Friday, September 07, 2007

Kuala Lumpur: Hari Ke-5

Hari ini sudah gak conference lagi. Setelah makan pagi, pamitan sama bu Sapta (yang siangnya mau balik ke Jakarta), terus jam 9 berangkat City Tour. Karena pesertanya hanya aku sama Ibu, kami naik mobil sedan saja. Aku tak hafal sedannya jenis apa, pokoke Proton Something gitu deh.

Tempat tujuan pertama adalah istana sultan. Turis gak boleh masuk ke istana, tapi boleh foto-foto di depan pagar istana-nya. Aku malah lebih tertarik foto-foto sama kuda yang dinaiki oleh mas-mas penjaga gerbang istana itu. Tapi gak mau dekat-dekat juga sih, takutnya tiba-tiba si kuda nengok dan mencium diriku. Hihihihihi....

Dari istana terus kami menuju ke Muzium Negara (National Museum). Harga masuknya 2 ringgit. Museumnya sih bersih dan terawat. Isinya tentang kebudayaan Malaysia, terus juga sejarah singkat Malaysia, dari mulai kedatangan penjajah Portugis, sampe seperti sekarang ini.

Seperti halnya museum yang bercerita tentang kebudayaan di Taman Mini (aku lupa namanya museum di Taman Mini itu), tentunya banyak menggunakan mannequin. Nah itu dia yang bikin museum itu jadi sedikit creepy. Bedanya dengan museum2 di Indonesia adalah, mannequinnya di Muzium Negara ini bersih-bersih, jadi seringkali susah dibedakan dari orang beneran. Udah gitu, Muzium Negara ini juga dilengkapi dengan screen video. Jadi... semakin creepy aja. Misalnya pas kita membelakangi screen yang lagi muter video, kesannya kan jadi kayak ada yang bergerak-gerak di belakang kita, padahal gak ada siapa-siapa, kecuali mannequin. Creepy kan?

Kebudayaan Malaysia ya mirip-mirip dengan kebudayaan Indonesia, karena kita itu memang bersaudara. Orang-orang yang tinggal di East Malaysia itu ya sama-sama orang Dayak. Terus yang bangsa Melayu mirip dengan orang-orang Sumatera. Hanya saja mereka juga mengasimilasi kebudayaan Cina dan India. Terus ada juga Orang Asli yang merupakan bangsa Negrito.

Terus, kalo Malaysia punya keris, tidak perlu beranggapan bahwa mereka ”mencuri”-nya dari Indonesia. Karena mereka mengakui bahwa sebelum kaum penjajah datang, mereka itu ada di bawah kekuasaan Majapahit. Kemungkinan yang membawa keris masuk ke daratan Malaysia kan orang-orang Majapahit juga?

Oya, lucunya... atap dari Muzium Negara ini berbentuk atap rumah gadang. Mereka bilang itu ”Atap Minang”. Aku tidak tahu alasannya, kenapa mereka membuatnya menjadi seperti itu.

Dari Muzium Negara, kami menuju ke tugu War Memorial, di dekatnya ada Taman ASEAN gitu deh. Isinya ya tugu peringatan perang kemerdekaannya Malaysia, ada nama-nama pahlawan yang gugur. Sempet foto-foto dan beli souvenir.

Dari War Memorial, terus ke National Mosque atau Masjid Negara. Di sebrangnya ada Old Railway Station. Sempet foto-foto sebentar saja, kemudian kami menuju ke Dataran Merdeka. Kalo hari biasa, Dataran Merdeka itu bentuknya ya lapangan gitu, ada jam gadangnya (jam besar maksudnya). Tapi karena hari itu lagi dipersiapkan untuk Hari Kemerdekaan tanggal 31 Agustus, jadi Dataran Merdeka-nya penuh dengan panggung, sound system, lighting, yah buat persiapan acara keesokan harinya. Jadi gak leluasa deh.

Dari Dataran Merdeka terus kami menuju ke KLCC. Niatnya mau foto-foto di depan Twin Towers tapi dari pintu depannya Twin Towers (kemaren-kemaren kan dari depan Suria KLCC). Tapi apa daya, ternyata hujan turun... jadi baru mau foto-foto udah lari-lari balik ke mobil. Lagipula angle-nya juga susah sih, terlalu dekat ke Twin Towers-nya, jadi pasti gak dapet ujung gedungnya deh.

Dari KLCC terus kami menuju ke pabrik kulit. Kulitnya tuh macem-macem deh, dari mulai kulit sapi yang standar, kulit ikan pari, sampe surai kuda yang dianyam. Tapi desainnya kurang menarik, udah gitu harganya juga mahal-mahal. Mendingan ke Tajur atau Tanggulangin deh.

Dari pabrik kulit terus ke pabrik batik. Batik?? Kedengerannya aneh ya?? Hmm... Ternyata mereka tidak menjual barang-barang seperti layaknya toko-toko batik di Yogya atau Solo. Mereka lebih banyak menjual scarf dari bahan silk yang gambarnya dibuat dengan teknik membatik. Motifnya sih bunga-bunga biasa aja. Bukan motif tradisional seperti Yogya atau Solo.

Mas-masnya ngajarin bikin kreasi dengan menggunakan scarf. Dia sengaja melakukannya dengan cepat, dengan dalih bahwa kalo kita beli scarfnya nanti dikasih buku instruksinya. Lucu-lucu deh hasilnya. Hmm... Tapi meskipun dia cepat-cepat demonya, aku berhasil mengamati cara-nya dia bikin korsase dari scarf, dan setelah balik ke Jakarta aku berhasil membuat korsase dengan salah scarf yang ada di rumah. Hihihihihi...

Setelah pabrik batik, kami ke showroom coklat Malaysia yang merknya Beryl’s. Hmmm... Special productnya adalah coklat rasa tiramisu, dan coklat isi buah-buahan. Boleh lah rasanya... enak, yummy yum yum. Kita boleh nyobain coklat-coklatnya. Mereka punya banyak tester. Bahkan coklat rasa durennya juga enak (tapi baunya gak enak, duren banget, terutama setelah seharian disimpan di dalam tas... begitu tasnya dibuka... WUUSSHH.... semerbak bau duren...).

Kenapa Malaysia punya industri coklat? Dulunya orang Malaysia mengimpor coklat yang sudah jadi dari Eropa. Tapi... coklat-coklat dari Eropa itu kan banyak yang mengandung liquor (hehe... bukannya justru itu yang bikin enak yak?). Karena ada liquornya itu jadi haram. Nah, supaya yakin akan kehalalannya, akhirnya mereka mengolah coklat sendiri, sebagai gantinya liquor, mereka menggunakan buah-buahan tropis sebagai “topping” dari coklat-coklat tersebut.

Dari showroom coklat, terus balik ke Melia lagi. Checkout kamarnya Ibu (kamarku sudah dicheckoutkan oleh bu Sapta), terus checkin lagi untuk kamar Standar pesananku.

Yah, jadi akhirnya kami sudah mencoba kamar I-Room, Deluxe (Ibu), dan sekarang Standard. Mau tauk bedanya Standard dengan I-Room/Deluxe? Kalo standard gak ada safety deposit box-nya, terus gak dikasih sendal kamar, bed lamp-nya gak punya switch terpisah (harus nyala dua-duanya atau mati dua-duanya), lokasinya di lantai bawah, selimutnya susah banget ditarik, TV-nya gak flat, tapi langit-langit bathtub-nya lebih tinggi 10 cm, jadi aku gak berasa claustrophobia kalo lagi mandi.

Setelah membereskan urusan check in dan check out, aku dan Ibu segera jalan kaki ke Sungei Wang Plaza untuk mencari hawker yang menjual makanan vegetarian. Hawker tersebut ternyata berada di lantai 4 Sungei Wang Plaza, atau Bukit Bintang Plaza ya?? Hmm.. entahlah, berhubung kedua plaza tersebut saling terinterkoneksi, jadi kadang susah membedakan saat itu kami lagi berada dimana.

Hawker, atau food court tersebut tidak memakai AC, tapi surprisingly enggak panas, karena penuh dengan kipas angin dan langit-langitnya tinggi. Selain itu juga bersih dan cukup nyaman. Stand vegetarian itu mostly terdiri dari sayuran, sedangkan lauk-pauknya hampir semuanya terbuat dari ”Soya” alias kedelai (ini sesuai penjelasan mas-mas yang jualan).

Kami ngambil sepiring nasi dan sepiring penuh lauk-pauk dan sayur. Lauk-pauknya terdiri dari tahu goreng yang lembut banget, kembang tahu gulung bumbu pedas dan manis (rasanya kayak lumpia), terus sesuatu yang kayak daging masak kecap (tapi kalo dilihat dari dekat teksturnya mirip tahu tapi padat), ada lagi sesuatu yang mirip teri kacang tapi ”teri”-nya juga terbuat dari soya. Semua serba soya, yang gak ada hanya tempe. Kalo sayurnya sih standar, yang ijo-ijo gitu deh. Abis itu pesan minuman teh tarik (yummy!) dan susu kedelai. Makanan dan minuman untuk dua orang itu habisnya 7.90 ringgit sajah. Aku baru tauk kalo makanan vegetarian bisa seenak itu deh.... hmmm....

Selesai makan, langsung ke stesen Bukit Bintang, terus naik monorail ke stesen Titiwangsa (ujungnya jalur monorail). Tujuannya adalah Eye on Malaysia.

Eye on Malaysia adalah ”Bianglala” alias Ferris Wheel yang dibuat untuk menyaingi London Eye (katanya). Karena diresmikan bersamaan dengan launching Visit Malaysia 2007, seharusnya Eye on Malaysia ini merupakan landmark dari Visit Malaysia 2007. Jadi, aku pikir sarana transportasi menuju ke tempat itu sudah cukup memadai. Akan tetapi ternyata...

Waktu sampai di stesen Titiwangsa, bingung harus kemana dan naik apa. Menurut info dari internet sih bisa naik bis nomer 121, tapi pas nanya ke petugas RapidKL yang standby di halte, katanya naik bis 114. Terus dia nunjukin jalur tempat bis RapidKL ngetem di dalam terminal. Tapi ternyata butuh nanya ke 3 orang (ke mbak-mbak, anak ABG, dan pak polisi yang gak-pernah-naik-bis-dan-selalu-naik-sepeda) untuk made sure bahwa memang itu jalur yang dimaksud.

Setelah yakin bahwa kami di jalur yang benar pun, ternyata bisnya gak muncul-muncul. Hanya ada 1 bis RapidKL yang ngetem, itupun nomor 101. Abis itu datang 2 lagi. Yang satu nomor 101 juga, satunya lagi gak jelas, yang pasti bukan 121 atau 114.

Akhirnya putus asa dan memutuskan naik taksi saja. Tapi naik taksi pun harus tawar menawar. Kayak naik bajaj aja. Supir taksi di KL gak begitu suka pakek ”meter” alias argo karena tarif taksi di sana tuh keterlaluan murahnya. Sebagai perbandingan, di Jakarta itu tarif bukaannya kan 5000 rupiah ya, itu untuk 1 km pertama, setiap 100 meter berikutnya nambah 250 rupiah. Sedangkan di sana tuh tarif bukaannya 2 ringgit (5400 rupiah), itu untuk 2 km pertama, setiap 200 meter berikutnya nambah 0.10 ringgit (270 rupiah). Artinya tarif taksi di Jakarta hampir 2 kalinya tarif taksi Kuala Lumpur!!

Kembali ke Titiwangsa... si taxi drivernya nawarin 15 ringgit untuk ke Taman Tasik Titiwangsa (tempatnya Eye On Malaysia). Karena gak tauk berapa jauhnya (deket sih sebenernya, dari terminal situ bisa kelihatan Ferris Wheel-nya, tapi kan gak tauk apakah harus lewat jalan memutar atau gimana), kita hanya berani nawar sampe 10 ringgit. Waktu turun di Taman Tasik Titiwangsa, baru tauk kalo ternyata taxi drivernya orang Medan.

Titiwangsa Lake Garden terdiri dari sebuah danau yang dipinggirnya ada ferris wheel tadi. Konon kabarnya tingginya 60 meter ferris wheel itu. Segitu tuh tinggi gak sih? Sebenarnya lebih bagus kalo kita mengunjungi tempat ini malam-malam, karena selain lampu-lampu di downtown sudah pada nyala (Twin Towers Petronas lebih cantik kalo malam) jadi pemandangannya lebih oke, malam hari juga ada pertunjukan laser di Taman Tasik Titiwangsa ini. Tapi... kalo datang malam hari, perlu dipikirkan masalah transportasinya. Siang hari aja transportasi jadi masalah, apalagi kalo malam??

Tiket naik ke Eye on Malaysia harganya 15 ringgit per orang. Hari itu hanya sedikit yang naik bareng kami. Mungkin hanya 4 cabin yang terisi, itupun di cabinku hanya ada aku dan Ibu. Putaran wheel-nya tuh agak-agak pelan gimana gitu loh, sehingga setelah 2 puteran, jadi agak mumet (padahal totally dikasih 4 puteran). View-nya lumayan bagus dari atas, tapi pasti lebih bagus lagi kalo malam, seperti yang kubilang sebelumnya.

Setelah puas naik dan foto-foto, sekarang baru memikirkan cara untuk pulang. Nanya ke Information Counter, ada gak bis yang lewat di depan taman itu... rupanya orangnya gak tauk. Dan dari tadi memang aku gak liat ada bis lewat, kecuali bis city tur Hop-On-Hop-Off. Taksi juga gak ada yang lewat.

Akhirnya aku ngajak jalan kaki aja ke jalan besar. Siapa tahu ntar ketemu taksi, atau gak... ya lama-lama kan sampe juga ke stesen Titiwangsa.... hehehe... tapi untunglah... belum nyampe jalan besar, tepat ketika melintas di dekat tempat pemberhentian taksi, lewatlah sebuah Premiere Taxi yang kosong. Premiere Taxi itu kalo di Jakarta Silver Bird kali yaa.... tarif bukaannya lebih mahal (3 ringgit kalo gak salah), per km-nya juga lebih mahal, tapi taxi drivernya (seorang bapak-bapak India) mau pakek ”meter”. Rupanya untuk menuju stesen Titiwangsa hanya perlu sekitar 8.50 ringgit dengan menggunakan premiere taxi tersebut.

Aku heran sama pemerintah Malaysia... aku pikir Eye on Malaysia itu landmark dari Visit Malaysia 2007, tapi kenapa fasilitas transportasi untuk menuju ke tempat itu gak diperbanyak, biar turis tuh mudah untuk mencapainya...??

Dari stesen Titiwangsa, langsung menuju ke Bukit Bintang lagi. Petualangan mall pun dimulai. Dari mulai Lot 10 (dengan Isetan-nya), Bukit Bintang Plaza (dengan Metrojaya-nya yang menyediakan baju Accent dengan harga diskon yang unbelievable dan surprisingly ukuran standar), sampai ke Sungei Wang Plaza (dengan Parkson Grand, toko-toko baju, toko handicraft, dan Giant).

Pas jamnya makan malam, naik lagi ke hawker di lantai 4, tapi sayangnya kedai yang jual vegetarian food sudah tutup, akhirnya nyoba di sebrangnya ada kedai bernama RMB Curry House. Iseng-iseng mesen Mee Rebus. Harga 2 porsi Mee Rebus + 2 porsi Iced Tea adalah 9 ringgit.

Ternyata yang namanya Mee Rebus India itu adalah campuran mie Aceh dengan Siomay Bandung (kalo kata Ibu mirip toge goreng juga). Terdiri dari mie (tentunya), potongan tahu goreng, potongan gimbal udang (tepung goreng gitu deh), dan toge, bumbunya spicy agak-agak ada rasa kacangnya dikit. Meskipun spicy, Mee Rebus India ini gak bikin kepalaku keringetan seperti halnya mie Aceh.

Selesai makan, terus masuk ke Watsons di Sungei Wang Plaza. Mayan gede juga tuh Watsons-nya. Setelah liat ini, liat itu, akhirnya aku hanya beli paket wax saja... hehehe... karena itu barang jarang di Jakarta. Habis itu ke Giant sebentar, terus balik ke hotel. Dalam perjalanan menuju hotel, kami banyak berpapasan dengan orang-orang yang baru saja mau merayakan 50 tahun Malaysia. Gak seperti di Jakarta yang baru heboh tanggal 17 Agustus pagi, di sini hebohnya pas tengah malam menjelang tanggal 31 Agustus, macamnya New Year’s Eve gitu deh.

Wuuuaaa.... pegel-pegel niiiihhh.... jalannya dah mulai kayak orang habis sirkumsisi, aku kok jadi inget dengkul amoh pas turun dari gunung Huangshan ya?

Kuala Lumpur: Hari Ke-6

Hari ini hari Jum’at. Tujuan awal kita adalah Low Yat Plaza yang terletak di belakang hotel Melia. Low Yat Plaza ini mirip seperti Mal Mangga Dua kali ya... Di dalamnya banyak toko-toko komputer.

Sebelum melihat-lihat ke lantai atas, pertama kami membeli koper dulu, yang ukurannya slightly lebih besar dari ”koper standar” di rumah. Setelah menitipkan koper itu ke yang punya toko (House of Leather), baru naik ke lantai atas. Sayangnya pagi itu eskalatornya belum nyala, padahal ada 4-5 lantai kali tingginya plaza itu.

Yang unik, di lantai atas ada beberapa ”toko komputer swalayan”. Kayak supermarket gitu, umm... lebih mirip Ace Hardware kali yaa, tapi jualannya barang-barang perlengkapan komputer.

Setelah puas ngeliat-liat di Low Yat, terus ngambil koper di toko House of Leather, baru balik ke Melia dulu untuk naroh koper. Habis itu nyebrang ke Times Square (lagi).

Sempet nongkrong agak lama di Elianto (gerai kosmetik). Kalo hari libur gitu, ternyata penuh banget Elianto itu. Beda banget dengan waktu ke sana bareng bu Bambang. Hihi... beli kutek, lipstik, dan eye shadow.

Terus sempet mampir Borders lagi, Metrojaya juga. Terus agak lama nongkrong di FOS. Diakhiri dengan makan di Secret Recipe. Hehe... dari beberapa hari yang lalu, aku selalu bilang: ”Ngapain makan di Secret Recipe, di Jakarta juga ada”.... tapi akhirnya masuk juga ke Secret Recipe. Pengen tauk juga... gimana rasanya makan Secret Recipe di negeri asalnya. Ternyata sami mawon tuh.... hehehe.... Aku memesan Spaghetti Tom Yam dan Iced Lemon Tea. Makan berdua habisnya 37 ringgit. Cukup mahal emang...

Setelah makan terus jalan-jalan sebentar lagi, baru balik ke Melia untuk naroh barang-barang. Baru abis itu jalan ke Suria KLCC (lagi). Kali ini naik monorail dari Imbi ke Bukit Nanas. Di Bukit Nanas kita gak jalan ke arah KLCC, malahan ke arah sebaliknya, yaitu ke stesen LRT Dang Wangi.

Nah, di Dang Wangi ini... akhirnya aku belajar pakek Ticket Vending Machine. Kekekek... sudah beberapa kali ngeliat barang begitu di Spore, tapi gak pernah nyoba. Apalagi sekarang ada EZLink di Spore. Cukup sesekali berurusan sama loket (yang pakek mbak-mbak atau mas-mas), selebihnya tinggal tempal-tempel aja di tempat tapping. Hmm... ternyata bisa beli tiket dengan sukses juga bok... (hehehe...dasar ndeso)

Interior peron-nya LRT mirip banget sama stesen MRT di Spore. Apakah emang semua stesen subway kayak gitu ya?? Kereta datang setiap 4 menit 37 detik. Pas keretanya dateng, BOK!! Penuh banget. Tapi masih kebagian tempat sih, meskipun (lagi-lagi) hidungku nyaris nempel di pintu dan udah gak kebagian cantolan / tiang buat pegangan, sehingga aku terpaksa pegangan pada langit-langit kereta (untung dah pakek Rexona hehehe...).

Dari stesen Dang Wangi, hanya 2 stesen menuju ke KLCC. Sampe di stesen KLCC, samar-samar tercium aroma yang cukup familiar: ROTIBOY!! Rupanya stesen KLCC itu nyambung dengan lantai Concourse-nya Suria KLCC. Dan toko pertama yang berada di dekat pintu masuk Suria KLCC dari arah stesen LRT adalah Rotiboy.

Tujuan pertama adalah Petrosains. Sayangnya sudah rada telat sampai di museum Petrosains itu (punyanya Petronas, mengingatkan pada Graha Widya Patra di Taman Mini). Sebenarnya admission terakhir tuh jam 5 sore. Aku baru sampe sana jam 5.15. Masih boleh masuk sih... tapi hanya di bagian Speed-nya saja.

Isinya? Mengingatkan aku pada praktikum Fisika, tapi tentunya dengan perangkat yang lebih sophisticated, namun dengan penjelasan yang lebih sederhana (maklum deh... sebenernya museum ini buat anak-anak). Hmm... sayangnya kata mbak Tati, museum ini udah mau tutup, karena merugi.

Dari Petrosains terus ke Kinokuniya (can’t help myself not to enter the bookshop…). Gak beli apa-apa sih. Tapi seneng aja liat-liat. Abis itu foto-foto dulu di taman KLCC. Mencari spot yang enak buat berfoto dengan latar belakang Petronas Twin Towers yang keliatan puncaknya. Hehe... Aku senang sekali mencari posisi yang tepat untuk berfoto di depan si twin towers ini. Waktu ke Suria KLCC sama mbak Tati kan udah sempet foto-foto, udah gitu besoknya foto-foto lagi sama Ibu (aku pakek baju pink ngecreng). Sekarang foto-foto lagi (yang terakhir ini pakek baju pink ke-oramye-an). Lokasi yang terakhir ini agak jauh dari pintu masuknya Suria KLCC, makanya puncak gedungnya bisa keliatan.

Setelah foto, sempat berkeliling di Suria KLCC. Malam ini sebenernya pengen nyoba makan di Ta Wan House (di food court lantai 2), tapi terus mundur teratur karena: 1) Dia gak punya menu bubur, gak kayak Ta Wan yang di Jakarta. 2) Adanya menu mie, tapi mangkuknya itu loh bok, gueeddee pisssaaann!! Akhirnya beli yamien di sebelahnya gerai Ta Wan ajah. 7.50 ringgit per orang.

Abis makan sempet muter-muter lagi di Isetan, terus ke Tower Records. Ekspektasiku terlalu berlebihan kali ya. Aku pikir Tower Records itu bakalan seperti HMV di Hereen, Spore. Ternyata hanya segede Disc Tarra yang paling gede. Oya, terus untuk beberapa album (yang jadi perhatianku), Indonesia ternyata lebih ”maju”. Contohnya albumnya Michael Lington yang A Song For You. Di Indonesia kan sudah dijual yang versi Indonesia (yang hanya untuk dijual di Indonesia), harganya bisa lebih murah dari yang impor kan. Sedangkan di sana Michael Lington itu diimpor semua. Tapi aku agak menyesal nih... gak beli albumnya Russell Watson yang That’s Life. Aku pikir bakalan ada versi Indonesia-nya, kayak Michael Buble aja... tapi ternyata aku salah.

Abis dari Tower Records, sempet beli jepit-jepit rambut dari logam, trus beli Rotiboy (dan soya milk-nya). Tadinya pengen pulang naik taksi, tapi kan tawar-tawaran gitu. Ada yang nawarin 15 ringgit, 20 ringgit. Kita gak tauk harga pantasnya berapa gitu loh. Ujung-ujungnya naik LRT lagi.

Setelah turun dari LRT di Dang Wangi, terus jalan ke stesen monorail Bukit Nanas, serem juga bouw... abis stesen monorailnya tuh udah sepi gitu. Padahal baru jam ½ 10 malam. Sampai di hotel terus packing barang-barang. Sebelum tidur sempet liat fireworks lagi. Kali ini fireworks-nya di posisi yang cukup nyaman (gak persis di atas hotel lagi).

Kuala Lumpur: Hari Ke-7

Hari terakhir!! Pagi-pagi... masih jalan-jalan dulu ke Sungei Wang/Bukit Bintang Plaza. Jam 10 belum pada buka... akhirnya liat-liat toko tas yang ada di sebrangnya Lot 10. Tapi gak beli apa-apa.

Abis itu sempet ke Bukit Bintang Plaza, nemu jepitan plastik dengan manik-manik harganya 10 ringgit/3 buah. Dari jauh mirip banget sama jepit rambut logam yang dibeli di Suria KLCC kemaren, bedanya hanya bahannya aja (dan juga harganya tentunya...). Terus sempet ke Metrojaya lagi. Liat-liat MPH Bookstore (tapi gak nemu yang dicari). Abis itu balik ke hotel.

Menjelang sampe hotel, aku memutuskan untuk ke Borders (di Times Square) sekali lagi. Tapi akhirnya gak beli apa-apa juga.

Setelah semua barang siap, jam 11 turun dan checkout. Pas mau naik taksi ke airport, ditawarin naik limousine hotel seharga 120 ringgit. Hiii... ogah banget. Dia sempet nurunin ke 100 ringgit, tapi ogah juga lah ya. Karena emang udah dari awal mau naik taksi biasa aja.

Untungnya taksi pertama yang distop menawarkan harga yang sangat reasonable: 70 ringgit. Kalo beli kupon taksi di airport kan 67 ringgit tuh, gak beda jauh kan? Mau naik KLIA Express berdua juga 70 ringgit, belum ngitung ongkos dari Melia ke KL Sentral dan tenaga yang keluar buat geret-geret koper naik turun tangga di KL Sentral (sekarang kan jadi 3 kopernya). Bagasi taksinya sempet ngebuka gitu pas kita baru muter di sekitar Bintang Walk, tapi segera tertutup lagi waktu taksinya lewat polisi tidur. Kekeke...

Ternyata... jauh juga ya KLIA itu. 75 km dari Kuala Lumpur bok!! Sama dengan Jakarta-Cikampek. Bayar tolnya hanya 5 ringgit loh, itupun udah included di 70 ringgit tadi, padahal kalo menurut aturan yang tertempel di taksi, biaya tol itu harusnya dibayar oleh passenger. Hmm... ternyata biaya tol di Indonesia itu mahal ya kalo dibandingkan di Malaysia??

Di tengah jalan sempet isi bensin dulu. Terus si pak supirnya sempet nunjukin persimpangan jalan tol yang menuju LCC Airport (tempat Air Asia). Huee... kirain yang namanya LCC Airport itu dekat dengan kota KL, ternyata jauh juga, sudah dekat ke KLIA gitu deh.

Perjalanan ke KLIA memakan waktu kurang lebih 1 jam. Sampai di sana... agak tertipu sama antrean. Garuda Indonesia itu dapet di counter check-in di row A. Waktu kita liat di row A ngantrenya panjang banget. Walah!! Masa’ segini banyak orang mau Jakarta semua naik Garuda?? Yang boneng ajah...

Setelah agak berjinjit-jinjit, aku melihat counter check-in Garuda yang sebenernya, yaitu di balik orang-orang ngantre tadi (orang antre itu mau naik penerbangan Timur Tengah gitu deh).

Aku coba memutari orang-orang ngantre tadi, terus check in, tapi koper-koper belum bisa lewat. Gak lama, Ibu datang sambil mendorong trolley berisi koper-koper kita. Rupanya barusan dibukakan jalan oleh petugas airport, karena banyak calon penumpang Garuda kebingungan gak bisa bawa barangnya melewati antrean penumpang maskapai Timur Tengah tadi.

Selesai check-in masuk toko coklat dulu. Abis itu baru masuk ke Imegresen yang antreannya surprisingly pendek sekali. Dari Imegresen terus periksa barang-barang lagi di X-Ray, baru abis itu naik Skytrain lagi buat ke gate C31.

Sebelum ke gate C31, aku sempet foto-foto di spot yang sudah kuincar sejak pertama kali menginjakkan kaki di KLIA. Hihihi… ini dia hasilnya. Setelah itu beli Burger King dulu, karena sudah lewat jam makan, aku kelaparan, dan diperkirakan paling cepet baru 40 menit lagi dikasih makan di pesawat. Di depan Burger King foto-foto lagi (norak bener ya), baru abis itu ke C31.

Di C31, aku ketemu sama seorang kenalan yang ex-Multipolar. Sempet sama-sama pangling gitu, sambil mikir-mikir: “pernah ketemu dimana ya sama orang ini?”

Pas mau boarding... jreng... rupanya satu pesawat sama “gerombolan jaket hitam” yang ternyata adalah rombongan paspampres. Hmm... iya ya, mungkin presiden RI dateng ke sini dalam rangka ultah Malaysia kemaren ya??

Di pesawat nonton Just For Laughs (hmm… apa Garuda hanya punya film ini yak?). Terus makannya Ikan plus Nasi dan Terong. Ikannya penampakannya mirip ayam bakar. Aneh sekali...

Nyampe di Soekarno-Hatta jam 16.00. Dan akhirnya... Jakarta!!

Monday, May 07, 2007

Tenggarong Trip - 5 Mei 2007

Salah satu julukanku adalah tukang tidur, atau kerennya: Sliping Byuti, tetapi [tumben-tumbenan] pagi ini ternyata aku bangun sebelum yang lain bangun, hmm... mungkin karena sehari sebelumnya aku gak ngantor ya.

Sambil menunggu kedatangan Bagus, Dedy, dan Pandu, aku berkunjung ke rumah Ivan untuk melihat-lihat koleksi DVD/CD-nya. Jam 8, waktu kita lagi nonton Queen, barulah mereka bertiga datang dengan Innova sewaan.

Setelah bersih-bersih interior mobil sebentar, kami pun berangkat. Tidak lupa mampir ke kantor Pertamina EP Region KTI untuk menjemput mas Benny, driver kami hari ini. Baru beberapa menit beranjak dari kantor Region KTI, kira-kira ketika melewati Kantor Besar, “kresek…kresek…”, terdengar bunyi kantong plastik tergesek-gesek, meaning: ada yang membongkar bungkusan snack!! Haha… tersangkanya adalah yang duduk di kursi paling belakang. Hmm… memang kami semua belum sempat sarapan, jadi sebelum keluar Balikpapan, mampir dulu untuk sarapan dengan menu lontong sayur, coto makassar, dan nasi kuning.

Kami menuju Tenggarong dengan memilih rute Tritip, tempat penangkaran buaya. Jalannya halus, tapi agak sempit dan belok-belok. Mas Benny nyetirnya agak-agak heboh, namun keliatan cukup menguasai medannya. Rasanya aman, tapi di dalam (terutama yang di kursi tengah) jadi dapat bonus “main roller coaster”, alias terlempar ke kiri dan kanan. Pandu yang pindah duduk ke belakang setelah sarapan tadi malah tenang-tenang saja, tidur-tiduran sambil menikmati musiknya sendiri, seolah tidak terpengaruh dengan kontur jalan yang heboh tadi.

Sebelum masuk ke jalan “hutan”sempat mampir ke toilet umum, setelah dikecewakan oleh SPBU yang ternyata tutup. Kemudian setelah keluar dari jalan “hutan”, kami memilih rute “pinggir sungai Mahakam” untuk menuju Tenggarong (tidak lewat kota Samarinda).

Jalan “pinggir sungai” kecil dan gak begitu halus, di kiri kanannya padat penduduk. Sebagian penduduk di sebelah kanan ada yang tinggal di atas sungai. Meskipun kali ini bukan pertama kalinya melihat sungai besar, menyusuri sungai Mahakam dan melihat kehidupan di sekitarnya merupakan pengalaman tersendiri. Banyak hal-hal unik yang tidak ditemui tiap hari di kota metropolitan, seperti rumah terapung atau tongkang batubara yang sedang diisi, bahkan kami sempat mengamati arus sungai yang (secara sok tauk kami simpulkan) seperti tidak teratur dan unpredictable.

Bagus mulai mengiming-imingi kami dengan “jembatan berlampu”, katanya kalau sudah sampai di Tenggarong nanti, ada jembatan keren yang banyak lampunya. Karena rasanya lama sekali tidak sampai-sampai, setiap melintas di atas jembatan, kami selalu bertanya: “Bukan yang ini jembatannya Gus?”.

Kemudian, tiba-tiba aku mencium bau yang cukup familiar: brownies kukus, meaning: ada yang membuka kotak brownies di kursi belakang!! Kami pun bagi-bagi brownies yang katanya enak itu.

Lagi asik makan brownies, hujan deras turun, padahal sedari tadi panasnya bukan main. Ketika kami memasuki kota Tenggarong, hujan deras masih juga turun. Jembatannya Bagus tadi sampai tidak terlihat dengan jelas. Kami menemukan nickname buat Jembatan Kartanegara ini: Cisco. Bukan karena mirip Golden Gate di San Fransisco, tapi karena jembatan adalah lambangnya Cisco, brand alat-alat network yang tersohor, dan kebetulan kami semua mencintai Cisco [wahahaha… benarkah demikian?].

Tak berapa jauh, meskipun samar-samar di tengah hujan, terlihat kereta gantung dan sky tower-nya Pulau Kumala. Ivan langsung merengek pengen naik kereta gantung itu, tapi tentu saja kami harus menunggu hujan reda.

Ketika kami masih bingung mau kemana dulu (berhubung masih hujan), dari sebelah kiri mobil terdengar: “Ada yang merasa lapar gak?”. Yang lain menjawab dengan kompak (dan berbohong): “Enggak!!”.

Ya…ya… kami semua merasa lapar, mungkin kecuali aku yang (anehnya) sepanjang hari Sabtu tidak merasa lapar. Tapi yang lain saling menunggu, siapakah yang duluan mengaku lapar…?? Ternyata Dedy yang duluan memecah keheningan lapar mereka dengan our question-of-the-day. Sembari mencari tempat makan, brownies kukus pun disantap habis.

Kami pun berhenti di restoran yang terletak di depan Museum Mulawarman. Kami memesan ikan mas goreng, ikan bawal bakar, dan ikan patin bakar, lengkap dengan tumis kangkung, plus oseng pare dan balado teri. Kemudian kami memilih tempat duduk yang mepet dengan pinggir sungai. Sambil makan, kami menikmati hujan yang turun di tepi sungai Mahakam.

Di depan tempat kami makan, ada kapal yang di atasnya ada organ tunggal sedang berlatih. Selain organ tunggal, terlihat juga loyang-loyang katering. Rupanya kapal itu sedang menunggu para turisnya. Ketika kami selesai makan, turis-turis berdatangan ke kapal itu, dan kemudian mereka menyebrang ke Pulau Kumala. Sementara itu, kami masih penasaran sama kereta gantung.

Selesai makan, kami mencari museum Kayu. Takjub juga ketika ternyata Bagus bisa menemukannya. Museum Kayu ini tempatnya agak mblusuk-mblusuk, jalannya pun jelek banget, gak kebayang kalau di tengah-tengahnya ada museum. Petunjuknya adalah museum tersebut berada di dekat waduk Panji. Kami pun mengikuti petunjuk jalan ke waduk Panji. Kukira yang namanya waduk Panji itu seperti waduk Cirata, ternyata lebih mirip tempat pemancingan ikan atau restoran kuring.

Harga tanda masuk ke museum Kayu juga membuat takjub: 500 rupiah saja. Memang tidak banyak yang dipamerkan di museum tersebut, hanya ada contoh-contoh kayu, contoh produk dari kayu, dan 2 ekor buaya besar yang diawetkan. Oya, ditambah dengan kliping-kliping berita tentang keganasan buaya. Hiii… males banget.

Sebelum meninggalkan museum Kayu, kami sempat berfoto-foto. Foto barusan adalah salah satu hasilnya, dan ini adalah awal dari karir singkat kami sebagai foto model, pengarah gaya, dan sekaligus fotografer.

Dari museum Kayu, kami beranjak ke stasiun kereta gantung. Mas Benny menolak ketika kami ajak menyebrang ke Pulau Kumala, lebih memilih beristirahat di mobil. Dan kami pun dengan ceria membeli tiket, dan masuk ke stasiun kereta gantung. Kami sama sekali tidak perlu mengantri, hanya ada satu rombongan di depan kami. Menurut info yang didapat dari teman-teman maupun internet, untuk naik kereta gantung ke Pulau Kumala kerap kali harus mengantri berjam-jam, tapi hari ini tidak seperti itu. Mungkin karena sehabis hujan, atau karena bukan hari Minggu. Lihat foto-foto ceria kami sebelum naik ke kereta gantung.

Keceriaan Pandu sedikit terhapus begitu kita naik ke kereta gantung. Ternyata menyeramkan katanya… Bahkan untuk berpose aneh-aneh untuk foto pun tidak berani, selalu mengingatkan: “Jaga keseimbangan… jaga keseimbangan…”. Kami sudah berusaha untuk melakukan load balancing antara tempat duduk kiri dan kanan. Di tempat duduk yang satu terdapat 60 + 53 + 55 kg, sedangkan tempat duduk sebrangnya terdapat 80 + 83 kg, cukup seimbang kan?

Turun dari kereta gantung, kami naik kereta kelinci menuju ke Sky Tower. Sky Tower ini cukup canggih, aku belum pernah melihatnya di tempat lain di Indonesia. Tapi Pandu tidak tertarik untuk naik ke Sky Tower. Akhirnya kami berempat saja, tanpa orang lain juga, padahal kapasitas Sky Tower tersebut cukup besar. Dengan diiringi lagu Let’s Dance Together-nya Melly feat.BBB, Sky Tower pun mulai berputar ke atas, kami pun bisa melihat sekeliling kota Tenggarong. Tak lupa foto-foto di atas Sky Tower.

Dari Sky Tower, semula kami ingin bermain trampolin, tapi karena kelihatannya sudah hampir hujan, takut tidak bisa kembali ke sebrang dengan kereta gantung, jadi kami cepat-cepat menuju ke patung Lembuswana untuk berfoto-foto. Sayangnya aku belum menemukan literatur tentang Lembuswana ini. Di Wikipedia gak ada sih…

Ini sedikit hasil foto di dekat patung Lembuswana beserta komentarnya:

Gus, kenapa dirimu terlihat seperti sedang nggoda anakmu? Di depanmu itu si Pandu, bukan Nindi...

F4 lagi kunjungan ke Tenggarong. What are you looking at?

Dari patung Lembuswana, kami cepat-cepat menuju kereta gantung lagi. Kali ini Pandu memilih duduk di tengah. Dan kami pun tiba di sebrang sebelum hujan lebat datang. Dari stasiun kereta gantung, tujuan berikutnya adalah kota Samarinda. Tapi sebelumnya, kami mau berfoto-foto dengan latar belakang Cisco dulu.

Untuk berfoto-foto, pengunjung kota Tenggarong dapat berhenti di taman yang terletak di dekat jembatan Cisco. Semuanya berlomba-lomba untuk jadi pengarah gaya dan foto model, karena sangat sulit untuk menjadi fotografer. Di perjalanan ini, fotografer gayanya harus lebih aneh dari foto modelnya. Hal ini disebabkan kami selalu berusaha mengambil gambar dengan latar belakang obyek yang tinggi (Sky Tower, patung Lembuswana, Cisco). Pandu dan Dedy adalah fotografer yang gayanya paling unik, sedangkan aku adalah foto model yang paling gak bisa nahan ketawa ngeliatin fotografernya, sehingga suka merusak formasi. Jadilah hasilnya seperti ini (beserta komentarnya juga):

Foto ini berjudul Tarik Kabel. Ini adalah rombongan penarik kabel, selain itu tepat di atas kepalanya Dedy terlihat kabel-kabel bajanya si Cisco terikat erat.

F4 lagi... kali ini di depan Cisco.

Ini akibatnya kalo fotografernya lebih gaya dari foto modelnya. Lihat ke tanganku, seharusnya aku gak melakukan itu, tapi sesaat sebelum kameranya diklik, aku melihat si Dedy lagi bergaya aneh banget, akhirnya gak bisa nahan ketawa, bubar deh posenya.

Ini juga salah satu foto yang fotografernya lebih lucu dari fotomodelnya, tapi untunglah Pandu sempat menunggu aku diam dulu sebelum ngeklik kameranya.

Kalo lagi jaim gini, keliatan harmonis ya?

Dari Cisco, tujuan selanjutnya adalah kota Samarinda. Yang dicari di kota Samarinda adalah Bioskop 21, kami mengejar film Spiderman 3. Hihi.. lucu juga, ketika semua orang semangat pengen nonton Spiderman 3, aku males-malesan, ealah ternyata sekarang terpaksa ngikut juga. Kali ini rute yang dipilih adalah jalan baru yang menghubungkan Samarinda dengan Tenggarong. Jalannya besar, dua arah dipisahkan dengan tanggul, tapi cukup naik turun dan berbelok-belok, lagi-lagi saatnya main roller coaster. Untungnya formasi sudah berubah lagi, Bagus dan Pandu berpindah ke belakang, dan langsung teler tak lama setelah meninggalkan Tenggarong, aku dan Ivan di tengah, sedangkan di depan Dedy jadi DJ yang harus sabar melayani request dari penumpang lainnya.

Memasuki Samarinda, agak pusing juga. Sedari tadi mas Benny sudah belok sana-belok sini tapi kok aku gak menemukan pola kotanya. Sepertinya tidak ada jalan utama yang paling besar di kota itu, correct me if I’m wrong ya.

Sampailah kami di SCP. SCP adalah sejenis tools untuk FTP… hihihihi, meskipun aku tidak berbohong, tapi yang dimaksud dalam cerita ini sebenarnya adalah Samarinda Central Plaza. Ketika kami sedang mengantri parkir, our question-of-the-day terlontar lagi. Ya..ya… kami berencana makan di McD, tapi sebelumnya harus nge-check dulu di Bioskop 21. Ternyata Spiderman 3 diputer di 3 studio malam itu. Setelah sempat berpindah antrean, dan mengantri bergantian, kami mendapatkan tiket untuk jam 17.20. Aku sempat mencuci muka di kamar mandi 21, karena tadi di toilet lantai lainnya tidak tersedia air.

Mungkin karena hari itu adalah malam minggu, SCP ini penuhnya bukan main, mirip seperti pasar kalau mau lebaran. Harus pandai-pandai mencari jalan zig-zag kalau mau jalan agak cepat.

Setelah beli tiket, kami mencari cemilan di Hero. Lucunya, setelah duduk manis di 21, baru sadar bahwa bungkusan plastik berisi Teh Kotak tertinggal di Kassa Hero. Dedy dan Bagus pun kembali ke Hero. Setelah itu baru pembagian snack dilakukan, dan anehnya gak seperti biasanya, aku sama sekali gak tertarik mencoba snack-nya, padahal biasanya belum ½ film snack-ku sudah tandas.

Komentarku tentang nonton film di Samarinda: AC-nya gak dingin, trus suaranya gak stereo pula. Tapi buat teman-teman yang seperti itu masih mending sih, karena di Balikpapan belum ada bioskop 21.

Selesai ber-Spiderman-ria, kami makan di McD, kemudian bergerak menuju Balikpapan. Sebelum keluar dari kota Samarinda, ada yang terasa aneh… ternyata tidak ada lampu jalan di kota Samarinda, atau ada tapi tidak menyala ya? Gelap banget, jadi tergantung pada lampu mobil dan lampu yang ada di bangunan yang berada di pinggir jalan.

Jam ½ 9 kami keluar dari kota Samarinda, merupakan perjalanan yang cukup berat, sebenarnya kami semua sudah lelah, tapi tidak boleh tidur karena harus menemani mas Benny mengendarai mobil. Berbagai usaha dilakukan: karaokean, ngobrol gak jelas juntrungan, aku bahkan mencoba duduk miring sampai sakit pinggang, karena kalau duduk lurus pasti langsung tidur. Akhirnya sampai di Balikpapan dengan selamat jam ½ 11 malam. Kami menurunkan mas Benny di Kantor Region KTI, kemudian mengeluarkan question-of-the-day lagi… dan kami pun berhenti di “food court” Bekapai. Sejenis Blok S kalau di Jakarta, tapi mungkin lebih lengkap, karena selain menyediakan makanan dan minuman, katanya kalau mau bencong juga ada. Tapi untungnya hari itu aku tidak melihat satupun keberadaannya, mungkin sudah habis kali ye?

Setelah itu, kami pun kembali ke tempat tinggal masing-masing, mandi, kemudian gedabruk… Hhaaa… what a day…

Dari semua tempat yang dikunjungi, yang menonjol adalah Pulau Kumala, itupun sebenarnya tergolong masih belum ada apa-apanya, panas, sumuk, pliket. Mungkin seharusnya kami mengeluh bete ya?

Meskipun akhirnya tanganku jadi agak gatel-gatel karena keringat, dan keesokan harinya yang lain tidur sampai hampir tengah hari, aku tetap menikmati perjalanan ini. Yang berperan dari suatu liburan ternyata bukan hanya bagus/tidaknya tempat yang kita kunjungi, melainkan juga beberapa hal lain. Liburan bisa jadi berarti karena kita melihat hal-hal baru yang tidak kita temui tiap hari, bisa juga karena teman-teman yang pergi bersama dengan kita (yang juga tidak tiap hari kita temui), atau bisa jadi karena liburan adalah pelarian dari keseharian kita yang mulai membosankan.

Sunday, February 05, 2006

Singapore: Kawinan dan Perjalanan Pulang (1 Januari 2006)

Serba Instan
Pagi ini aku dapat giliran gak makan pagi di New Park Cafe, jadi menu makan paginya adalah Soupy Snax dan kentang Risotto. Tipikal orang Indonesia... cinta makanan instan.

Mustafa Center
Selesai makan pagi, kita jalan-jalan ke Mustafa Center yang terletak tepat di belakang hotel. Yang namanya M
ustafa Center itu dari luar kelihatannya kecil, tapi di dalamnya bok... ternyata gede banget. Mereka buka 24 jam sehari, 365 hari dalam setahun.


Jualannya macem-macem banget dengan harga yang relatif murah. Dari mulai perhiasan emas, elektronik, makanan, baju-baju, souvenir, obat-obatan, tas, alat-alat rumah tangga, bahkan ada sarung cap gajah duduk. Contohnya mug bergambar Merlion, di Lucky Plaza harganya S$8, sedangkan di Mustafa Center hanya S$4.50. Yang bikin ngiler, di sana banyak tersedia coklat berbagai merk dan rasa dengan harga bersaing. Yummy…

Setelah puas muter-muter dan kelaparan, akhirnya kita balik ke hotel untuk Check Out dan menitipkan barang di Concierge. Lobby hotel itu seperti tempat penimbunan koper. Kayaknya semua orang menitipkan barangnya di Concierge.

IMM, Jurong East
Setelah check out, kita langsung menuju IMM di Jurong East. Ternyata… lumayan juga harus jalan kaki agak jauh dari stasiun MRT ke mall-nya. IMM itu sejenis ITC Mangga Dua. Barangnya lebih murah-murah, di sana juga ada Giant. Tapi… rasanya sih variasi barang yang dijual sekarang gak sebanyak 5 tahun yang lalu. Dulu ada toko sepatu gede yang harganya oke, sekarang udah gak ada lagi.

Di sana kita makan siang di KFC. KFC di situ bergabung dengan Pizza Hut dan Taco Bell. Aku pesan Bean Buritto dan Spicy Flava (sejenis Hot n Crispy tapi ditambah dengan Sweet n Sour Sauce). Cukup unik juga.

Gak seperti dulu, kali ini di IMM ternyata gak ada yang menarik, selain Baby Eeyore Kecil dan Pineapple Pie-nya Old Chang Kee (sesuai rekomendasi Rama).

Clementi dan sekitarnya

Dari IMM, naik shuttle bus ke stasiun Jurong East lagi (wuah, paling enggak jadi gak perlu jalan kaki!), terus naik MRT ke stasiun Clementi. Di sana kita nunggu dijemput sama Rama.

Dari stasiun Clementi kita naik bis ke rumah Rama. Di sana ngemil dikit (Pie-nya Old Chang Kee), minum, ganti baju, dan dandan. Setelah itu diantar Rama lagi sampai ke halte bis, kemudian kita naik bis lagi ke rumah Iwan.
Bisnya double decker loh... (di Jakarta pun gak pernah naik bis tingkat...)

Kawinannya Iwan agak unik. Dilakukan dengan adat Jawa, dandanan mantennya, dekorasi pelaminannya, semuanya sesuai dengan adat Jawa, tapi makanannya Melayu (Spicy semua). Trus ada gamelannya (katanya sih dari perkumpulan orang Yogya yang tinggal di Singapore), sedangkan souvenirnya didatangkan langsung dari Malang, berupa ukiran kaligrafi.

Dah gitu, kawinan di Indonesia itu tamunya salaman dulu sama manten, setelah itu baru makan. Di sana begitu datang kita makan dulu, setelah itu baru salaman dan foto sama mantennya. Habis itu baru boleh pulang. Agak canggung juga, abis gak tauk kebiasaannya gimana. Mana perut sudah kita isi penuh pula di IMM... karena memang lapar sejak jam ½ 12 tadi, terus juga gak yakin bakalan cocok sama masakannya. Ternyata emang makanannya spicy semua kan...

S
ekitar jam 5, kita meninggalkan rumah Iwan. Begitu masuk ke bis kota, BRESS...!!! hujan lebat turun... oh dear... ini dia perjalanan panjang di tengah hujan... Sampai di stasiun MRT Clementi, kita langsung naik MRT menuju ke Douby Ghout. Duh... MRT-nya penuh banget... Dari Douby Ghout terus oper ke arah Ferrer Park. Wuah... pegel juga rasanya... hampir sepanjang perjalanan gak kebagian tempat duduk, hiy... mulai agak-agak sakit pinggang neh...

Untungnya ketika kita sampai di Ferrer Park, sudah tidak hujan lagi. Kita pun jalan ke hotel lagi. Kemudian ganti pakaian di toilet hotel. Setelah itu memutuskan untuk naik taksi ke Changi, sudah terlalu teler untuk naik MRT. Porter yang bantu kita ngangkat barang ke taksi sepertinya dari Indonesia. Bahasa Indonesianya bagus banget, tapi kita gak sempet mengkonfirmasi.

Perjalanan Pulang
Perjalanan ke Changi memakan waktu kira-kira ½ jam, di dalam taksi aku tidur, dan baru terbangun waktu masuk kompleks Changi. Wah... ternyata dari New Park Hotel sampai dengan Changi menghabiskan biaya S$13.60.

Waktu turun dari taksi, kita sempet dibuat takjub oleh kepedulian pak supir taksi. Ndoro membayarkan sebesar S$14.00, dengan harapan sisanya bakal diambil oleh pak supir, ternyata 40 sen pun dia kembalikan. Sebenarnya itu adalah hal simple, tapi menunjukkan betapa si pak supir ini menyadari pentingnya service excellence, pokoknya jangan sampai konsumen dirugikan sepeser pun. Dah gitu, waktu dia melihat kita mulai mengangkat sendiri koper-koper dari bagasi, dia langsung panik sendiri dan melarang kita untuk ngangkat sendiri, bahkan kemudian dia juga mengambilkan kereta dorong.

Tiba di Changi kira-kira jam ½ 7 malam. Ada sesuatu yang kurang... ternyata di pintu masuk airport tidak ada Xray seperti layaknya di airport-airport di Indonesia. Kemudian kita langsung check-in di counter Garuda. Nah... di sini... yang namanya kartu ”Frequent Flyer” bener-bener ada artinya. Kalo punya GFF (Garuda Frequent Flyer) antreannya lebih sepi. Sedangkan kalo di Soekarno-Hatta, counter check-in khusus GFF justru lebih penuh dibandingkan yang biasa, saking banyaknya yang punya GFF.

Waktu yang harus dihabiskan lumayan panjang, karena pesawat kita, GA833, jadwal takeoff-nya jam 21.45. Akhirnya window shopping dulu, tapi lama-lama capek, dan jetlag. Jadi kita pun mencari tempat nongkrong yang menyediakan makanan ringan sesuai selera. Kita menemukan toko oleh-oleh khas Singapore, Singapore Premium Food Gifts, yang menyediakan menu roti Kaya dan minuman coklat, lengkap dengan tempat nongkrongnya. Lumayan lama juga nongkrong di situ.

Jam ½ 9 kita keluar dari kios itu... waktu melihat ke display Departure, tertulis bahwa GA8332 diundur menjadi 22.15, hmm.... delay ½ jam donk. Dan gate-nya dipindahkan jadi gate 31 (semula tertulis 35 di boarding pass). Karena gate 31 belum dibuka, kita nunggu di kursi-kursi yang ada di depan gate 31.

Jam 21.20 gate 31 baru dibuka. Kita sudah ngantre paling depan untuk checking barang, tapi... waktu aku memberikan boarding pass ke mbak-mbak petugas. Si mbak bilang bahwa kita salah masuk gate, penerbangan kita GA833, bukan GA8332. Seharusnya kita di gate 37. APA?! Jadi dari tadi kita salah sangka...!!! Kita pikir display Departure itu kelebihan ngetik angka 2, ternyata memang itu adalah penerbangan yang berbeda.

Begitu keluar dari gate 31, sambil berjalan ke arah gate 37 yang ternyata letaknya di ujung lain dari sayap itu, kita melihat ke display Departure lagi. Ternyata GA833 sudah terletak di urutan pertama dan statusnya sudah Gate Closing. WHHUUAAA!!!! Pesawat itu sama sekali gak di-delay...

LARI!!!! Maksudnya... aku menyuruh Ndulo dan Ndoro lari duluan, karena aku sudah terlalu ngantuk dan jetlag untuk lari-lari... sementara aku setengah lari sambil menggeret-geret koper yang kuncinya patah. Yaa... hari itu terpaksa membawa 1 koper ke dalam kabin, karena kuncinya patah dalam perjalanan Jakarta-Singapore.

Untungnya... di depan gate 37 para penumpang masih ngantre lumayan panjang. Wah gile... untung aja gak sampe ketinggalan pesawat. Kita emang gak teliti sih... tapi mereka juga error loh, di boarding pass kan ditulis gate 35, tapi ternyata sebenarnya di gate 37....hehehe....

Tapi... kok penumpangnya banyak banget ya? Kayaknya ruang tunggunya sudah penuh, tapi masih juga ada yang ngantre... Ternyata oh ternyata... setelah kita boarding, terjawab juga keherananku: pesawatnya Airbus bok... gak naik 737 seperti waktu berangkat.

Perjalanan gak terasa lama.
Menu makanan kali ini adalah ikan, tapi sudah gak selera makan, mungkin karena tadi sudah makan roti Kaya. Karena jetlag banget, aku minum sedikit anggur, maksudnya biar kalo bobok bisa nyenyak banget, tentu saja minumnya gak sampe mabok, meskipun jadi sedikit lebih berbahagia, cengar-cengir...

Mendarat di Jakarta, seperti biasa pada ke toilet dulu, terus ngantri di Imigrasi gak terlalu lama. Nah setelah itu.... nunggu koper. Entah gimana... koper ini luar biasa lama. Sudah kopernya gak kunjung keluar, sekalinya keluar juga jarang-jarang... padahal jumlah koper yang harus dikeluarkan kan banyak, namanya juga Airbus yang terisi penuh. Saking lamanya, aku sampe jongkok di pinggiran ban berjalan.

Setelah mendapatkan kembali kedua koper yang dimasukkan bagasi, kita pun keluar dari airport... oya, naik dulu ke lantai Keberangkatan....karena biasanya dijemput di sana. Wuah... karena liftnya keliatannya gak bisa diharapkan, ya sudah.... terpaksa angkat koper sambil naik tangga.

Perjalanan dari Airport ke rumah memakan waktu gak sampai ½ jam (biasanya minimal 1 jam, kalo lagi macet banget bisa 2-3 jam). Waaaahhh... Besok harus kembali lagi ke ”dunia nyata” bersama dengan data-data SAP yang kucintai!!

Saturday, January 07, 2006

Singapore: Lautan Manusia (31 Desember 2005)

Plaza Singapura
Setelah selesai makan pagi, kami menuju ke Plaza Singapura dengan menggunakan MRT (turun di stasiun Dhoby Ghout).
Tujuan pertama adalah mencari Snoopy’s Place, restoran bertemakan Peanuts. Tapi setelah mencari-cari dan bertanya-tanya, ternyata resto itu sudah tutup setahun yang lalu. Yaahh…. :-(

Di lantai 6 Plaza Singapura ada Yamaha Music School. Mereka juga menjual alat musik dan buku-buku musik. Aku membeli buku piano Cole Porter. Setelah itu kita ke toko buku Times, niatnya mencari buku kedokter
an keluar Oxford, tapi tidak ada.

Sambil menunggu Rama, kita masuk Carrefour. Rama adalah guide kita hari itu, eh salah… maksudnya temanku di PSM dan IF yang kebetulan bekerja di Singapore. Di Carrefour kita belanja lakban untuk mengikat salah satu koper yang kuncinya patah, terus beli converter untuk colokan kaki 3 supaya bisa nge-charge HP. Mahal juga euy… colokan gitu doang harganya S$6.

Magic Wok Restaurant

Setelah ketemu Rama, kita diajak makan siang di resto Thailand di daerah City Hall. Untuk menuju City Hall kita naik bis. Asik juga… belum pernah naik bis di Singapore sih. Tinggal pakai EZLink aja, kartu yang sama dengan yang kita pakai untuk naik MRT.

Resto Thailand langganannya si Rama namanya Magic Wok Restaurant. Kita memesan nasi nanas, udang cereal, cah kailan + daging, dan sup tom yam. Sayangnya aku lupa gak ngambil gambar makanan kita, karena dah keburu laper. Makanannya cukup unik, enak dan lezat.

Meja tempat kita makan agak-agak mungil, piringnya jadi desak-desakan deh… Yang lucu… resto itu sempat memutar lagu Jujur-nya Radja, jadi lupa kalo lagi gak di Indonesia.

Music Essentials

Dari
City Hall
kita kembali ke Orchard dengan naik MRT dan turun di stasiun Sommerset. Tujuan pertama di Orchard adalah toko buku musik yang ada di Meridien. Banyak banget orang di sepanjang jalan yang kita lalui. Menurut Rama, kalau weekend apalagi peak season seperti itu, kemungkinan untuk ketemu teman jauh lebih besar.

Ternyata toko buku musik yang dimaksud oleh Rama adalah Music Essentials, toko yang sama dengan yang aku lihat di Specialists’ Shopping Centre 5 tahun lalu, tempat membeli partitur Encore!. Music Essentials yang di Meridien jauh lebih besar, koleksinya juga jauh lebih banyak. Di situ kita beli buku piano Gershwin dan partitur piano untuk 6 tangan-1 piano (biar bisa dimainkan bareng-bareng bertiga).

HMV

Dari Music Essentials, kita ke Hereen Shopping Centre. Di situ ada HMV, toko CD yang konon kabarnya paling lengkap dan paling besar di Singapore (masa’ sih?). Yang jelas sih, Erik sangat merekomendasikan. Ternyata… emang gede sih… ada 3 lantai. Lantai pertama berisi DVD dan CD-CD lagu yang lagu ngetop, lantai kedua berisi CD-CD Pop dan Rock, lantai ketiga yang unik, isinya lagu Asia, Jazz, dan lagu Klasik.


Pas kita mau keluar dari Hereen, HU
JAN LEBAT!!! Wah… gimandang dunk? Kata Rama memang akhir-akhir ini di Singapore sering hujan (iya lah, Jakarta juga kok). Setelah terjebak beberapa lama, akhirnya kita ngafe dulu sambil menunggu hujan reda. CafĂ© Spinelli itu terletak di halamannya Hereen, tapi dinaungi canopy transparan, jadi gak kena hujan. Asik juga, kesannya kayak duduk di tengah hujan, sambil ngeliatin orang lain lalu lalang kehujanan. Hehe… tapi kalo sampai tiba-tiba hujannya jadi lebat banget dan disertai angin, kayaknya kita bakalan basah juga tuh…

Takashimaya

Setelah hujan agak reda, kita pindah ke Takashimaya. Tujuannya adalah cari Kinokuniya. Kata Rama toko buku
Kinokuniya itu terbesar di Asia Tenggara. Bukunya emang paling lengkap, buku kedokteran yang dicari ada di dalam list mereka, tapi stocknya habis. Akhirnya beli Harry Potter saja, lebih murah dari di Jakarta, karena ada discount.

Dari Kinokuniya kita pindah ke Giordano. Giordano di luar Indonesia (Singapore, China, Hongkong) harganya lebih murah dibandingkan dengan yang di Indonesia.
Pembelinya… banyak orang Indonesia.

Dari Takashimaya kita nyebrang ke Wisma Atria… Wuah… bener-bener deh… lautan manusia! Di terowongan pejalan kakinya aja macet bok. Serasa ngantre di dufan.

Borders

Dari Wisma A
tria kita langsung ke Borders di Wheelock. Borders juga toko buku yang lumayan gede. Tapi lagi-lagi dia gak punya koleksi buku kedokteran yang dicari. Interiornya dibuat sedemikian rupa jadi terasa cozy, rasanya betah gitu loh untuk berlama-lama di situ. Beda dengan Kinokuniya yang kesannya dingin. Di Borders ini kita ketemuan sama Hendra, anak IF 97, temannya Rama. Lumayan lama juga kita di Borders.

Setelah itu kita keluar dan berpisah sama Hendra dan Rama. Mereka mau ke Clarke Quay, sedangkan kita mau ke Hyatt untuk ketemu om Rudi dan tante Bebet.


Hotel Hyatt
Duile... nih hotel... pengamanannya melebihi paspampres-nya Indonesia. Perasaan jaman Megawati ke Aula Barat dulu, pengamanannya gak segitunya deh. Kalo gak punya Guest Card atau undangan, kita sama sekali gak boleh masuk lobi. Alhasil tante Bebet harus keluar sampai ke teras hotel untuk menemui kita.

Dari hotel Hyatt kita ke Lucky Plaza untuk belanja pernak-pernik oleh-oleh, sekalian makan malam. Setelah itu naik MRT dari stasiun Orchard sampai Douby Ghout, terus masuk Carrefour lagi untuk beli Eeyore dan permen coklat.

Duh, mulai pegel nih… kayaknya jetlag yang menumpuk dari kemaren mulai terasa efeknya. Untung nggak ikutan Rama dan Hendra ke Clarke Quay. Dari Carrefour kita naik MRT lagi sampai ke Farrer Park. Sampai di hotel kira-kira jam 10.


Setelah itu kita beres-beres, mulai packing untuk persiapan pulang. Gak terasa… tau-tau sudah jam 12. Tepat jam 12, tiba-tiba ada bunyi BOING! Seperti ledakan meriam… ternyata ada Kembang Api!! Wah… senangnya… ternyata bisa nonton “siaran langsung” kembang api dari kamar hotel. Sungguh tak terduga...

Selamat tinggal 2005, selamat datang 2006!!

Singapore: Menuju Singapore (30 Desember 2005)

Bandara Soekarno Hatta
Bandara Soekarno Hatta penuhnya bukan main, maklum lah… peak season. Aku yang sudah mengantuk sejak siang hari di kantor, pengennya cepet-cepet cari sofa di Exec Lounge-nya Citibank. Setelah ngantre check-in, bayar fiscal, ngisi kartu keberangkatan, ngantre di Imigrasi, akhirnya kita bisa masuk ke Exec Lounge. Duile… tapi sofanya sudah dipakai semua, yah tak apalah… kursi biasa juga oke.

Ada makanan apa aja? Yang cukup kuingat adalah: Pangsit Penganten!! Wuaaa… kok ada di sini… kirain hanya ada di Bogor atau di acara pengantenan. Pangsit penganten itu terdiri dari pangsit berukuran mini, kemudian disiram dengan kuah yang berisi daging ayam dan potongan sayur-sayuran.

Terus untuk minuman, yang aku ingat adalah dia menyediakan bubuk coklat. Wah jarang-jarang loh, biasanya untuk minuman panas yang tersedia hanya teh celup, bubuk kopi, krimer, gula pasir, dan gula diet.

Satu hal lain yang cukup menarik perhatian adalah: kamar mandinya! Exec Lounge di situ kira-kira besarnya sama dengan Exec Lounge-nya Citibank yang di terminal Domestik. Tapi…di terminal Domestik mereka punya 3 kamar mandi, sedangkan di sini hanya 1. Terpaksa deh kalau mau ke kamar mandi mesti ngantri panjang. Kecil banget pula kamar mandinya. Ditambah lagi… ada “tanda mata” di dalam kloset-nya… hiiii…. parah deh. Exec Lounge kok kayak gitu.

Penerbangan
GA
832
Pesawat kita boarding tepat waktu. Agak kaget juga, kok ternyata pesawatnya pake B-737. Kirain kalo penerbangan internasional minimal pake Airbus. Yang menyebalkan, meskipun boarding tepat waktu, ternyata kita take off terlambat sekitar 15 menit, karena menunggu penumpang yang bermasalah di Imigrasi. :-(

Herannya lagi… makanan di pesawat tuh hanya ada 1 pilihan. Padahal waktu terbang ke Medan dan ke Balikpapan, ada 2 pilihan loh. Hmm… mungkin alasannya adalah karena penerbangan Jakarta-Spore itu hanya 1 jam 15 menit. Kalau ke Medan dan Balikpapan kan 2 jam. Waktu yang digunakan untuk melayani seorang penumpang lebih lama kalau makanannya ada 2 pilihan. Si pramugari kan harus bertanya dulu kepada setiap penumpang, misalnya gini: “Mau makan apa mbak? Nasi Ayam atau Ikan Kentang?”, baru setelah itu dia memberikan makanan kepada si penumpang. Sedangkan kalo hanya ada 1 pilihan, dia tinggal memberikan makanan kepada si penumpang tanpa bertanya-tanya lagi. Untuk penerbangan 1 jam 15 menit, kalo pake nanya-nanya segala… waktunya tidak cukup, ketika penumpang yang terakhir kebagian makanan baru menyantap setengah porsi, pesawat sudah meninggalkan ketinggian jelajah.

Kita mendarat jam 22.05 waktu Singapore. Langsung menuju imigrasi. Bapak-bapak yang ada di India agak bingung melihat pasporku. Wah… mungkin dia bingung, ini orang namanya seperti India tapi kenapa tampangnya seperti China. Padahal bukan dua-duanya….hahaha…

MRT
Setelah mengambil barang, kita menuju ke Skytrain untuk pindah ke terminal 2. Dari terminal 2 mau naik MRT ke hotel. Agak bingung juga waktu masih di stasiun MRT-nya Changi, karena sekarang ada tiket EZLink, jaringannya juga sudah lebih luas dibandingkan lima tahun lalu. Untung mas-masnya sangat informatif. Kita beli 3 tiket EZLink, terus naik MRT ke stasiun Farrer Park. Dalam perjalanan menuju Farrer Park, kita pindah 3 kali, di stasiun Tanah Merah, City Hall, dan Douby Ghout.

Wah, enak deh pokoknya…. Transportasi Airport ke kota jadi murah meriah, serasa naik Damri ajah… syaratnya memang barang yang kita bawa gak boleh terlalu banyak dan hotel tempat kita menginap jangan jauh-jauh dari stasiun MRT.


Hotel New Park, Little
India
Kita turun di stasiun Farrer Park, yang terdekat dengan hotel New Park. Whooaaa… nyaris aja kesasar karena kita salah milih pintu keluar. Kita keluar di pintu C, padahal seharusnya di pintu A. Sempat mencoba melihat peta yang ada di stasiun sih, tapi malah tambah bingung. Untungnya begitu keluar dari pintu C, hotel New Park. yang ternyata 21 lantai itu langsung kelihatan, meskipun jauh. Jadi kita terpaksa jalan memutari taman sambil geret-geret koper.

Sampai di hotel kira-kira jam ½ 12 malam waktu Singapore. Konsumen hotel New Park pada umumnya berkebangsaan India. Cocok dunk kalo gitu, sama nama-nama kita… hihihi… kita langsung check-in dan memesan extra bed. Ternyata extra bed itu gak termasuk breakfast. Waaakksss… terpaksa deh mengeluarkan jurus Soupy Snax buat sarapan.

Kita dapat kamar di lantai 19. Kamarnya cukup bagus dan lengkap. Ada setrika dan meja setrikaannya segala (jarang2 loh hotel bintang 3), ada pemanas air juga (kalo gitu Soupy Snax bisa beraksi). Tapi ada sedikit masalah ternyata… colokan listriknya kaki 3!! Gak bisa nge-charge HP dunk. Lain kali jenis colokan listik harus masuk ke dalam survey yang dilakukan sebelum melakukan perjalanan ke luar negeri.

Padahal 3 hari sebelumnya, aku habis mengalami masalah yang sama di Aston Atrium. Di Aston, colokannya kaki 3 semua. Kalo Aston sih memang “hotel yang aneh”, udah tauk di Indonesia… kenapa juga dia sediain colokan listriknya yang kaki 3.

Monday, December 12, 2005

Sidoarjo

Tanggulangin
Dari dulu aku hanya denger cerita tentang Tanggulangin. Akhirnya... sekarang kesampaian juga ke sana. Menurut bu Nia, yang hari ini jadi ”guide” ke Tanggulangin, toko yang koleksinya lumayan ”miyayeni” adalah Mitra atau Purnama. Tapi hari ini kita gak ke sana, kita ke INTAKO, Industri Tas dan Koper, yang harganya lebih murah. Di INTAKO bukannya gak ada yang miyayeni. Ada juga... tapi musti sedikit berusaha mencari. Waktu bu Nia bilang ”miyayeni”, serta merta Irva bertanya: apaan tuh artinya?
Hehehe... akhirnya aku, bu Nia, dan pak Anton (supir mobil sewaan kita) berusaha menjelaskan dengan bahasa Indonesia. Intinya: miyayeni = berkelas, gak kampungan.

Ternyata INTAKO itu tempatnya mblusuk-mblusuk banget... di kampung gitu deh. Parkir aja susye... hmm... gimana kalo hari wiken ya? Pasti penuh banget deh. Di INTAKO, ternyata kita berhasil menemukan yang miyayeni kok. Masalah berikutnya.... gimana bawa pulangnya.... setelah geser sana-geser sini, ternyata muat juga masuk ransel bersama dengan Snoopy dan kamdig...

Toko Tanjung
Toko Tanjung adalah tempat beli oleh-oleh makanan khas Sidoarjo, kerupuk udang, bandeng asap, dsb. Konon kabarnya Bandeng Asep-nya paling toph... tapi sayang... bawaanku sudah banyak, kalo ditambah lagi bandeng asep, artinya nambah tentengan (gak mungkin masuk bagasi kan...).

Airport Juanda
Setidaknya airport ini lebih baik daripada Airport Polonia yang kayak pasar itu. Tapi... yang gak oke adalah pelayanan si Lion. Semua penerbangan Lion terlambat sejam, trus antrean check-in-nya itu loh... wuaahh... gak teratur banget. Udah pelayanannya lambat, banyak yang nyerobot pula. Akhirnya meja check-in penerbangan itu jadi ular naga panjangnya bukan kepalang....

Waktu lagi nunggu, Irva sempet nyeletuk: Asik kali ya, kalo ada artis, lumayan kan... jadi ada pemandangan. Nah, setelah topik ”pemandangan” tadi terlupakan, tiba-tiba lewatlah seorang yang cukup familiar, dan dia seorang artis: Rhoma Irama!! Sendirian aja, gak bawa rombongan seperti selayaknya artis. Tentu saja, dia juga gak bawa gitarnya... Ternyata keinginannya Irva terkabul.

