. Biar deh... makan siang 2-3 original glaze-nya Krispy Kreme kayaknya cukup. Tapi ternyata kami gak berhasil nemu food courtnya dan tau-tau udah ketemu lagi sama pak Yus dan pak Mahyudin yang keliatannya juga gak berhasil nemu prayer room-nya.
Kami pun segera masuk ke Custom, setelah dicap di Imigrasi, ada pemeriksaan barang-barang bawaan. Yang bawa laptop harus mengeluarkannya dari tas dan meletakkannya di baskom kotak untuk dilewatkan di mesin x-ray seperti halnya tas-tas tangan kami.
Lewat dari antrean x-ray, di depan kami adalah toko Duty Free... kami jalan terus karena kelaparan. Berharap di sekitar departure gate ada resto-resto yang cukup representatif seperti halnya di Soekarno-Hatta. Aku dan Iqbal sempet nemu 1 cafe yang jualan pastry. Aku udah naksir sama Apple Pie-nya. Keliatannya gede dan ngenyangin. Iqbal udah mau pesan sandwich, tapi waktu dia tanya ke mbak-mbak yang jualan, ternyata mereka gak punya microwave oven, jadi makanannya gak bisa dipanasin. Jadi males deh...
Ujung-ujungnya, kami beli makanan di kedai Santos. Makanan di situ di dalam kemasan plastik tapi masih hangat-hangat. Kalaupun gak hangat, dia punya microwave oven untuk menghangatkan. Aku tadinya mau makan minestrone soup, tapi terus iseng milih Nasi Ayam Cinamon, plus minumnya hot choc. Nasi Ayam Cinnamon rasanya manis-manis gurih. Enak sih, tapi amit-amit banyaknya...
Selesai makan, barulah kami liat-liat duty free store yang tadi. Barang-barang elektroniknya memang lebih murah dibandingkan di Jakarta, tapi gimana kalo rusak coba yaa.... siapa yang bakal nanggung garansinya... malah ribet...
Setelah pegel muter-muter, aku pun memilih duduk di deket departure gate 10. Ketemu sama bapak-bapak yang 2 anaknya sekolah di Sydney. Bapak itu cerita kalo beberapa hari lalu dia habis menyebabkan kebul berlebihan gara-gara kelamaan pakek microwave, terus akhirnya didenda gara-gara gak sengaja membunyikan alarm kebakaran dan membuat pemadam kebakaran datang ke rumahnya. Ternyata warning yang di hotel tuh bener pernah kejadian di tempat lain juga ya. Kirain hanya di hotel itu saja yang microwave-nya bisa berlebihan asapnya...
Kami boarding lumayan tepat waktu. Tapi sempat nunggu agak lama, entah ngapain itu pesawatnya. Aku dapat duduk di 48D, di sebelahku pak Yus. Penerbangan kali ini isinya maaakkkaaannnn... terus. Makanannya enak-enak pula.
Selama di pesawat, pertama... makan besarnya aku milih kuskus dengan ikan. Tapi kita dibagiin roti ukuran kecil yang masih hangat. Nah, rotinya tuh enak banget... kayaknya sih gak mengandung telor. Macamnya baguette-nya BreadTalk gitu. Karena udah kenyang makan roti, kuskus-nya jadi gak maksimal. Mana ikan-nya tuh berasa kayak sarden kalengan pula. Selesai makan besar, ada refreshment, mereka menyediakan dua pilihan minuman, yang dua-duanya aku suka: organic peppermint tea dan Cadbury’s Hot Chocolate. Pilihan yang sulit bukan?! Namun karena tadi sebelum naik pesawat sudah beli hot choc di Santos, jadi gak begitu sulit lagi milihnya. Trus menjelang turun itu, dikasih makan ravioli dengan saus tomat. Wadduuuhh... yang ini: ENAK BANGEEETT!!! Anget-anget gitu lagi.... Pokoknya kenyang dan puas deh...
Selain makan, selama 7 jam perjalanan aku nulis catatan perjalanan di block note yang keliatannya tipis, murah, tapi kok gak abis-abis... padahal udah dua kali dibawa pergi, dan kali ini aku pakeknya agak boros... karena kebetulan tiap malam meskipun udah capek tapi masih semangat untuk mandi (sempet dua hari mandinya malam doang malah...hihihi...gara-gara air panas sempet mati pas pagi) terus ngisi buku catatan perjalanan.
Terus selain catatan perjalanan, sempet baca buku Star Trek: Myriad Universes, ngabisin satu section. Sempet nonton foto-foto juga, foto selama di sana dari camdig-nya pak Djoni. Terus sempet juga main sudoku... dari majalahnya pesawat. Pokoknya gak tidur deh selama perjalanan pulang ini. Abis posisinya juga gak memungkinkan untuk tidur nyenyak kecuali ngantuk banget.
Kira-kira 1 jam menjelang mendarat, si Qantas memutar film tentang Jakarta!!! Si host-nya jalan-jalan naik busway, merekomendasikan Blue Bird, dan tidak merekomendasikan naik bajaj! Hmm... ternyata mereka bukan cuman muter film tentang Australia... bagus... bagus....
Jam 18.30 mendarat di Soekarno-Hatta. Qantas nih gak paranoid. Begitu pesawat sudah mendarat, meskipun masih di taxiway, mereka bilang boleh aktifkan HP, asalkan dapat sinyal. Iya kan... kalo orang Aussie-nya belum tentu bisa International Roaming di sini.... sama halnya seperti kami di sana.
Eehhh... tapi pas aku nyalain HP, kok gak dapat-dapat sinyal yak? Ini kan di home network-ku. Wooyy!! Kenape nih HP-nya? Pas pesawat berhenti, baru aku ngeh... kemaren HP-ku network selection-nya sengaja di-set manual, biar gak loncat-loncat provider selama di Sydney. Ternyata pas sampai di Indonesia, dia juga gak langsung nyari available network. Hahahahaha.... terjebak sama perbuatan sendiri itu namanya.
Begitu dapat sinyal, SMS-SMS masuk. Ternyata ada dari Ira... dia ada di Sydney hari ini (padahal biasanya di Melbourne). Yaaaaa... kenapa baru nyampe sekarang.... sayang sekaalliii... coba dari kemarin.
Ngantre di Imigrasi lumayan lama, abis lamban sih pelayanannya. Padahal rasanya di barisanku banyakan orang Indonesianya, harusnya gak lama-lama dunk. Karena udah kelamaan di Imigrasi, pas nyampe di conveyor... nunggu bagasinya gak terlalu lama... Kami segera bertukar baggage tag yang ketuker-tuker, terus PULLAAANGGG!!!
Friday, October 10, 2008
Long Forgotten Travel Notes
06.00
Bangun pagi, padahal masih ngantuk.
07.22
Morning callnya baru bunyi padahal kita sudah hampir selesai mandi.
07.30
Mengeluarkan koper ke depan pintu dan turun makan. Makanannya oke lho! Ada roti Perancis, Croissant, Baked Beans, Scrambled Egg, Orange Juice, dll.
08.00
Pada kebelet ke WC. Aku dan dik Anggi ke atas duluan. Waktu lagi menunggu dik Anggi, ada yang ketok-ketok pintu. Dikira mbak Arie, ternyata petugas hotel yang berbicara dengan bahasa Inggris tulen mau mengambil koper.
08.45
Berangkat ke Airport sambil (lagi-lagi) tidur.
10.00
Pesawat jurusan Melbourne-Brisbane AN 604 take-off. Selama di pesawat dikasih makan Sandwich 3 rupa dan pie yang isinya bermacam-macam.
12.00
Tiba di Brisbane dan langsung menuju tempat pencukuran bulu domba, Australian Woolshed. Di sana makan steak domba sambil mencoba 1/2 gelas Wine (rasanya kayak tape singkong).
14.00
Melihat atraksi pencukuran domba. Setiap domba diberi nama sesuai jenisnya masing-masing. Sehabis mencukur bulu domba diteruskan lagi dengan atraksi anjing gembala. Terus mbak Arie minta dipotret sama koala. Sementara menunggu mbak Arie, kita potret bersama kanguru sambil memberi makan. Selesai potret-memotret, aku dan dik Anggi ke WC sebentar, sebelum membeli beberapa souvenir. Souvenir yang dibeli kali ini antara lain : lip care, kalung opal, badge, dll.
15.30
Menuju ke Mt.Coot-cha, tempat tertinggi di kota Brisbane, dari tempat ini kita bisa melihat seluruh kota Brisbane. Di dekatnya terdapat Planetarium. Di sini kita beli pensil, batas buku, dll. Sebelum naik ke bis, iseng-iseng foto-foto dulu sama supir bisnya. Mbak Arie dikitik-=kitik sama dia lho! Dasar iseng.
16.00
Melanjutkan perjalanan ke sebuah gedung pertunjukan yang ada tamannya di tepi sungai. Sungai-sungai di sana tidak seperti sungai Ciliwung cs. Foto-foto deh! Di sana juga ada poster pertunjukan balet yang besar sekali.
17.00
Kita meneruskan perjalanan ke Gold Coast selama kurang lebih 1 jam. Selama di perjalanan, supirnya memutar video tentang Australia. Sebetulnya videonya bagus, tapi nggak ada yang lihat, semuanya tidur...teler...
18.00
Sampai di Gold Coast dan langsung menuju ke Ramada hotel di Surfers Paradise (pantai Kuta-nya Gold Coast). Dan kita mendapat kamar nomor 2501 dan 2502.
18.45
Turun ke bawah tanpa ganti baju dulu. Waktu lagi menunggu peserta-peserta lainnya, iseng-iseng sama ibu jalan ke toko majalah di sebelah hotel. (--4 sentences censored--)
Di Gold Coast nggak terlalu dingin jadi jaketnya pakai yang tipis saja sudah cukup.
Kita jalan ke Royal Thai Restaurant. Menunya Chicken Yom Yam. Selesai makan, beli boneka domba-dombaan. Mbak Arie mau pipis disusul dengan dik Anggi yang (--censored again--). Habis itu kita ke toko obat buat beli (--censored--) Durolax. Dan cari salep Purol, tapi penjaga tokonya sama sekali nggak tahu.
Terus kita beli kaos. Tadinya mau beli kaos gambar (--censored--), harganya cuma 6$ lagi, tapi mau dipakai kapan? Ada juga kaos The Fart, yang gambarnya berbagai macam kentut. Tapi nggak dibeli juga. Seram sih !
Akhirnya beli kaos Australia saja. Habis itu beli souvenir dan boneka kanguru.
Karena di deretan toko-toko itu sudah banyak yang tutup, maka kita menyebrang pindah ke deretan lainnya. Kita masuk ke toko majalah yang agak lebih besar dari toko yang di sebelah hotel. Ternyata ada majalah Star Trek Official Fans Club of Australia, pastinya dibeli dong ! (--a sentence censored--)
Sepanjang pertokoan itu, banyak sekali mesin 'How Sexy Are You?', ramalan Astrologi, aneh-aneh deh ! Yang pasti bagus buat menghabiskan sisa-sisa koin.
21.00
Dalam perjalanan pulang kita sempat menelpon ke Jakarta dengan telpon kartu, di Jakarta masih jam 6 sore. (--2 sentences censored--)
21.50
Selesai mandi ternyata ada Star Trek : The Original Series ( Star Treknya Captain Kirk ). Jadi sebelum tidur, nonton dulu. Malam ini tidur sama mbak Arie.
Friday, September 07, 2007
Kuala Lumpur: Hari Ke-1
Sampai di terminal E, aku langsung lari masuk ke toilet (hehehe… udah pengen dari tadi). Agak-agak bingung juga, karena ternyata bandaranya penuh banget. Setelah dari toilet, baru masuk ke tempat check-in. Di counter check-in-nya GA820 tertulis “Closed”. Wha…ttt?!!? Kok gitu?? Ini kan belum satu jam sebelum jam keberangkatan.
Hmm... ternyata tulisannya aja tutup, karena bisa check-in lewat counternya penerbangan Jakarta-Perth. Habis itu langsung bayar fiskal, ngikat koper, masukin koper ke bagasi, terus ke Imigrasi (gak pakai ngantre). Baru ketemu bu Sapta setelah lewat loket Imigrasi.
Kami langsung menuju ke Gate E3. Di pemeriksaan X-Ray sebelum masuk ke Gate E3 itu, bu Sapta terpaksa meninggalkan botol minumannya. Hii... repot juga ya, kalo haus pas nungguin di dalam ruang tunggu gimana ya?
Waktu kami naik di conveyor yang menuju Gate E3, sempet ngeliat rombongan TKI. Agak-agak dibentak-bentak gitu deh, sama mandornya. Giling deh... TKI kita itu gimana mau berharap dihargai oleh bangsa lain, wong bangsanya sendiri aja gak menghargai gitu...
Di depan gate E3 dikasih kartu boarding warna pink. Warnanya sesuai dengan nomor tempat duduk kita. Untungnya pesawat lumayan on time. Kami terbang selama 1 jam 44 menit, dapet makan ikan dan kentang dengan porsi yang ”pas yang penting kenyang”.
Ketika mendarat di KLIA, udara lagi panas-panasnya. Aku langsung mencari toilet, yang ternyata di KL namanya jadi ”tandas”. Keluar dari Tandas, kami bingung harus menuju kemana, soale gak ada petunjuk sama sekali. Akhirnya ngikut aja arus orang-orang lainnya pada jalan kemana.
Rupanya... untuk menuju ke Imigresen, Tuntutan Bagasi, dan Balai Ketibaan kita harus naik Skytrain dulu, karena ketiga tempat tersebut berada di gedung yang berbeda dengan gate dan apron tempat pesawat-pesawat itu parkir.
Di Imigresen, ternyata ngantrenya panjang, muter-muter kayak uler, persis kayak bank Mandiri kalo lagi tanggal muda. Lumayan lama deh ngantre di Imigresen itu, setengah jam lebih lah.
Lepas dari Imigresen, kami mencari-cari conveyor tempat koper-koper penumpang GA820 dikeluarkan, tapi kok gak ada ya?? Setelah agak-agak muter-muter... rupanya koper-koper itu sudah keluar dari tadi (maklumlah, kan ngantre di Imigresen-nya lama banget), kemudian koper-koper itu ditumpuk di salah satu ujung conveyor.
Terus kita langsung ke Tourism Centre yang ada di Balai Ketibaan itu. Maksudnya mau nanya, kalo pengen naik KLIA Express tuh beli tiketnya dimana, terus harus kemana. Ealah... malahan ketemu sama mas-mas Indonesia yang mengira kita pengen tauk, caranya menuju ke Jalan Imbi gimana. Dia dengan serta-merta mengeluarkan peta jaringan LRT/Monorail-nya KL (which is sebenernya ada juga di tasku), kemudian menjelaskan gimana caranya ke Jalan Imbi. Walah... kami hanya senyam-senyum, say thanks, tapi pertanyaan kami yang sebenernya belum terjawab bok!!
Untung akhirnya ngeliat loketnya KLIA Express. Langsung beli tiket 35 ringgit per orang. Terus mbak-mbaknya yang jual tiket ngejelasin gimana caranya ke stesen KLIA Express. Terus kami melewati bea cukai, giling juga nih orang Malaysia, masa’ baggage tag-nya gak diperiksa sama sekali... kalo nggak sengaja bawa barang orang gimandang coba yaa...
Kita naik KLIA Express yang jam 3, keretanya enak banget. Modelnya MRT di Spore, tapi tempat duduknya gak kayak angkot. Gak nyampe ½ jam kita sudah tiba di KL Sentral.
Nah... di KL Sentral ini, mulai deh ubet-ubetan nyari stesen monorail. Sampe nanya 3 kali loh... Itu gara-gara kami terpaku sama tulisan EXIT di tempat yang gak seharusnya kami lewati.
Pas akhirnya menemukan pintu keluar yang sebenar-benarnya harus kami lewati, ”Petualangan Turun Tangga di Kuala Lumpur” yang sebenarnya pun dimulai. Jadi gini ya... di stesen-stesen yang ada di KL itu kalo untuk naik tangga tersedia eskalator, tapi untuk turun, harus manual, aku menyebutnya ”gak downward-friendly”.
Terpaksa deh, angkat koper sambil turun tangga (gak bisa digeret kan kalo lewat tangga manual). Sampai di bawah, ketemu dengan bis-bis airport coach, baik yang menuju KLIA, maupun LCC Airport (Low Cost Carrier Airport, tempatnya Air Asia). Kalo di Jakarta, sama dengan Damri kali ya. Kalo mau lebih murah, gak lagi ngejar waktu, dan barangnya lagi gak banyak, bisa naik airport coach itu. Kalo barang banyak, anggota lebih dari 2 orang, lebih baik naik taksi, hanya 67 ringgit saja, tinggal beli kupon di airport.
Dari ”terminal airport coach” tadi, masih belum menemukan stesen monorailnya juga. Nanya lagi ke salah satu loket airport coach (jadi total 4 kali nanya!!), terus dari kejauhan aku melihat ada tulisan MONORAIL. Nah!! Itu dia!!
Tapi sebelum mencapai stesen monorailnya KL Sentral itu, kita mesti jalan dulu sekitar 150 meteran, melewati pasar kaget (masih sambil geret-geret koper). Terus nyebrang jalan gede segala. Baru deh beli tiket monorail, dari KL Sentral ke stesen Imbi @1.60 ringgit.
Monorailnya ternyata penuh juga bok, kayak kereta api jabotabek pas peak hours gitu deh, wakakakak.... agak-agak repot juga karena bawa koper. Dah gitu, pas turun di Imbi, ternyata tangga turunnya lagi-lagi gak pakek eskalator, dan panjjjjaaaaannngggg banget bok, lumayan pegel juga mesti turun tangga sambil angkut koper. Kami masih belum tauk pula, hotel Melia masih berapa jauh dari stesen monorail Imbi itu.
Untungnya... ketika kami sampai di ujung tangga yang paling bawah, JRENG!! HOOREEE!!! Ternyata hotel Melia-nya tepat di depan kita!!
Untungnya lagi, gak ada masalah dengan bookingan hotelku. Tadinya mas-masnya agak bingung waktu ngeliat booking code-nya yang dari Internet, tapi ketika aku kasih pasporku, dia dengan mudah menemukan booking atas nama LAKSMI, AGRITA (India ya??).
Kami dapat kamar 1605, konon kamar ini adalah tipe I-Room yang ada fasilitas PC, Broadband Internet 24 jam, dan VCD Player-nya. Tapi yang namanya PC-nya itu agak-agak katro gitu deh. Keyboardnya blas gak enak, keras banget, mendingan maen piano petrof bok. Mouse-nya juga seret. Udah gitu OS-nya itu loh: Windows ME. Alamaaakk... hareee geeenneee....
Abis itu leyeh-leyeh dulu sambil makan buah, mencoba untuk tidur tapi gak bisa. Sempet mengamati Petronas Twin Tower yang keliatan dari kamar hotel kami (meskipun agak-agak kehalangan sama hotel Capitol), terus juga KL Tower.Akhirnya kami memutuskan untuk nyebrang ke Berjaya Times Square yang terletak tepat di sebrang hotel Melia. Konon Berjaya Times Square katanya mall tergede di Malaysia. Entahlah bener apa enggak, tapi yang pasti emang gede banget sih, ada 1000 lebih toko di dalamnya, terus ada amusement park juga, lengkap dengan roller coasternya.
Tujuan pertama kami adalah: Borders!! Katanya Borders-nya lebih gede dibandingkan Borders yang di Spore. Tapi perasaanku sih, bukunya lebih sedikit dibandingkan yang di Spore. Setelah gak menemukan buku titipannya Ndulo, aku langsung menghilang di balik rak Science Fiction dan juga rak buku musik. Kekekek.... Buku musik gak ada yang menarik, jadi hanya dapet novel Buried Age-nya Star Trek: The Next Generation.
Dari Borders, terus naik ke lantai 10, ke food court yang katanya terbesar juga. Tapi kalo yang ini mah aku gak setuju. Soale food courtnya itu ternyata gak ada apa-apanya dibandingin food court yang di lantai atasnya ITC Cempaka Mas.
Kami memilih menu Kabab & Salad. Aku beli paket Chicken Schaslik Kabab, lengkap dengan nasi berbumbu mentega dan krim sup yang ada campuran jahenya, rasanya jadi mirip krim sup dikawin silang sama wedang ronde. Yummy...
Abis makan terus mampir Borders lagi, terus balik ke hotel.
Kuala Lumpur: Hari Ke-2
Pas monorail kedua dateng, kami berhasil nyelip di monorail yang penuh banget itu. Hidungku sudah hampir nempel sama pintu monorail...
Hihihihihiiiiiiii... ternyata asik juga naik monorail sambil nempel pintu gitu. Karena rel-nya monorail itu kan gak ada pagarnya seperti halnya rel kereta jabotabek di Jakarta. Jadi dari pintu itu kita bisa langsung ngeliat ke bawah, yaahh... jadi agak-agak serem gimana gitu loh... asik kan... kalo si Bi pasti “menikmati” nih...
Ternyata hotel Crowne Plaza, tempat conference-nya diadakan itu terletak tepat di depan stesen monorail Raja Chulan. Wah, cukup strategis nih jadinya… baik tempat nginep maupun tempat acara berada pas di depan stesen monorail, si Melia di depan mall gede pula. Hehehe…
Venue-nya hari itu di lantai 30. Sesi pertama diberikan oleh bapak-bapak dari Indonesia, sedangkan sesi kedua diberikan oleh bapak-bapak dari Australia. Lumayan beraneka ragam pesertanya, ada mas-mas ganteng dari India yang seneng banget small talk, terus ada bapak-bapak Pakistan yang nyari Black Tea dan gak tauk gimana caranya membuat teh dengan menggunakan teh celup, terus ada juga mas-mas Vietnam yang kemana-mana bawa peta KL keluaran Periplus. Mbak-mbak panitianya juga baik banget, dia malahan sempet curhat segala…
Yang sedikit jadi masalah adalah, venue-nya gak betul-betul di lantai 30. Kami masih harus naik 2 lantai lagi dengan menggunakan tangga putar. Bentuknya kayak mezzanine gitu deh. Sayangnya… tandas-nya tuh ada di lantai 30, jadi kalo pengen ke tandas, mesti turun naik 2 lantai dulu. Tandas-nya gak ada airnya pula, tapi ada powder room-nya, penuh dengan kaca dan lampu, jadi ingat ruang riasnya Gedung Kesenian Jakarta deh.
Soal makanannya, lumayan oke lah... menu yang cukup memorable dari makan siang buffet-nya adalah Laksa. Mie-nya gede-gede, terus kuahnya merah, kayak ada campuran crab-nya. Dimakan pakek potongan timun, kecap asin, dan bawang merah. Yummy…
Coffee break-nya juga yummy, terutama karena ada berbagai macam pilihan teh merk PickWick. Ada Earl Grey (Captain Picard’s fave), Ceylon tea, English Breakfast, Green Tea, Green Tea & Lemon, Chamomile Tea, Peppermint, Roiboos & Vanilla, banyak dan berwarna-warni. Kue-nya juga aneh-aneh, ada martabak dengan bumbu karinya, ada salmon croissant sandwich. Hiiii… udah ngebayangin bakalan gembul nih pulang dari sini.
Sorenya kami memutuskan untuk pulang ke hotel Melia dengan berjalan kaki. Sekalian cari-cari tempat oleh-oleh. Di deket Bukit Bintang nemu tempat souvenir gitu deh, tapi gak ada yang menarik hati deh. Standar-standar aja, harganya juga gak terlalu murah.
Udah gitu, di depan stesen monorail Bukit Bintang, akhirnya kami masuk ke Sungei Wang Plaza, karena di luar langitnya mendung, pikir-pikir… kayaknya kalo tiba-tiba turun hujan, mendingan pas kami di dalam mall aja. Nah ini dieee… Sungei Wang Plaza itu modelnya kayak mangdu gitu rasanya sih… hmm… tapi banyak juga barang-barang branded. Kesan pertama sih boring, biasa ajah.
Tadinya kami mau muter-muter sampe waktu makan malam, tapi lama-lama capek juga, jadi pulang aja ke hotel, leyeh-leyeh dulu sebentar sambil ngambil foto langit yang lagi mendung banget, kayaknya bakal ujan gede nih. Abis maghrib (which was jam ½ 8 malem gitu loh…), jalan lagi ke Berjaya Times Square.Karena pas di hotel tadi udah makan menu yang berat-berat, malam ini pengen makan fast food ajah. KFC yang di concourse-nya Times Square jadi tempat tujuan kami. Entah kenapa… pas nyampe di KFC, aku benar-benar laper, sehingga memutuskan untuk pesen paket Colonel Rice Combo. Giling kan… laper beneran tuh… soale kalo makan fast food di Jakarta aku gak pernah mesen menu nasi, aku selalu pesen kentang.
Colonel Rice Combo itu terdiri dari 2 ayam, terus nasi berbumbu (mirip nasi briyani kali ya?), gravy sauce, sama coleslaw salad. Dari seluruh kelengkapan menu Colonel Rice Combo tersebut, sisanya hanya ½ mangkuk coleslaw salad dan sejumput daging ayam, sisanya berhasil aku habiskan.
Setelah dari KFC, sempet liat-liat toko yang di dekat KFC. Hmmpphh… kok sepatu Hush Puppies diskonnya kecil banget yak?? Paling tinggi 30% sajah… nyebelin deh…
Abis itu masuk ke Cold Storage, nyari oleh-oleh berupa makanan: coklat, wafer, permen. Yah… banyak lah yang emang produk asli Malaysia. Aku seneng banget ngeliatin beraneka ragam minuman coklat dan juga teh impor aneka rasa (Dilmah, Ahmad Tea).
Setelah itu balik ke hotel lagi, agak-agak hujan gitu, jadi terpaksa buka payung waktu jalan dari jembatan penyebrangan ke hotel Melia. Hmm… di hotel Melia ini, rasanya hampir tiap malam ada piano live lengkap dengan penyanyinya. Sayangnya aku udah terlalu capek untuk duduk-duduk di lobi dan menikmati musik live tersebut. Pengennya langsung mandi dan bobok ajah.
Kuala Lumpur: Hari Ke-3
Hari ini venue-nya pindah ke lantai 4. Good news-nya adalah tandas-nya ada semprotan airnya!!! Huihuihuihui... jadi menambah ketenangan batin lah. Bad news-nya adalah AC-nya luar biasa dingin. Walah... padahal hari ini kostumku pakek celana panjang. Ini aja udah kerasa dingin, gimana besok yah?? Aku kan menyiapkan kostum rok untuk besok?? Hehe... karena keterbatasan ruang di koper, jadi bajunya sudah kuhitung bener-bener dari sejak di Jakarta. Jangan sampe kelebihan, tapi tetep harus ada cadangan secukupnya.
Kalo kemaren attendances-nya hanya 12 orang, hari ini ada sekitar 60 orang. Pembicaranya juga banyak. 1 pembicara palingan hanya dapat waktu 45 menit untuk presentasi dan tanya jawab.
Menarik sih... karena selama ini persepsiku adalah yang namanya data dan knowledge management itu fokusnya ada pada teknologinya: bagaimana membangun sistem aplikasi yang bisa melakukan knowledge management. Tapi ternyata inti dari knowledge management itu adalah PEOPLE, karena yang punya KNOWLEDGE kan emang PEOPLE. Jadi, yang namanya orang itu boleh keluar masuk dari dan ke perusahaan kita, tapi pengetahuannya harus tetep tinggal di perusahaan kita. Yang namanya teknologi itu hanya sebagai supporting tools saja.
Trus percuma saja punya system aplikasi yang canggih, kalau tidak ada commitment dan enforcement dari top management. Yang dapat menanamkan knowledge management pada para PEOPLE yang ada di perusahaan tentunya adalah top management-nya.
Menu menarik makan siang adalah semacam gado-gado gitu deh. Rasanya biasa aja sih, tapi menarik. Terus hari ini aku agak-agak heboh makan dessert. Hihihi... dessertnya tuh very sinful deh: Coklat Mousse, terus ada lagi apple cake pakek vla. Penuh dosa kan??
Nah, sorenya... aku ikutan pergi ke Suria KLCC bareng bu Sapta dan mbak Tati. Kita lewat jalan belakangnya Crowne Plaza. Terus foto-foto di deket air mancur berirama yang ada di tamannya KLCC. Sekalian juga nyoba foto-foto dengan latar belakang Twin Towers-nya Petronas.
Ih, ternyata sulit ya pengen ngambil foto manusia (maksudnya ya kami-kami ini) dengan latar belakang Twin Towers Petronas, karena posisi kita terlalu dekat dengan pintu masuk ke Suria, sehingga susah untuk memasukkan ujungnya si kembar menara Petronas itu ke dalam frame kamera kita. Akhirnya cukup puas dengan foto yang gak pakek ujung menara, cukup dengan latar jembatan Skybridge yang di lantai 41 itu aja.
Hmmm... aku memang gak mencoba naik ke menara Petronas. Sebenarnya tiket masuknya gratis, namun dibatasi sampe 1200 tiket per hari. Jadi asalkan kita datang pagi-pagi sih biasanya masih kebagian tiket. Tapi menurut info dari Rama, hanya bisa naik sampe ke lantai 41 itu saja (Skybridge), itupun dibatasi 10 menit saja di atas Skybridge.
Foto ini adalah hasil foto Twin Towers Petronas yang kudapatkan sore itu. Setelah puas foto-foto, terus masuk ke Suria KLCC. Ngambil kartu diskon khusus tourist dulu dengan hanya menunjukkan paspor. Terus liat-liat Vincci, sepatu yang emang asli Malaysia, yang ternyata biasa ajah tuh rasanya... modelnya sih emang lucu-lucu, tapi aku pengennya yang enak, gak perlu lucu-lucu banget juga gpp. Mendingan ke Donatello sebrang jalan Ganeca aja deh, yang emang udah mengerti kakiku.Terus mbak Tati dan bu Sapta tertahan agak lama di toko souvenirnya Petrosains, sedangkan aku langsung masuk ke Kinokuniya. Beli buku pesenannya Ndulo dulu. Udah gitu tenggelam di dekat rak buku musik lagi. Yang ini lumayan banyak buku musiknya, lebih banyak dari Borders. Kalo buku Sci-Fi-nya lebih dikit dibanding Borders sih...
Karena bingung mau beli buku piano yang mana, dan udah ditungguin Ibu cs di hotel Melia, jadi aku putuskan untuk besok saja balik lagi ke Kinokuniya buat milih-milih dengan lebih santai.
Waktu aku jalan ke arah kasir, udah mau bayar... aku iseng ngeliat ke deretan suling recorder yang digantung di dinding. Suling-suling itu dijual satu paket dengan buku instruksinya. And guess what...?? Di antara suling-suling recorder itu, ada satu suling yang istimewa, aku sampe gak percaya bisa menemukan barang itu di Malaysia. Aku pikir harus pergi ke Eropa dulu untuk menemukan barang itu. Suling istimewa itu adalah: Penny Whistle.
Apa istimewanya?? Buat yang suka nonton Star Trek (terutama The Next Generation), mungkin pernah nonton episode yang berjudul Inner Light. Kalo mau baca resensinya, ke Memory Alpha aja yah. Nah waktu pertama kali nonton Inner Light itu (years ago deh pokoke… aku masih SMP yang pasti), dan melihat alat musik yang dimainkan Picard, Bapak langsung komentar: loh, itu kan Penny Whistle. Suling logam dari Inggris gitu deh, dulu waktu masih kerja di lapangan (mungkin aku masih bayi), pernah nyoba nyari alat musik itu, buat iseng-iseng ajah.
Terus beberapa hari sebelum aku berangkat ke KL, Bapak bilang: “Ntar kalo di sana ada Penny Whistle ya…”. Komentarku adalah: “Yah… mana ada… kayak gituan cuman ada di Inggris kali…”. Dan ternyata… aku menemukannya di Kinokuniya KL.
Setelah bayar belanjaan Kinokuniya-ku, ternyata sudah jam ½ 8. Bu Sapta ada janji dengan temannya, sedangkan aku ditungguin Ibu dkk di hotel. Akhirnya kami ninggalin mbak Tati di Kinokuniya, terus jalan balik lewat Crowne Plaza. Mayan jauh juga bok, tapi masih sempet foto-foto dengan latar Twin Towers Petronas yang sudah dinyalakan lampu-lampunya. Dari Suria KLCC sampe ke stesen monorail Raja Chulan via Crowne Plaza, dengan kecepatan “jalan cepat” memakan waktu 20 menit. Sampe di Raja Chulan baju sudah basah berkeringat.
Sampai di hotel Melia, ternyata Ibu, pak Kus, pak Bambang, dan bu Bambang sudah nunggu di lobi. Karena bu Sapta sudah keburu ada janji dengan temannya, jadi gak ikutan makan bareng.
Makan malam kali ini di Berjaya Times Square lagi. Kali ini di resto Uncle Duck. Franchise dari Hongkong gitu deh. Entahlah halal apa enggak, hehehe, tapi kalo bebek kan emang gak mungkin dimasak barengan sama “yang satu itu”, karena rasanya bisa rusak kalo dimasak barengan. Kami pesen Nasi Bebek dengan Sup Ikan. Teh-nya (yang gretongan itu, persis kayak resto Sunda) wangi dan enak banget rasanya. Aku sampe nambah 3 kali, padahal kalo di Jakarta aku jarang sekali minum teh kecuali lagi bertamu ke rumah orang, atau diajakin beli green tea botolan, atau di resto Padang Sago yang deket kantor. Sup Ikan-nya juga yummy, mirip kayak sup ikan batam. Bebeknya juga crispy, terus sausnya tuh pas banget.
Setelah makan, agak muter-muter dulu di Berjaya Times Square. Aku, Ibu, dan bu Bambang masuk ke counter kosmetik Elianto, sementara bapak-bapak masuk ke Borders. Hihihi... Elianto... namanya kayak nama orang Jawa yah... Modelnya kayak Face Shop gitu loh... Asik banget ngeliat-ngeliat di situ. Eye shadow dan kutek-nya tuh warna-warni gitu loh (sebenernya hal biasa sih...tapi tempatnya enak ajah buat ngeliat-liat).
Setelah tokonya dah pada mau tutup, kita baru balik ke hotel. Bu Sapta belum datang ternyata. Aku mandi aja, pas udah mau tidur, Ibu telpon ke kamar. Nah... pas lagi telpon itu, tiba-tiba terdengar bunyi GEDEBUM!! Kayak bunyi meriam gitu...
Karena sudah pernah dapet Kejutan Kembang Api Tahun Baru, dan juga sudah dapet info tentang Fireworks Festival dalam menyambut 50 tahun Malaysia tanggal 31 Agustus besok, aku langsung bisa menebak kalo bunyi GEDEBUM tadi itu adalah kembang api. Aku langsung tutup telepon. Tapi... ada yang aneh... kenapa suara GEDEBUM-nya kenceng banget yah??
Pas lihat keluar jendela.. TERNYATA!!! Ternyata... peluncur kembang apinya tuh kira-kira berada di Low Yat Plaza yang berada tepat di sebelah/belakang hotel Melia. Kembang apinya tuh meledak tepat beberapa meter di atas atap hotel Melia. Dan aku berada di lantai 16, hanya 2 lantai dari atap gedung. Deket banget tuh kembang apinya... Jadi ”api” warna-warninya seolah-olah muncrat ke arah jendelaku. Huekekekekek... gimana ya... rasanya seneng ngeliat kembang api sedekat itu, tapi sambil ngeri juga ngeliat ”api”-nya begitu dekat.
Aku langsung ngambil kamdig, terus ngambil video, sambil berharap bu Sapta cepet dateng, biar ada temennya gitu loh. Ngeri kan...
Hihihi... lucu juga. Sebelum berangkat ke KL, aku pengen banget ngeliat kembang api, gara-gara ngeliat iklan Fireworks Festival itu, tapi gak nyangka deh bakalan dikasih liat kembang api sedekat itu!! Jadi ingat-ingat yah: Be careful of what you wish for!!
Tak lama setelah kembang apinya berhenti, bu Sapta datang. Kami pun bercerita heboh tentang pengalaman masing-masing. Terus tidur.
Kuala Lumpur: Hari Ke-4
Dapet kejutan lagi sorenya, karena aku memenangkan door prize menginap 1 malam di The Prince Hotel. Tadinya mau kukasihkan ke Ndoro, tapi ternyata Ndoro gak jadi ke KL minggu depannya. Baru bulan November ke KL-nya.
Selesai acara, aku langsung balik ke Melia naik monorail, sedangkan bu Sapta milih jalan-jalan dulu nyari oleh-oleh. Dari hotel, aku sama Ibu naik monorail ke stesen Bukit Nanas, terus jalan kaki menyusuri jalan Ampang untuk menuju ke KLCC.
Lumayan jauh juga ternyata. Tapi di tengah jalan dikasih pemandangan pelangi. Pelanginya ada di antara kedua gedung Petronas (keliatan gak di fotonya?). Entahlah dari mana datangnya pelangi itu, karena rasanya sih gak habis hujan.Di KLCC muter-muter di Isetan, terus makan di food court. Oya, makannya di Yoshinoya. Franchise yang satu ini dulu pernah buka di Jakarta, tapi udah lama tutup. Menunya mirip-mirip kayak Beef Bowl gitu deh. Seperti biasa aku pesan ayam tepung dengan saus. Sayurannya aja yang agak aneh, secara ada melonnya segala di antara tumisannya itu. Tapi yummy kok...
Abis itu ke Kinokuniya lagi, kali ini membuahkan buku piano. 150 Most Beautiful Songs gitu judulnya. Tapi emang bener, so far sih… lagu-lagu yang kucoba mainkan emang bagus-bagus. Yang jadi masalah adalah buku itu berat banget… sungguh memberikan kontribusi massa terhadap barang bawaanku.
Pulangnya lewat convention centre, sempet foto-foto lagi di dekat air mancur berirama itu, dengan latar belakang Twin Towers (lagi). Aku bener-bener penasaran pengen dapet angle yang memuaskan (mungkin gak bagus, tapi at least optimal buat aku gitu loh). Hari ini aku menemukan cara ngambil foto yang ajaib, dimana gaya si fotografer lebih aneh dari modelnya. Tapi mesti tetep jaim loh, gak boleh sampe nungging-nungging aneh, soale aku lagi pakek rok hari ini.Nah, setelah itu dari convention centre terus nembus ke Crowne Plaza lagi, baru naik monorail lagi dari stesen Raja Chulan. Habis turun di stesen Imbi, masih sempet ke Times Square dulu. Beli ikat pinggang buat Bapak dengan harga yang unbelievable. Pegel juga neh…
Sampe hotel daftar untuk city tour dulu, terus balik ke kamar. Gak lupa sharing cerita tentang tempat belanja lagi sama bu Sapta. Heheheh....
Kuala Lumpur: Hari Ke-5
Tempat tujuan pertama adalah istana sultan. Turis gak boleh masuk ke istana, tapi boleh foto-foto di depan pagar istana-nya. Aku malah lebih tertarik foto-foto sama kuda yang dinaiki oleh mas-mas penjaga gerbang istana itu. Tapi gak mau dekat-dekat juga sih, takutnya tiba-tiba si kuda nengok dan mencium diriku. Hihihihihi....Dari istana terus kami menuju ke Muzium Negara (National Museum). Harga masuknya 2 ringgit. Museumnya sih bersih dan terawat. Isinya tentang kebudayaan Malaysia, terus juga sejarah singkat Malaysia, dari mulai kedatangan penjajah Portugis, sampe seperti sekarang ini.
Seperti halnya museum yang bercerita tentang kebudayaan di Taman Mini (aku lupa namanya museum di Taman Mini itu), tentunya banyak menggunakan mannequin. Nah itu dia yang bikin museum itu jadi sedikit creepy. Bedanya dengan museum2 di Indonesia adalah, mannequinnya di Muzium Negara ini bersih-bersih, jadi seringkali susah dibedakan dari orang beneran. Udah gitu, Muzium Negara ini juga dilengkapi dengan screen video. Jadi... semakin creepy aja. Misalnya pas kita membelakangi screen yang lagi muter video, kesannya kan jadi kayak ada yang bergerak-gerak di belakang kita, padahal gak ada siapa-siapa, kecuali mannequin. Creepy kan?
Kebudayaan Malaysia ya mirip-mirip dengan kebudayaan Indonesia, karena kita itu memang bersaudara. Orang-orang yang tinggal di East Malaysia itu ya sama-sama orang Dayak. Terus yang bangsa Melayu mirip dengan orang-orang Sumatera. Hanya saja mereka juga mengasimilasi kebudayaan Cina dan India. Terus ada juga Orang Asli yang merupakan bangsa Negrito.
Terus, kalo Malaysia punya keris, tidak perlu beranggapan bahwa mereka ”mencuri”-nya dari Indonesia. Karena mereka mengakui bahwa sebelum kaum penjajah datang, mereka itu ada di bawah kekuasaan Majapahit. Kemungkinan yang membawa keris masuk ke daratan Malaysia kan orang-orang Majapahit juga?Oya, lucunya... atap dari Muzium Negara ini berbentuk atap rumah gadang. Mereka bilang itu ”Atap Minang”. Aku tidak tahu alasannya, kenapa mereka membuatnya menjadi seperti itu.
Dari Muzium Negara, kami menuju ke tugu War Memorial, di dekatnya ada Taman ASEAN gitu deh. Isinya ya tugu peringatan perang kemerdekaannya Malaysia, ada nama-nama pahlawan yang gugur. Sempet foto-foto dan beli souvenir.
Dari War Memorial, terus ke National Mosque atau Masjid Negara. Di sebrangnya ada Old Railway Station. Sempet foto-foto sebentar saja, kemudian kami menuju ke Dataran Merdeka. Kalo hari biasa, Dataran Merdeka itu bentuknya ya lapangan gitu, ada jam gadangnya (jam besar maksudnya). Tapi karena hari itu lagi dipersiapkan untuk Hari Kemerdekaan tanggal 31 Agustus, jadi Dataran Merdeka-nya penuh dengan panggung, sound system, lighting, yah buat persiapan acara keesokan harinya. Jadi gak leluasa deh.
Dari Dataran Merdeka terus kami menuju ke KLCC. Niatnya mau foto-foto di depan Twin Towers tapi dari pintu depannya Twin Towers (kemaren-kemaren kan dari depan Suria KLCC). Tapi apa daya, ternyata hujan turun... jadi baru mau foto-foto udah lari-lari balik ke mobil. Lagipula angle-nya juga susah sih, terlalu dekat ke Twin Towers-nya, jadi pasti gak dapet ujung gedungnya deh.Dari KLCC terus kami menuju ke pabrik kulit. Kulitnya tuh macem-macem deh, dari mulai kulit sapi yang standar, kulit ikan pari, sampe surai kuda yang dianyam. Tapi desainnya kurang menarik, udah gitu harganya juga mahal-mahal. Mendingan ke Tajur atau Tanggulangin deh.
Dari pabrik kulit terus ke pabrik batik. Batik?? Kedengerannya aneh ya?? Hmm... Ternyata mereka tidak menjual barang-barang seperti layaknya toko-toko batik di Yogya atau Solo. Mereka lebih banyak menjual scarf dari bahan silk yang gambarnya dibuat dengan teknik membatik. Motifnya sih bunga-bunga biasa aja. Bukan motif tradisional seperti Yogya atau Solo.
Mas-masnya ngajarin bikin kreasi dengan menggunakan scarf. Dia sengaja melakukannya dengan cepat, dengan dalih bahwa kalo kita beli scarfnya nanti dikasih buku instruksinya. Lucu-lucu deh hasilnya. Hmm... Tapi meskipun dia cepat-cepat demonya, aku berhasil mengamati cara-nya dia bikin korsase dari scarf, dan setelah balik ke Jakarta aku berhasil membuat korsase dengan salah scarf yang ada di rumah. Hihihihihi...
Setelah pabrik batik, kami ke showroom coklat Malaysia yang merknya Beryl’s. Hmmm... Special productnya adalah coklat rasa tiramisu, dan coklat isi buah-buahan. Boleh lah rasanya... enak, yummy yum yum. Kita boleh nyobain coklat-coklatnya. Mereka punya banyak tester. Bahkan coklat rasa durennya juga enak (tapi baunya gak enak, duren banget, terutama setelah seharian disimpan di dalam tas... begitu tasnya dibuka... WUUSSHH.... semerbak bau duren...).
Kenapa Malaysia punya industri coklat? Dulunya orang Malaysia mengimpor coklat yang sudah jadi dari Eropa. Tapi... coklat-coklat dari Eropa itu kan banyak yang mengandung liquor (hehe... bukannya justru itu yang bikin enak yak?). Karena ada liquornya itu jadi haram. Nah, supaya yakin akan kehalalannya, akhirnya mereka mengolah coklat sendiri, sebagai gantinya liquor, mereka menggunakan buah-buahan tropis sebagai “topping” dari coklat-coklat tersebut.
Dari showroom coklat, terus balik ke Melia lagi. Checkout kamarnya Ibu (kamarku sudah dicheckoutkan oleh bu Sapta), terus checkin lagi untuk kamar Standar pesananku.
Yah, jadi akhirnya kami sudah mencoba kamar I-Room, Deluxe (Ibu), dan sekarang Standard. Mau tauk bedanya Standard dengan I-Room/Deluxe? Kalo standard gak ada safety deposit box-nya, terus gak dikasih sendal kamar, bed lamp-nya gak punya switch terpisah (harus nyala dua-duanya atau mati dua-duanya), lokasinya di lantai bawah, selimutnya susah banget ditarik, TV-nya gak flat, tapi langit-langit bathtub-nya lebih tinggi 10 cm, jadi aku gak berasa claustrophobia kalo lagi mandi.
Setelah membereskan urusan check in dan check out, aku dan Ibu segera jalan kaki ke Sungei Wang Plaza untuk mencari hawker yang menjual makanan vegetarian. Hawker tersebut ternyata berada di lantai 4 Sungei Wang Plaza, atau Bukit Bintang Plaza ya?? Hmm.. entahlah, berhubung kedua plaza tersebut saling terinterkoneksi, jadi kadang susah membedakan saat itu kami lagi berada dimana.
Hawker, atau food court tersebut tidak memakai AC, tapi surprisingly enggak panas, karena penuh dengan kipas angin dan langit-langitnya tinggi. Selain itu juga bersih dan cukup nyaman. Stand vegetarian itu mostly terdiri dari sayuran, sedangkan lauk-pauknya hampir semuanya terbuat dari ”Soya” alias kedelai (ini sesuai penjelasan mas-mas yang jualan).
Kami ngambil sepiring nasi dan sepiring penuh lauk-pauk dan sayur. Lauk-pauknya terdiri dari tahu goreng yang lembut banget, kembang tahu gulung bumbu pedas dan manis (rasanya kayak lumpia), terus sesuatu yang kayak daging masak kecap (tapi kalo dilihat dari dekat teksturnya mirip tahu tapi padat), ada lagi sesuatu yang mirip teri kacang tapi ”teri”-nya juga terbuat dari soya. Semua serba soya, yang gak ada hanya tempe. Kalo sayurnya sih standar, yang ijo-ijo gitu deh. Abis itu pesan minuman teh tarik (yummy!) dan susu kedelai. Makanan dan minuman untuk dua orang itu habisnya 7.90 ringgit sajah. Aku baru tauk kalo makanan vegetarian bisa seenak itu deh.... hmmm....
Selesai makan, langsung ke stesen Bukit Bintang, terus naik monorail ke stesen Titiwangsa (ujungnya jalur monorail). Tujuannya adalah Eye on Malaysia.
Eye on Malaysia adalah ”Bianglala” alias Ferris Wheel yang dibuat untuk menyaingi London Eye (katanya). Karena diresmikan bersamaan dengan launching Visit Malaysia 2007, seharusnya Eye on Malaysia ini merupakan landmark dari Visit Malaysia 2007. Jadi, aku pikir sarana transportasi menuju ke tempat itu sudah cukup memadai. Akan tetapi ternyata...Waktu sampai di stesen Titiwangsa, bingung harus kemana dan naik apa. Menurut info dari internet sih bisa naik bis nomer 121, tapi pas nanya ke petugas RapidKL yang standby di halte, katanya naik bis 114. Terus dia nunjukin jalur tempat bis RapidKL ngetem di dalam terminal. Tapi ternyata butuh nanya ke 3 orang (ke mbak-mbak, anak ABG, dan pak polisi yang gak-pernah-naik-bis-dan-selalu-naik-sepeda) untuk made sure bahwa memang itu jalur yang dimaksud.
Setelah yakin bahwa kami di jalur yang benar pun, ternyata bisnya gak muncul-muncul. Hanya ada 1 bis RapidKL yang ngetem, itupun nomor 101. Abis itu datang 2 lagi. Yang satu nomor 101 juga, satunya lagi gak jelas, yang pasti bukan 121 atau 114.
Akhirnya putus asa dan memutuskan naik taksi saja. Tapi naik taksi pun harus tawar menawar. Kayak naik bajaj aja. Supir taksi di KL gak begitu suka pakek ”meter” alias argo karena tarif taksi di sana tuh keterlaluan murahnya. Sebagai perbandingan, di Jakarta itu tarif bukaannya kan 5000 rupiah ya, itu untuk 1 km pertama, setiap 100 meter berikutnya nambah 250 rupiah. Sedangkan di sana tuh tarif bukaannya 2 ringgit (5400 rupiah), itu untuk 2 km pertama, setiap 200 meter berikutnya nambah 0.10 ringgit (270 rupiah). Artinya tarif taksi di Jakarta hampir 2 kalinya tarif taksi Kuala Lumpur!!
Kembali ke Titiwangsa... si taxi drivernya nawarin 15 ringgit untuk ke Taman Tasik Titiwangsa (tempatnya Eye On Malaysia). Karena gak tauk berapa jauhnya (deket sih sebenernya, dari terminal situ bisa kelihatan Ferris Wheel-nya, tapi kan gak tauk apakah harus lewat jalan memutar atau gimana), kita hanya berani nawar sampe 10 ringgit. Waktu turun di Taman Tasik Titiwangsa, baru tauk kalo ternyata taxi drivernya orang Medan.
Titiwangsa Lake Garden terdiri dari sebuah danau yang dipinggirnya ada ferris wheel tadi. Konon kabarnya tingginya 60 meter ferris wheel itu. Segitu tuh tinggi gak sih? Sebenarnya lebih bagus kalo kita mengunjungi tempat ini malam-malam, karena selain lampu-lampu di downtown sudah pada nyala (Twin Towers Petronas lebih cantik kalo malam) jadi pemandangannya lebih oke, malam hari juga ada pertunjukan laser di Taman Tasik Titiwangsa ini. Tapi... kalo datang malam hari, perlu dipikirkan masalah transportasinya. Siang hari aja transportasi jadi masalah, apalagi kalo malam??
Tiket naik ke Eye on Malaysia harganya 15 ringgit per orang. Hari itu hanya sedikit yang naik bareng kami. Mungkin hanya 4 cabin yang terisi, itupun di cabinku hanya ada aku dan Ibu. Putaran wheel-nya tuh agak-agak pelan gimana gitu loh, sehingga setelah 2 puteran, jadi agak mumet (padahal totally dikasih 4 puteran). View-nya lumayan bagus dari atas, tapi pasti lebih bagus lagi kalo malam, seperti yang kubilang sebelumnya.
Setelah puas naik dan foto-foto, sekarang baru memikirkan cara untuk pulang. Nanya ke Information Counter, ada gak bis yang lewat di depan taman itu... rupanya orangnya gak tauk. Dan dari tadi memang aku gak liat ada bis lewat, kecuali bis city tur Hop-On-Hop-Off. Taksi juga gak ada yang lewat.
Akhirnya aku ngajak jalan kaki aja ke jalan besar. Siapa tahu ntar ketemu taksi, atau gak... ya lama-lama kan sampe juga ke stesen Titiwangsa.... hehehe... tapi untunglah... belum nyampe jalan besar, tepat ketika melintas di dekat tempat pemberhentian taksi, lewatlah sebuah Premiere Taxi yang kosong. Premiere Taxi itu kalo di Jakarta Silver Bird kali yaa.... tarif bukaannya lebih mahal (3 ringgit kalo gak salah), per km-nya juga lebih mahal, tapi taxi drivernya (seorang bapak-bapak India) mau pakek ”meter”. Rupanya untuk menuju stesen Titiwangsa hanya perlu sekitar 8.50 ringgit dengan menggunakan premiere taxi tersebut.
Aku heran sama pemerintah Malaysia... aku pikir Eye on Malaysia itu landmark dari Visit Malaysia 2007, tapi kenapa fasilitas transportasi untuk menuju ke tempat itu gak diperbanyak, biar turis tuh mudah untuk mencapainya...??
Dari stesen Titiwangsa, langsung menuju ke Bukit Bintang lagi. Petualangan mall pun dimulai. Dari mulai Lot 10 (dengan Isetan-nya), Bukit Bintang Plaza (dengan Metrojaya-nya yang menyediakan baju Accent dengan harga diskon yang unbelievable dan surprisingly ukuran standar), sampai ke Sungei Wang Plaza (dengan Parkson Grand, toko-toko baju, toko handicraft, dan Giant).
Pas jamnya makan malam, naik lagi ke hawker di lantai 4, tapi sayangnya kedai yang jual vegetarian food sudah tutup, akhirnya nyoba di sebrangnya ada kedai bernama RMB Curry House. Iseng-iseng mesen Mee Rebus. Harga 2 porsi Mee Rebus + 2 porsi Iced Tea adalah 9 ringgit.
Ternyata yang namanya Mee Rebus India itu adalah campuran mie Aceh dengan Siomay Bandung (kalo kata Ibu mirip toge goreng juga). Terdiri dari mie (tentunya), potongan tahu goreng, potongan gimbal udang (tepung goreng gitu deh), dan toge, bumbunya spicy agak-agak ada rasa kacangnya dikit. Meskipun spicy, Mee Rebus India ini gak bikin kepalaku keringetan seperti halnya mie Aceh.
Selesai makan, terus masuk ke Watsons di Sungei Wang Plaza. Mayan gede juga tuh Watsons-nya. Setelah liat ini, liat itu, akhirnya aku hanya beli paket wax saja... hehehe... karena itu barang jarang di Jakarta. Habis itu ke Giant sebentar, terus balik ke hotel. Dalam perjalanan menuju hotel, kami banyak berpapasan dengan orang-orang yang baru saja mau merayakan 50 tahun Malaysia. Gak seperti di Jakarta yang baru heboh tanggal 17 Agustus pagi, di sini hebohnya pas tengah malam menjelang tanggal 31 Agustus, macamnya New Year’s Eve gitu deh.
Wuuuaaa.... pegel-pegel niiiihhh.... jalannya dah mulai kayak orang habis sirkumsisi, aku kok jadi inget dengkul amoh pas turun dari gunung Huangshan ya?
Kuala Lumpur: Hari Ke-6
Sebelum melihat-lihat ke lantai atas, pertama kami membeli koper dulu, yang ukurannya slightly lebih besar dari ”koper standar” di rumah. Setelah menitipkan koper itu ke yang punya toko (House of Leather), baru naik ke lantai atas. Sayangnya pagi itu eskalatornya belum nyala, padahal ada 4-5 lantai kali tingginya plaza itu.
Yang unik, di lantai atas ada beberapa ”toko komputer swalayan”. Kayak supermarket gitu, umm... lebih mirip Ace Hardware kali yaa, tapi jualannya barang-barang perlengkapan komputer.
Setelah puas ngeliat-liat di Low Yat, terus ngambil koper di toko House of Leather, baru balik ke Melia dulu untuk naroh koper. Habis itu nyebrang ke Times Square (lagi).
Sempet nongkrong agak lama di Elianto (gerai kosmetik). Kalo hari libur gitu, ternyata penuh banget Elianto itu. Beda banget dengan waktu ke sana bareng bu Bambang. Hihi... beli kutek, lipstik, dan eye shadow.
Terus sempet mampir Borders lagi, Metrojaya juga. Terus agak lama nongkrong di FOS. Diakhiri dengan makan di Secret Recipe. Hehe... dari beberapa hari yang lalu, aku selalu bilang: ”Ngapain makan di Secret Recipe, di Jakarta juga ada”.... tapi akhirnya masuk juga ke Secret Recipe. Pengen tauk juga... gimana rasanya makan Secret Recipe di negeri asalnya. Ternyata sami mawon tuh.... hehehe.... Aku memesan Spaghetti Tom Yam dan Iced Lemon Tea. Makan berdua habisnya 37 ringgit. Cukup mahal emang...
Setelah makan terus jalan-jalan sebentar lagi, baru balik ke Melia untuk naroh barang-barang. Baru abis itu jalan ke Suria KLCC (lagi). Kali ini naik monorail dari Imbi ke Bukit Nanas. Di Bukit Nanas kita gak jalan ke arah KLCC, malahan ke arah sebaliknya, yaitu ke stesen LRT Dang Wangi.
Nah, di Dang Wangi ini... akhirnya aku belajar pakek Ticket Vending Machine. Kekekek... sudah beberapa kali ngeliat barang begitu di Spore, tapi gak pernah nyoba. Apalagi sekarang ada EZLink di Spore. Cukup sesekali berurusan sama loket (yang pakek mbak-mbak atau mas-mas), selebihnya tinggal tempal-tempel aja di tempat tapping. Hmm... ternyata bisa beli tiket dengan sukses juga bok... (hehehe...dasar ndeso)
Interior peron-nya LRT mirip banget sama stesen MRT di Spore. Apakah emang semua stesen subway kayak gitu ya?? Kereta datang setiap 4 menit 37 detik. Pas keretanya dateng, BOK!! Penuh banget. Tapi masih kebagian tempat sih, meskipun (lagi-lagi) hidungku nyaris nempel di pintu dan udah gak kebagian cantolan / tiang buat pegangan, sehingga aku terpaksa pegangan pada langit-langit kereta (untung dah pakek Rexona hehehe...).Dari stesen Dang Wangi, hanya 2 stesen menuju ke KLCC. Sampe di stesen KLCC, samar-samar tercium aroma yang cukup familiar: ROTIBOY!! Rupanya stesen KLCC itu nyambung dengan lantai Concourse-nya Suria KLCC. Dan toko pertama yang berada di dekat pintu masuk Suria KLCC dari arah stesen LRT adalah Rotiboy.
Tujuan pertama adalah Petrosains. Sayangnya sudah rada telat sampai di museum Petrosains itu (punyanya Petronas, mengingatkan pada Graha Widya Patra di Taman Mini). Sebenarnya admission terakhir tuh jam 5 sore. Aku baru sampe sana jam 5.15. Masih boleh masuk sih... tapi hanya di bagian Speed-nya saja.
Isinya? Mengingatkan aku pada praktikum Fisika, tapi tentunya dengan perangkat yang lebih sophisticated, namun dengan penjelasan yang lebih sederhana (maklum deh... sebenernya museum ini buat anak-anak). Hmm... sayangnya kata mbak Tati, museum ini udah mau tutup, karena merugi.
Dari Petrosains terus ke Kinokuniya (can’t help myself not to enter the bookshop…). Gak beli apa-apa sih. Tapi seneng aja liat-liat. Abis itu foto-foto dulu di taman KLCC. Mencari spot yang enak buat berfoto dengan latar belakang Petronas Twin Towers yang keliatan puncaknya. Hehe... Aku senang sekali mencari posisi yang tepat untuk berfoto di depan si twin towers ini. Waktu ke Suria KLCC sama mbak Tati kan udah sempet foto-foto, udah gitu besoknya foto-foto lagi sama Ibu (aku pakek baju pink ngecreng). Sekarang foto-foto lagi (yang terakhir ini pakek baju pink ke-oramye-an). Lokasi yang terakhir ini agak jauh dari pintu masuknya Suria KLCC, makanya puncak gedungnya bisa keliatan.Setelah foto, sempat berkeliling di Suria KLCC. Malam ini sebenernya pengen nyoba makan di Ta Wan House (di food court lantai 2), tapi terus mundur teratur karena: 1) Dia gak punya menu bubur, gak kayak Ta Wan yang di Jakarta. 2) Adanya menu mie, tapi mangkuknya itu loh bok, gueeddee pisssaaann!! Akhirnya beli yamien di sebelahnya gerai Ta Wan ajah. 7.50 ringgit per orang.
Abis makan sempet muter-muter lagi di Isetan, terus ke Tower Records. Ekspektasiku terlalu berlebihan kali ya. Aku pikir Tower Records itu bakalan seperti HMV di Hereen, Spore. Ternyata hanya segede Disc Tarra yang paling gede. Oya, terus untuk beberapa album (yang jadi perhatianku), Indonesia ternyata lebih ”maju”. Contohnya albumnya Michael Lington yang A Song For You. Di Indonesia kan sudah dijual yang versi Indonesia (yang hanya untuk dijual di Indonesia), harganya bisa lebih murah dari yang impor kan. Sedangkan di sana Michael Lington itu diimpor semua. Tapi aku agak menyesal nih... gak beli albumnya Russell Watson yang That’s Life. Aku pikir bakalan ada versi Indonesia-nya, kayak Michael Buble aja... tapi ternyata aku salah.
Abis dari Tower Records, sempet beli jepit-jepit rambut dari logam, trus beli Rotiboy (dan soya milk-nya). Tadinya pengen pulang naik taksi, tapi kan tawar-tawaran gitu. Ada yang nawarin 15 ringgit, 20 ringgit. Kita gak tauk harga pantasnya berapa gitu loh. Ujung-ujungnya naik LRT lagi.
Setelah turun dari LRT di Dang Wangi, terus jalan ke stesen monorail Bukit Nanas, serem juga bouw... abis stesen monorailnya tuh udah sepi gitu. Padahal baru jam ½ 10 malam. Sampai di hotel terus packing barang-barang. Sebelum tidur sempet liat fireworks lagi. Kali ini fireworks-nya di posisi yang cukup nyaman (gak persis di atas hotel lagi).
Kuala Lumpur: Hari Ke-7
Abis itu sempet ke Bukit Bintang Plaza, nemu jepitan plastik dengan manik-manik harganya 10 ringgit/3 buah. Dari jauh mirip banget sama jepit rambut logam yang dibeli di Suria KLCC kemaren, bedanya hanya bahannya aja (dan juga harganya tentunya...). Terus sempet ke Metrojaya lagi. Liat-liat MPH Bookstore (tapi gak nemu yang dicari). Abis itu balik ke hotel.
Menjelang sampe hotel, aku memutuskan untuk ke Borders (di Times Square) sekali lagi. Tapi akhirnya gak beli apa-apa juga.
Setelah semua barang siap, jam 11 turun dan checkout. Pas mau naik taksi ke airport, ditawarin naik limousine hotel seharga 120 ringgit. Hiii... ogah banget. Dia sempet nurunin ke 100 ringgit, tapi ogah juga lah ya. Karena emang udah dari awal mau naik taksi biasa aja.
Untungnya taksi pertama yang distop menawarkan harga yang sangat reasonable: 70 ringgit. Kalo beli kupon taksi di airport kan 67 ringgit tuh, gak beda jauh kan? Mau naik KLIA Express berdua juga 70 ringgit, belum ngitung ongkos dari Melia ke KL Sentral dan tenaga yang keluar buat geret-geret koper naik turun tangga di KL Sentral (sekarang kan jadi 3 kopernya). Bagasi taksinya sempet ngebuka gitu pas kita baru muter di sekitar Bintang Walk, tapi segera tertutup lagi waktu taksinya lewat polisi tidur. Kekeke...
Ternyata... jauh juga ya KLIA itu. 75 km dari Kuala Lumpur bok!! Sama dengan Jakarta-Cikampek. Bayar tolnya hanya 5 ringgit loh, itupun udah included di 70 ringgit tadi, padahal kalo menurut aturan yang tertempel di taksi, biaya tol itu harusnya dibayar oleh passenger. Hmm... ternyata biaya tol di Indonesia itu mahal ya kalo dibandingkan di Malaysia??
Di tengah jalan sempet isi bensin dulu. Terus si pak supirnya sempet nunjukin persimpangan jalan tol yang menuju LCC Airport (tempat Air Asia). Huee... kirain yang namanya LCC Airport itu dekat dengan kota KL, ternyata jauh juga, sudah dekat ke KLIA gitu deh.
Perjalanan ke KLIA memakan waktu kurang lebih 1 jam. Sampai di sana... agak tertipu sama antrean. Garuda Indonesia itu dapet di counter check-in di row A. Waktu kita liat di row A ngantrenya panjang banget. Walah!! Masa’ segini banyak orang mau Jakarta semua naik Garuda?? Yang boneng ajah...
Setelah agak berjinjit-jinjit, aku melihat counter check-in Garuda yang sebenernya, yaitu di balik orang-orang ngantre tadi (orang antre itu mau naik penerbangan Timur Tengah gitu deh).
Aku coba memutari orang-orang ngantre tadi, terus check in, tapi koper-koper belum bisa lewat. Gak lama, Ibu datang sambil mendorong trolley berisi koper-koper kita. Rupanya barusan dibukakan jalan oleh petugas airport, karena banyak calon penumpang Garuda kebingungan gak bisa bawa barangnya melewati antrean penumpang maskapai Timur Tengah tadi.
Selesai check-in masuk toko coklat dulu. Abis itu baru masuk ke Imegresen yang antreannya surprisingly pendek sekali. Dari Imegresen terus periksa barang-barang lagi di X-Ray, baru abis itu naik Skytrain lagi buat ke gate C31.
Sebelum ke gate C31, aku sempet foto-foto di spot yang sudah kuincar sejak pertama kali menginjakkan kaki di KLIA. Hihihi… ini dia hasilnya. Setelah itu beli Burger King dulu, karena sudah lewat jam makan, aku kelaparan, dan diperkirakan paling cepet baru 40 menit lagi dikasih makan di pesawat. Di depan Burger King foto-foto lagi (norak bener ya), baru abis itu ke C31.Di C31, aku ketemu sama seorang kenalan yang ex-Multipolar. Sempet sama-sama pangling gitu, sambil mikir-mikir: “pernah ketemu dimana ya sama orang ini?”
Pas mau boarding... jreng... rupanya satu pesawat sama “gerombolan jaket hitam” yang ternyata adalah rombongan paspampres. Hmm... iya ya, mungkin presiden RI dateng ke sini dalam rangka ultah Malaysia kemaren ya??
Di pesawat nonton Just For Laughs (hmm… apa Garuda hanya punya film ini yak?). Terus makannya Ikan plus Nasi dan Terong. Ikannya penampakannya mirip ayam bakar. Aneh sekali...
Nyampe di Soekarno-Hatta jam 16.00. Dan akhirnya... Jakarta!!
Monday, May 07, 2007
Tenggarong Trip - 5 Mei 2007
Sambil menunggu kedatangan Bagus, Dedy, dan Pandu, aku berkunjung ke rumah Ivan untuk melihat-lihat koleksi DVD/CD-nya. Jam 8, waktu kita lagi nonton Queen, barulah mereka bertiga datang dengan Innova sewaan.
Setelah bersih-bersih interior mobil sebentar, kami pun berangkat. Tidak lupa mampir ke kantor Pertamina EP Region KTI untuk menjemput mas Benny, driver kami hari ini. Baru beberapa menit beranjak dari kantor Region KTI, kira-kira ketika melewati Kantor Besar, “kresek…kresek…”, terdengar bunyi kantong plastik tergesek-gesek, meaning: ada yang membongkar bungkusan snack!! Haha… tersangkanya adalah yang duduk di kursi paling belakang. Hmm… memang kami semua belum sempat sarapan, jadi sebelum keluar Balikpapan, mampir dulu untuk sarapan dengan menu lontong sayur, coto makassar, dan nasi kuning.
Kami menuju Tenggarong dengan memilih rute Tritip, tempat penangkaran buaya. Jalannya halus, tapi agak sempit dan belok-belok. Mas Benny nyetirnya agak-agak heboh, namun keliatan cukup menguasai medannya. Rasanya aman, tapi di dalam (terutama yang di kursi tengah) jadi dapat bonus “main roller coaster”, alias terlempar ke kiri dan kanan. Pandu yang pindah duduk ke belakang setelah sarapan tadi malah tenang-tenang saja, tidur-tiduran sambil menikmati musiknya sendiri, seolah tidak terpengaruh dengan kontur jalan yang heboh tadi.Sebelum masuk ke jalan “hutan”sempat mampir ke toilet umum, setelah dikecewakan oleh SPBU yang ternyata tutup. Kemudian setelah keluar dari jalan “hutan”, kami memilih rute “pinggir sungai Mahakam” untuk menuju Tenggarong (tidak lewat kota Samarinda).
Jalan “pinggir sungai” kecil dan gak begitu halus, di kiri kanannya padat penduduk. Sebagian penduduk di sebelah kanan ada yang tinggal di atas sungai. Meskipun kali ini bukan pertama kalinya melihat sungai besar, menyusuri sungai Mahakam dan melihat kehidupan di sekitarnya merupakan pengalaman tersendiri. Banyak hal-hal unik yang tidak ditemui tiap hari di kota metropolitan, seperti rumah terapung atau tongkang batubara yang sedang diisi, bahkan kami sempat mengamati arus sungai yang (secara sok tauk kami simpulkan) seperti tidak teratur dan unpredictable.
Bagus mulai mengiming-imingi kami dengan “jembatan berlampu”, katanya kalau sudah sampai di Tenggarong nanti, ada jembatan keren yang banyak lampunya. Karena rasanya lama sekali tidak sampai-sampai, setiap melintas di atas jembatan, kami selalu bertanya: “Bukan yang ini jembatannya Gus?”.
Kemudian, tiba-tiba aku mencium bau yang cukup familiar: brownies kukus, meaning: ada yang membuka kotak brownies di kursi belakang!! Kami pun bagi-bagi brownies yang katanya enak itu.
Lagi asik makan brownies, hujan deras turun, padahal sedari tadi panasnya bukan main. Ketika kami memasuki kota Tenggarong, hujan deras masih juga turun. Jembatannya Bagus tadi sampai tidak terlihat dengan jelas. Kami menemukan nickname buat Jembatan Kartanegara ini: Cisco. Bukan karena mirip Golden Gate di San Fransisco, tapi karena jembatan adalah lambangnya Cisco, brand alat-alat network yang tersohor, dan kebetulan kami semua mencintai Cisco [wahahaha… benarkah demikian?].
Tak berapa jauh, meskipun samar-samar di tengah hujan, terlihat kereta gantung dan sky tower-nya Pulau Kumala. Ivan langsung merengek pengen naik kereta gantung itu, tapi tentu saja kami harus menunggu hujan reda.
Ketika kami masih bingung mau kemana dulu (berhubung masih hujan), dari sebelah kiri mobil terdengar: “Ada yang merasa lapar gak?”. Yang lain menjawab dengan kompak (dan berbohong): “Enggak!!”.
Ya…ya… kami semua merasa lapar, mungkin kecuali aku yang (anehnya) sepanjang hari Sabtu tidak merasa lapar. Tapi yang lain saling menunggu, siapakah yang duluan mengaku lapar…?? Ternyata Dedy yang duluan memecah keheningan lapar mereka dengan our question-of-the-day. Sembari mencari tempat makan, brownies kukus pun disantap habis.
Kami pun berhenti di restoran yang terletak di depan Museum Mulawarman. Kami memesan ikan mas goreng, ikan bawal bakar, dan ikan patin bakar, lengkap dengan tumis kangkung, plus oseng pare dan balado teri. Kemudian kami memilih tempat duduk yang mepet dengan pinggir sungai. Sambil makan, kami menikmati hujan yang turun di tepi sungai Mahakam.Di depan tempat kami makan, ada kapal yang di atasnya ada organ tunggal sedang berlatih. Selain organ tunggal, terlihat juga loyang-loyang katering. Rupanya kapal itu sedang menunggu para turisnya. Ketika kami selesai makan, turis-turis berdatangan ke kapal itu, dan kemudian mereka menyebrang ke Pulau Kumala. Sementara itu, kami masih penasaran sama kereta gantung.
Selesai makan, kami mencari museum Kayu. Takjub juga ketika ternyata Bagus bisa menemukannya. Museum Kayu ini tempatnya agak mblusuk-mblusuk, jalannya pun jelek banget, gak kebayang kalau di tengah-tengahnya ada museum. Petunjuknya adalah museum tersebut berada di dekat waduk Panji. Kami pun mengikuti petunjuk jalan ke waduk Panji. Kukira yang namanya waduk Panji itu seperti waduk Cirata, ternyata lebih mirip tempat pemancingan ikan atau restoran kuring.
Harga tanda masuk ke museum Kayu juga membuat takjub: 500 rupiah saja. Memang tidak banyak yang dipamerkan di museum tersebut, hanya ada contoh-contoh kayu, contoh produk dari kayu, dan 2 ekor buaya besar yang diawetkan. Oya, ditambah dengan kliping-kliping berita tentang keganasan buaya. Hiii… males banget.Sebelum meninggalkan museum Kayu, kami sempat berfoto-foto. Foto barusan adalah salah satu hasilnya, dan ini adalah awal dari karir singkat kami sebagai foto model, pengarah gaya, dan sekaligus fotografer.
Dari museum Kayu, kami beranjak ke stasiun kereta gantung. Mas Benny menolak ketika kami ajak menyebrang ke Pulau Kumala, lebih memilih beristirahat di mobil. Dan kami pun dengan ceria membeli tiket, dan masuk ke stasiun kereta gantung. Kami sama sekali tidak perlu mengantri, hanya ada satu rombongan di depan kami. Menurut info yang didapat dari teman-teman maupun internet, untuk naik kereta gantung ke Pulau Kumala kerap kali harus mengantri berjam-jam, tapi hari ini tidak seperti itu. Mungkin karena sehabis hujan, atau karena bukan hari Minggu. Lihat foto-foto ceria kami sebelum naik ke kereta gantung.
Keceriaan Pandu sedikit terhapus begitu kita naik ke kereta gantung. Ternyata menyeramkan katanya… Bahkan untuk berpose aneh-aneh untuk foto pun tidak berani, selalu mengingatkan: “Jaga keseimbangan… jaga keseimbangan…”. Kami sudah berusaha untuk melakukan load balancing antara tempat duduk kiri dan kanan. Di tempat duduk yang satu terdapat 60 + 53 + 55 kg, sedangkan tempat duduk sebrangnya terdapat 80 + 83 kg, cukup seimbang kan?
Turun dari kereta gantung, kami naik kereta kelinci menuju ke Sky Tower. Sky Tower ini cukup canggih, aku belum pernah melihatnya di tempat lain di Indonesia. Tapi Pandu tidak tertarik untuk naik ke Sky Tower. Akhirnya kami berempat saja, tanpa orang lain juga, padahal kapasitas Sky Tower tersebut cukup besar. Dengan diiringi lagu Let’s Dance Together-nya Melly feat.BBB, Sky Tower pun mulai berputar ke atas, kami pun bisa melihat sekeliling kota Tenggarong. Tak lupa foto-foto di atas Sky Tower.
Dari Sky Tower, semula kami ingin bermain trampolin, tapi karena kelihatannya sudah hampir hujan, takut tidak bisa kembali ke sebrang dengan kereta gantung, jadi kami cepat-cepat menuju ke patung Lembuswana untuk berfoto-foto. Sayangnya aku belum menemukan literatur tentang Lembuswana ini. Di Wikipedia gak ada sih…Ini sedikit hasil foto di dekat patung Lembuswana beserta komentarnya:

Gus, kenapa dirimu terlihat seperti sedang nggoda anakmu? Di depanmu itu si Pandu, bukan Nindi...

F4 lagi kunjungan ke Tenggarong. What are you looking at?
Dari patung Lembuswana, kami cepat-cepat menuju kereta gantung lagi. Kali ini Pandu memilih duduk di tengah. Dan kami pun tiba di sebrang sebelum hujan lebat datang. Dari stasiun kereta gantung, tujuan berikutnya adalah kota Samarinda. Tapi sebelumnya, kami mau berfoto-foto dengan latar belakang Cisco dulu.
Untuk berfoto-foto, pengunjung kota Tenggarong dapat berhenti di taman yang terletak di dekat jembatan Cisco. Semuanya berlomba-lomba untuk jadi pengarah gaya dan foto model, karena sangat sulit untuk menjadi fotografer. Di perjalanan ini, fotografer gayanya harus lebih aneh dari foto modelnya. Hal ini disebabkan kami selalu berusaha mengambil gambar dengan latar belakang obyek yang tinggi (Sky Tower, patung Lembuswana, Cisco). Pandu dan Dedy adalah fotografer yang gayanya paling unik, sedangkan aku adalah foto model yang paling gak bisa nahan ketawa ngeliatin fotografernya, sehingga suka merusak formasi. Jadilah hasilnya seperti ini (beserta komentarnya juga):

Foto ini berjudul Tarik Kabel. Ini adalah rombongan penarik kabel, selain itu tepat di atas kepalanya Dedy terlihat kabel-kabel bajanya si Cisco terikat erat.

F4 lagi... kali ini di depan Cisco.

Ini akibatnya kalo fotografernya lebih gaya dari foto modelnya. Lihat ke tanganku, seharusnya aku gak melakukan itu, tapi sesaat sebelum kameranya diklik, aku melihat si Dedy lagi bergaya aneh banget, akhirnya gak bisa nahan ketawa, bubar deh posenya.

Ini juga salah satu foto yang fotografernya lebih lucu dari fotomodelnya, tapi untunglah Pandu sempat menunggu aku diam dulu sebelum ngeklik kameranya.

Kalo lagi jaim gini, keliatan harmonis ya?
Dari Cisco, tujuan selanjutnya adalah kota Samarinda. Yang dicari di kota Samarinda adalah Bioskop 21, kami mengejar film Spiderman 3. Hihi.. lucu juga, ketika semua orang semangat pengen nonton Spiderman 3, aku males-malesan, ealah ternyata sekarang terpaksa ngikut juga. Kali ini rute yang dipilih adalah jalan baru yang menghubungkan Samarinda dengan Tenggarong. Jalannya besar, dua arah dipisahkan dengan tanggul, tapi cukup naik turun dan berbelok-belok, lagi-lagi saatnya main roller coaster. Untungnya formasi sudah berubah lagi, Bagus dan Pandu berpindah ke belakang, dan langsung teler tak lama setelah meninggalkan Tenggarong, aku dan Ivan di tengah, sedangkan di depan Dedy jadi DJ yang harus sabar melayani request dari penumpang lainnya.
Memasuki Samarinda, agak pusing juga. Sedari tadi mas Benny sudah belok sana-belok sini tapi kok aku gak menemukan pola kotanya. Sepertinya tidak ada jalan utama yang paling besar di kota itu, correct me if I’m wrong ya.
Sampailah kami di SCP. SCP adalah sejenis tools untuk FTP… hihihihi, meskipun aku tidak berbohong, tapi yang dimaksud dalam cerita ini sebenarnya adalah Samarinda Central Plaza. Ketika kami sedang mengantri parkir, our question-of-the-day terlontar lagi. Ya..ya… kami berencana makan di McD, tapi sebelumnya harus nge-check dulu di Bioskop 21. Ternyata Spiderman 3 diputer di 3 studio malam itu. Setelah sempat berpindah antrean, dan mengantri bergantian, kami mendapatkan tiket untuk jam 17.20. Aku sempat mencuci muka di kamar mandi 21, karena tadi di toilet lantai lainnya tidak tersedia air.
Mungkin karena hari itu adalah malam minggu, SCP ini penuhnya bukan main, mirip seperti pasar kalau mau lebaran. Harus pandai-pandai mencari jalan zig-zag kalau mau jalan agak cepat.
Setelah beli tiket, kami mencari cemilan di Hero. Lucunya, setelah duduk manis di 21, baru sadar bahwa bungkusan plastik berisi Teh Kotak tertinggal di Kassa Hero. Dedy dan Bagus pun kembali ke Hero. Setelah itu baru pembagian snack dilakukan, dan anehnya gak seperti biasanya, aku sama sekali gak tertarik mencoba snack-nya, padahal biasanya belum ½ film snack-ku sudah tandas.
Komentarku tentang nonton film di Samarinda: AC-nya gak dingin, trus suaranya gak stereo pula. Tapi buat teman-teman yang seperti itu masih mending sih, karena di Balikpapan belum ada bioskop 21.
Selesai ber-Spiderman-ria, kami makan di McD, kemudian bergerak menuju Balikpapan. Sebelum keluar dari kota Samarinda, ada yang terasa aneh… ternyata tidak ada lampu jalan di kota Samarinda, atau ada tapi tidak menyala ya? Gelap banget, jadi tergantung pada lampu mobil dan lampu yang ada di bangunan yang berada di pinggir jalan.
Jam ½ 9 kami keluar dari kota Samarinda, merupakan perjalanan yang cukup berat, sebenarnya kami semua sudah lelah, tapi tidak boleh tidur karena harus menemani mas Benny mengendarai mobil. Berbagai usaha dilakukan: karaokean, ngobrol gak jelas juntrungan, aku bahkan mencoba duduk miring sampai sakit pinggang, karena kalau duduk lurus pasti langsung tidur. Akhirnya sampai di Balikpapan dengan selamat jam ½ 11 malam. Kami menurunkan mas Benny di Kantor Region KTI, kemudian mengeluarkan question-of-the-day lagi… dan kami pun berhenti di “food court” Bekapai. Sejenis Blok S kalau di Jakarta, tapi mungkin lebih lengkap, karena selain menyediakan makanan dan minuman, katanya kalau mau bencong juga ada. Tapi untungnya hari itu aku tidak melihat satupun keberadaannya, mungkin sudah habis kali ye?
Setelah itu, kami pun kembali ke tempat tinggal masing-masing, mandi, kemudian gedabruk… Hhaaa… what a day…
Dari semua tempat yang dikunjungi, yang menonjol adalah Pulau Kumala, itupun sebenarnya tergolong masih belum ada apa-apanya, panas, sumuk, pliket. Mungkin seharusnya kami mengeluh bete ya?
Meskipun akhirnya tanganku jadi agak gatel-gatel karena keringat, dan keesokan harinya yang lain tidur sampai hampir tengah hari, aku tetap menikmati perjalanan ini. Yang berperan dari suatu liburan ternyata bukan hanya bagus/tidaknya tempat yang kita kunjungi, melainkan juga beberapa hal lain. Liburan bisa jadi berarti karena kita melihat hal-hal baru yang tidak kita temui tiap hari, bisa juga karena teman-teman yang pergi bersama dengan kita (yang juga tidak tiap hari kita temui), atau bisa jadi karena liburan adalah pelarian dari keseharian kita yang mulai membosankan.
Sunday, February 05, 2006
Singapore: Kawinan dan Perjalanan Pulang (1 Januari 2006)
Pagi ini aku dapat giliran gak makan pagi di New Park Cafe, jadi menu makan paginya adalah Soupy Snax dan kentang Risotto. Tipikal orang Indonesia... cinta makanan instan.
Mustafa Center
Selesai makan pagi, kita jalan-jalan ke Mustafa Center yang terletak tepat di belakang hotel. Yang namanya Mustafa Center itu dari luar kelihatannya kecil, tapi di dalamnya bok... ternyata gede banget. Mereka buka 24 jam sehari, 365 hari dalam setahun.
Jualannya macem-macem banget dengan harga yang relatif murah. Dari mulai perhiasan emas, elektronik, makanan, baju-baju, souvenir, obat-obatan, tas, alat-alat rumah tangga, bahkan ada sarung cap gajah duduk. Contohnya mug bergambar Merlion, di Lucky Plaza harganya S$8, sedangkan di Mustafa Center hanya S$4.50. Yang bikin ngiler, di sana banyak tersedia coklat berbagai merk dan rasa dengan harga bersaing. Yummy…
Setelah puas muter-muter dan kelaparan, akhirnya kita balik ke hotel untuk Check Out dan menitipkan barang di Concierge. Lobby hotel itu seperti tempat penimbunan koper. Kayaknya semua orang menitipkan barangnya di Concierge.
IMM, Jurong East
Setelah check out, kita langsung menuju IMM di Jurong East. Ternyata… lumayan juga harus jalan kaki agak jauh dari stasiun MRT ke mall-nya. IMM itu sejenis ITC Mangga Dua. Barangnya lebih murah-murah, di
Gak seperti dulu, kali ini di IMM ternyata gak ada yang menarik, selain Baby Eeyore Kecil dan Pineapple Pie-nya Old Chang Kee (sesuai rekomendasi Rama).
Clementi dan sekitarnya
Dari IMM, naik shuttle bus ke stasiun Jurong East lagi (wuah, paling enggak jadi gak perlu jalan kaki!), terus naik MRT ke stasiun Clementi. Di sana kita nunggu dijemput sama Rama.
Kawinannya Iwan agak unik. Dilakukan dengan adat Jawa, dandanan mantennya, dekorasi pelaminannya, semuanya sesuai dengan adat Jawa, tapi makanannya Melayu (Spicy semua). Trus ada gamelannya (katanya sih dari perkumpulan orang Yogya yang tinggal di Singapore), sedangkan souvenirnya didatangkan langsung dari Malang, berupa ukiran kaligrafi.
Sekitar jam 5, kita meninggalkan rumah Iwan. Begitu masuk ke bis kota, BRESS...!!! hujan lebat turun... oh dear... ini dia perjalanan panjang di tengah hujan... Sampai di stasiun MRT Clementi, kita langsung naik MRT menuju ke Douby Ghout. Duh... MRT-nya penuh banget... Dari Douby Ghout terus oper ke arah Ferrer Park. Wuah... pegel juga rasanya... hampir sepanjang perjalanan gak kebagian tempat duduk, hiy... mulai agak-agak sakit pinggang neh...
Untungnya ketika kita sampai di Ferrer Park, sudah tidak hujan lagi. Kita pun jalan ke hotel lagi. Kemudian ganti pakaian di toilet hotel. Setelah itu memutuskan untuk naik taksi ke Changi, sudah terlalu teler untuk naik MRT. Porter yang bantu kita ngangkat barang ke taksi sepertinya dari Indonesia. Bahasa Indonesianya bagus banget, tapi kita gak sempet mengkonfirmasi.
Perjalanan Pulang
Perjalanan ke Changi memakan waktu kira-kira ½ jam, di dalam taksi aku tidur, dan baru terbangun waktu masuk kompleks Changi. Wah... ternyata dari New Park Hotel sampai dengan Changi menghabiskan biaya S$13.60.
Tiba di Changi kira-kira jam ½ 7 malam. Ada sesuatu yang kurang... ternyata di pintu masuk airport tidak ada Xray seperti layaknya di airport-airport di Indonesia. Kemudian kita langsung check-in di counter Garuda. Nah... di sini... yang namanya kartu ”Frequent Flyer” bener-bener ada artinya. Kalo punya GFF (Garuda Frequent Flyer) antreannya lebih sepi. Sedangkan kalo di Soekarno-Hatta, counter check-in khusus GFF justru lebih penuh dibandingkan yang biasa, saking banyaknya yang punya GFF.
Waktu yang harus dihabiskan lumayan panjang, karena pesawat kita, GA833, jadwal takeoff-nya jam 21.45. Akhirnya window shopping dulu, tapi lama-lama capek, dan jetlag. Jadi kita pun mencari tempat nongkrong yang menyediakan makanan ringan sesuai selera. Kita menemukan toko oleh-oleh khas Singapore, Singapore Premium Food Gifts, yang menyediakan menu roti Kaya dan minuman coklat, lengkap dengan tempat nongkrongnya. Lumayan lama juga nongkrong di situ.
Jam ½ 9 kita keluar dari kios itu... waktu melihat ke display Departure, tertulis bahwa GA8332 diundur menjadi 22.15, hmm.... delay ½ jam donk. Dan gate-nya dipindahkan jadi gate 31 (semula tertulis 35 di boarding pass). Karena gate 31 belum dibuka, kita nunggu di kursi-kursi yang ada di depan gate 31.
Untungnya... di depan gate 37 para penumpang masih ngantre lumayan panjang. Wah gile... untung aja gak sampe ketinggalan pesawat. Kita emang gak teliti sih... tapi mereka juga error loh, di boarding pass kan ditulis gate 35, tapi ternyata sebenarnya di gate 37....hehehe....
Perjalanan gak terasa lama. Menu makanan kali ini adalah ikan, tapi sudah gak selera makan, mungkin karena tadi sudah makan roti Kaya. Karena jetlag banget, aku minum sedikit anggur, maksudnya biar kalo bobok bisa nyenyak banget, tentu saja minumnya gak sampe mabok, meskipun jadi sedikit lebih berbahagia, cengar-cengir...
Setelah mendapatkan kembali kedua koper yang dimasukkan bagasi, kita pun keluar dari airport... oya, naik dulu ke lantai Keberangkatan....karena biasanya dijemput di sana. Wuah... karena liftnya keliatannya gak bisa diharapkan, ya sudah.... terpaksa angkat koper sambil naik tangga.
Saturday, January 07, 2006
Singapore: Lautan Manusia (31 Desember 2005)
Setelah selesai makan pagi, kami menuju ke Plaza Singapura dengan menggunakan MRT (turun di stasiun Dhoby Ghout). Tujuan pertama adalah mencari Snoopy’s Place, restoran bertemakan Peanuts. Tapi setelah mencari-cari dan bertanya-tanya, ternyata resto itu sudah tutup setahun yang lalu. Yaahh…. :-(
Di lantai 6 Plaza Singapura ada Yamaha Music School. Mereka juga menjual alat musik dan buku-buku musik. Aku membeli buku piano Cole Porter. Setelah itu kita ke toko buku Times, niatnya mencari buku kedokteran keluar Oxford, tapi tidak ada.
Sambil menunggu Rama, kita masuk Carrefour. Rama adalah guide kita hari itu, eh salah… maksudnya temanku di PSM dan IF yang kebetulan bekerja di
Magic Wok Restaurant
Setelah ketemu Rama, kita diajak makan siang di resto
Resto
Meja tempat kita makan agak-agak mungil, piringnya jadi desak-desakan deh… Yang lucu… resto itu sempat memutar lagu Jujur-nya Radja, jadi lupa kalo lagi gak di
Music Essentials
Dari
Ternyata toko buku musik yang dimaksud oleh Rama adalah Music Essentials, toko yang sama dengan yang aku lihat di Specialists’ Shopping Centre 5 tahun lalu, tempat membeli partitur Encore!. Music Essentials yang di Meridien jauh lebih besar, koleksinya juga jauh lebih banyak. Di situ kita beli buku piano Gershwin dan partitur piano untuk 6 tangan-1 piano (biar bisa dimainkan bareng-bareng bertiga).
HMV
Dari Music Essentials, kita ke Hereen Shopping Centre. Di situ ada HMV, toko CD yang konon kabarnya paling lengkap dan paling besar di
Pas kita mau keluar dari Hereen, HUJAN LEBAT!!! Wah… gim
andang dunk? Kata Rama memang akhir-akhir ini di Singapore sering hujan (iya lah, Jakarta juga kok). Setelah terjebak beberapa lama, akhirnya kita ngafe dulu sambil menunggu hujan reda. Café Spinelli itu terletak di halamannya Hereen, tapi dinaungi canopy transparan, jadi gak kena hujan. Asik juga, kesannya kayak duduk di tengah hujan, sambil ngeliatin orang lain lalu lalang kehujanan. Hehe… tapi kalo sampai tiba-tiba hujannya jadi lebat banget dan disertai angin, kayaknya kita bakalan basah juga tuh…
Takashimaya
Setelah hujan agak reda, kita pindah ke Takashimaya. Tujuannya adalah cari Kinokuniya. Kata Rama toko buku Kinokuniya itu terbesar di Asia Tenggara. Bukunya emang paling lengkap, buku kedokteran yang dicari ada di dalam list mereka, tapi stocknya habis. Akhirnya beli Harry Potter saja, lebih murah dari di Jakarta, karena ada discount.
Dari Kinokuniya kita pindah ke Giordano. Giordano di luar Indonesia (Singapore, China, Hongkong) harganya lebih murah dibandingkan dengan yang di Indonesia. Pembelinya… banyak orang
Dari Takashimaya kita nyebrang ke Wisma Atria… Wuah… bener-bener deh… lautan manusia! Di terowongan pejalan kakinya aja macet bok. Serasa ngantre di dufan.
Borders
Dari Wisma Atria kita langsung ke Borders di Wheelock. Borders juga toko buku yang lumayan gede. Tapi lagi-lagi dia gak punya koleksi buku kedokteran yang dicari. Interiornya dibuat sedemikian rupa jadi terasa cozy, rasanya betah gitu loh untuk berlama-lama di situ. Beda dengan Kinokuniya yang kesannya dingin. Di Borders ini kita ketemuan sama Hendra, anak IF 97, temannya Rama. Lumayan lama juga kita di Borders.
Setelah itu kita keluar dan berpisah sama Hendra dan Rama. Mereka mau ke Clarke Quay, sedangkan kita mau ke Hyatt untuk ketemu om Rudi dan tante Bebet.
Duile... nih hotel... pengamanannya melebihi paspampres-nya
Dari hotel Hyatt kita ke
Duh, mulai pegel nih… kayaknya jetlag yang menumpuk dari kemaren mulai terasa efeknya. Untung nggak ikutan Rama dan Hendra ke Clarke Quay. Dari Carrefour kita naik MRT lagi sampai ke
Setelah itu kita beres-beres, mulai packing untuk persiapan pulang. Gak terasa… tau-tau sudah jam 12. Tepat jam 12, tiba-tiba ada bunyi BOING! Seperti ledakan meriam… ternyata ada Kembang Api!! Wah… senangnya… ternyata bisa nonton “siaran langsung” kembang api dari kamar hotel. Sungguh tak terduga...
Selamat tinggal 2005, selamat datang 2006!!
Singapore: Menuju Singapore (30 Desember 2005)
Bandara Soekarno Hatta
Bandara Soekarno Hatta penuhnya bukan main, maklum lah… peak season. Aku yang sudah mengantuk sejak siang hari di kantor, pengennya cepet-cepet cari sofa di Exec Lounge-nya Citibank. Setelah ngantre check-in, bayar fiscal, ngisi kartu keberangkatan, ngantre di Imigrasi, akhirnya kita bisa masuk ke Exec Lounge. Duile… tapi sofanya sudah dipakai semua, yah tak apalah… kursi biasa juga oke.

Terus untuk minuman, yang aku ingat adalah dia menyediakan bubuk coklat. Wah jarang-jarang loh, biasanya untuk minuman panas yang tersedia hanya teh celup, bubuk kopi, krimer, gula pasir, dan gula diet.
Satu hal lain yang cukup menarik perhatian adalah: kamar mandinya! Exec Lounge di situ kira-kira besarnya sama dengan Exec Lounge-nya Citibank yang di terminal Domestik. Tapi…di terminal Domestik mereka punya 3 kamar mandi, sedangkan di sini hanya 1. Terpaksa deh kalau mau ke kamar mandi mesti ngantri panjang. Kecil banget pula kamar mandinya. Ditambah lagi… ada “tanda mata” di dalam kloset-nya… hiiii…. parah deh. Exec Lounge kok kayak gitu.
Penerbangan
Pesawat kita boarding tepat waktu. Agak kaget juga, kok ternyata pesawatnya pake B-737. Kirain kalo penerbangan internasional minimal pake Airbus. Yang menyebalkan, meskipun boarding tepat waktu, ternyata kita take off terlambat sekitar 15 menit, karena menunggu penumpang yang bermasalah di Imigrasi. :-(
Herannya lagi… makanan di pesawat tuh hanya ada 1 pilihan. Padahal waktu terbang ke
Kita mendarat jam 22.05 waktu Singapore. Langsung menuju imigrasi. Bapak-bapak yang ada di India agak bingung melihat pasporku. Wah… mungkin dia bingung, ini orang namanya seperti India tapi kenapa tampangnya seperti China. Padahal bukan dua-duanya….hahaha…
MRT
Setelah mengambil barang, kita menuju ke Skytrain untuk pindah ke terminal 2. Dari terminal 2 mau naik MRT ke hotel. Agak bingung juga waktu masih di stasiun MRT-nya Changi, karena sekarang ada tiket EZLink, jaringannya juga sudah lebih luas dibandingkan lima tahun lalu. Untung mas-masnya sangat informatif. Kita beli 3 tiket EZLink, terus naik MRT ke stasiun Farrer Park. Dalam perjalanan menuju Farrer Park, kita pindah 3 kali, di stasiun Tanah Merah, City Hall, dan Douby Ghout.
Wah, enak deh pokoknya…. Transportasi Airport ke kota jadi murah meriah, serasa naik Damri ajah… syaratnya memang barang yang kita bawa gak boleh terlalu banyak dan hotel tempat kita menginap jangan jauh-jauh dari stasiun MRT.
Hotel New Park, Little
Kita turun di stasiun
Sampai di hotel kira-kira jam ½ 12 malam waktu Singapore. Konsumen hotel New Park pada umumnya berkebangsaan India. Cocok dunk kalo gitu, sama nama-nama kita… hihihi… kita langsung check-in dan memesan extra bed. Ternyata extra bed itu gak termasuk breakfast. Waaakksss… terpaksa deh mengeluarkan jurus Soupy Snax buat sarapan.
Kita dapat kamar di lantai 19. Kamarnya cukup bagus dan lengkap. Ada setrika dan meja setrikaannya segala (jarang2 loh hotel bintang 3), ada pemanas air juga (kalo gitu Soupy Snax bisa beraksi). Tapi ada sedikit masalah ternyata… colokan listriknya kaki 3!! Gak bisa nge-charge HP dunk. Lain kali jenis colokan listik harus masuk ke dalam survey yang dilakukan sebelum melakukan perjalanan ke luar negeri.
Padahal 3 hari sebelumnya, aku habis mengalami masalah yang sama di Aston Atrium. Di Aston, colokannya kaki 3 semua. Kalo Aston sih memang “hotel yang aneh”, udah tauk di Indonesia… kenapa juga dia sediain colokan listriknya yang kaki 3.
Monday, December 12, 2005
Sidoarjo
Dari dulu aku hanya denger cerita tentang Tanggulangin. Akhirnya... sekarang kesampaian juga ke sana. Menurut bu Nia, yang hari ini jadi ”guide” ke Tanggulangin, toko yang koleksinya lumayan ”miyayeni” adalah Mitra atau Purnama. Tapi hari ini kita gak ke sana, kita ke INTAKO, Industri Tas dan Koper, yang harganya lebih murah. Di INTAKO bukannya gak ada yang miyayeni. Ada juga... tapi musti sedikit berusaha mencari. Waktu bu Nia bilang ”miyayeni”, serta merta Irva bertanya: apaan tuh artinya?
Hehehe... akhirnya aku, bu Nia, dan pak Anton (supir mobil sewaan kita) berusaha menjelaskan dengan bahasa Indonesia. Intinya: miyayeni = berkelas, gak kampungan.
Ternyata INTAKO itu tempatnya mblusuk-mblusuk banget... di kampung gitu deh. Parkir aja susye... hmm... gimana kalo hari wiken ya? Pasti penuh banget deh. Di INTAKO, ternyata kita berhasil menemukan yang miyayeni kok. Masalah berikutnya.... gimana bawa pulangnya.... setelah geser sana-geser sini, ternyata muat juga masuk ransel bersama dengan Snoopy dan kamdig...
Toko Tanjung
Toko Tanjung adalah tempat beli oleh-oleh makanan khas Sidoarjo, kerupuk udang, bandeng asap, dsb. Konon kabarnya Bandeng Asep-nya paling toph... tapi sayang... bawaanku sudah banyak, kalo ditambah lagi bandeng asep, artinya nambah tentengan (gak mungkin masuk bagasi kan...).
Airport Juanda
Setidaknya airport ini lebih baik daripada Airport Polonia yang kayak pasar itu. Tapi... yang gak oke adalah pelayanan si Lion. Semua penerbangan Lion terlambat sejam, trus antrean check-in-nya itu loh... wuaahh... gak teratur banget. Udah pelayanannya lambat, banyak yang nyerobot pula. Akhirnya meja check-in penerbangan itu jadi ular naga panjangnya bukan kepalang....
Waktu lagi nunggu, Irva sempet nyeletuk: Asik kali ya, kalo ada artis, lumayan kan... jadi ada pemandangan. Nah, setelah topik ”pemandangan” tadi terlupakan, tiba-tiba lewatlah seorang yang cukup familiar, dan dia seorang artis: Rhoma Irama!! Sendirian aja, gak bawa rombongan seperti selayaknya artis. Tentu saja, dia juga gak bawa gitarnya... Ternyata keinginannya Irva terkabul.
Malang
Hotel Montana
Hmm... ini sih bukan termasuk obyek wisata boga, meskipun kata Bulo es krim dan cake-nya enak. Yang jelas hotel ini patut mendapatkan acungan jempol. Pokoknya Te-O-Pe Be-Ge-Te deh... aku puas banget, karena: 1) Kamarnya bersih, cozy. 2) Handuknya wangi. 3) Harganya gak terlalu mahal. 4) Kemaren itu seharusnya dihitung 2 hari, tapi karena aku check-in jam 5 pagi, mereka hanya hitung 1 ½ hari. 5) Bisa dibayar pake credit card tanpa kena persenan pula. 6) Letaknya strategis, di dekat tugu dan balaikota. 7) Tidak berkesan wingit dan tidak penuh tanaman seperti hotel Tugu. 8) Ada warnet dan wartel di sebelah hotel.Kusuma Agrowisata
Kusuma Agrowisata terletak di kota Batu, sekitar ½ jam perjalanan dari Malang. Kalo Bandung punya Lembang, Malang punya Batu. Aku dan Irva memilih paket yang paling komplit, terdiri dari petik 4 buah strawberry, petik 2 buah apple, puding dan sari strawberry, jus apel dan 1 paket sayuran organik (sawi plus 2 buah cabe paprika)


Pertama, kami dibawa ke kebun petik strawberry yang terletak di dalam rumah kasa. Kebun itu sengaja diberi ”kelambu” supaya serangga tidak masuk, jadi tidak pakai pestisida. Di kebun petik itu ada 2 macam strawberry: Sweet Charlie (yang manis dan buahnya cantik) dan Three Star (kurang manis tapi buahnya besar). Setelah metik strawberry, kami dibawa jalan ke kebun jeruk dan kebun dragon fruit yang kriting kayak octopus. Setelah itu makan puding dan minum sari Strawberry. Hmm... serba strawberry...
Dari kebun strawberry, pindah ke kebun apel. Sebelum tur di kebun apel, minum jus apel dulu sambil liat-liat toko boneka yang ada di pintu masuknya kebun apel. Wah... ada Snoopy, jadi beli 1 deh, Snoopy bertelinga biru. Habis itu jalan-jalan di kebun apel, dipetikin buah ceri sama mas-mas guidenya, terus masuk ke kebun bunga. Uwah... cantik-cantik bunganya... paling naksir sama kastuba yang daunnya jadi merah kalo akhir tahun.

Dari kebun bunga, akhirnya sampai juga di tempat pemetikan apel. Setelah milih-milih.... akhirnya mas-mas guidenya juga yang metikin, abis buah yang bagus posisinya tinggi-tinggi sih. Setelah metik apel, aku belanja produk-produk apel: selai apel dan jenang apel. Kalo apel pie-nya kurang enak. Ekspektasiku adalah apel pie seperti Apple Strudel-nya Cafe Wien, atau minimal seperti apel pie-nya Pia Pie, ternyata... kulitnya terlalu tebal, isi apel-nya juga terlalu kering. Kalo selai apel-nya sih enak. Lumayan sukses deh... Aku sudah coba makan pake roti dengan 2 cara mengolah. Yang pertama, rotinya dipanggang dulu baru dikasih selai. Yang kedua, rotinya dikasih selai dulu, baru dipanggang. Rasanya lain, tapi dua-duanya enak... hehehe...Bisa juga setelah dikasih selai, terus dikasih taburan kayu manis, baru dibakar.
Selecta
Dulu aku dan Irva mengenal Selecta hanya dari permainan monopoli. Penasaran juga, kayak apa sih yang namanya Selecta, kok terkenal banget di monopoli. Tapi sebenernya rada males juga, ada yang bilang gak ada apa-apanya di Selecta, terus ada juga yang bilang kalo Selecta itu salah satu tempat liburannya Presiden Soekarno. Waktu aku tanya: Pemandangannya apa? Jawabannya: Orang mandi. GUBRAK!!Ternyata... akhirnya semua terjawab setelah kita sampai di sana. Di Selecta memang ada kolam renang yang lumayan gede, makanya ada yang bilang kalo pemandangannya adalah orang mandi. Selain kolam renang itu, obyek lainnya pasar bunga, terus juga vila-vila tua, gak ada lagi.
Mungkin kalo dibikin wisata dugem di situ, atau kafe yang unik, para penggemar dugem dari Malang gak segan-segan berkunjung ke sana. Yah... macemnya orang Bandung pada pergi ke The Peak, atau Kampung Daun lah... sama jauhnya kan?
Bakso Kota Cak Man
Akhirnya... makan bakso malang di kota Malang. Dijamin asli kan? Beberapa hari sebelumnya, aku sempat makan Bakso Malang Karapitan di Sarinah Jakarta. Aku pikir: aku kan mau ke Malang, sebelumnya harus benchmark bakso dulu dengan yang ada di luar kota Malang. Setelah merasakan bakso malang yang asli, aku bisa bilang bahwa ternyata BMK tuh emang kurang otentik. Yah... namanya juga bakso malang tapi bikinan orang Bandung. Namanya orang Jawa, kalo gak makan nasi kurang marem katanya. Masa’ makan bakso pake lontong sih? Padahal kan sudah ada mie... Begini nih.... tampangnya bakso malang yang aku makan. Hihihi... itu lagi kelaparan ceritanya.Keripik Tempe Bu Noer
Pertama kali makan keripik tempe ini, aku hanya tertarik dengan namanya: Bu Noer. Aku pikir: Lucu sekali keripik tempe ini, namanya sama dengan ibuku dan lima orang saudaranya. Waktu itu aku hanya ngicip sedikit, setelah itu aku taroh di lemari. Ketika aku mencoba mencari lagi, ternyata sudah raib.
Kedua kali makan keripik tempe ini... 2 kantong hampir aku habiskan sendiri. Hehehe... uwenak tenan ternyata, apalagi yang BBQ. Minyaknya nggak tengik pula. Makanya begitu dapat kesempatan ke Malang, aku bertekad untuk beli keripik tempe Bu Noer.
Letaknya emang agak masuk gang yang gak begitu besar. Setelah sedikit kesasar, akhirnya ketemu juga tokonya. Mereka menyediakan keripik tempe aneka rasa, ada rasa BBQ, Keju, Udang, Burger, Spaghetti, Pizza, apalagi ya? Sayangnya kemaren keripik tempe rasa keju-nya habis (wah, pasti enak tuh, makanya habis). Selain keripik tempe, produk mereka yang lain adalah keripik buah-buahan yang dikemas dengan kantong aluminium, supaya gak mudah melempem. Ada keripik apel, keripik nangka, keripik melon, keripik semangka, keripik mangga, keripik nanas, untungnya gak ada keripik rambutan.
Toko Oen
Memasuki toko Oen, serasa memasuki mesin waktu dan kembali ke jaman penjajahan Belanda. Interiornya dijaga supaya tetap berkesan tua, meja-kursinya tua, kordennya model tua, sampe-sampe ada spanduk dalam bahasa Belanda. Menu makanannya dalam bahasa Belanda. Pengunjungnya pun banyak orang-orang Belanda yang sudah tua, mungkin sedang bernostalgia. Rasanya jeans dan t-shirt-ku jadi gak matching dengan suasana toko itu, apalagi kamdig-nya.
Sesuai saran Bulo, kami memesan Sparkling Delight: es krim mocca, es krim vanilla, dicampur dengan potongan buah, kemudian diberi kembang api. Lucu sekali... Mas-masnya sampe menawarkan kembang api baru ketika aku hampir gagal memotret percikan kembang api di atas gelas.Oya, baik roti maupun es krim yang dijual di toko Oen, merupakan buatan toko itu sendiri, dengan bahan-bahan alami.
Malang Town Square
Dari toko Oen, kami berpindah ke Malang Town Square yang terletak di sebelahnya Taman Makam Pahlawan. Kalo ini sih... mall jaman sekarang, gak jauh beda dengan yang ada di Jakarta. Sudah jauh-jauh ke Malang... tetep aja yang dikunjungi adalah MATAHARI.
Toko Oen lagi
Malamnya... kami mencoba berjalan kaki dari hotel ke Gramedia (di sebelah toko Oen). Hampir aja kesasar di Jl. Brawijaya. Duh, gelap banget pula di jembatan yang ada di Jl. Brawijaya itu, agak-agak horor jadinya. Hmm, jadi diputuskan pulangnya naik angkot saja.Dari Gramedia, ke Sarinah, setelah capek dan hanya dapat marker (spidol), kami putuskan untuk makan malam. Dimana? Ada McD... atau toko Oen lagi.
Masuklah kami ke toko Oen. Kali ini memesan Bistik Lidah (juga atas anjuran Bulo). Unik banget sih, belum pernah ketemu yang seperti itu sebelumnya. Lidahnya dipanggang garing, kemudian diberi saus coklat muda (kayaknya sih mushroom sauce atau sejenisnya).
Tugu dan Balaikota Malang



Sebelum beranjak ke Surabaya, sempat jalan-jalan dulu di Tugu yang terletak di depannya Balaikota Malang. Di kolam yang mengelilingi Tugu, banyak sekali bunga teratai, cantik banget. Ternyata... nyebrang di Tugu itu susahnya bukan main, banyak banget mobil dan kenceng-kenceng pula. Harusnya aku bisa nyebrang langsung ke depan hotel Tugu, akhirnya nyebrang dulu ke depan Balaikota, baru abis itu nyebrang jalan ... ke depan hotel Tugu.
Yogyakarta
Pariwisata di Yogya sudah banyak berkembang sejak terakhir kali aku mengunjungi obyek-obyek wisata unggulan di sana bersama SMP 41 (kira-kira 10 tahun yang lalu). Sekarang ini sudah lebih teratur, informatif dan juga terstandarisasi, seperti yang aku lihat di China.
Obyek pertama yang dikunjungi adalah tempat kerajinan perak Kotagede. Dalam perjalanan menuju Kotagede, kita melewati daerah Glagah Sari. Konon di daerah itu banyak sekali kampus. Hmm... mungkin sejenis jl.Dipati Ukur di Bandung, daerah Salemba di Jakarta, atau jl.Margonda di Depok. Ketiganya juga berisi kampus, kampus, dan kampus.
HS Silver, Kotagede
Begitu turun dari mobil, mas Ghani menyerahkan kami pada guide-nya HS Silver. Sebelum melihat-lihat isi toko, kami diberi penjelasan dulu mengenai cara pembuatan perak. Sayangnya karena hari itu adalah Minggu Sore, jadi para pengrajin banyak yang libur, atau sudah pulang, hanya terlihat 3 orang yang bekerja. Terpaksa penjelasan diberikan lewat foto-foto yang memang dipasang untuk mengantisipasi keadaan seperti itu.
Kami sempat menonton bapak-bapak yang sedang menyolder. Duh, bapak itu sudah lumayan tua, tapi matanya masih awas banget. Barang-barang yang dia solder itu mungil-mungil banget. Nah, menurut mas-mas guide HS, menyolder itu adalah pekerjaan yang paling susah untuk dipelajari dalam tahapan pembuatan perak. Untuk belajar menyolder, dibutuhkan waktu yang sama dengan.... kuliah S1! Wah...wah... lama juga ya.
Sendratari Ramayana
Pertunjukan sendratari Ramayana yang paling nge-top ada di Candi Prambanan, tapi mereka hanya pentas sekitar bulan April-Oktober saja setiap tahunnya. Malam itu, kami menonton Ramayana di Purawisata.
Sebelum acara mulai, kami makan malam dulu di restonya. Makanan disajikan secara buffet. Rasanya sih enak, tapi kombinasinya agak aneh: makanan barat, campur Jawa, dan campur lagi dengan Padang. Ada sup ayam dengan roti, salad, kentang goreng, nasi goreng, gudeg, gado-gado, udang goreng tepung, bakwan, sate, balado terong. Jadi bingung mau makan apa...
Sambil makan, kami disuguhi gending Jawa yang dimainkan secara live, juga sedikit tari-tarian. Gak lupa foto-foto sama para performernya. Setelah makan, kami masuk ke teater terbuka untuk nonton Ramayana. Untungnya hari itu gak hujan, denger-denger sih Purawisata sudah langganan pawang hujan.
Koreografinya oke banget, cukup dinamis lah. Apalagi Hanoman-nya, bisa debus kali ya... dia sempat menggulung-gulung dirinya di atas api pas babak Hanoman Obong. Karakter favorit malam itu adalah Kumbokarno dengan badannya yang tinggi dan rambutnya yang terjuntai-juntai. Sayangnya pas sesi foto, yang ada hanya Rahwana, Rama, Shinta, dan Hanoman.Pertunjukan berlangsung selama 1 ½ jam. Di antara penonton, mungkin hanya aku dan Irva yang orang Indonesia, sisanya bule atau orang Jepang. Makanya narasi juga dibawakan dalam bahasa Inggris. Kalo ilustrasi musik sih, tetep bahasa Jawa donk.
Candi Borobudur
Perjalanan dari Yogya ke Borobudur memakan waktu nggak sampai 1 jam. Taman wisatanya jauh lebih rapih dibandingkan 10 tahun yang lalu. Borobudurnya sendiri gak banyak berubah.Mas Ghani sempat menjelaskan sedikit tentang cerita kelahiran Buddha yang ada di relief level pertamanya Rupadhattu. Setelah itu kita langsung naik ke tingkat Arupadhattu yang penuh dengan stupa-stupa.
Kami sempat mencoba mencolek arca Kuntobimo. Konon kabarnya arca Kuntobimo ini dipercaya membawa keberuntungan. Ketika terjadi peledakan Candi Borobudur tahun 1985, arca Kuntobimo termasuk salah satu tempat yang dipasangi dinamit, tapi entah mengapa dinamit tersebut tidak ikut meledak.Untuk mencolek arca Kuntobimo, ternyata gak sembarangan mencolek. Para laki-laki harus mencolek jari manisnya, sedangkan perempuan mencolek tumit kirinya. Para pengunjung beramai-ramai mencoba memasukkan tangannya ke sela-sela stupa Kuntobimo untuk mencolek arca Kuntobimo yang ada di dalamnya.
Kraton Yogyakarta
Di kraton Yogyakarta, kami dititipkan pada guide kraton yang bernama pak Gito. Penjelasan yang diberikan kepada setiap pengunjung sudah distandarisasi, baik dari segi urutan, maupun content-nya. Mereka juga menyediakan guide dalam berbagai bahasa.Dulu aku tidak bisa menikmati kunjungan ke kraton, karena bagiku hanya lihat-lihat ruangan saja. Tapi sekarang sudah berbeda, para guide di kraton dapat memberikan penjelasan yang mendalam dan dilengkapi dengan cerita-cerita menarik.
Sultan HB yang sekarang ternyata tinggal di keputren, karena kebetulan anaknya perempuan semua. Kata pak Gito, keputrennya sudah disulap jadi tempat tinggal modern, wong ada lapangan tenis segala. Tapi tentu saja... para pengunjung tidak diijinkan untuk melihat keputren tersebut.
Mas Ghani sempat menjelaskan tentang tanah-tanah pemberian Sultan kepada para abdi dalem dan juga kepada pemerintah dan masyarakat sekitar. Ada 1 ketentuan yang menyatakan bahwa tanah yang diberikan oleh Sultan itu tidak boleh dijual. Diwariskan, disewakan, dipinjamkan, dipakai untuk usaha, semua boleh-boleh saja, asal tidak dijual.Namun ada juga yang tidak menggubris ketentuan itu. Tanah di jl.Malioboro sebenarnya adalah wakaf dari Sultan, seharusnya tidak boleh dijual. Tapi ada kasus dimana pedagang memperjual-belikan petak tanahnya di Malioboro sebesar 2x3 m2 seharga Rp.25 Juta!!
Candi Prambanan
Candi ini memang cantik. Dulu aku selalu melihatnya minimal setahun sekali, setiap melintas jalan Yogya-Solo, ketika mudik lebaran naik mobil. Tapi beberapa tahun terakhir ini sudah agak jarang. Mudik lebaran sudah tidak naik mobil lagi, atau kalaupun naik mobil tidak lewat Yogya.Di candi ini, mas Ghani mengajak kita berkeliling di candi Siwa dan candi Brahma, dan bercerita tentang kisah Ramayana yang ada di relief kedua candi tersebut. Ternyata... ada sedikit perbedaan antara Ramayana versi Sendratari dan Ramayana versi relief Candi Prambanan.
Ramayana versi Sendratari adalah seperti Ramayana yang selama ini aku kenal. Cerita diakhiri dengan babak Shinta Obong, dimana Shinta diceburkan ke lautan api untuk mengetes kesuciannya. Bilamana Shinta masih suci, dia tidak akan terbakar. Sebaliknya, bilamana Shinta sudah dinodai oleh Rahwana, maka dia akan terbakar.
Tidak demikian halnya dalam Ramayana versi Relief Prambanan. Di versi Relief, setelah berhasil membunuh Rahwana, Rama dan Shinta bertemu kembali. Tapi ternyata Shinta dalam keadaan hamil. Karena merasa Shinta sudah tidak suci lagi, Rama membuang Shinta ke hutan. Padahal sebenarnya, ketika diculik oleh Rahwana, Shinta tengah hamil muda, mengandung anak Rama. Di hutan, Shinta melahirkan anak kembar, kedua anak tersebut dirawat oleh Shinta bersama-sama dengan pertapa Walmiki. 12 tahun kemudian, Shinta meninggal. Ketika kedua anak tersebut berumur 19 tahun, pertapa Walmiki membawa kedua anak tersebut ke hadapan Rama. Rama, yang akhirnya menyadari kekhilafannya, menyerahkan mahkotanya ke salah satu anaknya itu. Shinta dan Rama baru bertemu lagi di surga, setelah Rama meninggal. Yah, sedikit tragis memang, dan juga agak mirip sinetron.
Malioboro
Rasanya nggak komplit kalo ke Yogya tanpa mengunjungi Malioboro. Malioboro, terutama Pasar Beringharjo-nya, merupakan salah satu kawasan wisata belanja yang paling asik. Kuncinya adalah kita harus tahu harga dan sedikit tega dalam menawar barang.
Sayangnya karena kita terlalu sore, pasar Beringharjo sudah tutup. Jadi ya sudah... kami ke Mirota saja. Harga batik di Mirota memang lebih tinggi dibandingkan di pasar Beringharjo, tapi selisihnya nggak banyak banget. Mereka tidak terlalu me-markup harga.
Ngomong-ngomong batik nih, katanya orang Solo lebih konservatif dibandingkan orang Yogya... Hal itu kelihatan dari cara berpakaiannya. Batik Yogya warnanya lebih berani dibandingkan batik Solo. Batik Yogya banyak yang warna terang, bahkan ada juga yang biru, sedangkan batik Solo cenderung coklat, coklat, dan coklat. Cara melipat (wiron) kainnya juga berbeda... lipatan (wiru) kain Yogya lidah kainnya kelihatan, sedangkan lipatan kain Solo lidah kainnya disembunyikan.
Warna atasan pakaian pria (beskap) juga berbeda, kalo Yogya lebih warna-warni, malahan Bapak pernah pakai yang warna ungu dan krem, bahannya juga bisa macem-macem. Sedangkan Solo paling-paling hitam, coklat, bahannya juga hanya bahan jas. Btw, atasan pria ala Yogya itu ada yang namanya Sogok Upil. Waktu aku tanyakan kenapa namanya begitu? Begini jawabannya, bagian depan pakaian itu, sudutnya sangat lancip. Nah, karena lancipnya itu, jadi bisa buat ngupil. Entahlah, jawaban itu joke atau bukan...
Kereta Api Argo Willis
1.) Ke Jakarta dulu terus naik pesawat ke Yogya.
2.) Naik KA Argo Wilis.
Akhirnya aku pilih Argo Wilis. Karena menurut pengalamanku, kereta ini jarang telat. Sekitar 4 tahun lalu, aku naik kereta itu. Waktu itu sampai di Solo sekitar jam 14.15. Artinya sampai di Yogya sekitar jam 13.
Kali ini, ternyata di tiket KA tertulis jadwal sampai di Yogya adalah jam 13.55, hmm... kok? Lama betul ya....
Hari Minggu, 29 November 2005, berangkatlah aku dengan KA Argo Wilis dari stasiun Bandung, tepat jam 7 pagi. Perjalanan cukup lancar, meskipun lebih sering berhenti dibandingkan 4 tahun yang lalu. Mungkin karena itu jadwalnya jadi mundur.
Tapi... sekitar jam 9.15, kereta berhenti di stasiun Cipendeuy... dan tidak bergerak selama lebih dari 1 jam. Wah... kok begini ya? Ternyata... gerbong paling belakang rangkaian Argo Wilis itu, patah as rodanya.
Terpaksa menunggu kereta Lodaya (yang berangkat jam 8 dari Bandung) tiba di stasiun Cipendeuy itu. Kereta Lodaya yang kebetulan hari itu tidak terlalu penuh meninggalkan 1 gerbong kelas Bisnis-nya, kemudian meneruskan perjalanan.
Setelah Lodaya pergi (wah, kok jadi disusul sama Lodaya ya...), Argo Wilis mengganti gerbong paling belakangnya dengan gerbong kelas Bisnis yang ditinggalkan Lodaya. Jadi para penumpang yang ada di gerbong paling belakang itu pindah ke gerbong kelas Bisnis. Selisih harga tiket kelas Bisnis dengan kelas Argo dikembalikan ke para penumpang itu. Wah... bete juga kali ya, sudah membayangkan adem-ademan di Argo Wilis, ealah... ternyata naik kelas Bisnis juga... hehe.. tapi yang penting selamat.
Di tengah-tengah penantian yang tak kunjung berakhir itu, aku sempet mikir: kenapa aku gak milih naik pesawat aja yah... tapi ya sudah, mungkin aku memang harus dapat pengalaman unik ini.
Setelah berhenti sekitar 1 ½ jam, Argo Wilis pun meneruskan perjalanan. Seolah-olah ngejar waktu yang tadi dihabiskan di stasiun Cipendeuy, di antara stasiun Banjar dan Kroya, kereta itu ngebut gila-gilaan. Mau makan siang aja susah, karena nampan makanannya goyang-goyang.
Oya, rasanya dulu kursi penumpang di kereta api kelas Argo tuh dilengkapi dengan meja lipat deh, tapi sekarang enggak ada sehingga kita terpaksa harus memangku makanannya.
Jam 15 .55, sampai juga di stasiun Tugu, telatnya pas 2 jam dari jadwal yang tertera di tiket, dan 3 jam dari perkiraanku. Irva dan mas Ghani (guide kita) sudah menunggu di sana.
Offline Journal-ku
Mencari benda seperti itu bukan hal mudah di Pasar Balubur. Kebanyakan block note yang mereka jual dijilid biasa, kalopun ada yang dijilid ring, ukurannya terlalu besar untuk masuk ke tas.
Setelah bertanya-tanya ke beberapa toko, akhirnya ada juga benda yang sesuai dengan spec-ku: kecil, jilid ring, bergaris-garis, cover cukup kuat.
Saturday, July 09, 2005
Shanghai

Shanghai bisa dibilang kota paling modern, paling sibuk, paling ruwet. Lalu lintasnya terlihat ruwet (padahal enggak loh), jalan layangnya saling-silang di sana-sini, pusing liatnya. Bener2 meliuk-liuk, sampe banyak jalan layang yang nempel ama gedung.

Mereka punya kawasan kota tua (gedungnya tua-tua, dengan arsitektur Eropa) dan kota baru (Pu Dong). Keduanya dipisahkan oleh sungai Huang Pu. Gedung2 tua itu sengaja dikasih lighting pake spotlight, biar terlihat cantik di malam hari. Terus dijual-lah wisata ”Berlayar di Sungai Huang Pu” untuk melihat kecantikan gedung2 itu.

Landmark kota Shanghai adalah Oriental Pearl TV Tower, tingginya 400 meter lebih. Merupakan menara TV nomor 3 tertinggi di dunia. Di sebelahnya ada menara Grand Hyatt, terdiri dari 88 lantai, dari lantai 1-52 diisi kantor, sedangkan lantai 53 keatas berisi hotel Hyatt.... Huuuaaa.... piye yo rasane turu ning lantai 88?? (gambar di kanan adalah hotel Hyatt dilihat dari TV Tower)

Tempat untuk wisatawan di TV Tower adalah di ketinggian 263 meter. Kalo dari luar, itu adalah di buletan kedua. Untuk mencapai ketinggian itu, kita menggunakan lift yang hanya butuh 42 detik. Wuah, langsung pengeng kupingku....
Di seberangnya ada Shanghai Bund, dulunya ini tempat mafia-mafia kota Shanghai bertransaksi. Sekarang? Jadi tempat pacaran! Hueheheheheh... nama lainnya adalah Tembok Pacaran.

Salah satu ”atraksi” lainnya di Shanghai adalah Maglev Train. Kereta cepat yang menuju airport. Jarak 35 km ditempuh dalam waktu 7 menit saja. Kecepatan maksimumnya 431 km/jam. Tapi dia cuma bertahan 50 detik saja di kecepatan itu, maklum lah jaraknya dekat sih... keburu mesti ngerem. Kalo belok, relnya miring, jadi keretanya ikut miring, kayak sirkuit balap sepeda gitu deh... Hmmm... kayak naik jet coaster lah. Pas papasan sama kereta dari jalur sebaliknya, bunyinya cuma boing-boing sedetik aja.

Terus ada juga Yuyuan Garden, dulunya adalah rumah yang dibangun oleh gubernur untuk bapaknya. Pembangunannya memakan waktu 18 tahun. Tapi bapaknya itu gak sempet meninggali rumah itu. Rumah mewah lah ceritanya... Nah, di sekitar Yuyuan Garden itu banyak toko souvenir... lucu-lucu barangnya. Dan relatif murah sih...
Untuk para pecinta belanja, ada Nanjing Road. Nanjing Road itu sejenis Orchard Road kalo di Singapore. Kalo di Indonesia? Apa ya? Pasar Baru kali… tapi dalam skala jauh lebih besar loh… Tadinya aku berencana mau berburu alat musik di Nanjing Rd. But apa yang terjadi... Nanjing Rd terlalu panjang, tulisannya kanji semua, mau nemuin toko musik aja gak bisa. Aku sempet nemu toko musik sih di gang gak jauh dari Nanjing Rd. Tapi dia hanya punya Tenor Sax. Selain aku gak cari Tenor Sax, yang jualan juga blas ora iso boso Inggris. Waduh... piye iki... Gimana mau nanya2 atau nawar. Ya sudah bubye music instrument... aku beli di tempat lain saja. Ternyata bukan hanya aku yang gak berselera belanja di Nanjing Rd, peserta tur lainnya juga hanya duduk-duduk aja, mereka masuk 1-2 toko, terus sisanya leyeh-leyeh sampe waktu makan malam. Abis bahan belanjaan di situ mirip-mirip aja kayak di Jakarta, gak murah2 banget lagi. Wah ya gak usah jauh2 ke Shanghai kalo gitu. Di Mangdu saja.
Suzhou

Obyek yang dikunjungi adalah Tiger Hill. Di tiger hill ada pagoda dari batu yang miring. Kenapa dia miring? Karena di bawahnya ada makam raja, sehingga tanahnya jadi lembek sebelah. Di dekat pagoda ada Batu 1000 orang. Di tempat itu, anaknya Raja yang dimakamkan di situ membunuh orang2 yang membangun makam itu dengan arak yang dikasih racun, maksudnya supaya mereka gak bercerita bahwa di situ ada makam raja. Hiiiyyy....

Obyek lainnya adalah Hangshan Temple. Yang ini adalah kuil agama Buddha. Di situ ada lonceng yang konon bisa mengusir kerisauan kalo dibunyikan.

Obyek terakhir adalah GUSU Silk Factory. Produk khasnya adalah Silk Quilt atau Selimut Sutra. Apa istimewanya? Kata Hasan, Selimut Sutra adalah Selimut AC. Ketika udara panas, dia jadi terasa dingin, sedangkan ketika udara dingin, dia jadi hangat. Entahlah aku juga belum sempet membuktikan. Nanti kalo terbukti, aku kasih tauk deh. Selimut sutra terbuat dari kepompong ulat sutra kembar.
Di situ kita lihat cara pembuatan benang sutra. Benang sutra terbuat dari kepompong tunggal. Langkahnya begini:
1. Pilih dulu kepompong unggulan
2. Masukkan kepompong ke dalam air panas/godokan air
3. Dengan sapu lidi mini, kita ambil ujung benang sutra dari kepompong2 itu.
4. Dengan mesin, benang sutranya digulung. Setiap 8 kepompong bisa menghasilkan selembar benang sutra sepanjang 2000 meter.

Kalau cara pembuatan selimut sutra adalah seperti ini:
1. 8 kepompong kembar ditarik kemudian dilapis-lapis untuk membentuk 1 kantong kecil.
2. 8 kantong kecil ditarik kemudian dilapis-lapis lagi untuk membentuk 1 kantong besar (8x8 = 64 kepompong)
3. Dari 100 kantong besar, ditarik kemudian dilapis-lapis untuk membentuk 1 selimut sutra (100x64 = 6400 kepompong).
Jadi 1 selimut sutra membutuhkan 6400 kepompong kembar. Untuk menarik 1 kantong besar menjadi selimut, ternyata berat banget. Bapak2 aja kepayahan, tapi ibu2 yang kerja di situ sih kuat2 aja, katanya koh Hasan, mereka bisa Kung Fu loh... (Masa’ sih?)
Hangzhou

Obyek wisata yang terkenal di sini adalah West Lake (gambar 1 dan 2). West Lake adalah lokasi terjadinya legenda Siluman Ular Putih. Selain itu ada Yue Fei Temple, Yue Fei adalah jenderal terkenal China (gambar 3). Kemudian LingYin Temple, temple agama Buddha (gambar 4). Terakhir adalah Six Harmonies Pagoda.

Six Harmonies Pagoda dibangun tahun 970, dir-rebuild tahun 1023. Legendanya: di sungai Qianiang ada naga yang suka menyebabkan tidal wave (banjir) yang sering merusak desa-desa. Raja berusaha untuk mengendalikan tidal wave itu. Ada seorang anak kecil bernama Liuhe yang balas dendam karena ortunya jadi korban si naga. Dia melempari batu ke sungai sampe naga itu kapok. Sebagai rasa terima kasih, pagoda itu dibangun di atas bukit tempat dia melempari batu.

Malamnya kita nonton acara pertunjukan The Romance of Song Dynasty. Show-nya sangat spektakuler. Dari sisi teknologi: mereka menggunakan sinar laser, panggung tersembunyi (yang bisa muncul dari bawah panggung atau dari atas atap), kursi penonton yang bisa bergeser-geser, ”membuka” dan ”menutup” untuk digunakan sebagai panggung tambahan. Bahkan mereka membuat ”hujan” dan ”air terjun” di dalam gedung pertunjukan. Dari sisi teknik tari-nya: ada akrobatnya, ada atraksi sepatu roda, juga tari2an ala Guruh Soekarno Putra. Aku paling suka sama tarian kupu-kupu, bisa kayak terbang beneran ( mereka menggunakan teknik akrobat seperti trapeze tapi bergantungnya di kain panjang). Dari sisi music: udah modern punya bok!
Oya, tiket masuknya agak mahal memang, tapi mengingat teknologinya tinggi, memang pantas sih...
Keluar dari pertunjukan spektakuler itu, nonton drama tradisional China, kayak lenong gitu deh... melibatkan penonton. Kayaknya sih lucu... tapi gak ngerti ngomongnya sih. Ceritanya kira-kira begini: Ada raja cari mantu. Nah... si Putri Raja melemparkan bunga ke arah penonton. Siapa yang yang dapat bunga itu, dialah yang jadi calon mantu. Terus si calon mantu diwawancara segala (orang terus pada ketawa, aku tetep aja gak ngerti). Abis itu pas pesta perkawinannya, mereka ngelemparin permen ke penonton.
Yang aku ingat, selama perjalanan di Hangzhou, udaranya panas banget... mencapai 36 derajat Celsius. Trus kaki kita masih sakit akibat turun gunung Huangshan. Tiap kali liat tangga, langsung pasang action untuk mengurangi rasa sakit. Jadilah kita rombongan tur yang berkeringat dan terseok-seok. Hihihi....
Huangshan

Huangshan adalah kota kecil, sekitar 3 ½ jam dari Hangzhou. Yang istimewa dari Huangshan adalah gunungnya yang katanya adalah gunung terindah di dunia. Terindah? Ya gak tauk... belum liat yang lain sih, tapi memang indah sekali kok. Daerah Huangshan dipergunakan untuk shooting film Crouching Tiger, Hidden Dragon.
Sepanjang perjalanan dari kota Huangshan ke gunung Huangshan, pemandangannya bukit-bukit, hutan cemara, hutan bamboo. Anehnya, udaranya sumuk, jadi agak gak matching antara pemandangan dan suhu udara....

Hutan bamboo di China berbeda dengan rumpun bambu di Indonesia. Kalo di Indonesia kan rumpun bambu rapet-rapet dan terkadang angker. Sedangkan di China, bambunya berdiri sendiri-sendiri, jarang2, daunnya lebih halus dan batangnya lebih lentur.

Untuk menuju puncak gunung, kita naik Cable Car. Kapasitasnya 50 orang. Lama perjalanan adalah 13 menit. Kalo jalan kaki sih bisa aja, lewat jalan setapak, kira-kira memakan waktu 3 jam untuk naik.

Waktu naik cable car, kita lewat di atas pohon2 cemara, hihi... serasa film Crouching Tiger, waktu kejar2an di hutan cemara. Yang di foto itu adalah stasiun cable car difoto dari atas cable car. Tapi sayang, lagu backgroundnya gak mendukung. Payah tuh, petugas cable carnya muter lagu cengeng....

Gunung Huangshan tingginya hanya 1600-an meter, tapi kelihatannya tinggi banget karena gunungnya tersusun dari granit yang menjulang dan membentuk jurang2 yang dalam. Di daerah sini terkenal dengan lautan kabutnya (terutama pada saat winter atau musim2 lain selain summer), jadi kayak Negeri di Awan dunk...

Dari stasiun cable car yang di puncak (namanya Yungu Cable Car Station), kita masih mesti jalan kaki lagi ke hotel. Di gunung Huangshan ini tidak ada kendaraan (bahkan sepeda ontel pun gak ada), semua harus dilakukan dengan berjalan kaki. Untuk bawa bahan makanan, bahan bangunan, dan perlengkapan lainnya ke hotel-hotel yang ada di puncak gunung, harus menggunakan kuli barang. Ada 3 jenis kuli pengangkut di gunung Huangshan:
- Kuli Angkut Barang Logistik, tugasnya mengangkut bahan makanan, bahan bangunan, dan perlengkapan lainnya dari pintu masuk kawasan gunung Huangshan ke puncak gunung, melalui jalan setapak (gak naik Cable Car). (gambar kiri) Karena diangkut dengan menggunakan tenaga manusia, maka harga barang di atas gunung 2 kali lipat daripada di bawah. Oya, di lobi hotel tempat kita menginap, ada piano loh... Gimana ngangkutnya ya???
- Kuli Angkut Bagasi, tugasnya mengangkut bagasi-bagasi milik wisatawan. Tarifnya dari stasiun cable car ke hotel RMB 20 (kira2 setengah jam perjalanan). Kalo kita sih gak pake jasa kuli angkut bagasi, karena bawaan kita dikit, koper2 dititip di hotel di kota Huangshan. Aku cuma bawa 1 stel pakaian ganti, 1 stel pakaian tidur, dan pakaian dalam, plus air minum, topi, payung, dan kosmetik.
- Kuli Angkut Orang, yang ini tugasnya mengangkut para wisatawan yang tidak kuat berjalan kaki. Pake tandu, kayak tandu Jenderal Sudirman. Yang angkut 2 orang. Tarifnya? Dari Cable Car Station ke hotel RMB 150. (gambar kanan)

Untuk berjalan-jalan di gunung Huangshan, kita membeli walking stick dari kayu pinus. Harganya RMB 2. Walking stick itu benar2 sumber hiburan, aku akan ceritakan di posting terpisah.
Kita menginap semalam saja di atas, paginya waktu mencoba liat sunrise... anginnya kencang sekali... rasanya kayak mau dibawa terbang. Dan... apa akibatnya? Karena angin kencang itu, hari itu cable car tidak jalan.... HUUAAAAA.... jadi kita terpaksa turun gunung lewat jalan setapak... Kelihatannya sih enak, tinggal turun aja, tapi ternyata cukup tidak nyaman juga.... Aku paling takut sama:
1. Angin kencang. Takut jatuh karena ketiup :-D
2. Tangga turun yang panjang gak ada jedanya. Takut gak bisa ngerem.
3. Orang yang turun tangga sambil lari2/loncat2. Takut ketabrak terus jatuh berguling-guling.
4. Anak tangga yang permukaannya sempit. Takut kehilangan pijakan.
5. BOING!! Apa sih boing itu? Boing adalah sebutanku untuk barang2 yang dibawa oleh kuli angkut barang logistik. Misalnya laundry, bahan bangunan, makanan. Jalan setapaknya gak lebar. Semua orang lewat situ, ya para kuli, ya wisatawan. Jadi para kuli sering gak sengaja menyenggolkan barang bawaannya ke orang sekitarnya. Nah barang itu kan berat banget, kita bisa jatuh kalo kesenggol. Dalam bayanganku, pada saat barang itu menyenggol sesuatu, bunyinya: BOING!!

Rasanya gak nyampe-nyampe ke pintu masuk/keluar, padahal dengkul-e wis amoh, jalannya sampe ngangkang... Akhirnya setelah 2 jam 20 menit sampai juga di pintu masuk kawasan itu (gambar kiri). Kira2 butuh waktu 4 jam kurang untuk menunggu rombongan tur kita komplit. Hebat juga para peserta tur yang lain, udah pada sepuh-sepuh tapi akhirnya sampai dengan selamat dan sukses di pintu keluar (gambar kanan). Habisnya gimana lagi... kalo pake tandu, mahal sekali... RMB 1100 untuk turun gunung (sekitar Rp.1,5 juta).
Oya, di Huangshan makanan khasnya adalah sejenis ikan wader. Love it so much!! Ikan wader adalah ikan kesukaanku, merupakan ikan sungai yang kecil-kecil. Biasanya aku makan kalo ke Yogya. Tempat lain yang ada wadernya juga adalah Palembang. Katanya di sungai Batanghari juga ada. Lha ini... ternyata di Huangshan juga ada!!
Pengalaman Huangshan ini paling tak terlupakan lah... Sampe2 walking stick-walking stick kita yang setia menemani selama turun gunung, dibela-belain dibawa pulang ke Indonesia… Seneng banget waktu liat bungkusan walking stick itu keluar dari ban berjalan bagasi pesawat dalam keadaan utuh (di Soekarno-Hatta).
Beijing
Hari 1:

Tiananmen Square
Tiananmen Square terkenal dengan peristiwa demonstrasi mahasiswa pada tahun 1989 yang memakan banyak korban. Waktu itu para mahasiswa menuntut keterbukaan (ke dunia luar) dari pemerintah China. Jumlah korban pastinya... sampai saat ini masih jadi rahasia Negara. Di seberangnya ada Musium Natural History of China (kalo di sini = Musium Nasional/Gajah), di depan musium itu ada countdown Olympic Games 2008. Terus di sebrang lainnya ada Memorial Hall of Chairman Mao, tapi di musim panas seperti itu gak buka karena takut balseman-nya rusak.

Forbidden City
Nama lainnya adalah The Palace Museum. Dulunya adalah istana kaisar, sering dipergunakan di film-film China yang bersettingkan jaman kerajaan. Luas totalnya 720000 m2. Gede banget deh pokoknya.... mungkin jalan kaki dari pintu depan ke pintu belakang bisa sampe 3 km-an. Untuk menyelesaikan kompleks itu, dibutuhkan waktu 15 tahun. Kompleks ini terdiri dari 3 bagian:
Bagian Kantor/Kerja (tempat pusat pemerintahan, kantor kaisar, menteri2)
Bagian Tidur (Istana Langit: tempat tidur raja-ada 27 kamar, Istana Bumi: tempat tidur permaisuri, yang terakhir adalah tempat tinggal selir-selir)
Bagian Taman (tempat leyeh-leyehnya raja, dan jualan suvenir)

Summer Palace
Sesuai namanya, itu adalah istana yang ditempati raja pada saat musim panas. Di tengahnya ada danau yang luasnya 300 Ha (luas total kawasan itu adalah 344 Ha). Tempatnya sejuk, karena banyak air. Danaunya adalah danau buatan, sengaja dibuat untuk meniru laut-laut indah yang ada di China. Ada tiruannya West Lake yang di Hangzhou, ada tiruan Laut Timur. Tempatnya enak banget deh buat pacaran, adem geto loh.... di situ kita liat pohon willow, pohon yang pertama jadi hijau ketika musim semi tiba. (coba lihat di foto)
Acrobat Show
Tadinya aku pikir acaranya bakal ngebosenin, ternyata sama sekali enggak. Gila juga tuh para akrobat-er itu, badannya otot apa karet ya? Sorry.... we didn’t take any pictures here... kebiasaan di Gedung Kesenian Jakarta kali ye…
Hari 2:

Tembok Besar China yang di Badaling
Tembok China sendiri ada di banyak tempat, maklumlah panjangnya sekitar 5660 km, lebih jauh dari jarak Jakarta-Beijing. Untuk menyelesaikannya, butuh waktu 200 tahun. Nah, tembok yang di daerah Badaling ini adalah yang paling banyak dikunjungi. Ternyata temboknya gak rata seperti yang kubayangkan. We had to climb it… dan naiknya itu loh, anak tangganya agak licin dan tinggi. Naiknya gak masyalah… turunnya itu bok… baru setengah jalan, waktu nengok ke bawah… huuuaaaa…. Syerem…. (lihat gambar yang sebelah kanan). Akhirnya aku balik arah aja. Gak jadi naik sampe pos pertama.

Ming Tombs
Sesuai namanya ini adalah kompleks makam dinasti Ming. Di bukit itu sebenarnya ada 13 makam, tapi yang dibuka hanya 1 makam, yaitu makamnya raja Ding (Dingling, Ling = tombs). Makamnya terletak 27 m di bawah tanah, ekivalen dengan gedung 9 tingkat... dan kita pun musti turun tangga untuk ke bawah itu. Sebutan lainnya adalah Istana Bawah Tanah, karena di tempat itu sudah seperti istana, barang kekayaannya lengkap (tapi sudah dipindah ke Musium yang berada di atas), juga ada singgasananya (gambar sebelah kanan). Maksudnya adalah jaman dulu ada anggapan bahwa raja tidak pernah mati, setelah meninggal dia tetap berkuasa, meskipun di bawah tanah. Peti mati raja dan permaisuri gede banget... Peti mati yang ada sekarang hanya replikanya, isinya sudah dibawa ke musium Natural History of China.

Peking Duck Resto
Hey… this is my fave!!! Sebelum kita makan Bebek Peking Panggang, si koki demonstrasi cara memotong bebeknya terlebih dahulu. Rasanya gimana? Crunchy, Sweet (terutama sausnya), mmm… pokoknya patut untuk diulangi deh. Yummy-yummy yum-yum…. Makannya pake sejenis kulit lumpia, saus, dan daun bawang (untuk mengurangi rasa amis-nya).
Wang Fu Jing Road
Ini adalah tempat belanja di Beijing. Deretan toko-toko dan mall. Tempat pertama yang kukunjungi? Beijing Music Bookshop! Duile… bukunya banyak, sayang tulisan kanji semua… jadi kita terpaksa milih lagu dengan cara menyanyikan not-not baloknya dulu.
As I suspected, di situ ada my dream musical instruments… dengan harga relative murah, bisa sampe 1/5 dari Yamaha punya. My dream instruments adalah Alto Sax atau Clarinet. China punya pabrik alat musik sendiri, harganya gak semahal alat2 musik yang brand-nya dah terkenal kayak Yamaha. Tapi sayang... waktunya terbatas... jadi aku menunda dulu, di Shanghai saja lah… Milih barang seperti itu gak bisa 10-20 menit. Selain ke Beijing Music Bookshop, kita ke Sun Dong An Plaza dan Giordano saja.
Di sepanjang Wang Fu Jing ada deretan kaki lima makanan… wuah… makanannya serem-serem ah… yang aku inget adalah cumi-cumi segede gaban…. Baunya campur2, jadi bikin pusing.
Hari 3:

Temple of Heaven
Yang ini tempat ibadahnya raja pada jaman dulu. 2 kali setahun diadakan upacara selametan, yaitu selametan minta hujan dan selametan terima kasih setelah panen (sejenis Thanksgiving gitu kali ya). Selain bangunan altar yang serba 9 (tangganya terdiri dari 9 anak tangga, pagarnya kelipatan 9, ubinnya juga kelipatan 9, 9 itu artinya panjang umur), ada juga Echo Wall, sesuai namanya tembok itu bisa memantulkan suara kita, efek itu lebih terasa ketika gak ada orang. Tapi sayangnya, kecil kemungkinannya untuk gak ada orang di hari cerah seperti itu (yang sebelah kanan adalah pintu masuk ke Echo Wall). Waktu menuju jalan keluar, kita melewati koridor panjang, nah di situ banyak dipertontonkan kesenian tradisional China.
Pabrik Mutiara
Sebelum makan siang, kita mengunjungi pabrik mutiara air tawar. Di situ kita melihat kerang mutiara. Sebelum dipanen, biasanya ditunggu sampe si kerang berusia 10 tahun. Tapi ada juga kerang2 yang terkubur di pasir, sehingga baru dipanen pada usia 30 tahun, biasanya mutiaranya besar. Setelah dipanen, mutiaranya disortir. Yang bentuknya bagus dijadikan perhiasan, sedangkan yang gak bagus dijadikan bahan untuk membuat Pearl Powder, sejenis kosmetik. Katanya kalo pake bubuk mutiara itu, kulitnya jadi dingin. Si Harry bener2 men-demo-kan cara pemakaiannya, di tanganku. Pertama bubuhkan krim dulu, kemudian tambahkan bubuk mutiaranya, setelah itu diratakan.
Cantonese Restaurant
Makan siang di Cantonese Restaurant, sebelum berangkat naik pesawat ke Hangzhou. Ada Cantonese proverb yang menyatakan seperti ini: ”Semua yang bersayap boleh dimakan kecuali pesawat terbang. Semua yang berkaki 4 boleh dimakan kecuali meja dan kursi.” Orang Canton bener2 pemakan segala, katanya mereka bikin masakan dari kucing dan tikus juga. Hiiiiyyyy.... tapi tentu saja, siang itu... makanannya halal semua.
Guide Lokal
Oke deh, aku cerita satu persatu ttg guide local yang kutemui di sana.
1) Simon

Adalah guide pertama yang kita temui di Beijing. Tata bahasa Indonesianya paling bagus, mungkin karena dia menghabiskan 2 tahun di sekolah bahasa Indonesia. Kalo lagi gak menjelaskan sesuatu, biasanya dia lagi terima telepon. Sepanjang Forbidden City itu, entah berapa kali dia terima telepon. Simon punya anak perempuan berusia 8 tahun ( sama dengan Natasya - cucunya pak Hamid, salah satu peserta tur ), makanya dia seneng banget main sama Natasya.
2) Harry

Kita (Ndulo, KITA, Ndoro) memanggilnya Harry Kim, tokoh di Star Trek Voyager. Harry menggantikan Simon di Beijing waktu Simon mesti menjemput rombongan Dream Holiday yang datang tanggal 28 Juni. Bahasa Indonesia si Harry kadang2 mirip bahasa Melayu-nya orang Malaysia. Apa yang aku inget dari Harry Kim? Ternyata dia bisa juga mendemonstrasikan cara pemakaian kosmetika Pearl Powder!!
3) Heidy

Mbak yang satu ini guide kita di Huangshan. Dia gak bisa bahasa Indonesia, lebih banyak bicara Mandarin dibandingkan Inggris (trus diterjemahkan oleh tour leader kita, pak Kahar), cantik, kuat banget naik turun gunung (salah satu syarat jadi orang Huangshan yang daerahnya bergunung-gunung dan alat transportasi utamanya adalah: KAKI), tapi sayangnya Mbak Heidy ini agak dingin. Kurang suka becanda. Ada teori yang mengatakan bahwa orang2 yang hidup di daerah dingin memang lebih dingin (contohnya orang Finlandia). Tapi masa' iya sih seperti itu? Yang jelas, di medan gunung Huangshan yang naik-turun-dan-turun tangga itu, mbak Heidy gak pernah keliatan capek. Kadang2 malah terlalu jauh ngeduluin para peserta tur.
4) Cynthia

Miss Hangzhou... begitu nama yang diberikan pak Kahar buat Cynthia. Dia lebih suka dipanggil dengan nama China-nya: Shao Tong (ini hanya kira2 loh). Tapi kita gak pernah bisa spell nama itu dengan benar. Jadi ya sudah panggil Cynthia saja. Cynthia ini orangnya cheerful and helpful banget. Dia juga gak bisa bahasa Indonesia, tapi banyak ngomong bahasa Inggris, jadi lebih nyambung lah ama kita. Denger-denger dari pak Alex, Cynthia ini lulusan S2 loh....
5) Hasan

Ini guide yang paling ganteng. Huehehehehe.... kombinasi antara Charlie dan koh Delon. Memandu kita waktu di Suzhou. Hasan 10 bulan sekolah bahasa Indonesia di Beijing. Logatnya masih belum sebagus Simon, sehingga dia mengeja namanya sendiri menjadi : Hasang. Dia bisa nyanyi Bengawan Solo, dan berjanji mau nyanyi Cucak Rowo, tapi gak sempat. Hasan juga belajar tentang pameo yang ada di masyarakat Indonesia, misalnya: Kasian deh lu!!. Waktu di pabrik sutra dia sabar banget melayani semua peserta tur yang cerewet banget milihin Selimut Sutra (he called it selimut AC). Bahkan kita juga minta tolong diambilin hadiah pembelian selimut berupa scarf sutra ama dia.... hihihi...
6) Susi

Guide paling imut-imut ini memandu kita selama di Shanghai. Orang tuanya lahir di Indonesia, Pamanukan tepatnya. Tapi tahun 1960 sudah kembali ke China. Sampe sekarang Susi belum pernah ke Indonesia. Dia juga jebolan sekolah bahasa Indonesia. Lucunya, bahasa Indonesia-nya kecampur logat Pamanukan. Susi sering banget ngomongin masakan Indonesia : tempe, pete, kerupuk, emping, gado-gado.
Tentang Pariwisata China
1) Pemerintah mewajibkan setiap rombongan tur untuk menggunakan guide local yang memiliki license. Kalo ketauan guide yang memandu tidak punya license, wah... ada sangsinya. Jadinya selama perjalanan kemarin, kita 6 kali ganti guide (di Beijing 2 kali, di Huangshan, Hangzhou, Suzhou, Shanghai masing2 sekali). Dan mengantisipasi banyaknya turis Indonesia, mereka juga menyediakan guide-guide yang bisa berbicara bahasa Indonesia.
2) Semua guide di suatu kota memiliki pengetahuan yang seragam, mungkin ada pendidikan/kursus-nya kali ya sebelum dapet license. Aku merhatiin hal ini waktu rombongan kita bersebelahan sama rombongan tur lain yang guidenya bahasa Inggris. Ternyata mereka bercerita hal yang sama dengan guide kita. Jadi, informasi yang sampai ke wisatawan itu juga seragam. Sebenernya di Indonesia yang seperti ini sudah mulai diterapkan di Bali (menurut Blih Gede loh, guide waktu aku ke Bali).
3) Sepertinya guide-guide local itu diwajibkan untuk membawa wisatawan-nya untuk mengunjungi pusat industri yang ada di kotanya, biar wisatawannya berbelanja. Terbukti deh... setiap ganti guide local, pasti minimal sekali kita dimampirkan ke pusat-pusat industri seperti itu. Pusat industri yang dikunjungi selama di sana:
Beijing: pusat pengobatan tradisional, pabrik batu Giok, pabrik krim 10,000 manfaat,pabrik mutiara sungai, pabrik Cloisonne (guci yang dari tembaga),
Hangzhou: Tea Village (pabrik teh hijau kualitas raja alias Emperor Tea)
Huangshan: pusat perawatan kaki
Suzhou: pabrik Sutra
Shanghai: pabrik patung Singa Kahyangan
4) Wisata ke China = wisata jalan kaki. Kalo yang gak demen jalan kaki dan naik turun tangga, pasti akan menderita. Tempat2 wisatanya begitu luas, dan tempat parkirnya jauh. Jadi wisatawan terpaksa harus banyak berjalan kaki. Ini beberapa barang yang gak boleh lupa untuk dibawa:
- Topi, payung, sunglasses, dan sunblock (terutama saat summer)
- Walking stick!! (sangat membantu untuk naik turun tangga, terutama ketika dengkul-e wis amoh), mau yang dari stainless (mahal), atau kayu (bisa juga RMB 2 harganya, atau Rp 2500,-)
- Air putih (jangan sampe dehidrasi, mesti banyak minum)
- Tissue (buat ngelap keringet, buat ke WC, pokoke berguna banget deh).
5) Buat para wisatawan yang gak bisa bahasa Mandarin, SEBAIKNYA TIDAK NEKAT KE CHINA SENDIRIAN. Harus bawa guide/temen yang bisa bahasa Mandarin. Kita sempet niat mau pergi sendiri, naik taksi. Tapi apa yang terjadi... supir taksinya gak ngerti kita ngomong apa!! Ditunjukin tulisan latin, mereka juga gak bisa baca... maunya huruf kanji... wekss... Kejadian serupa terjadi di airport Soekarno-Hatta. Ada seorang bapak yang menjemput tamu dari Shanghai. Bapak itu membawa kertas dengan tulisan nama si tamu, tapi dengan tulisan latin. Nah... sampe penumpang dari Shanghai udah bubaran (kopernya dah keluar semua), bapak itu masih kebingungan mencari tamunya, sepertinya sih tamunya mungkin gak sadar kalo nama itu adalah nama dia tapi dalam tulisan latin!! Wah, ternyata communication barrier-nya lebih lebar dari yang pernah aku bayangkan. Kalo mau nanya jalan, lebih baik bertanya sama anak2 muda, karena kemungkinan besar anak2 itu sudah mendapatkan pelajaran Bahasa Inggris di sekolah.
6) Lampu2 Shanghai adalah salah satu bukti keseriusan pemerintah China. Untuk mempertontonkan keindahan gedung2 kota Shanghai di malam hari, pemerintah China mensubsidi ½ dari biaya listrik spotlight-spotlight yang mempercantik gedung2 itu. Nah... dengan spotlight2 itu, terciptalah wisata sungai (cruise di sungai Huang Pu), yang mempertontonkan baik kota lama dan kota baru Shanghai. Yang mau naik kapal, ngantre banget... bayangkan pemasukan yang didapat dari situ.
China dan Keluarga
Orang China boleh punya 3 orang istri dan 4 orang selir, ini untuk orang biasa. Sedangkan raja bisa memiliki 3000 selir. Jadi dalam semalam, si raja ini tidak bergaul dengan 1 orang selir saja. Lebih dari 1, tapi jumlahnya tergantung kemampuan si raja. Kata Simon, itu sebabnya obat kuat China terkenal di mancanegara.
Bagaimana dengan sekarang...
Sekarang ini keluarga di China hanya bisa 3-in-1: 1 orang bapak, 1 orang ibu, dan 1 orang anak. Trus gimana kalo anaknya lebih? Kalo dia pegawai negeri atau anggota partai komunis: orang itu akan dipecat. Sedangkan kalo dia pegawai swasta dan lain-lain, dia harus membayar RMB 70000 (sekitar Rp 80 juta). Hmm... apakah itu harga untuk sebuah kebahagiaan?
Produk Khas China
1. Rokok
2. Wine
3. Silk
4. Teh
Katanya itu adalah produk khas China, makanya dibikin ketentuan seperti itu.
Summer di China
Sebelum berangkat, gak percaya loh kalo segitu panasnya. Setauk aku, China tuh adem (kalo di foto-foto kan gitu, orang2nya berjaket, landscape-nya bersalju, banyak angin), ealah... ternyata foto-foto itu menipu. Sampe di sana... sumuk tenan loh... untung gak salah kostum. Jadinya selama di sana, makanan yang paling diidam-idamkan adalah es batu dan Coca Cola... Payahnya, di sana itu Coca-Cola lebih mahal daripada beer.
Lalu Lintas di China

-Jalur Khusus Sepeda-
Di Beijing, banyak orang naik sepeda, tapi di sana orang naik mobil gak stress kayak di Jakarta (harus bercampur dengan sepeda2 motor yang buanyak banget dan pating sliweran, sudah bersifat seperti bajaj <- hanya 2 yang tau sepeda motor itu mau ngapain: Tuhan dan supirnya). Herannya fenomena seperti itu hanya ada di Jakarta. Di kota2 besar lain di Indonesia, banyak juga motor, tapi gak seheboh di Jakarta. Sori ya buat para pengendara motor di Jakarta, tapi memang seperti itu keadaannya. Nah, resepnya Beijing adalah: jalur khusus sepeda. Sepeda punya jalur sendiri. Sedangkan sepeda motor tidak diijinkan untuk berkeliaran di downtown. Asik banget kalo yang konsep seperti itu bisa diterapkan di Jakarta: jalur khusus sepeda motor. Di sini, mungkin Yogyakarta yang sudah mulai menerapkan jalur khusus seperti itu. Menurut pendapatku, ini merupakan win-win solution. Pengendara motornya enak, yang naik mobil juga enak. Tapi aku gak tauk deh, gimana pendapatnya DLLAJR... mereka setuju apa gak ya? Rasanya sih hal ini pernah dibahas di Kompas. BTW, trus siapa yang menyebabkan Jakarta jadi lautan sepeda motor? Salah satunya adalah produsen motor China!!! Wah curang mereka..... motornya dipindah ke Indonesia biar negaranya gak penuh....
-Bis Listrik-
Trus... yang di Beijing ada dan di Jakarta gak ada adalah: Bis Listrik. Mirip kayak KRL, tapi bis. Di atas bis terdapat kabel listrik. Nah, karena ada kabel listriknya, antar bis listrik tidak dapat saling mendahului deh.... lumayan juga, jadi gak menyebabkan polusi udara. Gak seperti Metro Mini yang kemebul asapnya... hehehe....

-Trotoar-
Di Beijing trotoarnya lebar-lebar... jadi enak buat jalan kaki. Gimana dengan Jakarta? Trotoar yang cukup enak, cuman di Jl. Sudirman aja sih rasanya.... itupun gak seluruhnya. Mana lagi ya? Daerah Imam Bonjol mungkin.... Sepertinya Jakarta perlu diperbanyak trotoarnya yaa.... trus dikasih pepohonan... supaya pejalan kaki lebih nyaman dan lebih memilih jalan kaki daripada naik kendaraan untuk jarak dekat, ujung2nya adalah penghematan BBM to?
-Setirnya di Kiri-
Satu hal yang aku selalu lupa adalah bahwa di China mobil jalan di sebelah kanan, supirnya ada di sebelah kiri, seperti di AS gitu deh, kebalikan dgn Indonesia. Jadi... tiap kali, aku selalu mencari pintu bis di sebelah kiri karena pintu Metro Mini di sebelah kiri, pdhal pintu bis-bis di China ada di sebelah kanan.... hahaha.... payah bener nih... :-D
Tentang WC di China
Kata Ibu nih, WC di China sekarang ini udah jauh lebih beradab dibandingkan waktu tahun 1997 Ibu dinas ke China. Iya juga sih, ada yang dapat rating ”WC bintang 4” segala (gak hanya hotel yang bisa berbintang, WC juga!). Tapi sebersih-bersihnya WC di China... masih lebih nyaman WC di Indonesia!! Hidup Indonesia!!
Apa aja yang bikin WC Indonesia memenangkan kompetisi WC dengan juri Agrita Laksmi?
1) Air! Ingat jargon jaman TK/SD dulu: Kebersihan pangkal kesehatan. Air itu penting untuk kebersihan. Tapi sebenarnya kelangkaan air di WC China bisa disiasati, meski agak rese’. Kita mengisi botol air mineral dari bak cuci tangan sebelum masuk ke WC.
2) Tong sampah. Di kebanyakan WC yang aku jumpai di China, tong sampah yang digunakan sebagai tempat buang tissue itu tidak ada tutupnya. Jadi ya pemandangannya sampah-sampah tisu yang hiii... do I need to continue?
3) Pengharum ruangan (glade, Gajah Toilet, apapun). WC di Indonesia wangi-wangi, meskipun ada juga yang smelly, tapi prosentase-nya kecil. Sedangkan di China, jarang yang pake pewangi ruangan, ada sih beberapa.
Nah, yang spektakuler adalah di China kita sempat menemukan WC tanpa kloset. Lha gimana dunk kalo gak pake kloset? Di dalam toilet itu ada selokan panjang yang dikasih lantai porselen... nah selokan itu kemudian disekat-sekat seperti toilet pada umumnya... jadi fungsi kloset digantikan oleh selokan itu. Untuk membersihkannya, harus disiram dari ujung selokan. Aku sih ngeliat ke selokan itu pun gak berani.... Hiiiyyyy.... :-(
Walking Stick 10,000 Manfaat
Ini termasuk hal yang gak penting sebenarnya. Tapi cukup menghibur sih untuk mencari manfaat alternatif selain sebagai walking stick (ini manfaat fitrahnya). BTW, Walking stick ini sudah menemani selama di gunung Huangshan dan ketika turun gunung Huangshan. Ini dia... 10,000 manfaat walking stick:
Bisa untuk mengait/mengambil sejenisnya yang terjatuh ke jurang (ini sudah terbukti!)
Microphone
Mayoret stick
Tongkat latian Kendo
Ngupil
Korek kuping
Melorotin celana teman
Colek-colek
Narik tali bra
Palu sidang
Teman mengobrol
CCTV
Boom Microphone (buat syuting sinetron)
Garuk-garuk punggung
Persneling
Barre (buat Balet)
Guling (Liston banget seehh…)
Tongkat Biliard
Tongkat Pramuka
Alat musik
Ngambil mangga tetangga
Tusuk gigi
Matiin AC
Remote Control TV
Menyogok WC mampet
Dayung
Tiang bendera tour guide
Pointer presentasi
Senapan
Tongkat dirigen
Anggar
Light Saber (Star Wars)
Ini baru 32, masih ada 9968 manfaat lagi. Berminat untuk meneruskan? :-D
Buku Catatan Perjalanan

Aku membelinya di Gramedia PI Mall. Buku itu hampir selalu ikut kemana pun aku pergi selama di China (termasuk ke WC yang smelly loh....). Nah, posting-posting ttg China sebagian besar di-ekstrak dari isi buku itu. Gak semua sih, karena di buku itu banyak juga aku tulis hal-hal yang “gak penting” (ini kata Ndulo loh…).
