Thursday, August 27, 2015

Middle Earth Trip: Day 8

Pagi ini kami berangkat jam 5 dari hotel. Sarapan seadanya saja dengan sedikit biskuit dan minum teh/cokelat. Niatnya sih mau jalan kaki ke airport. Tapi berhubung ada tamu hotel lain yang mau ke airport dengan naik shuttle complimentary dari hotel, ya sudah yuk mari naik shuttle.

Sampai di airport kami melakukan printing boarding pass, kemudian menyetor koper ke bagasi. Lagi-lagi bisa dapat antrian yang cepat karena sudah online check-in. Setelah proses check-in, kami masuk ke lantai keberangkatan. Omla menghilang untuk setoran pagi dulu. Sementara Omla ke toilet, aku malah belanja boneka domba di toko buku Relay.

Mamak-mamak yang jadi kasir di toko buku Relay gak ngasih kantong kertas atau kantong plastik. Aku mau minta kok gengsi, takut dikira gak cinta lingkungan… Jadi awalnya aku gendong-gendong aja boneka itu. Pas Omla selesai dari toilet dan kami mau ke ruang tunggu dalam, baru deh bingung karena harus lewat X-Ray: masa’ domba warna putih mau dilewatkan di conveyornya X-Ray tanpa dibungkus? Untung nemu kantong plastik cadangan di dalam ransel. Si domba masuk ransel deh.

ruang tunggu Christchurch Airport yang sederhana tapi nyaman
Setelah melewati X-Ray, kami tiba di ruang tunggu dalam yang lebih mirip living room besar. Kursinya berbentuk sofa. Meskipun interiornya gak wah, tapi mungkin ini airport dengan ruang tunggu ternyaman yang pernah aku jumpai.

Jam 6 kurang kami dipanggil untuk boarding. Waktu pesawatnya take off di luar masih gelap. Di pesawat kami tidur aja. Gak kerasa tiba-tiba udah mau mendarat aja. Pas mendarat di Wellington, matahari baru mulai terbit. Suasananya persis seperti waktu kami mendarat di Sydney seminggu yang lalu.

Wellington Airport Apron
Waktu kami turun dari pesawat, dan melihat ke apron bandara Wellington, baru deh aku heboh dan bener-bener bangun…. Jadi di apron-nya ada tulisan besar dengan font yang cukup familiar: “Middle of Middle Earth”. Terus jalan sedikit ke arah pertokoan di lantai keberangkatan ada instalasi Gollum dan Gandalf + The Eagles, ukurannya lumayan gede. Norak-norak bergembira deh….

So juicy sweet.... Gollum... Gollum...
Setelah norak-norak bergembira di depan Gollum, kami turun ke baggage claim untuk mengambil koper (yang cepet banget tersedia kalo dibandingkan dengan di Jakarta hihihihi). Setelah itu berjalan ke tempat parkir airport shuttle. Pagi ini kami naik SuperShuttle lagi.

Waktu shuttle kami keluar menuju bandara, baru ngeh kalo ternyata di luar gerimis. Yaah… terus nanti siang gimana ya? Kan mau ikutan tour ke Mt.Victoria…. ntar kehujanan dong. Kalo menurut prakiraan cuaca sih shower-nya hanya pagi aja. Mudah-mudahan akurat ya….
Suasana kota Wellington
Kami termasuk yang diantar duluan (urutan kedua), karena tujuan kami ke Nomads Backpackers yang terletak di pusat kota.  Sampai di Nomads, langsung titip koper di gudangnya Nomads, habis itu bengong sebentar di ruang duduknya Nomads. Bingung mau ngapain dulu. Antara laper dan enggak, karena tadi pagi baru sarapan seadanya.

Akhirnya kami memutuskan untuk mencoba naik cable car. Dari Nomads kami jalan kaki ke Talavera Cable Car Station. Dengan bermodal offline maps dari Google Maps di Galaxy Tab jadul, ternyata sampai juga di tempat tujuan. Jalannya lumayan menanjak ternyata, kalo di Google Maps gak keliatan. Hihihihi….

Talavera Cable Car Station
Sampe di Cable Car Station, kami kebingungan. Gak ada loket tempat beli tiket, adanya hanya petunjuk harga tiket saja. Lagi bengong-bengong gitu, terdengar bunyi bel yang menandakan cable carnya mau lewat. Rupanya kami ada di sisi yang salah. Harusnya yang ke arah atas ada di sisi sebrang. Kami cepat-cepat nyebrang lewat jembatan penyeberangan. Tapi gak keburu mengejar pas cable carnya berada sejajar dengan peron. Jadi kami menunggu cable car berikutnya saja sambil (tentu saja) berfoto.

Kira-kira 10 menit kemudian, bel berbunyi lagi. Ternyata cable carnya gak pindah jalur, hanya balik arah saja. Jadi kami salah jalur lagi. Lari lagi lewat jembatan penyeberangan. Kali ini cukup cepat sehingga kami tiba di peron seberang sebelum cable carnya berhenti di peron. Masinisnya tanya apa kami mau naik ke arah uphill? Kami tanya balik: tiketnya gimana? Dia bilang naik saja dulu, tiket bayar di atas.

Suasana di dalam cable car
Kami pun berhasil naik sampai ke stasiun paling atas. Kami bayar tiket ke masinisnya, seorang mbak-mbak. Karena gak ada uang pas, si mbak hanya minta NZD 4 saja…. padahal harusnya kami membayar NZD 8 untuk berdua.

Wellington dari Wellington Botanic Garden
Keluar dari Stasiun, kami melihat-lihat sekitarnya. Di sana ada museum Cable Car dan pintu masuk Wellington Botanic Garden. Aku berharap ada cafe buat sarapan, kalau kata Google Maps harusnya ada, tapi sepertinya sudah tutup. Hanya ada bangunannya saja. Museum Cable Car belum buka karena masih terlalu pagi. Sambil menunggu museum itu buka jam 9.30 kami mengambil gambar ke arah pantai. Wellington ini mengingatkanku pada Balikpapan. Cukup metropolitan, tapi gedung-gedungnya gak terlalu pencakar langit, plus ada gunung-gunungnya.

Sayangnya foto-fotonya gak terlalu seru karena cuaca masih gerimis. Nah pada saat gegerimisan itu, aku baru sadar kalau scarf cotton ink merah yang dari tadi pagi aku pakai gak ada. Dicari di tas juga gak ada. Kemanakah gerangan scarf itu? Aku mencoba mencari di dalam stasiun. Gak ada juga…

Wellington Botanic Garden
Guess what? Pas cable car yang kami naiki tadi kembali ke stasiun paling atas, ternyata scarfku ada di dalam cable car, tergantung dengan manisnya di kursi paling depan. Huhuhu…. mau nangis terharu. Ternyata scarfnya masih rejekiku. Kalo di Jakarta udah diembat orang kali ya…

Museum akhirnya buka, kami masuk bareng dengan anak-anak SD yang sepertinya lagi karyawisata. Mereka tiba dengan cable car setelah kami. Di museum dijelaskan tentang sejarah Cable Car di Wellington, cara kerja Cable Car (info yang akhirnya membuat kami mengerti kenapa tadi kami sampai dua kali salah peron), dan juga beberapa benda koleksi. Ternyata oh ternyata, cable car itu dibangun sebagai sarana transportasi untuk para commuter yang tinggal di atas bukit. Jaman dulu ditawarkan tempat tinggal di atas bukit, tapi kalau tidak ada sarana transportasi yang memadai, perumahan tersebut pasti gak ada yang berminat.
Selesai dari museum, kami diskusi mau kemana selanjutnya. Omla sempat mau ke Zealandia, tapi shuttle ke Zealandia baru saja berangkat, kalo jalan kaki lumayan juga. Kemudian Omla usul untuk turun ke bawah jalan kaki via Botanic Garden, tapi menurutku terlalu buang waktu (dan buang energi, belum sarapan niy). Jadi aku menyarankan untuk turun ke bawah naik Cable Car lagi, kemudian langsung cari makan, habis itu ke Te Papa Museum. Berdasarkan info yang aku dapat, museum itu gede dan bagus banget, jadi gak mungkin cukup waktunya kalau hanya sebentar.

Kami turun sampai ke stasiun paling bawah di Lambton Quay yang ternyata berada di tengah-tengah deretan pertokoan. Bentuk pertokoannya mengingatkan aku pada George St. di Sydney. Keluar dari stasiun, kami berjalan menyusuri pertokoan ke arah Nomads sambil cari-cari restoran yang menarik. Ternyata…. gak nemu restoran yang oke. Jadi aku menyarankan untuk makan saja di cafe-nya Te Papa Museum. Kalau kata Google Maps ada cafe-nya, mudah-mudahan gak sesat infonya seperti cafe yang di dekat Cable Car Museum.

Te Papa Tongarewa
Waktu kami jalan menuju ke Te Papa, gerimis berangin masih terus berlangsung. Lumayan dingin sih… meskipun gak freezing kayak di Queenstown. Sampai di Te Papa, nitip tas dan jaket di penitipan, terus masuk cafe. Omla makan sandwich, aku makan muesli dengan saus blueberry.

Cumi Kolosal koleksi Te Papa
Toilet dalam bahasa Maori
Selesai makan, kami langsung masuk ke ruang pamer. Jadi museum Te Papa ini gede banget. Mungkin kalo di Indonesia tuh saingannya Museum Indonesia di TMII. Bedanya kalo Museum Indonesia  isinya hanya tentang kebudayaan saja, sedangkan museum Te Papa ini isinya dari mulai flora dan fauna (baik yang native maupun pendatang), geologis, lingkungan, kebudayaan, sampai sejarah migrasi masyarakat yang sekarang ada di NZ. Cara penyajiannya sudah tentu sangat menarik. Oh ya, museum ini gratis. jadi karena kami tau waktunya gak bakalan cukup, nanti sore bakal balik lagi ke sini.

Jam 13.30 kami balik ke seputaran Nomads. Otw ke sana, kami lewat venue yang lagi dipakai wisuda. Terus sempet galau sebentar di depan i-Site (sebrangnya Nomads), karena ga ada rekonfirmasi sama sekali dari Wellington Movie Tours. Ditelpon kantornya gak ada yang angkat pula. Begitu jam 2, kami check in di Nomads. Omla agak lama ngambil kopernya, ternyata koper-koper kami udah terhalang dengan koper titipan orang lain.  

Kami ke kamar sebentar untuk meletakkan barang, ke toilet, dan lain-lain. Sempet bingung nyariin perlengkapan lenongnya Omla (kalo gak salah sih beanie), kirain ilang, ternyata jatuh di depan pintu kamar. Masih rejeki berarti…. Setelah selesai urusan siap-siap, kami turun ke lobby lagi untuk menunggu Tour LOTR di seberang, tapi untuk keluar dari lantai 3 sempet hampir kesasar gara-gara layoutnya gedung itu agak membingungkan.  

Sambil berharap-harap cemas, kami menunggu di bus stop khusus tour LOTR di seberang Nomads. Datang gak ya….? Kartu kredit yang dipake untuk booking belum terdebet, makanya gak yakin apakah bookingnya terkonfirmasi.

Ternyata… jam 14.30, mobilnya datang. Penumpangnya ada 4 orang (3 lelaki bule + 1 mbak-mbak oriental), driver/guidenya mbak-mbak blondie bernama Alice. Dan nama kami sudah ada di daftar penumpang. Gak pake lama, kami segera naik.

Baru jalan sebentar, Alice menurunkan mas-mas bule 3 orang tadi di dekat Embassy Theatre. Rupanya mereka memang hanya mengikuti tour LOTR yang ke Kaitoke Regional Park aka Rivendell. Mbak-mbak oriental (yang ternyata dari Hongkong) mengikuti tour full day, sementara kami hanya mengikuti tour yang di dalam kota Wellington.
Wellington dari Mt.Victoria
Destinasi pertama adalah Mt.Victoria - Wellington Town Belt. Di lokasi ini jaman tahun 1999 dulu dilakukan syuting pertama film Lord of The Rings: adegan “Shortcut to Mushroom” dimana 4 hobbits jatuh terguling-guling lari dari kejaran Farmer Maggots sebelum ketemu sama Black Rider. Selain itu kami juga mendatangi pohon yang digunakan untuk syuting scene yang hanya ada di Extended Edition DVD (The Passing of the Elves), plus tempat 4 hobbits kejar-kejaran sama Black Riders sebelum lari ke Buckleberry Ferry.

Lokasi Shortcut to Mushroom
Tentunya kami foto-foto. Foto di pohon tempat Frodo dan Sam istirahat sebelum ngeliat rombongan Elves mau ke Grey Haven. Foto di cerukan tempat the hobbits sembunyi dari kejaran Black Rider. Foto di pepohonan dekat “Buckleberry Ferry”. Alice membawakan beberapa property yang bisa digunakan untuk pose: wajan lengkap dengan bacon-nya Sam + replica The One Ring.

Frodo dan Sam lagi leyeh-leyeh di Shire
Untuk berkeliling di seputaran hutan Mt.Victoria, perlu beberapa pre-requisites: 1) sepatu yang enak dan gak bikin kepleset, 2) fitness level yang gak jelek-jelek amat, karena tracknya turun-naik.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Miramar, di sisi Wellington yang lain. Di daerah ini lah fasilitas produksinya Peter Jackson tersebar. Ada yg bentuknya gudang biasa, ada yg gedung klasik, macem-macem. Tapi mostly sih gak pakai identitas.

Stone Street Studio, yang ngejreng itu Giant Green Screen untuk outdoor scene
Kami singgah di luar Stone Street Studio. Dari luar terlihat tumpukan container yg digunakan untuk giant green screen. Di depan green screen itulah banyak scene outdoor (yg sulit untuk diambil di lokasi) dibuat.

Park Road Post, post production facilities
Dari Stone Street, kami lanjut ke Weta. Jadi kami dibawa ke sebuah toko souvenir yang terletak di pojokan jalan. Di depannya ada patung 3 ekor cave troll. Di dalam toko ada patung Gollum dan Gandalf, theatre kecil, barang-barang koleksi yang bisa dibeli (dengan harga fantastis tentu saja), dan mini museum yang memamerkan props aseli yang pernah digunakan untuk syuting.

Gollum! Gollum! Preccciiioouuss...
Sekitar jam 4.15, kami ikut tour keliling Workshop. Weta Workshop terletak di belakang toko souvenir tadi. Kami diantar oleh Matthew sebagai guide. Sebelum memulai tour, Matthew memastikan bahwa kami gak akan mengambil foto di dalam Workshop.

Sebagian besar cerita dalam tour itu adalah tentang proses pembuatan props dan sedikit tentang miniature/bigature. Membahas props aja bisa makan waktu lumayan lama. Mereka menggunakan teknologi yang tinggi, misalnya menggunakan alat pemotong laser yang bisa memotong sesuai pola dari komputer untuk pembuatan cetakan model. Tadinya cuman aku aja yang aktif bertanya. Tapi begitu masuk ke daerah pedang-pedangan… Omla langsung bersemangat.

Jadi… pedang yang digunakan di film itu bahannya minimal ada 3 opsi: stainless steel (ini otentik, paling berat), aluminium (ringan, kilaunya mirip dengan steel, tapi gampang bengkok, bayangin panci aluminium deh), dan plastik (ringan, kilaunya didapat dari cat, lebih tahan bengkok). Yang paling banyak dibawa-bawa oleh aktor adalah yang plastik, kecuali Viggo Mortensen, dia memilih untuk membawa pedang steel.

Bahan plastik ini cukup menakjubkan…. mereka bisa bikin plastik jadi terlihat seperti logam untuk digunakan sebagai pedang dan chainmail. Yang bikin lebih takjub lagi, mereka bisa menggunakan plastik untuk menggantikan kulit! Bahkan dari jarak sangat dekat pun terlihat seperti kulit. Keren yaa….

Waktu kami sampai di bagian puppet dan costume, ada 3 mbak-mbak lagi kerja. Ada yang lagi jahit kostum, ada yang lagi menggerak-gerakkan puppet. Bonekanya terlihat hidup. Aahh.. jadi inget gerombolan Tjetjunguk di Jakarta.

Kemudian masuklah seorang bapak-bapak. Wajahnya cukup familiar. Aku pernah lihat di extra yang di dvd extended edition. Bedanya  bapak ini terlihat lebih besar dari yang di dvd. Matthew memperkenalkan bapak itu sebagai Richard Taylor. Wwwooowww.... itu kan salah satu partnernya Peter Jackson di Weta.

Aku jadi salting. Sebenernya pengen foto tapi gak boleh moto kan di dalam workshop. Kami mengobrol. Waktu tauk kalau kami dari Jakarta, dia kagum gitu, katanya dia belum pernah ke Jakarta.

Setelah Richard pergi, kami menyelesaikan tour. Kemudian balik ke toko. Sebelum meninggalkan TKP, gak lupa foto sama cave troll dulu.

Weta Cave
Dari Weta, Alice sempat membawa kami melewati daerah Seatoun. Di tempat ini banyak villa-villa pinggir pantai. Viewnya ke arah teluk. Konon waktu syuting Lord of the Rings, aktor-aktornya disewakan rumah/villa di tempat itu (kecuali Ian McKellen yang memilih tinggal di disi lain kota). Pantas saja mereka betah di NZ, bahkan ketika banyak stay di kota besar macam Wellington.

Pemandangan sore hari dari Seatoun
Kami sempat berhenti untuk mengambil foto teluk, tapi sudah mulai gelap. Sebelum jalan balik ke tempat nginep, kami transaksi dulu. Rupanya kartu kreditku memang belum terdebet. Kemudian Alice mengantar kami ke downtown lagi. Di tengah jalan dia sempat menunjukkan tempat syuting desa Bree dari kejauhan.

Kami minta diturunkan di dekat Te Papa Museum, karena emang niatnya mau melanjutkan ekskursi. Karena hari itu adalah Kamis, Te Papa buka sampai jam 9 malam.

Sebelum melanjutkan Te Papa, kami makan malam dulu di McD di yang terletak di kompleks SPBU.

Setelah itu lanjut nonton Te Papa lagi sampai jam 20.30. Kemudian pulang jalan kaki ke Nomads. Waktunya istirahat...

Di Te Papa gak lupa foto sama backdrop ini

Tuesday, August 25, 2015

Middle Earth Trip: Day 7

Pagi-pagi bangun terus sarapan, pake indomie gelas aja gitu. Sebelum matahari terbit kami udah checkout dan geret-geret koper ke halte bus di Athol Street. Hari ini adalah perjalanan ke Christchurch via Mt.Cook. Jam 7.30 dijadwalkan busnya berangkat dari Athol Street.


Waktu kami menunggu bus di halte tersebut, ternyata bus yang standby untuk keberangkatan jam segitu ada beberapa. Ada yang ke arah Milford Sound, ada yang ke Christchurch tapi gak lewat Mt.Cook, dan ada bus kami: Christchurch via Mt.Cook.

Selamat pagi Queenstown!
Setelah berangkat dari halte Athol Street, kami menjemput beberapa penumpang lain ke beberapa penginapan, kemudian berangkat dari Queenstown. Guide kami hari ini bernama Bryan dengan asistennya ibu-ibu Jepang yang aku lupa siapa namanya.


Dari seluruh perjalanan kami dengan Intercity Group, Bryan adalah guide yang paling ramah, sedikit lebih ramah dari John (first leg of our Franz Josef-Queenstown bus trip). Dia banyak cerita dan topiknya juga bermacam-macam. Dari mulai domba shrek, desa yang isinya hanya 12 orang, politik, sampai joke OZ-NZ.


Jones Family Fruit Stall
Pemberhentian pertama adalah Jones Family Fruit Stall yang sudah kami singgahi dalam perjalanan menuju Queenstown. Setelah jalanan mulai menanjak dan berbelok-belok menuju ke Lindis Pass. Sebenernya dari tadi di tepian Kawarau Gorge juga sudah berbelok-belok siy, tapi gak terlalu naik turun dibandingkan jalan menuju Lindis Pass. Lindis Pass ini adalah jalan dengan elevasi tertinggi di Pulau Selatan (971 m di atas permukaan laut). Sedikit lebih tinggi dari jalan yang menuju ke Milford Sound.   


Memasuki Lindis Pass, pemandangannya kayak di planet lain. Kalau dari kemarin-kemarin pemandangannya Sound of Music (gunung, salju, dan pepohonan) yang terlihat segar, yang di Lindis Pass ini pemandangannya gunung dan salju tapi terlihat gersang. Kayak gak ada kehidupan gitu…


Lindis Pass
Setelah melewati Lindis Pass, kami melewati Tarras. Menjelang Tarras, Bryan bercerita tentang Shrek, seekor domba dari daerah Tarras yang bertahun-tahun berhasil menghindar untuk gak dicukur, sehingga ketika dia ditemukan (sebelum menjadi tenar), bentuknya sudah seperti buntelan wool besar. Shrek jadi tenar di seantero NZ sampai pada tahun 2011 dia terpaksa disuntik mati karena usia lanjut.


Setelah melewati Tarras, kami singgah di Omarama, tepatnya di Merino Country Cafe. Kami hanya melihat-lihat souvenir dan foto-foto saja, gak pake snacking karena masih kenyang. Aku sempat melihat-lihat es krim Tiptop yang dijual di cafe, sempet heran… siapa ya mau makan es krim di cuaca dingin gini?


Merino Country Cafe
Kami jalan lagi, terus ketika memasuki daerah Twizel, aku merasa seperti memasuki Pelennor Fields. Warna rumputnya… bentuk lembahnya… gunung-gunung di sekitarnya… yang kurang cuman tentara Rohan, tentara Gondor, tentara Haradrim, Orcs, Mumakil,  ternyata banyak kurangnya ya? Peperangan di  Pelennor Fields sebagian memang diambil gambarnya di Twizel itu.


Lake Pukaki
Di Twizel ini, bis belok ke kiri menuju ke arah Mt.Cook. Pemandangan di sebelah kanan kami adalah Lake Pukaki. Warna airnya hijau telor asin jernih, karena mengandung glacial flour. Somehow, Lake Pukaki ini kelihatan familiar. Setelah browsing di BB, baru tahu kalau ternyata pinggiran Lake Pukaki ini jadi salah satu lokasi yang jadi pinggiran Lake Town di The Hobbit: Desolation of Smaug! Haa!! Another Middle Earth location!


Aoraki / Mt.Cook
Sebelum sampai ke Mt.Cook Village, kami singgah dulu di lookout point untuk mengambil gambar Lake Pukaki dengan latar belakang Aoraki/Mt.Cook. Kata Bryan kami cukup beruntung, karena hari itu bisa melihat puncak Aoraki Mt.Cook yang biasanya tertutup awan. Pemandangan Lake Pukaki dengan latar belakang Aoraki Mt.Cook benar-benar mengingatkan pada Long Lake dan Lonely Mountain. Eh sebenernya sebaliknya sih….


Yang ini turis lagi ambil foto Aoraki / Mt.Cook
Kami singgah di The Hermitage, hotel mewah di kaki Aoraki Mt.Cook, puncak tertinggi di New Zealand. Konon hotel ini adalah tempat favorit dari Sir Edmund Hillary (penakluk puncak Everest pertama yang tercatat dalam sejarah), mengingat lokasinya yang sangat dekat dengan puncak tertinggi di New Zealand. Saat ini, di hotel itu ada museum yang didedikasikan untuk Sir Edmund Hillary.  


Jika cuaca dan kantong memungkinkan, kita bisa mengambil tur opsional naik helikopter ke atas Aoraki Mt.Cook. Waktu singgahnya mencukupi untuk itu. Tapi hari itu gak ada yang berminat untuk melakukan tur helikopter tersebut, jadi hanya makan siang saja.


Great Sights/Intercity Group sebenarnya menyediakan opsi untuk buffet lunch di The Alpine Restaurant, salah satu restorannya The Hermitage. Harga buffet lunch per orang adalah sebesar NZD52!! Karena menurutku harganya gak masuk akal, aku gak pesan opsi buffet lunch tersebut. Berharap selain buffet lunch, ada cafe lain ataupun bisa pesan menu ketengan. Kalau ternyata gak ada cafe lain, ya kami akan makan bekal berupa pie daging yang semalam aku beli di Queenstown. Ternyata… sebagian besar penumpang bis lainnya juga tidak memesan buffet lunch tersebut, dan memang ada cafe lain, namanya Sir Edmund Hillary Cafe and Bar.  

Kumara Soup
Kami makan di Sir Edmund Hillary Cafe and Bar, lokasinya persis di atas museum Sir Edmund Hillary dan menghadap ke puncak Aoraki Mt.Cook. Menu yang kami pesan siang ini awalnya adalah Kumara Soup (buat aku, meskipun aku gak ngerti sebenernya Kumara itu benda apa) dan Beef Sandwich (buat Omla). Karena habis itu masih lapar, habis itu pesan lagi Yoghurt dan Muesli (buat aku) + Kumara Soup (buat Omla). Semuanya hanya menghabiskan NZ27. Udah kenyang-nyang-nyang…. Emang perut kami mudah terkenyangkan, untungnya Omla gak butuh nasi untuk menjadi kenyang, jadi gak pusing nyari makanan di negeri orang. Aku sempet melirik ke meja tetangga yang berisi sepasang orang bule… masing-masing orang memesan 1 bunderan Pizza, tipis kering sih, tapi kayaknya ukurannya minimal ekivalen yang reguler di pizza hut. Ngeliat aja udah ikut jadi kekenyangan….


Btw, Kumara ternyata adalah ubi atau sweet potato. Di NZ termasuk makanan pokok yang cukup populer. Jaman dulu kumara dimasak secara tradisional di dalam Hangi Oven.

Puncak Aoraki / Mt.Cook tertutup awan
Habis makan, terus kami foto-foto di samping patung Sir Edmund Hillary. Seharusnya kami bisa melihat Aoraki/Mt.Cook dengan lebih dekat di depan The Hermitage itu, tapi sayangnya tadi ketika kami tiba di parkiran The Hermitage, awan yang semula malu-malu jadi menutupi puncak Aoraki/Mt.Cook.


Setelah itu bis melanjutkan perjalanan lagi, ibu-ibu jepang yang jadi asistennya Bryan aplusan di situ, digantikan dengan ibu-ibu lain yang aku juga lupa namanya. Beberapa penumpang ada yang turun di situ, dan ada juga penumpang yang baru naik. Kami sempat mampir ke hostel yang berada di dekat The Hermitage untuk menjemput penumpang.

Church of the Good Shepherd, Lake Tekapo 


Next destination adalah Lake Tekapo. Sebelum lepas dari tepi Lake Pukaki, aku masih sibuk ngambil foto Aoraki Mt.Cook yang kembali muncul dari balik awan. Gak puas-puas ngeliat warna biru telor asin Lake Pukaki.


Patung Anjing Collie
Gak lama, kami singgah di tepi Lake Tekapo untuk melihat (dan tentu saja berfoto) di Church of The Good Shepherd dan patung anjing collie. Patung anjing tersebut adalah untuk menghargai jasa-jasa anjing ras collie yang telah berjasa untuk perkembangan Mackenzie Country. Yaa… tentu saja anjing tersebut banyak yang bertugas menjadi penggembala domba.  


Waktu jalan lagi dari Lake Tekapo, aku tiba-tiba pengen makan es krim!! Hahaha…. tadi di Omarama sempet heran liat es krim, sekarang malah pengen makan es krim. Jadi aku bertekad di pemberhentian berikutnya aku mesti beli es krim (kalo ada).


Pemberhentian berikutnya adalah di Geraldine, tapi sebelumnya kami sempat melewati desa kecil yang berisi orang Perancis. Penduduknya hanya 12 orang, dan di desa itu ada lebih dari 1 art gallery. Bryan bilang kalo lewat desa itu biasanya sepi banget. Baru aja dia ngomong begitu, ternyata bus kami melewati orang yang sedang berdiri di pinggir jalan. Bryan langsung komentar: Wah! Ternyata kita beruntung hari ini, bisa ketemu orang di desa ini!


Di Geraldine, kami singgah di Kiwi Country Cafe. Aku termasuk penumpang yang turun duluan dan langsung menggeruduk ke counter es krim!! Hahaha… Beli es krim boysenberry seharga NZD 2.50 lengkap dengan wafer cone-nya. Omla kemudian menyusul masuk ke cafe dan membeli Cappuccino. 

Boysenberry Ice Cream, Kiwi Country Cafe
Setelah kenyang makan/minum dan melihat-lihat di toko souvenir, saatnya melanjutkan perjalanan. Kami melewati Canterbury Plains, daerah yang relatif datar. Menjelang Christchurch, kami melewati lagi daerah yang sudah kami lewati waktu pergi ke Edoras, termasuk jembatan panjang melintasi Rakaia River.


Karena kami request untuk diturunkan di hotel Sudima dekat Christchurch Airport, maka kami jadi penumpang pertama yang diantarkan ke tempat tujuan. Kami tiba di Sudima hotel sekitar jam 19.30. Langsung check in, masuk kamar sebentar, kemudian mencari makan di…. McDonalds… hahaha…. standar banget ya…Makanannya juga standar, hanya saja kali ini aku mencoba untuk minum Mountain Dew.  


Setelah itu kami kembali ke hotel untuk beristirahat, tapi sebelumnya aku mencoba untuk melakukan online check in ke Jetstar. Sayangnya baik Blekberi maupun Nokia-nya Omla gak compatible dengan web online check-in-nya Jetstar. Proses check-in terhenti sampai di bagian konfirmasi peraturan bagasi. Akhirnya aku mencoba melakukan online check-in dengan menggunakan Galaxy Tab (padahal gak ada koneksi internetnya). Terus gimana? Galaxy Tab-nya terconnect ke Nokia Omla via wifi! Alhamdulillah proses check in bisa dilakukan sampai tuntas. Dan kami pun bisa bobok dengan tenang…  

Middle Earth Trip: Day 6

We’re going to Paradise! Iya pagi ini acaranya adalah pergi ke Paradise dan sekitarnya, lagi-lagi salah satu (salah banyak sih) lokasi pengambilan gambar untuk Lord of The Rings. Setelah sarapan (masih roti Pita rasa garlic juga), kami siap di lobby jam 8. Setelah menunggu sebentar, datanglah mobil 4WD milik Nomad Safari Tour. Driver/Guide-nya turun, seorang wanita bernama Flip. Setelah Flip melakukan checking voucher booking tour sebentar, kami langsung dipersilakan naik ke mobil. Rupanya hari itu pesertanya hanya kami berdua.


Kami langsung menuju ke Glenorchy, sekitar 40 km dari Queenstown. Setelah sedikit perkenalan, Flip menanyakan: apakah kami fans Lord of The Rings? Kalo iya, tipe yang seperti apa? Hahaha… kami gak melakukan cosplay ataupun bicara dalam bahasa Quenya atau Sindarin, tapi seperti halnya dengan Star Trek (dimana aku bisa ingat 178 episode Star Trek: The Next Generation), aku sudah mulai memorize detail-detail yang ada di buku ataupun film.   

The Remarkables - masih mengintip dari balik awan
Pemberhentian pertama kami adalah salah satu lookout point di jalan Queenstown-Glenorchy untuk memandang dan ngambil foto The Remarkables. Gunung yang banyak jadi background di Lord of The Rings.


Pagi ini cuacanya… cerah tapi dingin. Malah lebih dingin dibandingkan waktu cuacanya gak cerah. Yah, kayak Bandung di musim kemarau aja. Dingin… tapi tau-tau bikin kulit menghitam. Kalau kata Flip cuaca pagi ini: refreshing. Sedangkan kata Omla: freezing. Beda tipis ya…. hihihihi….


Perjalanan menyusuri tepi danau Wakatipu
Sepanjang perjalanan kami ngobrol macem-macem. Kebanyakan sih Flip bercerita tentang behind-the-scene story (Lord of The Rings tentu saja…). Sebagian besar sudah pernah aku lihat di DVD Extras. Tapi diselingi juga dengan pembicaraan tentang trivia tentang NZ (khususnya Queenstown). Termasuk tentang peternak sapi yang 1 sapi jantannya (bull) melayani 3000 sapi betina.


Ternyata Flip termasuk guide senior, untuk guide-guide yang lebih junior baru akan menerima pelatihan winter driving (seharusnya) kemarin. Tapi berhubung tiba-tiba turun salju, jadi dia diterjunkan kembali untuk melayani kami. Hihihi…

Di depan Pig Island, Tree Island, dan Pigeon Island
Pemberhentian selanjutnya adalah di lookout point lainnya untuk melihat Pig Island, Tree Island, dan Pigeon Island. Kalo Tree dan Pigeon Island sih udah kebayang kenapa namanya begitu. Nah, kalo Pig Island? Jadi Flip cerita kalau jaman dulu ada peternak babi yang meletakkan babi-babinya di pulau itu. Alasannya adalah agar dia gak perlu repot-repot membangun pagar di sekeliling peternakannya, terus babi-babinya tinggal makan rumput yang ada di pulau itu.


Alasan yang aneh… Iya sih gak perlu bangun pagar, tapi kan dia mesti membawa babinya naik kapal ke pulau itu, terus kalo mau dijual harus dibawa balik ke daratan. Lebih repot gak sih? Yaa… Flip juga berpendapat demikian. Menurut dia, orang yang punya ide untuk ternak babi di pulau itu cuman liat sisi gampangnya aja, gak mikirin sisi sulitnya. Pada akhirnya rumput di pulau itu habis, kecepatan regrowth dari rerumputan itu gak bisa mengejar populasi babi di peternakan itu. Terus peternak itu juga repot mesti bolak-balik naik perahu ke pulau tersebut. Sehingga dia memutuskan untuk merelokasi babi-babinya ke lokasi daratan yang berpagar tapi lebih masuk akal.

Mt. Earnslaw
Wakatipu Lake Shore
Snowy Farm
Persinggahan berikutnya (tapi kami hanya mengambil gambar dari mobil saja) adalah “Dead Marshes”. Ini adalah “rawa-rawa” yang merupakan tumbuh-tumbuhan pinggir danau. Konon kata Flip, tadinya syuting adegan di Dead Marshes mau dilakukan di tempat tersebut, sudah dibangun set agar bisa rawa tersebut dilalui oleh para aktor. Tapi kemudian set yang telah dibangun itu tenggelam. Sehingga syuting dipindahkan ke… Stone Street Studio, Wellington. (kalau untuk syuting panorama Dead Marshes dilakukan di dekat Te Anau).

Dead Marshes Wannabe
Di musim gugur seperti saat itu, aku langsung bisa menebak dengan benar ketika Flip menghentikan mobil di depan “Dead Marshes” dan bertanya: “Kalau tempat ini kenal atau gak?”. Menurut Flip, di musim panas semak belukarnya penuh dengan daun, sehingga pengunjung biasanya berkomentar: “Gak mirip Dead Marshes”.


Setelah “Dead Marshes”, pemberhentian berikutnya adalah Glenorchy.  Sebuah kota kecil yang konon populasi kuda-nya lebih banyak dari populasi manusia-nya. Penduduk Glenorchy banyak yang berpartisipasi dalam syuting Lord of The Rings, terutama yang berhubungan dengan perkudaan. Bayarannya lumayan, sehari NZD500.


Sebelum berhenti di dermaga, kami berhenti dulu untuk melihat perpustakaan Glenorchy (dari luar saja). Hmm… ukuran perpusnya lebih kecil dari pos sekuriti di kantor. Kecil banget. Cuman buka hari rabu dan jumat. Tapi keren, desa kecil yang penduduknya cuman 200 orang aja punya perpustakaan.


Kemudian kami pun berhenti di tepi dermaga. Melihat museum mini yang berbentuk seperti gudang. Isinya tentang sejarah The Head of Lake Wakatipu. Setelah foto-foto isi museum, kami ke dermaga. Dermaganya berlapis salju tipis, jadi lumayan licin. Sambil jalan ke arah dermaga, aku melihat Flip beberapa kali dengan sengaja menginjak “genangan air”. Setelah aku perhatikan lebih seksama, ternyata “genangan air” itu sudah berbentuk es tipis. Kalo diinjak, es tersebut akan pecah. Dan kepuasan menginjak es itu setara dengan mencet-mencet bubble wrap (plastik pembungkus perangkat elektronik).


Setelah foto-foto sedikit di dermaga, sempet disapa sebentar oleh labrador hitam. Setelah itu mampir ke toilet, karena kata Flip setelah itu gak ada toilet lagi. Waktu di toilet, Flip cerita bahwa di jalan itu tadinya ada toko yang menjual produk bulu-bulu (terutama bulu possum). Tapi baru saja menutup tokonya pada awal bulan Mei 2014, entah karena tokonya sepi, atau karena emang gak mampu berproduksi.

Earnslaw Burn
Next destination adalah: Paradise. Jadi sebelum sampai ke tujuan akhir, kami melewati perbatasan Earnslaw Burn, kemudian melewati pinggiran hutan yang merupakan bagian dari Mt. Aspiring National Park. Hutannya terdiri dari Beech Tree yang luarnya diselimuti dengan parasit Old Man’s Beard. Hutan pinggiran ini adalah tempat pengambilan gambar Lothlorien dan Amon Hen. Selain itu X-Men Origins: Wolverine juga mengambil hutan tersebut sebagai salah satu lokasi film. Kami gak mampir, rencananya akan mampir nanti dalam perjalanan kembali ke Queenstown.


Akhirnya kami tiba di Paradise. Sebelum sampai ke tempat tujuan, ada rumah pertanian besar yang menghadap ke Diamond Lake. Ceritanya dibangun oleh seorang bapak-bapak untuk isterinya. It was a romantic thing (for him): building a home in paradise for his lovely wife. Tapi ternyata isterinya itu gak suka. Entah kenapa. Mungkin karena sepi, atau jauh dari pusat perbelanjaan. Akhirnya suami-isteri itu bercerai, rumah itu dijual. Pemiliknya sekarang sepertinya cukup bahagia dengan rumah itu.

Beorn's House Location
Tempat tujuan kami adalah pinggir jalan yang viewnya ke arah selatan digunakan sebagai backdrop untuk Orthanc / Tower of Isengard / Menara-nya Saruman. Trus view ke arah timur adalah padang rumput yang digunakan sebagai lokasi rumahnya Beorn (dari The Hobbit). Seharusnya rumputnya hijau, tapi karena kemarin dulu habis hujan salju, jadi warnanya hijau muda. Pemandangannya emang indah ke segala arah. Emang sesuai dengan nama tempat itu: Paradise.


Putangitangi
Kami berfoto sebentar, kemudian balik ke arah Queenstown. Di jalan kami sempat mendapatkan momen pas untuk mengambil foto bebek lokal Paradise alias Paradise Shelduck / Tadorna variegata / Putangitangi. Warnanya khas, beda antara yang jantan dan yang betina.


Di hutan “Lothlorien”/”Amon Hen”, kami berhenti untuk menikmati snack pagi. Snack pagi kami ternyata diletakkan di cooler box yang diikat di bagian atas mobil. Flip harus memanjat bagian belakang mobil untuk mengambilnya. Kami bertiga sama-sama memilih hot chocolate. Kemudian aku menghabiskan entah berapa potong fruit cake. Fruit cake-nya enak banget. Berhubung hanya ada kami bertiga, aku jadi bebas mau ngambil fruit cake sesukanya. Well, selain kami bertiga ada juga sih penikmat lain: burung liar yang sepertinya sudah kenal Flip karena selalu nimbrung setiap kali Flip singgah di tempat itu.  


Di lantai hutan itu, ada tanaman yang namanya horopito atau biasa disebut pepper leaf. Flip memetiknya dari tanah, kemudian mengulum satu bagian dan memberikan bagian lainnya ke aku. Aku sempat terpikir: “Ih itu kan dari tanah, kalo bekas diinjek orang gimana?”, tapi pikiran itu hanya terlintas sesaat, karena tau-tau daun rasa pedes itu udah masuk ke mulut. Hahaha….
Setelah (lagi-lagi) foto di hutan itu, kami jalan lagi ke arah Queenstown. Sebelum keluar dari kawasan hutan, Flip menunjukkan tanaman yang dijadikan model untuk tongkatnya Gandalf.


Sepanjang perjalanan kami membicarakan tentang macem-macem dari mulai tokoh favorit di Lord of The Rings, Frodo haters, matanya Legolas, sampe perubahan undang-undang yang dilakukan oleh pemerintah New Zealand demi supaya syuting The Hobbit bisa dilakukan di New Zealand.


Aku sempet terkantuk-kantuk, hihihihi…. udaranya, dikombinasikan dengan gerakan mobil, dan ceritanya Flip yang soothing membuat jadi pengen tidur… sebelum terus dikeplak sama Omla. Iya emang gak sopan sih… tidur waktu si Flip lagi asik cerita.

Nomad Safari's Car - Twelve Mile Delta aka Ithilien
Sebelum tiba kembali di Queenstown, kami singgah di pos terakhir: Twelve-Mile Delta. Tempat ini adalah campsite yang jadi lokasi pengambilan gambar untuk Ithilien Camp, yaitu lokasi waktu Frodo dan Sam pertama kali melihat mumakil (gajah ala Middle Earth). “Sayang”nya hari itu gak terlihat seperti Ithilien Camp, karena tanahnya banyak tertutup salju! Selain berfoto dengan Omla, aku minta difoto dengan Flip dan juga dengan mobil Nomad Safari. Kemudian kami melanjutkan perjalanan kembali ke Queenstown. Sebelum sampai di Queenstown, Flip minta kami untuk mengisi buku tamu. Dia juga memberikan info tentang sewa sepeda. Dan akhirnya menurunkan kami di Shotover Street supaya kami bisa mengunjungi toko Lord of The Rings. Waktu kami tiba lagi di Queenstown, cuacanya terang benderang. Perfect day for gowes deh!


Kami berkunjung ke toko Lord of The Rings sebentar, hanya melihat-lihat, kemudian lanjut ke mall kecil di Beach Street: cari McDonalds. Isi perut dulu sebelum cari sewaan sepeda. Omla seperti biasa pesan paket burger, kentang, dan soft drink. Sementara aku hanya pesan Pie Daging dan Apple Pie… wajib banget tuh apple pie kalo pas ke McD.


Selesai makan, kami mampir ke penginapan sebentar untuk ke toilet dan meletakkan beberapa barang yang gak perlu dibawa. Kemudian keluar lagi untuk mencari sewaan sepeda. Di pojokan Shotover Street dan Brecon Street, kami menemukan sewaan sepeda sesuai petunjuk Flip, tapi ternyata tokonya tutup karena staf-nya lagi training. Yah… kecewa….


Aku berusaha browsing untuk mencari sewaan sepeda lain. Tapi untungnya, nemu papan petunjuk di toko yang berada di pojokan Brecon Street dan Duke Street, namanya Alta Bike. Mereka menyewakan sepeda seharga NZD 29/half day (4 jam). Kami pun segera masuk ke toko tersebut. Ternyata sepedanya masih ada stock, sehingga tanpa pikir panjang langsung aku lunasi untuk 2 sepeda. Ukurannya juga cocok (meskipun bannya lebih gede dibandingkan sepeda gunung kami, tapi kayaknya sih ukuran ban itu standar untuk di NZ). Merknya Mondraker.


Setelah urusan bayar membayar dan milih helm selesai, masalah berikutnya adalah: gak mungkin kan menggunakan beanies di dalam helm sepeda? Padahal dinginnya enggak temenan banget sama kuping. Akhirnya kami menggunakan syal wool untuk bandana, baru dilapis dengan helm sepeda.

Frankton Arms Bike Trail
Setelah setelan sadel pas, kami berangkat menuju jalur sepeda paling gampang di seputaran Queenstown: Lake Wakatipu Ride yaitu menyusuri Frankton Arm dari pusat kota Queenstown sampai ke Kawarau Falls Bridge. Kurang lebih sejauh 10 km sekali jalan. Jalur sepeda di seputaran Queenstown (atau biasa disebut Queenstown Trail) saat ini ada sekitar 110 km, terdiri dari berbagai tingkat kesulitan. Berhubung kami udah lama gak naik sepeda, ambil yang paling gampang saja lah.


The Remarkables
Pemandangan di sepanjang jalur sepeda adalah The Remarkables. Kali ini bersih gak tertutup awan. Sayangnya posisi matahari di akhir musim gugur itu gak terlalu bersahabat buat foto-foto. Mayoritas track kami berada di bawah bayang-bayang gunung, sehingga supaya wajah obyek manusianya terlihat harus pakai blitz. Berhubung kami bukan penggiat fotografi, agak susah untuk mendapatkan pencahayaan yang terlihat natural.


Selain pemandangan alam, di dekat Frankton juga ada villa-villa di pinggir danau. Menjelang Kawarau Falls Bridge, mulai disambut dengan pesawat komersil yang mendarat dan take off. Kawarau Falls Bridge itu lokasinya dekat dengan bandara Queenstown.


Track sepedanya terdiri dari jalan sirtu dan ada sedikit bagian yang melewati jalan aspal. Rambu-rambu petunjuk arah cukup jelas dan mudah ditemukan. Sepanjang perjalanan tracknya hanya sedikit naik turun, kecuali menjelang Kawarau Falls Bridge ada bagian yang agak curam, batunya agak lepas-lepas, dan ada sedikit lapisan saljunya. Hihihi… jadi terpaksa tuntun sepeda deh.


Yang ini masih tebaallll.... 
Kami jalan sebentar ke Kawarau Falls Bridge, yang ternyata juga tertutup salju sehingga agak licin, foto-foto, kemudian kembali ke pusat kota Queenstown (10 km lagi!!). Setengah perjalanan, kupingku mulai gatal karena nempel ke syal wool yang dipakai sebagai bandana. Akhirnya kembali ke cara tradisional: lepas bandana dan hanya pake helm sepeda. Ternyata dinginnya gak separah yang aku bayangkan sebelumnya.


Untuk kostum sendiri, aku pakai 4 lapis: long john (base layer), kaos biasa, fleece jacket (middle layer), dan gore-tex jacket (outer layer). Meskipun dipake naik sepeda, gak keringetan sama sekali. Beda banget sama naik sepeda di Ragunan ya… (eyaa laahh). Untuk bawahannya pakai 3 lapis: long john, legging katun, dan celana quick dry. Nah… baru sadar kalo selama bertahun-tahun naik sepeda gunung, aku selalu pakai celana capri atau celana pendek, gak pernah pakai celana panjang. Kalopun naik sepeda pakai celana panjang (untuk ke kantor), aku pakai sepeda lipat yang punya tutup rantai di sisi kanan. Jadi ini pertama kali naik sepeda gunung pakai celana panjang. Hasilnya? Nyaris aja tuh celana quick dry kebanggaan nyangkut di rantai, sehingga pipa celana sebelah kanan terpaksa dilipat sampai dengkul. Biarin aja keliatan aneh, yang penting celana gue gak robeekk….


Kami sampai di Queenstown sekitar jam 4 sore. Langsung mengembalikan sepeda, kemudian jalan kaki ke Skyline Gondola untuk naik kereta gantung. Lumayan jauh juga jalannya, nanjak pula. Di tengah jalan ketemu lagi dengan “Harry Kim bersaudara”…. teman perjalanan kami dari Franz Josef.


Biaya untuk naik gondola adalah NZD 27/orang. Mahal banget ya bok? Kalo naik di Ancol atau Taman Mini berapa? Pasti gak segitunya kan? Nah, setelah kami berada di dalam gondola dan mulai bergerak ke atas gunung, melewati hutan di lereng gunung, baru deh kerasa kenapa harga tiketnya harus segitu mahal.  Tracknya curam banget. Kami naik sampai dengan ketinggian kurleb 450 meter di atas Queenstown. Gak kebayang kalo fasilitas gondola itu gak dimaintain dengan baik… Jadi kita bayar mahal (semoga) untuk merawat fasilitas gondola.


Pemandangan Queenstown dari Bob's Peak
Pemandangan di atas keren banget. Gak puas-puas ngambil gambar panorama ke arah Lake Wakatipu. Selain lihat pemandangan, kalau mau kita bisa main Luge, tapi aku gak tertarik. Sebelum sampai di Queenstown sempat menimbang-nimbang: mau main Luge atau nyepedah? Berhubung nyepedah lebih sesuai dengan kepribadian kami, jadi pilihannya jelas (gitu aja kok repot memutuskannya).


Setelah puas di atas Bob’s Peak (itu nama puncak gunung tempat stasiun gondola berada), kami turun kembali ke Queenstown. Matahari hampir terbenam ketika kami sampai kembali di Shotover Street. Kami langsung mampir ke toko Lord of The Rings untuk membeli buku Lord of The Rings: Location Guide Extended Edition-nya Ian Brodie.


Setelah berhasil membawa pulang buku Location Guide, kami nyebrang ke Fergburger. Tadi pagi Flip bilang hukumnya wajib untuk mencicipi Fergburger. Hmmm…. Untungnya mereka memasang daftar menu besar-besar di depan restoran, jadi kami bisa pilih menu yang gak pakai bacon/babi/sodara-sodaranya. Omla tadinya kekeuh mau pesan 1 orang 1 burger. Tapi aku curiga lihat harganya. NZD 11/porsi untuk yang original. Bener aja… sedikit ngelirik ke tamu lain yang lagi asik makan burger, porsinya tuh lebay gedenya. Jadi aku menugaskan Omla untuk pesan 1 aja, sementara aku ke Night n Day Foodstore buat cari perbekalan dan sarapan untuk besok. Di Night n Day, aku nemu pie daging lada hitam seharga NZD 2 sajah… karena hari itu lagi diskon pie. Beli aja buat jaga-jaga kalo ternyata Fergburgernya kurang.

Si Raksasa Fergburger
Waktu aku balik ke Fergburger, burgernya belum juga keluar. Saking banyak peminatnya. Setelah (akhirnya) burgernya keluar, kami langsung kembali ke penginapan. Belah burgernya pakai apa ya? Pakai pisau lipat mahal. Ternyata ½ porsi emang pas aja, gak kurang. Kebayang kenyangnya kalo terpaksa makan 1 porsi.


Setelah makan, aku keluar lagi sendirian. Mau cari oleh-oleh. Tujuan pertama adalah: Unichem Pharmacy, mau cari Neutrogena. Ada sih, tapi pilihannya gak seheboh di Singapore. Gak jadi beli deh. Tujuan berikutnya adalah ke Koha, beli boneka anak domba yang diskonan kemarin. Setelah pilih-pilih yang paling gak cacat, beli yang kakinya biru. Waktu aku bayar, penjaga tokonya tanya: apakah aku dari Malaysia atau Indonesia? Rupanya dia aslinya dari Malaysia. Seneng banget gitu ngeliat sodara satu kawasan….


Selanjutnya aku nyebrang ke toko Mary’s Sheep. Di sini pilihan oleh-olehnya lebih banyak. Tapi malah jadi bingung sendiri. Akhirnya hanya beli lip gloss, kaos buat Anton, dan gantungan kunci buat kulkasnya mbak Rani. Habis itu balik ke penginapan dan beristirahat… sebelum tidur gak lupa posting foto di WA.