Malang

Kalo ke Yogya buat wisata budaya, ke Malang buat wisata boga. Malang itu katanya Bandung-nya Jawa Timur. Salah satu kemiripan dari dua kota itu adalah masih banyak pohon di pinggir jalan. Trus kalo Bandung punya Lembang, Malang punya Batu. Baik Lembang maupun Batu punya agrowisata masing-masing.

Hotel Montana
Hmm... ini sih bukan termasuk obyek wisata boga, meskipun kata Bulo es krim dan cake-nya enak. Yang jelas hotel ini patut mendapatkan acungan jempol. Pokoknya Te-O-Pe Be-Ge-Te deh... aku puas banget, karena: 1) Kamarnya bersih, cozy. 2) Handuknya wangi. 3) Harganya gak terlalu mahal. 4) Kemaren itu seharusnya dihitung 2 hari, tapi karena aku check-in jam 5 pagi, mereka hanya hitung 1 ½ hari. 5) Bisa dibayar pake credit card tanpa kena persenan pula. 6) Letaknya strategis, di dekat tugu dan balaikota. 7) Tidak berkesan wingit dan tidak penuh tanaman seperti hotel Tugu. 8) Ada warnet dan wartel di sebelah hotel.

Kusuma Agrowisata
Kusuma Agrowisata terletak di kota Batu, sekitar ½ jam perjalanan dari Malang. Kalo Bandung punya Lembang, Malang punya Batu. Aku dan Irva memilih paket yang paling komplit, terdiri dari petik 4 buah strawberry, petik 2 buah apple, puding dan sari strawberry, jus apel dan 1 paket sayuran organik (sawi plus 2 buah cabe paprika)









Pertama, kami dibawa ke kebun petik strawberry yang terletak di dalam rumah kasa. Kebun itu sengaja diberi ”kelambu” supaya serangga tidak masuk, jadi tidak pakai pestisida. Di kebun petik itu ada 2 macam strawberry: Sweet Charlie (yang manis dan buahnya cantik) dan Three Star (kurang manis tapi buahnya besar). Setelah metik strawberry, kami dibawa jalan ke kebun jeruk dan kebun dragon fruit yang kriting kayak octopus. Setelah itu makan puding dan minum sari Strawberry. Hmm... serba strawberry...

Dari kebun strawberry, pindah ke kebun apel. Sebelum tur di kebun apel, minum jus apel dulu sambil liat-liat toko boneka yang ada di pintu masuknya kebun apel. Wah... ada Snoopy, jadi beli 1 deh, Snoopy bertelinga biru. Habis itu jalan-jalan di kebun apel, dipetikin buah ceri sama mas-mas guidenya, terus masuk ke kebun bunga. Uwah... cantik-cantik bunganya... paling naksir sama kastuba yang daunnya jadi merah kalo akhir tahun.









Dari kebun bunga, akhirnya sampai juga di tempat pemetikan apel. Setelah milih-milih.... akhirnya mas-mas guidenya juga yang metikin, abis buah yang bagus posisinya tinggi-tinggi sih. Setelah metik apel, aku belanja produk-produk apel: selai apel dan jenang apel. Kalo apel pie-nya kurang enak. Ekspektasiku adalah apel pie seperti Apple Strudel-nya Cafe Wien, atau minimal seperti apel pie-nya Pia Pie, ternyata... kulitnya terlalu tebal, isi apel-nya juga terlalu kering. Kalo selai apel-nya sih enak. Lumayan sukses deh... Aku sudah coba makan pake roti dengan 2 cara mengolah. Yang pertama, rotinya dipanggang dulu baru dikasih selai. Yang kedua, rotinya dikasih selai dulu, baru dipanggang. Rasanya lain, tapi dua-duanya enak... hehehe...Bisa juga setelah dikasih selai, terus dikasih taburan kayu manis, baru dibakar.

Selecta
Dulu aku dan Irva mengenal Selecta hanya dari permainan monopoli. Penasaran juga, kayak apa sih yang namanya Selecta, kok terkenal banget di monopoli. Tapi sebenernya rada males juga, ada yang bilang gak ada apa-apanya di Selecta, terus ada juga yang bilang kalo Selecta itu salah satu tempat liburannya Presiden Soekarno. Waktu aku tanya: Pemandangannya apa? Jawabannya: Orang mandi. GUBRAK!!

Ternyata... akhirnya semua terjawab setelah kita sampai di sana. Di Selecta memang ada kolam renang yang lumayan gede, makanya ada yang bilang kalo pemandangannya adalah orang mandi. Selain kolam renang itu, obyek lainnya pasar bunga, terus juga vila-vila tua, gak ada lagi.
Mungkin kalo dibikin wisata dugem di situ, atau kafe yang unik, para penggemar dugem dari Malang gak segan-segan berkunjung ke sana. Yah... macemnya orang Bandung pada pergi ke The Peak, atau Kampung Daun lah... sama jauhnya kan?

Bakso Kota Cak Man
Akhirnya... makan bakso malang di kota Malang. Dijamin asli kan? Beberapa hari sebelumnya, aku sempat makan Bakso Malang Karapitan di Sarinah Jakarta. Aku pikir: aku kan mau ke Malang, sebelumnya harus benchmark bakso dulu dengan yang ada di luar kota Malang. Setelah merasakan bakso malang yang asli, aku bisa bilang bahwa ternyata BMK tuh emang kurang otentik. Yah... namanya juga bakso malang tapi bikinan orang Bandung. Namanya orang Jawa, kalo gak makan nasi kurang marem katanya. Masa’ makan bakso pake lontong sih? Padahal kan sudah ada mie... Begini nih.... tampangnya bakso malang yang aku makan. Hihihi... itu lagi kelaparan ceritanya.

Keripik Tempe Bu Noer
Pertama kali makan keripik tempe ini, aku hanya tertarik dengan namanya: Bu Noer. Aku pikir: Lucu sekali keripik tempe ini, namanya sama dengan ibuku dan lima orang saudaranya. Waktu itu aku hanya ngicip sedikit, setelah itu aku taroh di lemari. Ketika aku mencoba mencari lagi, ternyata sudah raib.

Kedua kali makan keripik tempe ini... 2 kantong hampir aku habiskan sendiri. Hehehe... uwenak tenan ternyata, apalagi yang BBQ. Minyaknya nggak tengik pula. Makanya begitu dapat kesempatan ke Malang, aku bertekad untuk beli keripik tempe Bu Noer.

Letaknya emang agak masuk gang yang gak begitu besar. Setelah sedikit kesasar, akhirnya ketemu juga tokonya. Mereka menyediakan keripik tempe aneka rasa, ada rasa BBQ, Keju, Udang, Burger, Spaghetti, Pizza, apalagi ya? Sayangnya kemaren keripik tempe rasa keju-nya habis (wah, pasti enak tuh, makanya habis). Selain keripik tempe, produk mereka yang lain adalah keripik buah-buahan yang dikemas dengan kantong aluminium, supaya gak mudah melempem. Ada keripik apel, keripik nangka, keripik melon, keripik semangka, keripik mangga, keripik nanas, untungnya gak ada keripik rambutan.

Toko Oen
Memasuki toko Oen, serasa memasuki mesin waktu dan kembali ke jaman penjajahan Belanda. Interiornya dijaga supaya tetap berkesan tua, meja-kursinya tua, kordennya model tua, sampe-sampe ada spanduk dalam bahasa Belanda. Menu makanannya dalam bahasa Belanda. Pengunjungnya pun banyak orang-orang Belanda yang sudah tua, mungkin sedang bernostalgia. Rasanya jeans dan t-shirt-ku jadi gak matching dengan suasana toko itu, apalagi kamdig-nya.

Sesuai saran Bulo, kami memesan Sparkling Delight: es krim mocca, es krim vanilla, dicampur dengan potongan buah, kemudian diberi kembang api. Lucu sekali... Mas-masnya sampe menawarkan kembang api baru ketika aku hampir gagal memotret percikan kembang api di atas gelas.

Oya, baik roti maupun es krim yang dijual di toko Oen, merupakan buatan toko itu sendiri, dengan bahan-bahan alami.

Malang Town Square
Dari toko Oen, kami berpindah ke Malang Town Square yang terletak di sebelahnya Taman Makam Pahlawan. Kalo ini sih... mall jaman sekarang, gak jauh beda dengan yang ada di Jakarta. Sudah jauh-jauh ke Malang... tetep aja yang dikunjungi adalah MATAHARI.

Toko Oen lagi
Malamnya... kami mencoba berjalan kaki dari hotel ke Gramedia (di sebelah toko Oen). Hampir aja kesasar di Jl. Brawijaya. Duh, gelap banget pula di jembatan yang ada di Jl. Brawijaya itu, agak-agak horor jadinya. Hmm, jadi diputuskan pulangnya naik angkot saja.

Dari Gramedia, ke Sarinah, setelah capek dan hanya dapat marker (spidol), kami putuskan untuk makan malam. Dimana? Ada McD... atau toko Oen lagi.

Masuklah kami ke toko Oen. Kali ini memesan Bistik Lidah (juga atas anjuran Bulo). Unik banget sih, belum pernah ketemu yang seperti itu sebelumnya. Lidahnya dipanggang garing, kemudian diberi saus coklat muda (kayaknya sih mushroom sauce atau sejenisnya).

Tugu dan Balaikota Malang







Sebelum beranjak ke Surabaya, sempat jalan-jalan dulu di Tugu yang terletak di depannya Balaikota Malang. Di kolam yang mengelilingi Tugu, banyak sekali bunga teratai, cantik banget. Ternyata... nyebrang di Tugu itu susahnya bukan main, banyak banget mobil dan kenceng-kenceng pula. Harusnya aku bisa nyebrang langsung ke depan hotel Tugu, akhirnya nyebrang dulu ke depan Balaikota, baru abis itu nyebrang jalan ... ke depan hotel Tugu.

Yogyakarta

Banyak tema yang bisa diambil dari kunjungan ke Yogya, misalnya wisata belanja, wisata boga, wisata adventure, wisata pendidikan, dll. Tema yang kupilih kali ini adalah wisata budaya.

Pariwisata di Yogya sudah banyak berkembang sejak terakhir kali aku mengunjungi obyek-obyek wisata unggulan di sana bersama SMP 41 (kira-kira 10 tahun yang lalu). Sekarang ini sudah lebih teratur, informatif dan juga terstandarisasi, seperti yang aku lihat di China.

Obyek pertama yang dikunjungi adalah tempat kerajinan perak Kotagede. Dalam perjalanan menuju Kotagede, kita melewati daerah Glagah Sari. Konon di daerah itu banyak sekali kampus. Hmm... mungkin sejenis jl.Dipati Ukur di Bandung, daerah Salemba di Jakarta, atau jl.Margonda di Depok. Ketiganya juga berisi kampus, kampus, dan kampus.

HS Silver, Kotagede
Begitu turun dari mobil, mas Ghani menyerahkan kami pada guide-nya HS Silver. Sebelum melihat-lihat isi toko, kami diberi penjelasan dulu mengenai cara pembuatan perak. Sayangnya karena hari itu adalah Minggu Sore, jadi para pengrajin banyak yang libur, atau sudah pulang, hanya terlihat 3 orang yang bekerja. Terpaksa penjelasan diberikan lewat foto-foto yang memang dipasang untuk mengantisipasi keadaan seperti itu.

Kami sempat menonton bapak-bapak yang sedang menyolder. Duh, bapak itu sudah lumayan tua, tapi matanya masih awas banget. Barang-barang yang dia solder itu mungil-mungil banget. Nah, menurut mas-mas guide HS, menyolder itu adalah pekerjaan yang paling susah untuk dipelajari dalam tahapan pembuatan perak. Untuk belajar menyolder, dibutuhkan waktu yang sama dengan.... kuliah S1! Wah...wah... lama juga ya.

Sendratari Ramayana
Pertunjukan sendratari Ramayana yang paling nge-top ada di Candi Prambanan, tapi mereka hanya pentas sekitar bulan April-Oktober saja setiap tahunnya. Malam itu, kami menonton Ramayana di Purawisata.

