Thursday, August 20, 2015

Middle Earth Trip: Day 4

Waktu kami bangun pagi, cuaca masih hujan dan mendung. Setelah mandi, sarapan, dan beberes, kami geret koper sambil kegerimisan ke halte seberang Supermarket Four Square untuk menunggu bus ke arah Queenstown jam 7.30. Di halte beberapa orang turis lain sudah menunggu.


Bus datang tepat waktu. Drivernya turun dan mengabsen penumpang, kemudian dia menggolongkan bagasi berdasarkan tujuan (Queenstown, Wanaka, atau lainnya).  Tak lama kami pun berangkat.


Drivernya memperkenalkan diri sebagai John. Dia membicarakan tentang cuaca. (Percayalah ini bukan basa-basi, kali ini cuaca adalah hal yang sangat penting).  Dia bilang semalam hujan dan di tempat yang lebih tinggi: badai salju. Jadi jalan Haast Pass yang tadinya dibuka tutup karena longsor (buka jam 10 pagi, tutup jam 5 sore), ada kemungkinan sama sekali gak bisa dilewati. Haast Pass itu lokasinya agak tinggi, jadi jalannya ketutup salju. Lha trus? John mengajak para penumpang untuk “cross our fingers”, berdoa saja biar bisa lewat, dan tetap berusaha untuk mendekati tempat tersebut. Semoga pas kita dekat di sana, jalannya dibuka seperti kemarin-kemarin.


Karena John membahas tentang di gunung turun salju, kami jadi ngeliat ke luar. Eehh… bener loh, di puncak-puncak gunung emang ada salju, meskipun tipis dan agak-agak ketutup awan atau kabut. Aaahh…. bisa pegang gak ya?


Pemberhentian pertama adalah Fox Glacier. Sekitar ½ jam dari Franz Josef. Kami singgah di mini market On The Spot, John mengantar paket, dan menjemput penumpang. Selain penumpang dengan backpacker, naik juga bapak-bapak tua dengan overcoat coklat. “Omla, itu Gandalf!”.  

On the Spot convenience store
Bus melanjutkan perjalanan lagi. Makin lama hujan makin deras, sempat disertai angin pula. Bus sempat berhenti untuk menurunkan Pak Gandalf di rumahnya yang di luar kota. Sepanjang perjalanan John bercerita tentang sejarah daerah West Coast, termasuk tentang jalan yang kami lalui yang ternyata relatif baru (diresmikan tahun 1965). Sebelumnya daerah tersebut tergolong “isolated”. Hmm… sekarang aja sepi, jarang banget ketemu mobil, rumah, apalagi orang. Gimana jaman dulu ya?

The Salmon Farm Cafe - Paringa
Kami singgah di The Salmon Farm-Paringa untuk snack pagi. Cuacanya masih juga gerimis dan berangin. Rasanya menderita banget kalo berada di luar ruangan. Omla pesan cappuccino (atau teman2nya, aku gak ngerti apa bedanya), sedangkan aku pesan salmon sandwich. Salmon Farm ini cafe in the middle of nowhere. Sebelahnya hutan dan gunung doang. Gak ada restoran atau toko lain.

Salmon Sandwich dari Paringa
20 menit kemudian kami melanjutkan perjalanan. Kami sempat singgah di Knight’s Point Lookout, untuk foto-foto. Meskipun cuacanya gak menunjang penampilan foto yang keren. Sekitar jam 11 lebih kami sampai di Haast Visitor Center. Kata John, saat ini Haast Pass masih ditutup karena salju, kabar selanjutnya akan disampaikan jam 12 nanti. Kami (para penumpang) akhirnya berkeliaran aja di Visitor Center. Gedungnya lumayan menyenangkan, ada display museum mini yang menjelaskan tentang flora dan fauna serta kehidupan di West Coast, dan juga ada mini movie theatre. Setelah pegel berdiri, aku dan Omla masuk ke movie theatre. Sebenernya ada sofa-sofa yang keliatannya nyaman, tapi sudah digunakan oleh penumpang lain.

Knight's Point Lookout
Our Franz Josef-Queenstown Bus
Jam 12 kurang, mamak-mamak petugas Visitor Center mencetak update informasi tentang Haast Pass. Ternyata… Masih juga ditutup. Huaaa…. :(( John menerima perintah dari Intercity untuk kembali saja ke Franz Josef.


Pengumuman Penutupan Jalan
Tentunya para penumpang pada ngambek semua. Aku mulai panik… gimana coba bookingan yang udah pada diconfirm itu? Ada bookingan penginapan, terus bookingan tour ke Milford Sound dan tour LOTR ke Glenorchy… Arrggghhh…. Mana udah pada dibayar pula (kecuali yang penginapan). Tapi penginapan tuh kalo dibatalin dibawah 48 jam sebelumnya kena charge 1 malam (kata booking.com). Trus… siapa yang jamin kalo besok kita lewat situ lagi, Haast Pass-nya bakalan sudah bisa dilewati?


Sebelum jalan menuju Franz Josef, bus berhenti sebentar di bengkel untuk cek-dan-ricek. Kemudian John jalan menyusuri gang di tengah bus untuk ngajak ngobrol penumpang satu-persatu. Nanyain rencana kami gimana. Oh how sweet… Aku cuman nanya, gimana bisa yakin kalo besok jalannya bisa dilewati? John menunjukkan prakiraan cuaca di HP-nya bahwa besok adalah sunny day. Es/salju-nya bakalan mencair dan jalannya bisa dilewati.


Aku sudah sempat mikir mau cari sewaan mobil untuk balik arah ke Christchurch dan mencoba untuk mencapai Queenstown dari arah Christchurch. Tapi… mana ada sewaan mobil di Franz Josef. Wong penduduknya aja mungkin lebih sedikit dari desa di Gunkid (cuma 300an orang). Omla mbujukin supaya kita pasrah aja besok ikut bus lagi ke Queenstown.


Sepanjang perjalanan kembali ke Queenstown para penumpang lesu semua. Kami mampir lagi di The Salmon Farm untuk makan siang yang agak terlambat. Karena memang gak ada tempat lain yang bisa dimampiri untuk makan siang.  Mbak-mbak solo traveler yang duduk di bangku sebrang kami sempat tanya ke John: Gak ada tempat lain lagi? John bilang emang gak ada. Mbak-mbak: terus besok mampir sini lagi buat morning snack? John: "IYA." GUBRAK!

Salmon Pizza yang yummy
Untuk makan siang ini kami pesan Pizza dengan topping Salmon. Entah kenapa pas Pizza-nya siap, ibu-ibu pemilik toko sulit menemukan nomor meja kami, padahal sudah digantung di tempat yang benar. Akhirnya John yang membawakan pizza tersebut ke meja kami.


Begitu sampai di Fox Glacier dan mendapatkan sinyal HP, aku buka booking.com untuk membuking Alpine Glacier Motel lagi. Tadinya aku nawarin apa gak mau cari penginapan yang lebih murah, sekalian nyoba penginapan lain. Tapi Omla maunya Alpine Glacier, karena seneng sama thermal blanketnya itu.

Sampai di Franz Josef, kami check in lagi di Alpine Glacier Motel. Dapet kamar yang sama dengan kemarin. Bapak-bapak resepsionis terheran-heran melihat kami lagi: So you’re stranded… Dan kami boleh mengambil sekotak susu lagi.


Begitu masuk kamar, kami langsung menelpon ke Queenstown: ke Absoloot Value Accomodation, ke Jucy Cruize, dan ngimel ke Nomad Safari. Absoloot Value langsung reskedul check in untuk besok (tanpa kena denda loh). Sedangkan Jucy Cruize juga reskedul untuk lusa (harusnya besok). Yang Nomad Safari hanya ngasih tauk bahwa ada kemungkinan batal karena delay perjalanan. Sementara Jucy Cruize (Milford Sound) emang jadi bentrok jadwalnya sama Nomad Safari (LOTR ke Glenorchy). Mau dipikir-pikir dulu mana yang mau dikorbankan….


Malam ini males mau kemana-mana karena bete (lagipula mau kemana juga? Berendam di kolam air anget?). Kami gak makan malam hari ini, karena masih kenyang sama pizza salmon yang tadi sore. Jadi langsung tidur-tiduran di atas electric blanket, meratapi nasib ceritanya…


Sambil tiduran, aku browsing-browsing websitenya New Zealand Traffic Authority. Ternyata di website itu ada pengumuman tentang penutupan jalan. Nah, dari halaman pengumuman itu aku jadi tahu kalo yang ditutup karena salju bukan cuman Haast Pass, tapi juga Lindis Pass (yang dilewati kalo dari Christchurch mau ke Queenstown) dan satu titik di Milford Road (yang dilewati kalo dari Queenstown mau ke Milford Sound). Bedanya kalo Lindis Pass ditutup, masih ada jalur lain sebagai alternatif. Sedangkan Haast Pass gak ada jalur lain kecuali muter lewat Christchurch, dan yang lebih parah lagi Milford Road, gak ada jalan lain sama sekali. Dengan kata lain: Milford Sound terisolir kecuali lewat udara (kalo cuaca memungkinkan) atau lewat laut.


Setelah membaca tentang Milford Road tersebut, maka aku pun memutuskan bahwa kami akan mengorbankan Milford Sound. Alasannya:
1) Risikonya lebih tinggi. Kalau pas kami di Milford Sound (misal lusa saljunya sudah mencair), kemudian cuaca jadi buruk dan jalannya tertutup lagi, kami bakalan stranded di Milford Sound, gak bisa balik ke Queenstown.
2) harga paket tour lebih mahal yang LOTR ke Glenorchy dibandingkan yang Milford Sound (NZD179/pax vs NZD150), jadi kalopun uang yang sudah dibayarkan gak bisa dikembalikan, kerugiannya lebih kecil.
3) Kalo kami ke Milford Sound, kami jadi gak menikmati kota Queenstown sama sekali, karena tour ke Milford Sound itu full day, dari jam 8 sampe jam 8.

Dengan pengambilan keputusan tersebut, aku bisa tidur dengan agak lebih nyenyak. Tapi pas kami pergi tidur, cuaca masih hujan. Hmm… beneran nih besok cerah? Kata prakiraan cuaca dari beberapa sumber sih besok emang cerah. Dan katanya langit baru berangsur-angsur bersih setelah jam 12 malam nanti. Kita tunggu saja besok, selamat tidur….

No comments: