Friday, August 28, 2015

Middle Earth Trip: Day 10

Hari ini diawali dengan sarapan sup instan dan sisa french fries dari KFC kemarin. Setelah itu langsung check out dan meletakkan barang di mobil. Tapi kami gak langsung memulai perjalanan.




Setelah mengatur barang di mobil, kami jalan kaki dulu ke pinggir danau. Foto-foto dulu dong. Selain pemandangan danau, ada obyek unik lainnya yang menarik untuk difoto: pesawat yang parkir di tengah danau dan "Odille" alias angsa hitam yang lagi leyeh2 di danau.
Good morning, Rotorua!
Di taman pinggir danau ada pasar kaget. Mungkin karena hari itu adalah hari sabtu ya. Jadi banyak pedagang bermobil yang menggelar dagangannya. Ada tanaman, pajangan, pernak-pernik, buku bekas, macem-macem deh.

Pasar kaget
Kurang lebih jam 8, barulah kami mulai perjalanan hari ini. Pemberhentian pertama adalah SPBU Mobil Oil. Taaarraaa…. mari kita beli bensin, self-service. Hahaha… Agak gaptek sih, maklum orang Indonesia, biasa dilayanin kalo di SPBU. Untung mas-mas kasir yang mengawasi dari dalam baik dan sigap membantu kami setting dispenser. Beli NZD65 saja… atau ekivalen dengan 30 liter. Loh ternyata langsung full tuh tangki bensinnya? Lupa kalo lagi naik mobil kecil, jadi tangkinya juga lebih kecil (dibanding mobilnya sendiri).

Setelah bensin full, kami jalan lagi ke Te Puia.Te Puia terletak di pinggir kota Rotorua, tepatnya di Te Whakarewarewa Valley, yg jaraknya sekitar .....4 km saja dari hotel Ibis. Jadi jam 1/2 9 kami sudah tiba di sana. Atraksinya adalah sumber panas bumi, hot geyser, dan pusat kebudayaan Maori. Ada pusat konservasi Kiwi juga. Kita bisa lihat burung Kiwi, gelap-gelapan tentunya....

Kami langsung beli tiket, tapi gak langsung masuk, karena guided tour pertama baru mulai jam 9. Jadi liat-liat toko souvenir dulu. Di Rotorua ini, souvenir utamanya adalah produk spa yang terbuat dari lumpur.

Setelah bosen liat souvenir (gak beli juga sih), kami masuk ke Te Puia, sambil menunggu guided tour sekalian cari toilet.  Omla agak kedinginan gitu, karena kebetulan tempat nunggu guide-nya tertutup bayangan gedung, gak kena sinar matahari langsung. Waktu kami menunggu, masuklah sepasang suami-istri. Istrinya berjilbab dengan wajah orang Melayu. Ternyata dari Malaysia. Mereka road trip dari Auckland ke arah Wellington, kebalikan dari kami.

Jam 9, guide Maori kami siap di tempat berkumpul guided tour. Ternyata pesertanya untuk yang jam 9 ini hanya kami berempat. Guide-nya menjelaskan secara singkat tentang Te Puia yang punya nama asli: Te Whakarewarewatangaoteopetauaawahiao (yang artinya: The gathering place for the war parties of Wahiao). Panjang banget namanya…

Carving School
Pemberhentian pertama adalah di sekolah seni dan kerajinan Maori, terdiri dari kelas Carving dan kelas Weaving. Untuk bisa masuk ke kelas Ukir syaratnya harus laki-laki, Maori, dan lulus seleksi. Programnya seperti kuliah biasa: 3-4 tahun. Sedangkan untuk kelas Anyam terdiri dari program 3-4 tahun (yang seperti kuliah) dan beberapa kursus singkat. Kursus Anyam terbuka untuk semua jenis kelamin dan tidak harus keturunan Maori.

Weaving School
Dari sekolah seni, kami dibawa ke contoh kampung Maori tradisional, bentuknya mengingatkan aku pada kompleks perkemahan yang aku buat jaman SMP dulu. Setelah itu kami diajak melihat burung Kiwi. Tempatnya agak gelap gitu deh, karena Kiwi ini adalah hewan nocturnal. Jadi yang namanya moto-moto udah pasti terlarang. Berhasil menemukan Kiwi-nya dalam kandang kaca yang gelap itu aja udah alhamdulillah. Kiwi ini binatang yang setia sama pasangannya, sekalinya udah berhubungan sama pasangannya, maka mereka akan menghabiskan hidupnya dengan pasangannya itu. How sweet…

Mirip Kamojang ya?
Dari kandang Kiwi, kami dibawa ke atraksi utama: kawah-kawah geothermal dan geyser. Sebagian mirip dengan yang di Kamojang, tapi yang geyser menyemprot secara periodik itu belum pernah lihat sih. Pastinya bagus buat foto-foto, kalo aja gak tiba-tiba BRUL! datanglah serombongan turis Korea dan mereka menguasai posisi-posisi foto yang bagus.

Setelah puas foto-foto, kami kembali ke pintu masuk dengan mengambil jalan memutar. Kami sempat melewati kawah yang biasa dipakai untuk merebus makanan. Kalau mau ambil paket yang pake snack/makan juga bisa, tapi waktunya gak cukup kalo buat kami. Karena dari situ masih mau ke tempat domba trus ke Hobbiton.

Waktu kami sampai di dekat pintu keluar/masuk, di hall besar atraksi tari-tarian baru saja akan dimulai. Oiya, bisa juga ambil paket yang pake nonton tarian, tapi ya itu…. waktunya gak cukup.

Dari Te Puia, kami menuju ke Agrodome, dengan harapan bisa mengejar pertunjukan Farm Show yang mulai jam 11. Ternyata meskipun udah dipandu sama GPS, mencari Agrodome itu sedikit tricky, mungkin karena tanda jalannya kurang jelas. Wow! Ada juga di negara maju gitu yang rambu petunjuk arahnya kurang jelas (apa kitanya aja yang agak lemot ya? hihihi).

Pintu masuk Agrodome
Untungnya kami segera menemukan patung domba yang eye-catching itu. Kemudian masuk ke kompleks Agrodome yang jalan-masuknya-kecil-tapi-untungnya-tempat-parkirnya-luas itu. Masih cukup banyak waktu sebelum Farm Show dimulai. Kami sempat ngambil foto kuda poni yang lagi merumput di deket tempat parkir.  

Setelah beli tiket, kami langsung masuk ke tempat show-nya. Kami termasuk orang pertama yang masuk, sebelum tak lama kemudian (lagi-lagi) BRUL! kali ini serombongan turis India masuk dan memenuhi barisan terdepan. India ataupun Korea sih sama aja kalo buat aku, yang bikin agak annoying adalah karena mereka rombongan besar dan ribut sendiri.

Waiting for showtime
Acara show pun dimulai. Intinya adalah memperkenalkan beberapa jenis domba penghasil wool yang ada di New Zealand. Kemudian ada atraksi anjing gembala, cukur bulu domba, perah susu sapi (sapinya beneran dinaikkan ke panggung, lengkap dengan ember untuk menampung eeknya), dan menyusui anak-anak domba. Meskipun udah pernah nonton acara sejenis 19 tahun yang lalu (ternyata dah lama bangeet), tapi acaranya tetep menarik buat aku sih. Mungkin karena hal tersebut bukanlah hal yang sehari-hari kami temui ya.

Showtime!!
Selesai acara, kami boleh berfoto dengan domba, anak domba, dan anjing gembala. Sama sapi juga boleh, kalo berani.  Habis foto-foto, kami belanja di souvenir shop. Hmm… kalo mau belanja souvenir, sebaiknya di Queenstown aja. Pilihan lebih beragam, dan harga lebih bersahabat. Omla sempet pengen beli keset bulu domba. Emang halus, putih, dan hangat sih. Kalo cuacanya seperti itu terus sih oke aja. Nah kalo udah sampe Jakarta gimana? Kayaknya bakalan gak terpakai dan gak terurus tuh….

Leyeh-leyeh selepas tampil
Selain kaos-kaos dan boneka buat Slamet, kami beli benang wool dan buku tentang sejarah peternakan domba di NZ. Setelah itu lihat-lihat mini museum sebentar, ngambil foto Alpaca, sodaranya Llama yang diambil bulunya seperti domba, terus kami melanjutkan perjalanan.

Mini museum di Agrodome
Next destination adalah Hobbiton! Haa!! ini atraksi Lord of The Rings yang paling happening. Konon orang yang gak seneng LOTR pun bela-belain ke sana buat pamer poto di social media. Perjalanan menuju ke Hobbiton cukup menyenangkan. Sempet lewat “terowongan pohon” yang lumayan panjang, lengkap dengan daun-daunnya yang berguguran. Kalo di South Island kemarin Autumn rasa Winter, di Waikato ini suasananya Autumn rasa Autumn.

Ternyata Hobbiton itu jalannya agak ribet, meskipun petunjuk jalannya lumayan jelas. Belok-beloknya banyak. Kalau gak pake GPS mungkin gak akan secepat itu menemukan tempatnya.

Sampai di Hobbiton, ternyata Shire's Rest (tempat beli tiket) penuuuhh aja gitu…. Aku langsung antre tiket sementara Omla cari parkir. Tour berangkat 15-30 menit sekali! Padahal waktu itu bukan peak season loh. Kami kebagian jam 14.15. Nunggunya gak terlalu lama sih. Sambil nunggu sempet lihat-lihat merchandise.

Satu batch terdiri dari kurang lebih 40 orang (1 bis). Kami dipandu oleh guide bernama William (like a troll name!) yang berseragam kotak2 pink.
Kami dibawa melewati bukit-bukit berumput yg penuh dengan domba. Sampe akhirnya tiba di lokasi Hobbiton. Kami melewati lorong yg pernah dilewati Bilbo dan Gandalf, kemudian Jreng! tibalah kami di Hobbiton yg kondang itu.

Bag End
William membawa kami melewati desa Hobbiton sambil bercerita tentang sejarah pembangunan tempat itu; bagaimana Peter Jackson memilih tempat itu karena ada pohon yg akhirnya jadi Party Tree di tengahnya, bagaimana tempat itu dibangun dua kali dengan material yg berbeda untuk LOTR dan The Hobbit.

Party Tree
Kami dibawa melihat random hobbit houses, Bag End, Samwise's house, party tree, dan berakhir di Green Dragon.

Di Green Dragon kami bisa menukarkan tiket kami dengan minuman, tapi kami malah sibuk foto-foto di sekitaran Green Dragon. Kolamnya cantik banget buat difoto. Airnya jernih dan memantulkan pohon-pohon di sekitarnya.

The Green Dragon
Btw, dari seluruh perjalanan, baru di Hobbiton ini bener-bener ketemu orang Indonesia di NZ. Sebelumnya di Queenstown sempat berpapasan dengan orang yg bahasanya mirip Indonesia.

Gandalf's Bridge
Setelah cukup waktu untuk minum dan jajan, William mengumpulkan rombongan kami, kemudian rame-rame jalan kaki ke tempat penjemputan bis. Terus naik bis dan kembali ke Shire's Rest.

Sampe di Shire's Rest kami beli maksi dulu. Omla sandwich sedangkan aku vegetable quiche. Ternyata gak bisa dine in lagi karena sebentar lagi sudah mau tutup.

Veggie Quiche yang (ternyata) enak
Karena quiche-nya panas banget sedangkan kami masih harus jalan ke Hamilton, jadi aku makan quiche-nya sambil jalan.

Sampai di kota Hamilton sudah gelap. Kami agak kesulitan menemukan YHA Microtel karena alamatnya gak ada di GPS. Kyknya hostel itu baru ganti nama deh. Setelah sedikit kelewat dan terpaksa muter, kami nemu juga hostel itu.

Bingung ngatur parkir. Tempat parkir yg gampang udah terpakai semua. Adanya yg manuvernya susah. Sementara Omla parkir, aku check in. Ternyata kita tamu terakhir yang check in hari itu.

Kami dapat kamar nomor 2. Setelah taroh barang dan istirahat sebentar, kami jalan kaki untuk cari makan. Ternyata gak jauh dari hostel ada KFC. Udah pasti Omla langsung pengen KFC.

Karena ini KFC ketiga yang kami masuki di NZ, jadi udah makin hafal paket menunya. Kali ini pesen 1 paket yg ayamnya 3 + tambahan 1 gelas soft drink. Mbak-mbak kasirnya sampe gak percaya gitu: yakin segitu cukup? Aku bilang aja: kalo gak cukup nanti kami pesen lagi!

Selesai makan kami ke Pak 'n Save. Kayak carrefour gitu deh. Belanja buat sarapan besok dan oleh-oleh. Kami liat ikan yg kayak KUDA! terus beli cokelat Whittaker, permen, dan madu Arataki buat oleh-oleh plus susu, nasi instan, dan sarden buat sarapan besok pagi. Dari kemaren-kemaren baru sekarang nemu susu kemasan UHT (kayak Ultra gitu). Di Pak 'n Save plastik kudu beli seharga 10 sen per biji. Bisa beli di dalam toko.

Dari Pak 'n Save trus jalan ke hotel, nyari alat makan sebentar di pantry buat sarapan besok (dan gak nemu), mandi, terus tidur.

No comments: