Sunday, February 05, 2006

Singapore: Kawinan dan Perjalanan Pulang (1 Januari 2006)

Serba Instan
Pagi ini aku dapat giliran gak makan pagi di New Park Cafe, jadi menu makan paginya adalah Soupy Snax dan kentang Risotto. Tipikal orang Indonesia... cinta makanan instan.

Mustafa Center
Selesai makan pagi, kita jalan-jalan ke Mustafa Center yang terletak tepat di belakang hotel. Yang namanya M
ustafa Center itu dari luar kelihatannya kecil, tapi di dalamnya bok... ternyata gede banget. Mereka buka 24 jam sehari, 365 hari dalam setahun.


Jualannya macem-macem banget dengan harga yang relatif murah. Dari mulai perhiasan emas, elektronik, makanan, baju-baju, souvenir, obat-obatan, tas, alat-alat rumah tangga, bahkan ada sarung cap gajah duduk. Contohnya mug bergambar Merlion, di Lucky Plaza harganya S$8, sedangkan di Mustafa Center hanya S$4.50. Yang bikin ngiler, di sana banyak tersedia coklat berbagai merk dan rasa dengan harga bersaing. Yummy…

Setelah puas muter-muter dan kelaparan, akhirnya kita balik ke hotel untuk Check Out dan menitipkan barang di Concierge. Lobby hotel itu seperti tempat penimbunan koper. Kayaknya semua orang menitipkan barangnya di Concierge.

IMM, Jurong East
Setelah check out, kita langsung menuju IMM di Jurong East. Ternyata… lumayan juga harus jalan kaki agak jauh dari stasiun MRT ke mall-nya. IMM itu sejenis ITC Mangga Dua. Barangnya lebih murah-murah, di sana juga ada Giant. Tapi… rasanya sih variasi barang yang dijual sekarang gak sebanyak 5 tahun yang lalu. Dulu ada toko sepatu gede yang harganya oke, sekarang udah gak ada lagi.

Di sana kita makan siang di KFC. KFC di situ bergabung dengan Pizza Hut dan Taco Bell. Aku pesan Bean Buritto dan Spicy Flava (sejenis Hot n Crispy tapi ditambah dengan Sweet n Sour Sauce). Cukup unik juga.

Gak seperti dulu, kali ini di IMM ternyata gak ada yang menarik, selain Baby Eeyore Kecil dan Pineapple Pie-nya Old Chang Kee (sesuai rekomendasi Rama).

Clementi dan sekitarnya

Dari IMM, naik shuttle bus ke stasiun Jurong East lagi (wuah, paling enggak jadi gak perlu jalan kaki!), terus naik MRT ke stasiun Clementi. Di sana kita nunggu dijemput sama Rama.

Dari stasiun Clementi kita naik bis ke rumah Rama. Di sana ngemil dikit (Pie-nya Old Chang Kee), minum, ganti baju, dan dandan. Setelah itu diantar Rama lagi sampai ke halte bis, kemudian kita naik bis lagi ke rumah Iwan.
Bisnya double decker loh... (di Jakarta pun gak pernah naik bis tingkat...)

Kawinannya Iwan agak unik. Dilakukan dengan adat Jawa, dandanan mantennya, dekorasi pelaminannya, semuanya sesuai dengan adat Jawa, tapi makanannya Melayu (Spicy semua). Trus ada gamelannya (katanya sih dari perkumpulan orang Yogya yang tinggal di Singapore), sedangkan souvenirnya didatangkan langsung dari Malang, berupa ukiran kaligrafi.

Dah gitu, kawinan di Indonesia itu tamunya salaman dulu sama manten, setelah itu baru makan. Di sana begitu datang kita makan dulu, setelah itu baru salaman dan foto sama mantennya. Habis itu baru boleh pulang. Agak canggung juga, abis gak tauk kebiasaannya gimana. Mana perut sudah kita isi penuh pula di IMM... karena memang lapar sejak jam ½ 12 tadi, terus juga gak yakin bakalan cocok sama masakannya. Ternyata emang makanannya spicy semua kan...

S
ekitar jam 5, kita meninggalkan rumah Iwan. Begitu masuk ke bis kota, BRESS...!!! hujan lebat turun... oh dear... ini dia perjalanan panjang di tengah hujan... Sampai di stasiun MRT Clementi, kita langsung naik MRT menuju ke Douby Ghout. Duh... MRT-nya penuh banget... Dari Douby Ghout terus oper ke arah Ferrer Park. Wuah... pegel juga rasanya... hampir sepanjang perjalanan gak kebagian tempat duduk, hiy... mulai agak-agak sakit pinggang neh...

Untungnya ketika kita sampai di Ferrer Park, sudah tidak hujan lagi. Kita pun jalan ke hotel lagi. Kemudian ganti pakaian di toilet hotel. Setelah itu memutuskan untuk naik taksi ke Changi, sudah terlalu teler untuk naik MRT. Porter yang bantu kita ngangkat barang ke taksi sepertinya dari Indonesia. Bahasa Indonesianya bagus banget, tapi kita gak sempet mengkonfirmasi.

Perjalanan Pulang
Perjalanan ke Changi memakan waktu kira-kira ½ jam, di dalam taksi aku tidur, dan baru terbangun waktu masuk kompleks Changi. Wah... ternyata dari New Park Hotel sampai dengan Changi menghabiskan biaya S$13.60.

Waktu turun dari taksi, kita sempet dibuat takjub oleh kepedulian pak supir taksi. Ndoro membayarkan sebesar S$14.00, dengan harapan sisanya bakal diambil oleh pak supir, ternyata 40 sen pun dia kembalikan. Sebenarnya itu adalah hal simple, tapi menunjukkan betapa si pak supir ini menyadari pentingnya service excellence, pokoknya jangan sampai konsumen dirugikan sepeser pun. Dah gitu, waktu dia melihat kita mulai mengangkat sendiri koper-koper dari bagasi, dia langsung panik sendiri dan melarang kita untuk ngangkat sendiri, bahkan kemudian dia juga mengambilkan kereta dorong.

Tiba di Changi kira-kira jam ½ 7 malam. Ada sesuatu yang kurang... ternyata di pintu masuk airport tidak ada Xray seperti layaknya di airport-airport di Indonesia. Kemudian kita langsung check-in di counter Garuda. Nah... di sini... yang namanya kartu ”Frequent Flyer” bener-bener ada artinya. Kalo punya GFF (Garuda Frequent Flyer) antreannya lebih sepi. Sedangkan kalo di Soekarno-Hatta, counter check-in khusus GFF justru lebih penuh dibandingkan yang biasa, saking banyaknya yang punya GFF.

Waktu yang harus dihabiskan lumayan panjang, karena pesawat kita, GA833, jadwal takeoff-nya jam 21.45. Akhirnya window shopping dulu, tapi lama-lama capek, dan jetlag. Jadi kita pun mencari tempat nongkrong yang menyediakan makanan ringan sesuai selera. Kita menemukan toko oleh-oleh khas Singapore, Singapore Premium Food Gifts, yang menyediakan menu roti Kaya dan minuman coklat, lengkap dengan tempat nongkrongnya. Lumayan lama juga nongkrong di situ.

Jam ½ 9 kita keluar dari kios itu... waktu melihat ke display Departure, tertulis bahwa GA8332 diundur menjadi 22.15, hmm.... delay ½ jam donk. Dan gate-nya dipindahkan jadi gate 31 (semula tertulis 35 di boarding pass). Karena gate 31 belum dibuka, kita nunggu di kursi-kursi yang ada di depan gate 31.