Sebelum acara mulai, kami makan malam dulu di restonya. Makanan disajikan secara buffet. Rasanya sih enak, tapi kombinasinya agak aneh: makanan barat, campur Jawa, dan campur lagi dengan Padang. Ada sup ayam dengan roti, salad, kentang goreng, nasi goreng, gudeg, gado-gado, udang goreng tepung, bakwan, sate, balado terong. Jadi bingung mau makan apa...

Sambil makan, kami disuguhi gending Jawa yang dimainkan secara live, juga sedikit tari-tarian. Gak lupa foto-foto sama para performernya. Setelah makan, kami masuk ke teater terbuka untuk nonton Ramayana. Untungnya hari itu gak hujan, denger-denger sih Purawisata sudah langganan pawang hujan.

Koreografinya oke banget, cukup dinamis lah. Apalagi Hanoman-nya, bisa debus kali ya... dia sempat menggulung-gulung dirinya di atas api pas babak Hanoman Obong. Karakter favorit malam itu adalah Kumbokarno dengan badannya yang tinggi dan rambutnya yang terjuntai-juntai. Sayangnya pas sesi foto, yang ada hanya Rahwana, Rama, Shinta, dan Hanoman.

Pertunjukan berlangsung selama 1 ½ jam. Di antara penonton, mungkin hanya aku dan Irva yang orang Indonesia, sisanya bule atau orang Jepang. Makanya narasi juga dibawakan dalam bahasa Inggris. Kalo ilustrasi musik sih, tetep bahasa Jawa donk.

Candi Borobudur
Perjalanan dari Yogya ke Borobudur memakan waktu nggak sampai 1 jam. Taman wisatanya jauh lebih rapih dibandingkan 10 tahun yang lalu. Borobudurnya sendiri gak banyak berubah.

Mas Ghani sempat menjelaskan sedikit tentang cerita kelahiran Buddha yang ada di relief level pertamanya Rupadhattu. Setelah itu kita langsung naik ke tingkat Arupadhattu yang penuh dengan stupa-stupa.

Kami sempat mencoba mencolek arca Kuntobimo. Konon kabarnya arca Kuntobimo ini dipercaya membawa keberuntungan. Ketika terjadi peledakan Candi Borobudur tahun 1985, arca Kuntobimo termasuk salah satu tempat yang dipasangi dinamit, tapi entah mengapa dinamit tersebut tidak ikut meledak.

Untuk mencolek arca Kuntobimo, ternyata gak sembarangan mencolek. Para laki-laki harus mencolek jari manisnya, sedangkan perempuan mencolek tumit kirinya. Para pengunjung beramai-ramai mencoba memasukkan tangannya ke sela-sela stupa Kuntobimo untuk mencolek arca Kuntobimo yang ada di dalamnya.

Kraton Yogyakarta
Di kraton Yogyakarta, kami dititipkan pada guide kraton yang bernama pak Gito. Penjelasan yang diberikan kepada setiap pengunjung sudah distandarisasi, baik dari segi urutan, maupun content-nya. Mereka juga menyediakan guide dalam berbagai bahasa.

Dulu aku tidak bisa menikmati kunjungan ke kraton, karena bagiku hanya lihat-lihat ruangan saja. Tapi sekarang sudah berbeda, para guide di kraton dapat memberikan penjelasan yang mendalam dan dilengkapi dengan cerita-cerita menarik.

Sultan HB yang sekarang ternyata tinggal di keputren, karena kebetulan anaknya perempuan semua. Kata pak Gito, keputrennya sudah disulap jadi tempat tinggal modern, wong ada lapangan tenis segala. Tapi tentu saja... para pengunjung tidak diijinkan untuk melihat keputren tersebut.

Mas Ghani sempat menjelaskan tentang tanah-tanah pemberian Sultan kepada para abdi dalem dan juga kepada pemerintah dan masyarakat sekitar. Ada 1 ketentuan yang menyatakan bahwa tanah yang diberikan oleh Sultan itu tidak boleh dijual. Diwariskan, disewakan, dipinjamkan, dipakai untuk usaha, semua boleh-boleh saja, asal tidak dijual.

Namun ada juga yang tidak menggubris ketentuan itu. Tanah di jl.Malioboro sebenarnya adalah wakaf dari Sultan, seharusnya tidak boleh dijual. Tapi ada kasus dimana pedagang memperjual-belikan petak tanahnya di Malioboro sebesar 2x3 m2 seharga Rp.25 Juta!!

Candi Prambanan
Candi ini memang cantik. Dulu aku selalu melihatnya minimal setahun sekali, setiap melintas jalan Yogya-Solo, ketika mudik lebaran naik mobil. Tapi beberapa tahun terakhir ini sudah agak jarang. Mudik lebaran sudah tidak naik mobil lagi, atau kalaupun naik mobil tidak lewat Yogya.

Di candi ini, mas Ghani mengajak kita berkeliling di candi Siwa dan candi Brahma, dan bercerita tentang kisah Ramayana yang ada di relief kedua candi tersebut. Ternyata... ada sedikit perbedaan antara Ramayana versi Sendratari dan Ramayana versi relief Candi Prambanan.

Ramayana versi Sendratari adalah seperti Ramayana yang selama ini aku kenal. Cerita diakhiri dengan babak Shinta Obong, dimana Shinta diceburkan ke lautan api untuk mengetes kesuciannya. Bilamana Shinta masih suci, dia tidak akan terbakar. Sebaliknya, bilamana Shinta sudah dinodai oleh Rahwana, maka dia akan terbakar.

Tidak demikian halnya dalam Ramayana versi Relief Prambanan. Di versi Relief, setelah berhasil membunuh Rahwana, Rama dan Shinta bertemu kembali. Tapi ternyata Shinta dalam keadaan hamil. Karena merasa Shinta sudah tidak suci lagi, Rama membuang Shinta ke hutan. Padahal sebenarnya, ketika diculik oleh Rahwana, Shinta tengah hamil muda, mengandung anak Rama. Di hutan, Shinta melahirkan anak kembar, kedua anak tersebut dirawat oleh Shinta bersama-sama dengan pertapa Walmiki. 12 tahun kemudian, Shinta meninggal. Ketika kedua anak tersebut berumur 19 tahun, pertapa Walmiki membawa kedua anak tersebut ke hadapan Rama. Rama, yang akhirnya menyadari kekhilafannya, menyerahkan mahkotanya ke salah satu anaknya itu. Shinta dan Rama baru bertemu lagi di surga, setelah Rama meninggal. Yah, sedikit tragis memang, dan juga agak mirip sinetron.

Malioboro
Rasanya nggak komplit kalo ke Yogya tanpa mengunjungi Malioboro. Malioboro, terutama Pasar Beringharjo-nya, merupakan salah satu kawasan wisata belanja yang paling asik. Kuncinya adalah kita harus tahu harga dan sedikit tega dalam menawar barang.

Sayangnya karena kita terlalu sore, pasar Beringharjo sudah tutup. Jadi ya sudah... kami ke Mirota saja. Harga batik di Mirota memang lebih tinggi dibandingkan di pasar Beringharjo, tapi selisihnya nggak banyak banget. Mereka tidak terlalu me-markup harga.

Ngomong-ngomong batik nih, katanya orang Solo lebih konservatif dibandingkan orang Yogya... Hal itu kelihatan dari cara berpakaiannya. Batik Yogya warnanya lebih berani dibandingkan batik Solo. Batik Yogya banyak yang warna terang, bahkan ada juga yang biru, sedangkan batik Solo cenderung coklat, coklat, dan coklat. Cara melipat (wiron) kainnya juga berbeda... lipatan (wiru) kain Yogya lidah kainnya kelihatan, sedangkan lipatan kain Solo lidah kainnya disembunyikan.

Warna atasan pakaian pria (beskap) juga berbeda, kalo Yogya lebih warna-warni, malahan Bapak pernah pakai yang warna ungu dan krem, bahannya juga bisa macem-macem. Sedangkan Solo paling-paling hitam, coklat, bahannya juga hanya bahan jas. Btw, atasan pria ala Yogya itu ada yang namanya Sogok Upil. Waktu aku tanyakan kenapa namanya begitu? Begini jawabannya, bagian depan pakaian itu, sudutnya sangat lancip. Nah, karena lancipnya itu, jadi bisa buat ngupil. Entahlah, jawaban itu joke atau bukan...

Kereta Api Argo Willis

Dari Bandung ke Yogya naik apa? Ada 2 pilihan yang sempat aku pertimbangkan:
1.) Ke Jakarta dulu terus naik pesawat ke Yogya.
2.) Naik KA Argo Wilis.

Akhirnya aku pilih Argo Wilis. Karena menurut pengalamanku, kereta ini jarang telat. Sekitar 4 tahun lalu, aku naik kereta itu. Waktu itu sampai di Solo sekitar jam 14.15. Artinya sampai di Yogya sekitar jam 13.

Kali ini, ternyata di tiket KA tertulis jadwal sampai di Yogya adalah jam 13.55, hmm... kok? Lama betul ya....

Hari Minggu, 29 November 2005, berangkatlah aku dengan KA Argo Wilis dari stasiun Bandung, tepat jam 7 pagi. Perjalanan cukup lancar, meskipun lebih sering berhenti dibandingkan 4 tahun yang lalu. Mungkin karena itu jadwalnya jadi mundur.

Tapi... sekitar jam 9.15, kereta berhenti di stasiun Cipendeuy... dan tidak bergerak selama lebih dari 1 jam. Wah... kok begini ya? Ternyata... gerbong paling belakang rangkaian Argo Wilis itu, patah as rodanya.

Terpaksa menunggu kereta Lodaya (yang berangkat jam 8 dari Bandung) tiba di stasiun Cipendeuy itu. Kereta Lodaya yang kebetulan hari itu tidak terlalu penuh meninggalkan 1 gerbong kelas Bisnis-nya, kemudian meneruskan perjalanan.

Setelah Lodaya pergi (wah, kok jadi disusul sama Lodaya ya...), Argo Wilis mengganti gerbong paling belakangnya dengan gerbong kelas Bisnis yang ditinggalkan Lodaya. Jadi para penumpang yang ada di gerbong paling belakang itu pindah ke gerbong kelas Bisnis. Selisih harga tiket kelas Bisnis dengan kelas Argo dikembalikan ke para penumpang itu. Wah... bete juga kali ya, sudah membayangkan adem-ademan di Argo Wilis, ealah... ternyata naik kelas Bisnis juga... hehe.. tapi yang penting selamat.

Di tengah-tengah penantian yang tak kunjung berakhir itu, aku sempet mikir: kenapa aku gak milih naik pesawat aja yah... tapi ya sudah, mungkin aku memang harus dapat pengalaman unik ini.

Setelah berhenti sekitar 1 ½ jam, Argo Wilis pun meneruskan perjalanan. Seolah-olah ngejar waktu yang tadi dihabiskan di stasiun Cipendeuy, di antara stasiun Banjar dan Kroya, kereta itu ngebut gila-gilaan. Mau makan siang aja susah, karena nampan makanannya goyang-goyang.

Oya, rasanya dulu kursi penumpang di kereta api kelas Argo tuh dilengkapi dengan meja lipat deh, tapi sekarang enggak ada sehingga kita terpaksa harus memangku makanannya.

Jam 15 .55, sampai juga di stasiun Tugu, telatnya pas 2 jam dari jadwal yang tertera di tiket, dan 3 jam dari perkiraanku. Irva dan mas Ghani (guide kita) sudah menunggu di sana.

Offline Journal-ku

Ini catatan perjalananku yang terbaru. Kubeli di Pasar Balubur, Bandung, sehari sebelum berangkat ke Yogyakarta.

Mencari benda seperti itu bukan hal mudah di Pasar Balubur. Kebanyakan block note yang mereka jual dijilid biasa, kalopun ada yang dijilid ring, ukurannya terlalu besar untuk masuk ke tas.

Setelah bertanya-tanya ke beberapa toko, akhirnya ada juga benda yang sesuai dengan spec-ku: kecil, jilid ring, bergaris-garis, cover cukup kuat.