Jam 21.20 gate 31 baru dibuka. Kita sudah ngantre paling depan untuk checking barang, tapi... waktu aku memberikan boarding pass ke mbak-mbak petugas. Si mbak bilang bahwa kita salah masuk gate, penerbangan kita GA833, bukan GA8332. Seharusnya kita di gate 37. APA?! Jadi dari tadi kita salah sangka...!!! Kita pikir display Departure itu kelebihan ngetik angka 2, ternyata memang itu adalah penerbangan yang berbeda.

Begitu keluar dari gate 31, sambil berjalan ke arah gate 37 yang ternyata letaknya di ujung lain dari sayap itu, kita melihat ke display Departure lagi. Ternyata GA833 sudah terletak di urutan pertama dan statusnya sudah Gate Closing. WHHUUAAA!!!! Pesawat itu sama sekali gak di-delay...

LARI!!!! Maksudnya... aku menyuruh Ndulo dan Ndoro lari duluan, karena aku sudah terlalu ngantuk dan jetlag untuk lari-lari... sementara aku setengah lari sambil menggeret-geret koper yang kuncinya patah. Yaa... hari itu terpaksa membawa 1 koper ke dalam kabin, karena kuncinya patah dalam perjalanan Jakarta-Singapore.

Untungnya... di depan gate 37 para penumpang masih ngantre lumayan panjang. Wah gile... untung aja gak sampe ketinggalan pesawat. Kita emang gak teliti sih... tapi mereka juga error loh, di boarding pass kan ditulis gate 35, tapi ternyata sebenarnya di gate 37....hehehe....

Tapi... kok penumpangnya banyak banget ya? Kayaknya ruang tunggunya sudah penuh, tapi masih juga ada yang ngantre... Ternyata oh ternyata... setelah kita boarding, terjawab juga keherananku: pesawatnya Airbus bok... gak naik 737 seperti waktu berangkat.

Perjalanan gak terasa lama.
Menu makanan kali ini adalah ikan, tapi sudah gak selera makan, mungkin karena tadi sudah makan roti Kaya. Karena jetlag banget, aku minum sedikit anggur, maksudnya biar kalo bobok bisa nyenyak banget, tentu saja minumnya gak sampe mabok, meskipun jadi sedikit lebih berbahagia, cengar-cengir...

Mendarat di Jakarta, seperti biasa pada ke toilet dulu, terus ngantri di Imigrasi gak terlalu lama. Nah setelah itu.... nunggu koper. Entah gimana... koper ini luar biasa lama. Sudah kopernya gak kunjung keluar, sekalinya keluar juga jarang-jarang... padahal jumlah koper yang harus dikeluarkan kan banyak, namanya juga Airbus yang terisi penuh. Saking lamanya, aku sampe jongkok di pinggiran ban berjalan.

Setelah mendapatkan kembali kedua koper yang dimasukkan bagasi, kita pun keluar dari airport... oya, naik dulu ke lantai Keberangkatan....karena biasanya dijemput di sana. Wuah... karena liftnya keliatannya gak bisa diharapkan, ya sudah.... terpaksa angkat koper sambil naik tangga.

Perjalanan dari Airport ke rumah memakan waktu gak sampai ½ jam (biasanya minimal 1 jam, kalo lagi macet banget bisa 2-3 jam). Waaaahhh... Besok harus kembali lagi ke ”dunia nyata” bersama dengan data-data SAP yang kucintai!!

Saturday, January 07, 2006

Singapore: Lautan Manusia (31 Desember 2005)

Plaza Singapura
Setelah selesai makan pagi, kami menuju ke Plaza Singapura dengan menggunakan MRT (turun di stasiun Dhoby Ghout).
Tujuan pertama adalah mencari Snoopy’s Place, restoran bertemakan Peanuts. Tapi setelah mencari-cari dan bertanya-tanya, ternyata resto itu sudah tutup setahun yang lalu. Yaahh…. :-(

Di lantai 6 Plaza Singapura ada Yamaha Music School. Mereka juga menjual alat musik dan buku-buku musik. Aku membeli buku piano Cole Porter. Setelah itu kita ke toko buku Times, niatnya mencari buku kedokter
an keluar Oxford, tapi tidak ada.

Sambil menunggu Rama, kita masuk Carrefour. Rama adalah guide kita hari itu, eh salah… maksudnya temanku di PSM dan IF yang kebetulan bekerja di Singapore. Di Carrefour kita belanja lakban untuk mengikat salah satu koper yang kuncinya patah, terus beli converter untuk colokan kaki 3 supaya bisa nge-charge HP. Mahal juga euy… colokan gitu doang harganya S$6.

Magic Wok Restaurant

Setelah ketemu Rama, kita diajak makan siang di resto Thailand di daerah City Hall. Untuk menuju City Hall kita naik bis. Asik juga… belum pernah naik bis di Singapore sih. Tinggal pakai EZLink aja, kartu yang sama dengan yang kita pakai untuk naik MRT.

Resto Thailand langganannya si Rama namanya Magic Wok Restaurant. Kita memesan nasi nanas, udang cereal, cah kailan + daging, dan sup tom yam. Sayangnya aku lupa gak ngambil gambar makanan kita, karena dah keburu laper. Makanannya cukup unik, enak dan lezat.

Meja tempat kita makan agak-agak mungil, piringnya jadi desak-desakan deh… Yang lucu… resto itu sempat memutar lagu Jujur-nya Radja, jadi lupa kalo lagi gak di Indonesia.

Music Essentials

Dari
City Hall
kita kembali ke Orchard dengan naik MRT dan turun di stasiun Sommerset. Tujuan pertama di Orchard adalah toko buku musik yang ada di Meridien. Banyak banget orang di sepanjang jalan yang kita lalui. Menurut Rama, kalau weekend apalagi peak season seperti itu, kemungkinan untuk ketemu teman jauh lebih besar.

Ternyata toko buku musik yang dimaksud oleh Rama adalah Music Essentials, toko yang sama dengan yang aku lihat di Specialists’ Shopping Centre 5 tahun lalu, tempat membeli partitur Encore!. Music Essentials yang di Meridien jauh lebih besar, koleksinya juga jauh lebih banyak. Di situ kita beli buku piano Gershwin dan partitur piano untuk 6 tangan-1 piano (biar bisa dimainkan bareng-bareng bertiga).

HMV

Dari Music Essentials, kita ke Hereen Shopping Centre. Di situ ada HMV, toko CD yang konon kabarnya paling lengkap dan paling besar di Singapore (masa’ sih?). Yang jelas sih, Erik sangat merekomendasikan. Ternyata… emang gede sih… ada 3 lantai. Lantai pertama berisi DVD dan CD-CD lagu yang lagu ngetop, lantai kedua berisi CD-CD Pop dan Rock, lantai ketiga yang unik, isinya lagu Asia, Jazz, dan lagu Klasik.


Pas kita mau keluar dari Hereen, HU
JAN LEBAT!!! Wah… gimandang dunk? Kata Rama memang akhir-akhir ini di Singapore sering hujan (iya lah, Jakarta juga kok). Setelah terjebak beberapa lama, akhirnya kita ngafe dulu sambil menunggu hujan reda. CafĂ© Spinelli itu terletak di halamannya Hereen, tapi dinaungi canopy transparan, jadi gak kena hujan. Asik juga, kesannya kayak duduk di tengah hujan, sambil ngeliatin orang lain lalu lalang kehujanan. Hehe… tapi kalo sampai tiba-tiba hujannya jadi lebat banget dan disertai angin, kayaknya kita bakalan basah juga tuh…

Takashimaya

Setelah hujan agak reda, kita pindah ke Takashimaya. Tujuannya adalah cari Kinokuniya. Kata Rama toko buku
Kinokuniya itu terbesar di Asia Tenggara. Bukunya emang paling lengkap, buku kedokteran yang dicari ada di dalam list mereka, tapi stocknya habis. Akhirnya beli Harry Potter saja, lebih murah dari di Jakarta, karena ada discount.

Dari Kinokuniya kita pindah ke Giordano. Giordano di luar Indonesia (Singapore, China, Hongkong) harganya lebih murah dibandingkan dengan yang di Indonesia.
Pembelinya… banyak orang Indonesia.

Dari Takashimaya kita nyebrang ke Wisma Atria… Wuah… bener-bener deh… lautan manusia! Di terowongan pejalan kakinya aja macet bok. Serasa ngantre di dufan.

Borders

Dari Wisma A
tria kita langsung ke Borders di Wheelock. Borders juga toko buku yang lumayan gede. Tapi lagi-lagi dia gak punya koleksi buku kedokteran yang dicari. Interiornya dibuat sedemikian rupa jadi terasa cozy, rasanya betah gitu loh untuk berlama-lama di situ. Beda dengan Kinokuniya yang kesannya dingin. Di Borders ini kita ketemuan sama Hendra, anak IF 97, temannya Rama. Lumayan lama juga kita di Borders.

Setelah itu kita keluar dan berpisah sama Hendra dan Rama. Mereka mau ke Clarke Quay, sedangkan kita mau ke Hyatt untuk ketemu om Rudi dan tante Bebet.


Hotel Hyatt
Duile... nih hotel... pengamanannya melebihi paspampres-nya Indonesia. Perasaan jaman Megawati ke Aula Barat dulu, pengamanannya gak segitunya deh. Kalo gak punya Guest Card atau undangan, kita sama sekali gak boleh masuk lobi. Alhasil tante Bebet harus keluar sampai ke teras hotel untuk menemui kita.

Dari hotel Hyatt kita ke Lucky Plaza untuk belanja pernak-pernik oleh-oleh, sekalian makan malam. Setelah itu naik MRT dari stasiun Orchard sampai Douby Ghout, terus masuk Carrefour lagi untuk beli Eeyore dan permen coklat.

Duh, mulai pegel nih… kayaknya jetlag yang menumpuk dari kemaren mulai terasa efeknya. Untung nggak ikutan Rama dan Hendra ke Clarke Quay. Dari Carrefour kita naik MRT lagi sampai ke Farrer Park. Sampai di hotel kira-kira jam 10.


Setelah itu kita beres-beres, mulai packing untuk persiapan pulang. Gak terasa… tau-tau sudah jam 12. Tepat jam 12, tiba-tiba ada bunyi BOING! Seperti ledakan meriam… ternyata ada Kembang Api!! Wah… senangnya… ternyata bisa nonton “siaran langsung” kembang api dari kamar hotel. Sungguh tak terduga...

Selamat tinggal 2005, selamat datang 2006!!

Singapore: Menuju Singapore (30 Desember 2005)

Bandara Soekarno Hatta
Bandara Soekarno Hatta penuhnya bukan main, maklum lah… peak season. Aku yang sudah mengantuk sejak siang hari di kantor, pengennya cepet-cepet cari sofa di Exec Lounge-nya Citibank. Setelah ngantre check-in, bayar fiscal, ngisi kartu keberangkatan, ngantre di Imigrasi, akhirnya kita bisa masuk ke Exec Lounge. Duile… tapi sofanya sudah dipakai semua, yah tak apalah… kursi biasa juga oke.

Ada makanan apa aja? Yang cukup kuingat adalah: Pangsit Penganten!! Wuaaa… kok ada di sini… kirain hanya ada di Bogor atau di acara pengantenan. Pangsit penganten itu terdiri dari pangsit berukuran mini, kemudian disiram dengan kuah yang berisi daging ayam dan potongan sayur-sayuran.

Terus untuk minuman, yang aku ingat adalah dia menyediakan bubuk coklat. Wah jarang-jarang loh, biasanya untuk minuman panas yang tersedia hanya teh celup, bubuk kopi, krimer, gula pasir, dan gula diet.

Satu hal lain yang cukup menarik perhatian adalah: kamar mandinya! Exec Lounge di situ kira-kira besarnya sama dengan Exec Lounge-nya Citibank yang di terminal Domestik. Tapi…di terminal Domestik mereka punya 3 kamar mandi, sedangkan di sini hanya 1. Terpaksa deh kalau mau ke kamar mandi mesti ngantri panjang. Kecil banget pula kamar mandinya. Ditambah lagi… ada “tanda mata” di dalam kloset-nya… hiiii…. parah deh. Exec Lounge kok kayak gitu.

Penerbangan
GA
832
Pesawat kita boarding tepat waktu. Agak kaget juga, kok ternyata pesawatnya pake B-737. Kirain kalo penerbangan internasional minimal pake Airbus. Yang menyebalkan, meskipun boarding tepat waktu, ternyata kita take off terlambat sekitar 15 menit, karena menunggu penumpang yang bermasalah di Imigrasi. :-(

Herannya lagi… makanan di pesawat tuh hanya ada 1 pilihan. Padahal waktu terbang ke Medan dan ke Balikpapan, ada 2 pilihan loh. Hmm… mungkin alasannya adalah karena penerbangan Jakarta-Spore itu hanya 1 jam 15 menit. Kalau ke Medan dan Balikpapan kan 2 jam. Waktu yang digunakan untuk melayani seorang penumpang lebih lama kalau makanannya ada 2 pilihan. Si pramugari kan harus bertanya dulu kepada setiap penumpang, misalnya gini: “Mau makan apa mbak? Nasi Ayam atau Ikan Kentang?”, baru setelah itu dia memberikan makanan kepada si penumpang. Sedangkan kalo hanya ada 1 pilihan, dia tinggal memberikan makanan kepada si penumpang tanpa bertanya-tanya lagi. Untuk penerbangan 1 jam 15 menit, kalo pake nanya-nanya segala… waktunya tidak cukup, ketika penumpang yang terakhir kebagian makanan baru menyantap setengah porsi, pesawat sudah meninggalkan ketinggian jelajah.

Kita mendarat jam 22.05 waktu Singapore. Langsung menuju imigrasi. Bapak-bapak yang ada di India agak bingung melihat pasporku. Wah… mungkin dia bingung, ini orang namanya seperti India tapi kenapa tampangnya seperti China. Padahal bukan dua-duanya….hahaha…

MRT
Setelah mengambil barang, kita menuju ke Skytrain untuk pindah ke terminal 2. Dari terminal 2 mau naik MRT ke hotel. Agak bingung juga waktu masih di stasiun MRT-nya Changi, karena sekarang ada tiket EZLink, jaringannya juga sudah lebih luas dibandingkan lima tahun lalu. Untung mas-masnya sangat informatif. Kita beli 3 tiket EZLink, terus naik MRT ke stasiun Farrer Park. Dalam perjalanan menuju Farrer Park, kita pindah 3 kali, di stasiun Tanah Merah, City Hall, dan Douby Ghout.

Wah, enak deh pokoknya…. Transportasi Airport ke kota jadi murah meriah, serasa naik Damri ajah… syaratnya memang barang yang kita bawa gak boleh terlalu banyak dan hotel tempat kita menginap jangan jauh-jauh dari stasiun MRT.


Hotel New Park, Little
India
Kita turun di stasiun Farrer Park, yang terdekat dengan hotel New Park. Whooaaa… nyaris aja kesasar karena kita salah milih pintu keluar. Kita keluar di pintu C, padahal seharusnya di pintu A. Sempat mencoba melihat peta yang ada di stasiun sih, tapi malah tambah bingung. Untungnya begitu keluar dari pintu C, hotel New Park. yang ternyata 21 lantai itu langsung kelihatan, meskipun jauh. Jadi kita terpaksa jalan memutari taman sambil geret-geret koper.

Sampai di hotel kira-kira jam ½ 12 malam waktu Singapore. Konsumen hotel New Park pada umumnya berkebangsaan India. Cocok dunk kalo gitu, sama nama-nama kita… hihihi… kita langsung check-in dan memesan extra bed. Ternyata extra bed itu gak termasuk breakfast. Waaakksss… terpaksa deh mengeluarkan jurus Soupy Snax buat sarapan.

Kita dapat kamar di lantai 19. Kamarnya cukup bagus dan lengkap. Ada setrika dan meja setrikaannya segala (jarang2 loh hotel bintang 3), ada pemanas air juga (kalo gitu Soupy Snax bisa beraksi). Tapi ada sedikit masalah ternyata… colokan listriknya kaki 3!! Gak bisa nge-charge HP dunk. Lain kali jenis colokan listik harus masuk ke dalam survey yang dilakukan sebelum melakukan perjalanan ke luar negeri.

Padahal 3 hari sebelumnya, aku habis mengalami masalah yang sama di Aston Atrium. Di Aston, colokannya kaki 3 semua. Kalo Aston sih memang “hotel yang aneh”, udah tauk di Indonesia… kenapa juga dia sediain colokan listriknya yang kaki 3.

Monday, December 12, 2005

Sidoarjo

Tanggulangin
Dari dulu aku hanya denger cerita tentang Tanggulangin. Akhirnya... sekarang kesampaian juga ke sana. Menurut bu Nia, yang hari ini jadi ”guide” ke Tanggulangin, toko yang koleksinya lumayan ”miyayeni” adalah Mitra atau Purnama. Tapi hari ini kita gak ke sana, kita ke INTAKO, Industri Tas dan Koper, yang harganya lebih murah. Di INTAKO bukannya gak ada yang miyayeni. Ada juga... tapi musti sedikit berusaha mencari. Waktu bu Nia bilang ”miyayeni”, serta merta Irva bertanya: apaan tuh artinya?
Hehehe... akhirnya aku, bu Nia, dan pak Anton (supir mobil sewaan kita) berusaha menjelaskan dengan bahasa Indonesia. Intinya: miyayeni = berkelas, gak kampungan.

Ternyata INTAKO itu tempatnya mblusuk-mblusuk banget... di kampung gitu deh. Parkir aja susye... hmm... gimana kalo hari wiken ya? Pasti penuh banget deh. Di INTAKO, ternyata kita berhasil menemukan yang miyayeni kok. Masalah berikutnya.... gimana bawa pulangnya.... setelah geser sana-geser sini, ternyata muat juga masuk ransel bersama dengan Snoopy dan kamdig...

Toko Tanjung
Toko Tanjung adalah tempat beli oleh-oleh makanan khas Sidoarjo, kerupuk udang, bandeng asap, dsb. Konon kabarnya Bandeng Asep-nya paling toph... tapi sayang... bawaanku sudah banyak, kalo ditambah lagi bandeng asep, artinya nambah tentengan (gak mungkin masuk bagasi kan...).

Airport Juanda
Setidaknya airport ini lebih baik daripada Airport Polonia yang kayak pasar itu. Tapi... yang gak oke adalah pelayanan si Lion. Semua penerbangan Lion terlambat sejam, trus antrean check-in-nya itu loh... wuaahh... gak teratur banget. Udah pelayanannya lambat, banyak yang nyerobot pula. Akhirnya meja check-in penerbangan itu jadi ular naga panjangnya bukan kepalang....

Waktu lagi nunggu, Irva sempet nyeletuk: Asik kali ya, kalo ada artis, lumayan kan... jadi ada pemandangan. Nah, setelah topik ”pemandangan” tadi terlupakan, tiba-tiba lewatlah seorang yang cukup familiar, dan dia seorang artis: Rhoma Irama!! Sendirian aja, gak bawa rombongan seperti selayaknya artis. Tentu saja, dia juga gak bawa gitarnya... Ternyata keinginannya Irva terkabul.

Malang

Kalo ke Yogya buat wisata budaya, ke Malang buat wisata boga. Malang itu katanya Bandung-nya Jawa Timur. Salah satu kemiripan dari dua kota itu adalah masih banyak pohon di pinggir jalan. Trus kalo Bandung punya Lembang, Malang punya Batu. Baik Lembang maupun Batu punya agrowisata masing-masing.

Hotel Montana
Hmm... ini sih bukan termasuk obyek wisata boga, meskipun kata Bulo es krim dan cake-nya enak. Yang jelas hotel ini patut mendapatkan acungan jempol. Pokoknya Te-O-Pe Be-Ge-Te deh... aku puas banget, karena: 1) Kamarnya bersih, cozy. 2) Handuknya wangi. 3) Harganya gak terlalu mahal. 4) Kemaren itu seharusnya dihitung 2 hari, tapi karena aku check-in jam 5 pagi, mereka hanya hitung 1 ½ hari. 5) Bisa dibayar pake credit card tanpa kena persenan pula. 6) Letaknya strategis, di dekat tugu dan balaikota. 7) Tidak berkesan wingit dan tidak penuh tanaman seperti hotel Tugu. 8) Ada warnet dan wartel di sebelah hotel.

Kusuma Agrowisata
Kusuma Agrowisata terletak di kota Batu, sekitar ½ jam perjalanan dari Malang. Kalo Bandung punya Lembang, Malang punya Batu. Aku dan Irva memilih paket yang paling komplit, terdiri dari petik 4 buah strawberry, petik 2 buah apple, puding dan sari strawberry, jus apel dan 1 paket sayuran organik (sawi plus 2 buah cabe paprika)









Pertama, kami dibawa ke kebun petik strawberry yang terletak di dalam rumah kasa. Kebun itu sengaja diberi ”kelambu” supaya serangga tidak masuk, jadi tidak pakai pestisida. Di kebun petik itu ada 2 macam strawberry: Sweet Charlie (yang manis dan buahnya cantik) dan Three Star (kurang manis tapi buahnya besar). Setelah metik strawberry, kami dibawa jalan ke kebun jeruk dan kebun dragon fruit yang kriting kayak octopus. Setelah itu makan puding dan minum sari Strawberry. Hmm... serba strawberry...

Dari kebun strawberry, pindah ke kebun apel. Sebelum tur di kebun apel, minum jus apel dulu sambil liat-liat toko boneka yang ada di pintu masuknya kebun apel. Wah... ada Snoopy, jadi beli 1 deh, Snoopy bertelinga biru. Habis itu jalan-jalan di kebun apel, dipetikin buah ceri sama mas-mas guidenya, terus masuk ke kebun bunga. Uwah... cantik-cantik bunganya... paling naksir sama kastuba yang daunnya jadi merah kalo akhir tahun.









Dari kebun bunga, akhirnya sampai juga di tempat pemetikan apel. Setelah milih-milih.... akhirnya mas-mas guidenya juga yang metikin, abis buah yang bagus posisinya tinggi-tinggi sih. Setelah metik apel, aku belanja produk-produk apel: selai apel dan jenang apel. Kalo apel pie-nya kurang enak. Ekspektasiku adalah apel pie seperti Apple Strudel-nya Cafe Wien, atau minimal seperti apel pie-nya Pia Pie, ternyata... kulitnya terlalu tebal, isi apel-nya juga terlalu kering. Kalo selai apel-nya sih enak. Lumayan sukses deh... Aku sudah coba makan pake roti dengan 2 cara mengolah. Yang pertama, rotinya dipanggang dulu baru dikasih selai. Yang kedua, rotinya dikasih selai dulu, baru dipanggang. Rasanya lain, tapi dua-duanya enak... hehehe...Bisa juga setelah dikasih selai, terus dikasih taburan kayu manis, baru dibakar.

Selecta
Dulu aku dan Irva mengenal Selecta hanya dari permainan monopoli. Penasaran juga, kayak apa sih yang namanya Selecta, kok terkenal banget di monopoli. Tapi sebenernya rada males juga, ada yang bilang gak ada apa-apanya di Selecta, terus ada juga yang bilang kalo Selecta itu salah satu tempat liburannya Presiden Soekarno. Waktu aku tanya: Pemandangannya apa? Jawabannya: Orang mandi. GUBRAK!!

Ternyata... akhirnya semua terjawab setelah kita sampai di sana. Di Selecta memang ada kolam renang yang lumayan gede, makanya ada yang bilang kalo pemandangannya adalah orang mandi. Selain kolam renang itu, obyek lainnya pasar bunga, terus juga vila-vila tua, gak ada lagi.
Mungkin kalo dibikin wisata dugem di situ, atau kafe yang unik, para penggemar dugem dari Malang gak segan-segan berkunjung ke sana. Yah... macemnya orang Bandung pada pergi ke The Peak, atau Kampung Daun lah... sama jauhnya kan?

Bakso Kota Cak Man
Akhirnya... makan bakso malang di kota Malang. Dijamin asli kan? Beberapa hari sebelumnya, aku sempat makan Bakso Malang Karapitan di Sarinah Jakarta. Aku pikir: aku kan mau ke Malang, sebelumnya harus benchmark bakso dulu dengan yang ada di luar kota Malang. Setelah merasakan bakso malang yang asli, aku bisa bilang bahwa ternyata BMK tuh emang kurang otentik. Yah... namanya juga bakso malang tapi bikinan orang Bandung. Namanya orang Jawa, kalo gak makan nasi kurang marem katanya. Masa’ makan bakso pake lontong sih? Padahal kan sudah ada mie... Begini nih.... tampangnya bakso malang yang aku makan. Hihihi... itu lagi kelaparan ceritanya.

Keripik Tempe Bu Noer
Pertama kali makan keripik tempe ini, aku hanya tertarik dengan namanya: Bu Noer. Aku pikir: Lucu sekali keripik tempe ini, namanya sama dengan ibuku dan lima orang saudaranya. Waktu itu aku hanya ngicip sedikit, setelah itu aku taroh di lemari. Ketika aku mencoba mencari lagi, ternyata sudah raib.

Kedua kali makan keripik tempe ini... 2 kantong hampir aku habiskan sendiri. Hehehe... uwenak tenan ternyata, apalagi yang BBQ. Minyaknya nggak tengik pula. Makanya begitu dapat kesempatan ke Malang, aku bertekad untuk beli keripik tempe Bu Noer.

Letaknya emang agak masuk gang yang gak begitu besar. Setelah sedikit kesasar, akhirnya ketemu juga tokonya. Mereka menyediakan keripik tempe aneka rasa, ada rasa BBQ, Keju, Udang, Burger, Spaghetti, Pizza, apalagi ya? Sayangnya kemaren keripik tempe rasa keju-nya habis (wah, pasti enak tuh, makanya habis). Selain keripik tempe, produk mereka yang lain adalah keripik buah-buahan yang dikemas dengan kantong aluminium, supaya gak mudah melempem. Ada keripik apel, keripik nangka, keripik melon, keripik semangka, keripik mangga, keripik nanas, untungnya gak ada keripik rambutan.

Toko Oen
Memasuki toko Oen, serasa memasuki mesin waktu dan kembali ke jaman penjajahan Belanda. Interiornya dijaga supaya tetap berkesan tua, meja-kursinya tua, kordennya model tua, sampe-sampe ada spanduk dalam bahasa Belanda. Menu makanannya dalam bahasa Belanda. Pengunjungnya pun banyak orang-orang Belanda yang sudah tua, mungkin sedang bernostalgia. Rasanya jeans dan t-shirt-ku jadi gak matching dengan suasana toko itu, apalagi kamdig-nya.

Sesuai saran Bulo, kami memesan Sparkling Delight: es krim mocca, es krim vanilla, dicampur dengan potongan buah, kemudian diberi kembang api. Lucu sekali... Mas-masnya sampe menawarkan kembang api baru ketika aku hampir gagal memotret percikan kembang api di atas gelas.

Oya, baik roti maupun es krim yang dijual di toko Oen, merupakan buatan toko itu sendiri, dengan bahan-bahan alami.

Malang Town Square
Dari toko Oen, kami berpindah ke Malang Town Square yang terletak di sebelahnya Taman Makam Pahlawan. Kalo ini sih... mall jaman sekarang, gak jauh beda dengan yang ada di Jakarta. Sudah jauh-jauh ke Malang... tetep aja yang dikunjungi adalah MATAHARI.

Toko Oen lagi
Malamnya... kami mencoba berjalan kaki dari hotel ke Gramedia (di sebelah toko Oen). Hampir aja kesasar di Jl. Brawijaya. Duh, gelap banget pula di jembatan yang ada di Jl. Brawijaya itu, agak-agak horor jadinya. Hmm, jadi diputuskan pulangnya naik angkot saja.

Dari Gramedia, ke Sarinah, setelah capek dan hanya dapat marker (spidol), kami putuskan untuk makan malam. Dimana? Ada McD... atau toko Oen lagi.

Masuklah kami ke toko Oen. Kali ini memesan Bistik Lidah (juga atas anjuran Bulo). Unik banget sih, belum pernah ketemu yang seperti itu sebelumnya. Lidahnya dipanggang garing, kemudian diberi saus coklat muda (kayaknya sih mushroom sauce atau sejenisnya).

Tugu dan Balaikota Malang







Sebelum beranjak ke Surabaya, sempat jalan-jalan dulu di Tugu yang terletak di depannya Balaikota Malang. Di kolam yang mengelilingi Tugu, banyak sekali bunga teratai, cantik banget. Ternyata... nyebrang di Tugu itu susahnya bukan main, banyak banget mobil dan kenceng-kenceng pula. Harusnya aku bisa nyebrang langsung ke depan hotel Tugu, akhirnya nyebrang dulu ke depan Balaikota, baru abis itu nyebrang jalan ... ke depan hotel Tugu.

Yogyakarta

Banyak tema yang bisa diambil dari kunjungan ke Yogya, misalnya wisata belanja, wisata boga, wisata adventure, wisata pendidikan, dll. Tema yang kupilih kali ini adalah wisata budaya.

Pariwisata di Yogya sudah banyak berkembang sejak terakhir kali aku mengunjungi obyek-obyek wisata unggulan di sana bersama SMP 41 (kira-kira 10 tahun yang lalu). Sekarang ini sudah lebih teratur, informatif dan juga terstandarisasi, seperti yang aku lihat di China.

Obyek pertama yang dikunjungi adalah tempat kerajinan perak Kotagede. Dalam perjalanan menuju Kotagede, kita melewati daerah Glagah Sari. Konon di daerah itu banyak sekali kampus. Hmm... mungkin sejenis jl.Dipati Ukur di Bandung, daerah Salemba di Jakarta, atau jl.Margonda di Depok. Ketiganya juga berisi kampus, kampus, dan kampus.

HS Silver, Kotagede
Begitu turun dari mobil, mas Ghani menyerahkan kami pada guide-nya HS Silver. Sebelum melihat-lihat isi toko, kami diberi penjelasan dulu mengenai cara pembuatan perak. Sayangnya karena hari itu adalah Minggu Sore, jadi para pengrajin banyak yang libur, atau sudah pulang, hanya terlihat 3 orang yang bekerja. Terpaksa penjelasan diberikan lewat foto-foto yang memang dipasang untuk mengantisipasi keadaan seperti itu.

Kami sempat menonton bapak-bapak yang sedang menyolder. Duh, bapak itu sudah lumayan tua, tapi matanya masih awas banget. Barang-barang yang dia solder itu mungil-mungil banget. Nah, menurut mas-mas guide HS, menyolder itu adalah pekerjaan yang paling susah untuk dipelajari dalam tahapan pembuatan perak. Untuk belajar menyolder, dibutuhkan waktu yang sama dengan.... kuliah S1! Wah...wah... lama juga ya.

Sendratari Ramayana
Pertunjukan sendratari Ramayana yang paling nge-top ada di Candi Prambanan, tapi mereka hanya pentas sekitar bulan April-Oktober saja setiap tahunnya. Malam itu, kami menonton Ramayana di Purawisata.

Sebelum acara mulai, kami makan malam dulu di restonya. Makanan disajikan secara buffet. Rasanya sih enak, tapi kombinasinya agak aneh: makanan barat, campur Jawa, dan campur lagi dengan Padang. Ada sup ayam dengan roti, salad, kentang goreng, nasi goreng, gudeg, gado-gado, udang goreng tepung, bakwan, sate, balado terong. Jadi bingung mau makan apa...

Sambil makan, kami disuguhi gending Jawa yang dimainkan secara live, juga sedikit tari-tarian. Gak lupa foto-foto sama para performernya. Setelah makan, kami masuk ke teater terbuka untuk nonton Ramayana. Untungnya hari itu gak hujan, denger-denger sih Purawisata sudah langganan pawang hujan.

Koreografinya oke banget, cukup dinamis lah. Apalagi Hanoman-nya, bisa debus kali ya... dia sempat menggulung-gulung dirinya di atas api pas babak Hanoman Obong. Karakter favorit malam itu adalah Kumbokarno dengan badannya yang tinggi dan rambutnya yang terjuntai-juntai. Sayangnya pas sesi foto, yang ada hanya Rahwana, Rama, Shinta, dan Hanoman.

Pertunjukan berlangsung selama 1 ½ jam. Di antara penonton, mungkin hanya aku dan Irva yang orang Indonesia, sisanya bule atau orang Jepang. Makanya narasi juga dibawakan dalam bahasa Inggris. Kalo ilustrasi musik sih, tetep bahasa Jawa donk.

Candi Borobudur
Perjalanan dari Yogya ke Borobudur memakan waktu nggak sampai 1 jam. Taman wisatanya jauh lebih rapih dibandingkan 10 tahun yang lalu. Borobudurnya sendiri gak banyak berubah.

Mas Ghani sempat menjelaskan sedikit tentang cerita kelahiran Buddha yang ada di relief level pertamanya Rupadhattu. Setelah itu kita langsung naik ke tingkat Arupadhattu yang penuh dengan stupa-stupa.

Kami sempat mencoba mencolek arca Kuntobimo. Konon kabarnya arca Kuntobimo ini dipercaya membawa keberuntungan. Ketika terjadi peledakan Candi Borobudur tahun 1985, arca Kuntobimo termasuk salah satu tempat yang dipasangi dinamit, tapi entah mengapa dinamit tersebut tidak ikut meledak.

Untuk mencolek arca Kuntobimo, ternyata gak sembarangan mencolek. Para laki-laki harus mencolek jari manisnya, sedangkan perempuan mencolek tumit kirinya. Para pengunjung beramai-ramai mencoba memasukkan tangannya ke sela-sela stupa Kuntobimo untuk mencolek arca Kuntobimo yang ada di dalamnya.

Kraton Yogyakarta
Di kraton Yogyakarta, kami dititipkan pada guide kraton yang bernama pak Gito. Penjelasan yang diberikan kepada setiap pengunjung sudah distandarisasi, baik dari segi urutan, maupun content-nya. Mereka juga menyediakan guide dalam berbagai bahasa.

Dulu aku tidak bisa menikmati kunjungan ke kraton, karena bagiku hanya lihat-lihat ruangan saja. Tapi sekarang sudah berbeda, para guide di kraton dapat memberikan penjelasan yang mendalam dan dilengkapi dengan cerita-cerita menarik.

Sultan HB yang sekarang ternyata tinggal di keputren, karena kebetulan anaknya perempuan semua. Kata pak Gito, keputrennya sudah disulap jadi tempat tinggal modern, wong ada lapangan tenis segala. Tapi tentu saja... para pengunjung tidak diijinkan untuk melihat keputren tersebut.

Mas Ghani sempat menjelaskan tentang tanah-tanah pemberian Sultan kepada para abdi dalem dan juga kepada pemerintah dan masyarakat sekitar. Ada 1 ketentuan yang menyatakan bahwa tanah yang diberikan oleh Sultan itu tidak boleh dijual. Diwariskan, disewakan, dipinjamkan, dipakai untuk usaha, semua boleh-boleh saja, asal tidak dijual.

Namun ada juga yang tidak menggubris ketentuan itu. Tanah di jl.Malioboro sebenarnya adalah wakaf dari Sultan, seharusnya tidak boleh dijual. Tapi ada kasus dimana pedagang memperjual-belikan petak tanahnya di Malioboro sebesar 2x3 m2 seharga Rp.25 Juta!!

Candi Prambanan
Candi ini memang cantik. Dulu aku selalu melihatnya minimal setahun sekali, setiap melintas jalan Yogya-Solo, ketika mudik lebaran naik mobil. Tapi beberapa tahun terakhir ini sudah agak jarang. Mudik lebaran sudah tidak naik mobil lagi, atau kalaupun naik mobil tidak lewat Yogya.

Di candi ini, mas Ghani mengajak kita berkeliling di candi Siwa dan candi Brahma, dan bercerita tentang kisah Ramayana yang ada di relief kedua candi tersebut. Ternyata... ada sedikit perbedaan antara Ramayana versi Sendratari dan Ramayana versi relief Candi Prambanan.

Ramayana versi Sendratari adalah seperti Ramayana yang selama ini aku kenal. Cerita diakhiri dengan babak Shinta Obong, dimana Shinta diceburkan ke lautan api untuk mengetes kesuciannya. Bilamana Shinta masih suci, dia tidak akan terbakar. Sebaliknya, bilamana Shinta sudah dinodai oleh Rahwana, maka dia akan terbakar.

Tidak demikian halnya dalam Ramayana versi Relief Prambanan. Di versi Relief, setelah berhasil membunuh Rahwana, Rama dan Shinta bertemu kembali. Tapi ternyata Shinta dalam keadaan hamil. Karena merasa Shinta sudah tidak suci lagi, Rama membuang Shinta ke hutan. Padahal sebenarnya, ketika diculik oleh Rahwana, Shinta tengah hamil muda, mengandung anak Rama. Di hutan, Shinta melahirkan anak kembar, kedua anak tersebut dirawat oleh Shinta bersama-sama dengan pertapa Walmiki. 12 tahun kemudian, Shinta meninggal. Ketika kedua anak tersebut berumur 19 tahun, pertapa Walmiki membawa kedua anak tersebut ke hadapan Rama. Rama, yang akhirnya menyadari kekhilafannya, menyerahkan mahkotanya ke salah satu anaknya itu. Shinta dan Rama baru bertemu lagi di surga, setelah Rama meninggal. Yah, sedikit tragis memang, dan juga agak mirip sinetron.

Malioboro
Rasanya nggak komplit kalo ke Yogya tanpa mengunjungi Malioboro. Malioboro, terutama Pasar Beringharjo-nya, merupakan salah satu kawasan wisata belanja yang paling asik. Kuncinya adalah kita harus tahu harga dan sedikit tega dalam menawar barang.

Sayangnya karena kita terlalu sore, pasar Beringharjo sudah tutup. Jadi ya sudah... kami ke Mirota saja. Harga batik di Mirota memang lebih tinggi dibandingkan di pasar Beringharjo, tapi selisihnya nggak banyak banget. Mereka tidak terlalu me-markup harga.

Ngomong-ngomong batik nih, katanya orang Solo lebih konservatif dibandingkan orang Yogya... Hal itu kelihatan dari cara berpakaiannya. Batik Yogya warnanya lebih berani dibandingkan batik Solo. Batik Yogya banyak yang warna terang, bahkan ada juga yang biru, sedangkan batik Solo cenderung coklat, coklat, dan coklat. Cara melipat (wiron) kainnya juga berbeda... lipatan (wiru) kain Yogya lidah kainnya kelihatan, sedangkan lipatan kain Solo lidah kainnya disembunyikan.

Warna atasan pakaian pria (beskap) juga berbeda, kalo Yogya lebih warna-warni, malahan Bapak pernah pakai yang warna ungu dan krem, bahannya juga bisa macem-macem. Sedangkan Solo paling-paling hitam, coklat, bahannya juga hanya bahan jas. Btw, atasan pria ala Yogya itu ada yang namanya Sogok Upil. Waktu aku tanyakan kenapa namanya begitu? Begini jawabannya, bagian depan pakaian itu, sudutnya sangat lancip. Nah, karena lancipnya itu, jadi bisa buat ngupil. Entahlah, jawaban itu joke atau bukan...

Kereta Api Argo Willis

Dari Bandung ke Yogya naik apa? Ada 2 pilihan yang sempat aku pertimbangkan:
1.) Ke Jakarta dulu terus naik pesawat ke Yogya.
2.) Naik KA Argo Wilis.

Akhirnya aku pilih Argo Wilis. Karena menurut pengalamanku, kereta ini jarang telat. Sekitar 4 tahun lalu, aku naik kereta itu. Waktu itu sampai di Solo sekitar jam 14.15. Artinya sampai di Yogya sekitar jam 13.

Kali ini, ternyata di tiket KA tertulis jadwal sampai di Yogya adalah jam 13.55, hmm... kok? Lama betul ya....

Hari Minggu, 29 November 2005, berangkatlah aku dengan KA Argo Wilis dari stasiun Bandung, tepat jam 7 pagi. Perjalanan cukup lancar, meskipun lebih sering berhenti dibandingkan 4 tahun yang lalu. Mungkin karena itu jadwalnya jadi mundur.

Tapi... sekitar jam 9.15, kereta berhenti di stasiun Cipendeuy... dan tidak bergerak selama lebih dari 1 jam. Wah... kok begini ya? Ternyata... gerbong paling belakang rangkaian Argo Wilis itu, patah as rodanya.

Terpaksa menunggu kereta Lodaya (yang berangkat jam 8 dari Bandung) tiba di stasiun Cipendeuy itu. Kereta Lodaya yang kebetulan hari itu tidak terlalu penuh meninggalkan 1 gerbong kelas Bisnis-nya, kemudian meneruskan perjalanan.

Setelah Lodaya pergi (wah, kok jadi disusul sama Lodaya ya...), Argo Wilis mengganti gerbong paling belakangnya dengan gerbong kelas Bisnis yang ditinggalkan Lodaya. Jadi para penumpang yang ada di gerbong paling belakang itu pindah ke gerbong kelas Bisnis. Selisih harga tiket kelas Bisnis dengan kelas Argo dikembalikan ke para penumpang itu. Wah... bete juga kali ya, sudah membayangkan adem-ademan di Argo Wilis, ealah... ternyata naik kelas Bisnis juga... hehe.. tapi yang penting selamat.

Di tengah-tengah penantian yang tak kunjung berakhir itu, aku sempet mikir: kenapa aku gak milih naik pesawat aja yah... tapi ya sudah, mungkin aku memang harus dapat pengalaman unik ini.

Setelah berhenti sekitar 1 ½ jam, Argo Wilis pun meneruskan perjalanan. Seolah-olah ngejar waktu yang tadi dihabiskan di stasiun Cipendeuy, di antara stasiun Banjar dan Kroya, kereta itu ngebut gila-gilaan. Mau makan siang aja susah, karena nampan makanannya goyang-goyang.

Oya, rasanya dulu kursi penumpang di kereta api kelas Argo tuh dilengkapi dengan meja lipat deh, tapi sekarang enggak ada sehingga kita terpaksa harus memangku makanannya.

Jam 15 .55, sampai juga di stasiun Tugu, telatnya pas 2 jam dari jadwal yang tertera di tiket, dan 3 jam dari perkiraanku. Irva dan mas Ghani (guide kita) sudah menunggu di sana.

Offline Journal-ku

Ini catatan perjalananku yang terbaru. Kubeli di Pasar Balubur, Bandung, sehari sebelum berangkat ke Yogyakarta.

Mencari benda seperti itu bukan hal mudah di Pasar Balubur. Kebanyakan block note yang mereka jual dijilid biasa, kalopun ada yang dijilid ring, ukurannya terlalu besar untuk masuk ke tas.

Setelah bertanya-tanya ke beberapa toko, akhirnya ada juga benda yang sesuai dengan spec-ku: kecil, jilid ring, bergaris-garis, cover cukup kuat.

Saturday, July 09, 2005

Shanghai


Shanghai bisa dibilang kota paling modern, paling sibuk, paling ruwet. Lalu lintasnya terlihat ruwet (padahal enggak loh), jalan layangnya saling-silang di sana-sini, pusing liatnya. Bener2 meliuk-liuk, sampe banyak jalan layang yang nempel ama gedung.


Mereka punya kawasan kota tua (gedungnya tua-tua, dengan arsitektur Eropa) dan kota baru (Pu Dong). Keduanya dipisahkan oleh sungai Huang Pu. Gedung2 tua itu sengaja dikasih lighting pake spotlight, biar terlihat cantik di malam hari. Terus dijual-lah wisata ”Berlayar di Sungai Huang Pu” untuk melihat kecantikan gedung2 itu.


Landmark kota Shanghai adalah Oriental Pearl TV Tower, tingginya 400 meter lebih. Merupakan menara TV nomor 3 tertinggi di dunia. Di sebelahnya ada menara Grand Hyatt, terdiri dari 88 lantai, dari lantai 1-52 diisi kantor, sedangkan lantai 53 keatas berisi hotel Hyatt.... Huuuaaa.... piye yo rasane turu ning lantai 88?? (gambar di kanan adalah hotel Hyatt dilihat dari TV Tower)


Tempat untuk wisatawan di TV Tower adalah di ketinggian 263 meter. Kalo dari luar, itu adalah di buletan kedua. Untuk mencapai ketinggian itu, kita menggunakan lift yang hanya butuh 42 detik. Wuah, langsung pengeng kupingku....

Di seberangnya ada Shanghai Bund, dulunya ini tempat mafia-mafia kota Shanghai bertransaksi. Sekarang? Jadi tempat pacaran! Hueheheheheh... nama lainnya adalah Tembok Pacaran.


Salah satu ”atraksi” lainnya di Shanghai adalah Maglev Train. Kereta cepat yang menuju airport. Jarak 35 km ditempuh dalam waktu 7 menit saja. Kecepatan maksimumnya 431 km/jam. Tapi dia cuma bertahan 50 detik saja di kecepatan itu, maklum lah jaraknya dekat sih... keburu mesti ngerem. Kalo belok, relnya miring, jadi keretanya ikut miring, kayak sirkuit balap sepeda gitu deh... Hmmm... kayak naik jet coaster lah. Pas papasan sama kereta dari jalur sebaliknya, bunyinya cuma boing-boing sedetik aja.


Terus ada juga Yuyuan Garden, dulunya adalah rumah yang dibangun oleh gubernur untuk bapaknya. Pembangunannya memakan waktu 18 tahun. Tapi bapaknya itu gak sempet meninggali rumah itu. Rumah mewah lah ceritanya... Nah, di sekitar Yuyuan Garden itu banyak toko souvenir... lucu-lucu barangnya. Dan relatif murah sih...

Untuk para pecinta belanja, ada Nanjing Road. Nanjing Road itu sejenis Orchard Road kalo di Singapore. Kalo di Indonesia? Apa ya? Pasar Baru kali… tapi dalam skala jauh lebih besar loh… Tadinya aku berencana mau berburu alat musik di Nanjing Rd. But apa yang terjadi... Nanjing Rd terlalu panjang, tulisannya kanji semua, mau nemuin toko musik aja gak bisa. Aku sempet nemu toko musik sih di gang gak jauh dari Nanjing Rd. Tapi dia hanya punya Tenor Sax. Selain aku gak cari Tenor Sax, yang jualan juga blas ora iso boso Inggris. Waduh... piye iki... Gimana mau nanya2 atau nawar. Ya sudah bubye music instrument... aku beli di tempat lain saja. Ternyata bukan hanya aku yang gak berselera belanja di Nanjing Rd, peserta tur lainnya juga hanya duduk-duduk aja, mereka masuk 1-2 toko, terus sisanya leyeh-leyeh sampe waktu makan malam. Abis bahan belanjaan di situ mirip-mirip aja kayak di Jakarta, gak murah2 banget lagi. Wah ya gak usah jauh2 ke Shanghai kalo gitu. Di Mangdu saja.

Suzhou

Suzhou adalah eksportir wanita... hihihihihihihi…. Ini kata si Hasan loh, local guide di Suzhou.


Obyek yang dikunjungi adalah Tiger Hill. Di tiger hill ada pagoda dari batu yang miring. Kenapa dia miring? Karena di bawahnya ada makam raja, sehingga tanahnya jadi lembek sebelah. Di dekat pagoda ada Batu 1000 orang. Di tempat itu, anaknya Raja yang dimakamkan di situ membunuh orang2 yang membangun makam itu dengan arak yang dikasih racun, maksudnya supaya mereka gak bercerita bahwa di situ ada makam raja. Hiiiyyy....


Obyek lainnya adalah Hangshan Temple. Yang ini adalah kuil agama Buddha. Di situ ada lonceng yang konon bisa mengusir kerisauan kalo dibunyikan.


Obyek terakhir adalah GUSU Silk Factory. Produk khasnya adalah Silk Quilt atau Selimut Sutra. Apa istimewanya? Kata Hasan, Selimut Sutra adalah Selimut AC. Ketika udara panas, dia jadi terasa dingin, sedangkan ketika udara dingin, dia jadi hangat. Entahlah aku juga belum sempet membuktikan. Nanti kalo terbukti, aku kasih tauk deh. Selimut sutra terbuat dari kepompong ulat sutra kembar.

Di situ kita lihat cara pembuatan benang sutra. Benang sutra terbuat dari kepompong tunggal. Langkahnya begini:
1. Pilih dulu kepompong unggulan
2. Masukkan kepompong ke dalam air panas/godokan air
3. Dengan sapu lidi mini, kita ambil ujung benang sutra dari kepompong2 itu.
4. Dengan mesin, benang sutranya digulung. Setiap 8 kepompong bisa menghasilkan selembar benang sutra sepanjang 2000 meter.


Kalau cara pembuatan selimut sutra adalah seperti ini:
1. 8 kepompong kembar ditarik kemudian dilapis-lapis untuk membentuk 1 kantong kecil.
2. 8 kantong kecil ditarik kemudian dilapis-lapis lagi untuk membentuk 1 kantong besar (8x8 = 64 kepompong)
3. Dari 100 kantong besar, ditarik kemudian dilapis-lapis untuk membentuk 1 selimut sutra (100x64 = 6400 kepompong).
Jadi 1 selimut sutra membutuhkan 6400 kepompong kembar. Untuk menarik 1 kantong besar menjadi selimut, ternyata berat banget. Bapak2 aja kepayahan, tapi ibu2 yang kerja di situ sih kuat2 aja, katanya koh Hasan, mereka bisa Kung Fu loh... (Masa’ sih?)

Hangzhou

Hangzhou bisa disebut sebagai kota legenda. Salah satunya adalah legenda Siluman Ular Putih, Raja Pengemis.

Obyek wisata yang terkenal di sini adalah West Lake (gambar 1 dan 2). West Lake adalah lokasi terjadinya legenda Siluman Ular Putih. Selain itu ada Yue Fei Temple, Yue Fei adalah jenderal terkenal China (gambar 3). Kemudian LingYin Temple, temple agama Buddha (gambar 4). Terakhir adalah Six Harmonies Pagoda.


Six Harmonies Pagoda dibangun tahun 970, dir-rebuild tahun 1023. Legendanya: di sungai Qianiang ada naga yang suka menyebabkan tidal wave (banjir) yang sering merusak desa-desa. Raja berusaha untuk mengendalikan tidal wave itu. Ada seorang anak kecil bernama Liuhe yang balas dendam karena ortunya jadi korban si naga. Dia melempari batu ke sungai sampe naga itu kapok. Sebagai rasa terima kasih, pagoda itu dibangun di atas bukit tempat dia melempari batu.


Malamnya kita nonton acara pertunjukan The Romance of Song Dynasty. Show-nya sangat spektakuler. Dari sisi teknologi: mereka menggunakan sinar laser, panggung tersembunyi (yang bisa muncul dari bawah panggung atau dari atas atap), kursi penonton yang bisa bergeser-geser, ”membuka” dan ”menutup” untuk digunakan sebagai panggung tambahan. Bahkan mereka membuat ”hujan” dan ”air terjun” di dalam gedung pertunjukan. Dari sisi teknik tari-nya: ada akrobatnya, ada atraksi sepatu roda, juga tari2an ala Guruh Soekarno Putra. Aku paling suka sama tarian kupu-kupu, bisa kayak terbang beneran ( mereka menggunakan teknik akrobat seperti trapeze tapi bergantungnya di kain panjang). Dari sisi music: udah modern punya bok!
Oya, tiket masuknya agak mahal memang, tapi mengingat teknologinya tinggi, memang pantas sih...

Keluar dari pertunjukan spektakuler itu, nonton drama tradisional China, kayak lenong gitu deh... melibatkan penonton. Kayaknya sih lucu... tapi gak ngerti ngomongnya sih. Ceritanya kira-kira begini: Ada raja cari mantu. Nah... si Putri Raja melemparkan bunga ke arah penonton. Siapa yang yang dapat bunga itu, dialah yang jadi calon mantu. Terus si calon mantu diwawancara segala (orang terus pada ketawa, aku tetep aja gak ngerti). Abis itu pas pesta perkawinannya, mereka ngelemparin permen ke penonton.

Yang aku ingat, selama perjalanan di Hangzhou, udaranya panas banget... mencapai 36 derajat Celsius. Trus kaki kita masih sakit akibat turun gunung Huangshan. Tiap kali liat tangga, langsung pasang action untuk mengurangi rasa sakit. Jadilah kita rombongan tur yang berkeringat dan terseok-seok. Hihihi....